Rabu, 27 Juni 2018

4 RAHASIA AGAR BISA MENJADI DUKUN ZAMAN NOW


Sebagai mantan mahasiswa psikologi saya sendiri sering mendapat julukan sebagai dukun. Semisal ketika sedang mengikuti acara reuni atau buka puasa bersama ketika bulan puasa bersama teman-teman SMP/ SMA. Ketika teman-teman saya tahu bahwa saya dari jurusan Psikologi maka mereka biasanya memberikan respon seperti ini: “Wah dukun nih, baca pikiran ku dong, baca karakter ku dong, kira-kira masa depan ku seperti apa? aku enaknya kerja di mana?”

Sumber : ilmudukunkejawen-asia.blogspot.com
Dalam keilmuan psikologi sendiri, ada istilah asesmen, yang berarti metode yang digunakan untuk mengambil data atau keterangan mengenai klien. Sebenarnya tebakan-tebakan atau saran-saran dari mahasiswa psikologi sendiri bukan tidak berdasar. Sebenarnya tebakan-tebakan atau saran-saran tersebut berasal dari data-data asesmen yang dapat di olah menjadi data (kesimpulan sementara) yang berupa kecenderungan-kecenderungan yang akan terjadi di masa depan ataupun  solusi dari permasalahan yang ingin diselesaikan (jika konteksnya konseling/ konsultasi)Dalam ilmu psikologi, umumnya ada 4 jenis metode asesmen yang sering digunakan yang dapat membuat teman-teman bisa sakti mandraguna layaknya dukun, membaca pikiran orang lain ataupun masa depan orang lain. Hehehe

Baca Juga Artikel Psikologi lainnya : KLIK DI SINI

1. Wawancara

Dalam keilmuwan psikologi klinis, wawancara sendiri lebih dikenal dengan istilah Anamnesa, terdiri dari dua jenis yaitu Autoanamnesa dan Alloanamnesa. Autoanamnesa adalah penggalian informasi secara langsung kepada klien. Sedangkan Alloanamnesa adalah penggalian data dari orang yang memiliki hubungan dengan klien, misal kepada keluarga klien, teman dekat ataupun rekan kerja. Nah bagaimana caranya agar bisa menjadi dukun di zaman now? Cara sederhananya adalah kita tinggal gunakan teknik Alloanamnesa saja. Misal kita pengen tau di mana doi dilahirkan kita tinggal tanya orang tuanya, misal kita pengen tau makanan favorit doi kita tinggal tanya teman dekatnya, kita pengen tau doi lagi dapat masalah apa kita bisa tanya ke rekan kerjanya. Gampang kan untuk menjadi dukun.


2. Observasi

Menurut Kendall dan Ford (1982), observasi berguna untuk mendapatkan informasi tentang penampilan fisik, keadaan emosi dan cara menjalin kontak atau hubungan dengan orang lain. Secara lebih spesifik dari observasi kita dapat melihat ekspresi wajah pada saat berbicara, bahasa tubuh, cara berpakaian dan sebagainya. Sehingga dari observasi tersebut kita dapat melakukan  penarikan kesimpulan sementara yang dapat kita hubungkan dengan kecenderungan-kecenderungan yang akan terjadi di masa depan.

Sumber : hendri.staff.uns.ac.id
Contoh: kita sering melihat dan mengamati teman kita sering bersedih atau murung, dari perilaku tersebut secara logika kita pasti tahu dong masa depan seseorang yang sering bersedih dan murung seperti apa? Tidak mungkin kan masa depan doi akan sukses menjadi milyarder, kerjaanya saja sedih dan murung tiap hari. Di situlah peran observasi agar kita bisa menjadi dukun.

3. Pemeriksaan Psikologis

Masih ingatkah teman-teman dulu ketika ingin masuk SMA, kuliah ataupun kerja. Ada tes-tes yang harus di selesaikan? Saat itu teman-teman mengerjakan tes yang berupa mencocokan gambar, memilih kepribadian yang cocok ataupun teman-teman di suruh menggambar pohon dan orang. Dan ketika hasilnya keluar, maka interpretasi hasil tesnya sangat mirip sekali dengan kepribadian dan keseharian Anda.


Nah khusus untuk asesmen pemeriksaan Psikologi ini memang teman-teman harus belajar dulu ilmunya, karena metode pemeriksaan psikologi atau tes psikotes sendiri sedikit berbeda dengan metode wawancara dan observasi. Ada acuan-acuan teori yang harus di gunakan agar bisa mengelompokkan seseorang kedalam tipe kepribadian A, B, C ataupun D.

