Rabu, 14 Februari 2018

TIPS MENGELOLA MOOD ANDA

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, pernah ngga Anda mengalami hal-hal seperti ini? Karena pagi-pagi sudah kena marah Ibu atau isteri di rumah membuat perasaan Anda hari itu tidak baik atau mood Anda jelek seharian, sehingga tugas-tugas yang harusnya di selesaikan hari itu menjadi tertunda, karena tidak mood sama sekali untuk mengerjakannya.

Sumber foto : mychicagotherapist.com
Atau gini; ketika Anda sedang bercanda dengan teman Anda. Lagi asik asiknya bercanda eh ada kalimat dari mulut teman Anda yang itu menyinggung perasaan Anda, sakitnya tuh di sini (nunjuk dada) Hehe. Di situ mood Anda tiba-tiba berubah drastis, menjadi menghindari teman Anda, atau bahkan Anda membenci dia. Padahal Anda bersama teman Anda kan sama-sama tau bahwa pada saat itu konteksnya adalah bercanda.


Atau contoh lain seperti ini; suatu ketika perasaan Anda baik-baik saja, akan tetapi ketika Anda melihat orang yang Anda benci melintas berjalan di hadapan Anda, saat itu juga, secara mendadak, mood Anda langsung berubah secara drastis, menjadi badmood dan rasanya itu pengen menghindar jauh-jauh dari dia. Dari beberapa kejadian tersebut, bagaimana perasaan teman-teman? Menyesal? Kecewa? Atau marah kepada diri sendiri? Kenapa sih mood ku mudah banget untuk berubah-ubah ya? Kenapa sih aku mudah banget di kontrol sama si kampret mood jelek ini ya?


Jadi gini teman-teman, dalam dunia NLP (Neuro Lingustic Programming) mood itu sendiri ada kajiannya, namun istilahnya saja yang berbeda, biasa kita sebut dengan “state’”. State sendiri di pengaruhi oleh kondisi fisik dan mental seseorang. Itu kenapa kadang jika fisik kita sakit, kita sulit untuk berpikir fokus atau mengakses kondisi mental tertentu (senang, bahagia dll), bawaanya pengen istirahat dan tidur saja seharian. Istilahnya mind and body is one system, jika salah satu terganggu maka bagian yang lain juga akan terganggu

Nah uniknya, dalam NLP, kita di ajari untuk bisa mengontrol mood. Bagaimana caranya? akan saya sharing di sini caranya ya.

Sumber foto : 1button.co
Sederhananya dan biar mudah di ingat, RUMUSNYA 4A teman-teman; ACCESS, AMPLIFY, ANCHOR dan APPLY.


Kali ini saya akan sharing tips mengelola mood dengan cara ACCESS. Biar lebih mantep, saya kasih contoh nih, misalnya Anda ingin mengakses mood semangat ketika mood Anda sedang jelek, jadi yang awalnya bad mood mau ngapa-ngapain, bisa di ubah menjadi lebih bersemangat. Caranya bagaimana? Gini, sebelumnya, Anda harus menentukan dan memilih dulu kira-kira di masa lalu, adakah suatu pengalaman yang membuat Anda sangat bersemangat? Ketika sehabis minum kopi untuk bergadang mengerjakan tugas, ketika mengerjakan tugas kantor yang sudah dekat dengan deadline atau pengalaman apapun itu yang membuat Anda sangat bersemangat. Sudah di pilih? Nah jika sudah, silahkan Anda menutup mata. Cukup rilekskan tubuh dan pikiran Anda. Tarik napas yang dalam lewat hidung, keluarkan lewat mulut. Sekarang tugas Anda cukup sederhana, silahkan akses semua memori dan perasaan Anda ketika bersemangat di masa lalu Anda itu. Akses semua hal yang Anda bisa. Beri warna dan cahaya yang jelas. Semangat yang seperti apa persisnya? Apa yang Anda lihat saat itu? Apa suara yang anda dengar saat itu? Kemudian perasaan seperti apa yang Anda rasakan saat itu? Timbulkan semua imajinasi dan bayangan mengenai kejadian ketika Anda bersemangat saat itu.


Kemudian perkuat perasaan bersemangatnya. Jika sudah sampai pada puncaknya, Anda boleh membuka mata, jika Anda tadi berhasil fokus dan konsentrasi sepenuhnya, maka it’s work, mood Anda sudah berubah menjadi lebih baik. Tidak percaya? Silahkan Anda coba rasakan sendiri perasaan yang berubah lebih baik dari sebelumnya; lebih nyaman, lebih tenang. lebih bersemangat. Betul kan? Betul atau betul banget?

APAKAH SARJANA PSIKOLOGI PASTI LULUS PSIKOTEST DAN WAWANCARA?

