Wednesday, 14 February 2018

APAKAH SARJANA PSIKOLOGI PASTI LULUS PSIKOTEST DAN WAWANCARA?

Berikut ilustrasi percakapan yang sering terjadi antara Mahasiswa Psikologi (MP) dan Mahasiswa Non Psikologi (MX) pasca wisuda:

MX : Gimana bro? Setelah lulus ini rencana mau daftar kerja dulu atau mau S2 dulu nih? Atau mungkin mau nikah dulu? (sambil tersenyum)
MP : Hm. Masih belum kepikiran bro kalau nikah. Maunya sih mapan dan punya penghasilan tetap dulu. Rencana sih mau kerja dulu brader.
MX : Btw, enak ya bro, km kan kuliah di jurusan Psikologi nih, pasti udah belajar dan ngerti duluan lah nanti ketika tes psikotes kerja dan wawancara. Aku mah yakin banget bro kamu bisa lulus Psikotes `sama wawancara nya nanti.
MP : Yaa elaaah. Kalau mahasiswa psikologi pasti lulus psikotes mah kenapa banyak tuh mahasiswa psikologi yang jadi pengangguran.
MX : Hahaha. Iyaa juga sih yaaaa.


Sumber foto : 3.bp.blogspot.com
Tidak ada yang salah dari percakapan di atas. Cara pandang MX terhadap MP pun lahir karena latar belakang orang yang menjadi interviewer ketika wawancara ataupun tester ketika menginstruksikan tes psikotes adalah dari jurusan psikologi. Sehingga di anggap “mahasiswa psikologi yang di perkuliahannya belajar seputar tentang apa saja jenis-jenis alat tes psikotes, yang mana tes kepribadian yang mana untuk kecerdasan, bagaimana proses wawancara dan sebagainya akan MUDAH dan LANCAR ketika memasuki tes psikotes dan wawancara kerja, baik untuk tujuan mendaftar kerja ataupun kuliah S2”. Namun sebenarnya, ada banyak hal yang perlu kita ketahui sebelum setuju sepenuhnya pada pernyataan tersebut. Berikut poin-poinnya :

1. Umumnya psikotes terdiri dari 2 jenis, psikotes kecerdasan dan kepribadian. Namun faktanya; jumlah alat psikotes sangat banyak dan semuanya tidak di ajarkan di perkuliahan S1 Psikologi. Untuk psikotes kepribadian saja sedikitnya berjumlah 16 an; RMIB test, Draw a Family test, Dragon test, Papi kostick, CAT, DISC, EPPS, Pauli, Kraeplin, Rorschah, SSCT, TAT, Wartegg test, House Tree Person, DAP test, BAUM test dan lain-lain.


Mayoritas alat tes kepribadian bersifat interpretatif dan Sarjana Psikologi masih belum memiliki wewenang untuk memberikan interpretasi terhadap alat tes, berbeda dengan Psikolog yang wajib memiliki kompetensi tersebut. Sehingga anda lulus S1 Psikologi, belum tentu anda mengerti harus menggambar jenis pohon apa ketika tes menggambar pohon untuk mendaftar kerja sebagai staff HRD sebuah perusahaan.

2. Tujuan Psikotes adalah bukan untuk mencari siapa yang paling jenius dengan kecerdasan very superior, bukan yang paling ekstrovert atau bukan untuk mencari siapa yang paling introvert. Sehingga percuma bagi sarjana Psikologi hapal semua kunci jawaban Psikotes atau mengerti cara menunjukkan jenis kepribadian melalui psikotes.

Tujuan psikotes adalah untuk identifikasi tingkat kecerdasan dan atau tipe kepribadian sesuai dengan kebutuhan kompetensi pekerjaan. Misal: di buka lowongan pekerjaan marketing, kompetensi kerja yang di butuhkan adalah mudah beradaptasi dengan orang baru, komunikatif dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jika ada mahasiswa psikologi, namun tidak memiliki 3 kriteria tersebut. Ya pastilah tidak akan di terima. Meskipun ketika psikotes seorang sarjana psikologi mencoba untuk memanipulasi psikotes kepribadian seolah-olah dia memiliki 3 kriteria tersebut, kembali ke poin 1, yang bertugas mengoreksi hasil psikotes adalah Psikolog; orang yang memiliki daya interpretatif yang lebih tinggi. Kebohongan yang di buat-buat akan terbaca



3. Psikotest dan wawancara adalah satu kesatuan asesmen. Psikotest tanpa wawancara, bagai pisau yang tumpul. Sehingga jika ada sarjana psikologi yang hapal dan mengerti betul tentang alat psikotest namun ketika wawancara menunjukkan dirinya cemas dan kurang percaya diri; berkemungkinan akan gagal.


Juga sebaliknya, ketika wawancara sangat lancar dan mampu meyakinkan interviewer namun ketika psikotest IQ yang di tunjukkan berada pada borderline; masih tetap berkemungkinan untuk gagal. Masalahnya, dalam perkuliahan S1 Psikologi, psikotest dan wawancara di ajarkan kurang lebih hanya 50%, 50% nya akan di dapatkan dari S2 dan pengalaman. Jadi kembali lagi di pertanyakan, apakah sarjana psikologi pasti lulus psikotes dan wawancara?

No comments:
Write komentar