4. Dokumentasi

Dalam konteks yang lebih formal data berupa dokumentasi dapat diperoleh dari kerjasama dengan profesi atau pihak lain yang berkaitan. Misal: data riwayat kesehatan dari dokter, nilai raport siswa dari guru, laporan kinerja dari pihak Human Resource Development atau personalia dan sebagainya. Namun dalam konteks yang lebih santai, data dokumentasi juga dapat kita peroleh dari sosial media orang yang kita maksud. Misal: kita ingin tau aktivitas atau kesibukan dari orang yang dimaksud, kita tinggal lihat Instagramnya saja. Kita ingin tau orang yang kita maksud sering galau atau tidak, tinggal kita lihat status-statusnya di Facebook. Atau kita ingin tahu pengalaman kerjanya seperti apa? Kita tinggal cari sosial media linked id nya saja.

Sumber : jancok.com
Apalagi  zaman sekarang jenis sosial media sudah semakin bervariasi dan teknologi semakin canggih. Sangat mudah bagi kita untuk bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya dari orang yang ingin kita ketahui.

Sumber : rancahpost.co.id

Jadi gimana? Mudahkan menjadi dukun di zaman now. Saya jamin dengan mempraktekkan ke 4 rahasia tersebut dan mempelajarinya lagi lebih dalam, teman-teman akan menjadi sakti mandraguna layaknya dukun yang bisa dengan mudah membaca pikiran dan masa depan orang lain. Hahaha.


Senin, 25 Juni 2018

NLP FOR BETTER LIFE, UNTUK GENERASI MILENIAL


Bagi para praktisi training pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah NLP, akan tetapi bagi para generasi milenial belum tentu mengetahui apa itu NLP.  Padahal ilmu NLP sendiri sudah ada sejak lama, berpuluh-puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1970-an. Sejarah NLP sendiri bermula dari seorang ahli linguistik sekaligus pakar psikologi Dr. John Grinder yang bertemu dengan seorang pakar ilmu komputer Dr. Richard Bandler. Keduanya bertemu di Universitas California pada tahun 1970-an. Grinder dan Bandler tertarik untuk meneliti dan menemukan rahasia apa yang membuat seseorang bisa menjadi excellent.

Baca Juga Artikel Psikologi lainnya : KLIK DI SINI

Ada banyak  definisi mengenai NLP. John Grinder mengartikan NLP sebagai sebuah strategi belajar yang dipercepat. Sementara Richard Bandler, mengartikan sebagai sebuah sikap mental dan metodologi. Metodologi dalam NLP berfungsi untuk menjalankan teknik yang cepat dan tepat atau sering dibahasakan dengan kata efektif. Berbeda lagi dengan Robert Dilts, seorang terapis yang sangat produktif, NLP di artikan sebagai apapun yang bisa menghadirkan kesuksesan. Definisi terakhir tentunya sangat menggiurkan, khususnya bagi para generasi milenial yang jumlah populasinya paling besar di Indonesia.

Sumber : futuready.com
Banyak diantara generasi milenial sekarang yang berlomba-lomba untuk sukses semuda mungkin, menjadi pengusaha, membangun startup, dan sebagainya. Dan uniknya NLP tidak hanya berkutat di bidang bisnis saja, akan tetapi lebih luas. Setidaknya ada 3 bidang lain yang dapat ditingkatkan kualitasnya oleh generasi milenial dengan belajar NLP :

1. Kesehatan

Dalam NLP ada pembahasan yang dapat di aplikasikan untuk meningkatkan kualitas kesehatan manusia.  Karena prinsipnya : mind, soul and body are one system. Cara kerja tubuh dan pikiran merupakan sebuah satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Apa yang dirasakan oleh pikiran,  akan mempengaruhi kondisi tubuh, begitu juga sebaliknya.

Ternyata Begini Penjelasan Kesurupan versi Psikologi : BACA DI SINI

Yang mengejutkan adalah  banyak penelitian dalam dunia kesehatan di tahun-tahun terakhir ini menjelaskan bahwa penawar segala macam penyakit adalah jalan pikiran si pemilik sakit tersebut. NLP mengajarkan untuk merawat pikiran agar selalu positif dan selaras dengan menggunakan metode reframing. Sakit hati, kondisi yang menekan, stressor atau apapun itu yang dapat membuat  pikiran kita menjadi negatif dapat kita reframing agar pikiran kita lebih luas dan luwes menerima keadaan

2. Keluarga

Menggunakan NLP dalam kehidupan sehari-hari sangatlah menguntungkan, tidak terkecuali dalam kehidupan berkeluarga. Dengan menerapkan teknik-teknik NLP, kita akan mampu menghindari pertengkaran dan percekcokan di dalam keluarga yang seringkali menjadi tonggak akar permasalahan besar.

Sumber : ciptadent.co.id
Salah satu tekniknya bernama “Perceptual Position” ; mengajarkan seseorang untuk bisa memposisikan dirinya menjadi orang lain,  berpikir dan berperasaan seperti orang lain sehingga seseorang tersebut bisa memahami dan memaklumi segala kelemahan dan kekurangan orang lain. Dengan demikian perceptual position dapat memperkecil kemungkinan pasangan dalam sebuah keluarga saling membenci, misal di karenakan perbedaan pendapat.


3.  Pendidikan

Kita semua pasti setuju dan mungkin pernah mengalami mood buruk yang mengganggu  aktivitas belajar. Semisal : lagi banyak PR atau tugas yang harus diselesaikan tapi malas untuk mengerjakan, skripsi Anda yang tak kunjung selesai karena mood Anda yang selalu berubah-ubah; selalu mood jelek ketika Anda mencoba duduk di depan laptop untuk mengerjakan, namun mood kembali baik ketika Anda kembali “leyeh-leyeh” di kasur sambil buka-tutup sosial media. Atau contoh yang terakhir ini; Anda bersemangat untuk diskusi dalam suatu kelompok karena ada satu cewe yang ingin Anda ambil hatinya karena kecerdasan Anda dalam berpendapat & berdiskusi namun mood Anda seketika turun bahkan tidak mood sama sekali untuk berdiskui karena Anda tahu bahwa cewe yang Anda maksud tadi tidak hadir dalam diskusi kelompok. Tanpa sadar, dalam ketiga kasus tersebut kebanyakan dari kita di atur oleh mood yang jika di biarkan dalam jangka panjang akan mengganggu proses pendidikan kita.

Sumber : glints.id
Dalam NLP, mood di kenal dengan istilah “state”. Ada 4 cara yang di ajarkan dalam NLP agar kita bisa mengatur mood.. Pertama adalah Acces; mengakses potensi yang ada di masa lalu, masa depan ataupun yang ada pada orang lain. Kedua, Amplify; melipatgandakan intensitas dengan cara memodifikasi gambar/ film, suara/ musik dan perasaan. Ketiga, Anchor; penanaman jangkar (menggunakan prinsip utama jika-maka). Dan yang keempat, Apply; pengaplikasian dan pemanfaatan mood atau state yang sudah di pasang.


Bayangkan Generasi Milenal! Jika semua bidang-bidang tersebut dapat Anda tingkatkan kualitasnya dengan belajar NLP; pikiran dan tubuh Anda sehat, keluarga Anda harmonis serta pendidikan Anda luar biasa. Maka segala macam tantangan di era industri 4.0 pasti dapat dengan mudah Anda hadapi.

Rabu, 20 Juni 2018

4 Hal yang Haram di lakukan Sebelum Memulai Publik Speaking

Untuk menjadi publik speaker yang handal dan profesional, tentu tidaklah mudah. Banyak hal yang harus di persiapkan. Mulai dari isi materi yang bagus, cara membawakan yang menarik sampai tata letak kursi audiens yang tepat.

Sumber : maxmanroe.com
Bahkan sebelum kita naik ke atas panggung untuk berbicara di hadapan banyak orang, ada beberapa hal yang harus kita hindari agar Publik Speaking yang kita bawakan dapat di tampilkan secara maksimal. Simak 4 hal berikut berikut :

1. Takut tidak bisa/ tidak mampu tampil sempurna

Ini adalah mindset yang dapat menjerumuskan kita kepada kegagalan ketika Publik Speaking. Kebanyakan dari kita selalu menuntut kesempurnaan. Kesempurnaan adalah sebuah kata yang sulit untuk di jelaskan bagaimana indikasinya. Sempurna menurut orang yang satu dengan orang yang lain bisa jadi berbeda. Anda tampil sempurna ketika Publik Speaking ketika penampilan Anda seperti apa? Tidakkah Anda kesulitan menjelaskannya?


Kata sempurna seolah-olah menuntut Anda untuk selalu sukses tanpa kegagalan, sementara kita tahu persis bahwa di balik setiap kesuksesan, pasti ada kegagalan. Di balik seorang profesional, pasti di awali dari pemula. Sempurna seolah-olah menuntut kita untuk selalu tampil tanpa kesalahan sedikit pun. Padahal jika kita ingat-ingat lagi, kesempurnaan hanya milik Tuhan. Jadi, mulai dari sekarang Anda bisa mengganti kata “ingin tampil sempurna” dengan “memberikan penampilan yang terbaik”, yang maksudnya adalah berusaha menampilkan Publik Speaking dengan sebaik mungkin sebagus mungkin menurut versi diri kita sesuai dengan latihan-latihan yang sudah kita lakukan.

2. Malu jika di tonton teman dekat       

Anda pernah mengalami hal seperti ini? Sebelum naik ke atas panggung merasa sangat percaya diri. Akan tetapi ketika Anda mendapat informasi bahwa ada teman dekat SD Anda yang menonton. Seketika itu juga Anda hilang fokus, panik dan khawatir saat Anda tampil, teman SD Anda tadi memecah fokus Anda. Hal tersebut adalah mindset yang dapat menganggu kepercayaan diri Anda ketika tampil Publik Speaking. Sebaiknya yang harus Anda lakukan adalah mengubah mindset tersebut. Justru, ketika teman SD Anda menonton Anda Publik Speaking, itulah saat yang tepat bagi Anda untuk membuktikan bahwa Anda hebat dalam Publik Speaking.

3. Takut tidak menguasai materi

Ketakutan memang mindset yang paling membunuh ketika Publik Speaking. Bahkan Jerry Seinfeld; seorang pelawak tunggal kenamaan asal Amerika pernah berkata dalam pertunjukkannya: "Berdasarkan beberapa penelitian, ketakutan terbesar pertama bagi banyak orang adalah Public Speaking. Sedangkan ketakutan yang kedua adalah kematian. Apa ini terdengar wajar? Ini artinya, bagi sebagian orang, lebih baik ada di dalam peti mati daripada harus memberikan pidato kematian dalam sebuah pemakaman".


Ketakutan yang sering di rasakan banyak orang biasanya adalah takut tidak menguasai materi. Jika hal demikian terjadi pada Anda, yang perlu Anda lakukan sebenarnya sangatlah sederhana: “sampaikan yang Anda kuasai saja’. Kan tidak mungkin dong dari banyak materi yang Anda pelajari dan siapkan, Anda tidak menguasai semuanya. Anda hanya harus fokus pada apa yang Anda kuasai lalu sampaikan dengan percaya diri.

4. Merasa grogi atau gugup

Sumber : hellosehat.com
Menurut Gene Moyle, ahli psikologi dan mantan penari balet profesional, cara terbaik untuk mengatasi rasa gugup saat akan tampil adalah dengan memahami rasa gugup tersebut. Sehingga grogi atau gugup yang hadir pada diri kita sebelum tampil Publik Speaking bukan untuk di hilangkan, akan tetapi di kenali.

Baca Juga Artikel Psikologi lainnya : KLIK DI SINI

Di satu sisi grogi atau gugup kita butuhkan agar kita tetap waspada dan tidak over confidance, akan tetapi dengan porsi yang wajar. Rasa waspada akan membantu kita agar tetap berhati-hati dalam menjaga ingatan tentang materi yang sudah di pelajari.

Senin, 11 Juni 2018

2 Cara Sederhana Agar Tampil Percaya Diri Public Speaking


Public Speaking memang menjadi topik yang sangat asik di bahas dan seolah pembahasannya pun tidak ada habis-habisnya. Bahkan banyak fakta akhir-akhir ini yang hasilnya sangat mengejutkan.

Seperti yang tertulis dalam website aditriasmara.com; survey yang dilakukan oleh Chapman University memberikan fakta mengejutkan bahwa di tahun 2016, ada sebanyak 25.9% warga Amerika yang memiliki ketakutan terhadap Public Speaking. Angka tersebut merupakan angka yang besar jika dibandingkan dengan ketakutan terhadap banjir bandang yang hanya sebesar 22,2% orang di Amerika, sementara 21,8%  21,8% orang takut akan badai musim dingin. Lebih uniknya lagi, jumlah orang yang takut jika dirinya ada dalam sakaratul maut alias sekarat hanya ada 19%. Ditambah lagi, hanya ada 17,5% orang yang takut jika dirinya dibunuh oleh orang yang dia kenal.

sumber : youthmanual.com

Padahal sebenarnya, Public Speaking bukanlah sebuah ketakutan yang besar jika teman-teman mengetahui taktiknya. Lalu bagaimana caranya agar tampil percaya diri ketika Public Speaking? Cukup dengan 2 cara sederhana berikut!!!

1. Sampaikanlah apa yang Anda sukai

Teman-teman pernah tidak mengalami hal seperti ini? Teman-teman suka banget main game, misal game Mobile Legend yang lagi tren nih ya. Nah ketika teman-teman bercerita kepada teman-teman yang lain mengenai sudah di pangkat game apa saja; Warrior, Elite, Master, Grand Master kah atau Epic kah dst? Atau bercerita tentang kondisi team yang kurang kompak. Pasti teman-teman lancar banget kan ketika bercerita game tersebut. Mengapa bisa lancar? Karena teman-teman menyukai hal tersebut, dan karena menyukai, maka teman-teman pasti, rela dan mau untuk mengulangi aktivitas tersebut lagi dan lagi karena teman-teman menyukai,  betul atau betul banget? Public Speaking merupakan perkara yang mudah untuk di lakukan jika yang teman-teman ceritakan merupakan sesuatu hal yang sudah berulang kali kita lakukan dan kita menyukai hal tersebut. Nah mulai dari sekarang teman-teman bisa mulai mencari apa yang di senangi, dan bukalah Public Speaking teman-teman dengan introducton mengenai cerita yang teman-teman sukai tersebut.


2. Sukai apa yang Anda sampaikan

Sebuah lembaga penelitian di Toronto, Kanada melakukan uji coba terhadap dua ekor belalang peloncat (grasshopper). Disebut peloncat karena untuk pindah dari satu tempat ke tempat yang lain ia tidak berjalan, tapi meloncat. Loncatannya kadang kala mencapai satu meter. Mereka meletakkan belalang ini dalam tabung kaca yang separuhnya berisi air. Setelah itu tabung ditutup rapat dengan tembaga. Agar tidak mati tenggelam, tentu belalang ingin keluar dari tabung, untuk itu meloncat. Namun, setiap kali berusaha ia membentur tutup tembaga. Dan begitu seterusnya. Lambat laun ia tidak berusaha sama sekali, karena jika memaksakan diri ia akan selalu membentur tutup tembaga itu. Pada saat itulah para peneliti membuka tutup tembaga tersebut dan membiarkan tabung terbuka. Apa yang terjadi ? Belalang itu tidak berusaha membebaskan diri sama sekali. Sebab ia sudah terbiasa tidak berusaha karena program yang telah ada dalam dirinya. Ia terus diam hingga tenggelam dan mati.


sumber : heryarifin.com
Sama halnya dengan Public Speaking teman-teman, ketika kita menganggap bahwa Public Speaking adalah sesuatu hal yang sulit dan kita tidak menyukai hal tersebut, sampai pada akhirnya kita tidak berusaha membebaskan diri dari belenggu kesulitan dan sudah terbiasa untuk tidak berusaha, kita terus diam dan tenggelam dalam mental block tersebut, maka kita tidak akan pernah bisa untuk Public Speaking dengan percaya diri. Yang harus kita lakukan sebenarnya adalah mulai dengan menyukai Public Speaking itu sendiri, kita sukai topik yang kita bawakan, kita sukai cara berbicara, kita sukai respon audiens kita meskipun kita merasa bahwa Public Speaking kita masih belum terlalu bagus. Akan tetapi, ketika kita sudah menyukai atau bahkan jatuh cinta dengan sesuatu hal, maka kita akan rela dengan sepenuh hati untuk belajar memperbaiki diri terus menerus. Bukankah ketika teman-teman mencintai pasangan/ pacar Anda, maka Anda secara tidak sadar terus belajar untuk memahami karakter pasangan Anda dan terus belajar memperbaiki diri Anda? Betul atau betul banget?

Referensi :
https://satomokalino.blogspot.com/2014/12/proses-terbentuknya-sebuah-kebiasaan.html
http://www.aditriasmara.com/2017/04/survey-ketakutan-public-speaking.html