Berikut ilustrasi percakapan yang sering terjadi antara Mahasiswa Psikologi (MP) dan Mahasiswa Non Psikologi (MX) pasca wisuda:

MX : Gimana bro? Setelah lulus ini rencana mau daftar kerja dulu atau mau S2 dulu nih? Atau mungkin mau nikah dulu? (sambil tersenyum)
MP : Hm. Masih belum kepikiran bro kalau nikah. Maunya sih mapan dan punya penghasilan tetap dulu. Rencana sih mau kerja dulu brader.
MX : Btw, enak ya bro, km kan kuliah di jurusan Psikologi nih, pasti udah belajar dan ngerti duluan lah nanti ketika tes psikotes kerja dan wawancara. Aku mah yakin banget bro kamu bisa lulus Psikotes `sama wawancara nya nanti.
MP : Yaa elaaah. Kalau mahasiswa psikologi pasti lulus psikotes mah kenapa banyak tuh mahasiswa psikologi yang jadi pengangguran.
MX : Hahaha. Iyaa juga sih yaaaa.


Sumber foto : 3.bp.blogspot.com
Tidak ada yang salah dari percakapan di atas. Cara pandang MX terhadap MP pun lahir karena latar belakang orang yang menjadi interviewer ketika wawancara ataupun tester ketika menginstruksikan tes psikotes adalah dari jurusan psikologi. Sehingga di anggap “mahasiswa psikologi yang di perkuliahannya belajar seputar tentang apa saja jenis-jenis alat tes psikotes, yang mana tes kepribadian yang mana untuk kecerdasan, bagaimana proses wawancara dan sebagainya akan MUDAH dan LANCAR ketika memasuki tes psikotes dan wawancara kerja, baik untuk tujuan mendaftar kerja ataupun kuliah S2”. Namun sebenarnya, ada banyak hal yang perlu kita ketahui sebelum setuju sepenuhnya pada pernyataan tersebut. Berikut poin-poinnya :

1. Umumnya psikotes terdiri dari 2 jenis, psikotes kecerdasan dan kepribadian. Namun faktanya; jumlah alat psikotes sangat banyak dan semuanya tidak di ajarkan di perkuliahan S1 Psikologi. Untuk psikotes kepribadian saja sedikitnya berjumlah 16 an; RMIB test, Draw a Family test, Dragon test, Papi kostick, CAT, DISC, EPPS, Pauli, Kraeplin, Rorschah, SSCT, TAT, Wartegg test, House Tree Person, DAP test, BAUM test dan lain-lain.


Mayoritas alat tes kepribadian bersifat interpretatif dan Sarjana Psikologi masih belum memiliki wewenang untuk memberikan interpretasi terhadap alat tes, berbeda dengan Psikolog yang wajib memiliki kompetensi tersebut. Sehingga anda lulus S1 Psikologi, belum tentu anda mengerti harus menggambar jenis pohon apa ketika tes menggambar pohon untuk mendaftar kerja sebagai staff HRD sebuah perusahaan.

2. Tujuan Psikotes adalah bukan untuk mencari siapa yang paling jenius dengan kecerdasan very superior, bukan yang paling ekstrovert atau bukan untuk mencari siapa yang paling introvert. Sehingga percuma bagi sarjana Psikologi hapal semua kunci jawaban Psikotes atau mengerti cara menunjukkan jenis kepribadian melalui psikotes.

Tujuan psikotes adalah untuk identifikasi tingkat kecerdasan dan atau tipe kepribadian sesuai dengan kebutuhan kompetensi pekerjaan. Misal: di buka lowongan pekerjaan marketing, kompetensi kerja yang di butuhkan adalah mudah beradaptasi dengan orang baru, komunikatif dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jika ada mahasiswa psikologi, namun tidak memiliki 3 kriteria tersebut. Ya pastilah tidak akan di terima. Meskipun ketika psikotes seorang sarjana psikologi mencoba untuk memanipulasi psikotes kepribadian seolah-olah dia memiliki 3 kriteria tersebut, kembali ke poin 1, yang bertugas mengoreksi hasil psikotes adalah Psikolog; orang yang memiliki daya interpretatif yang lebih tinggi. Kebohongan yang di buat-buat akan terbaca



3. Psikotest dan wawancara adalah satu kesatuan asesmen. Psikotest tanpa wawancara, bagai pisau yang tumpul. Sehingga jika ada sarjana psikologi yang hapal dan mengerti betul tentang alat psikotest namun ketika wawancara menunjukkan dirinya cemas dan kurang percaya diri; berkemungkinan akan gagal.


Juga sebaliknya, ketika wawancara sangat lancar dan mampu meyakinkan interviewer namun ketika psikotest IQ yang di tunjukkan berada pada borderline; masih tetap berkemungkinan untuk gagal. Masalahnya, dalam perkuliahan S1 Psikologi, psikotest dan wawancara di ajarkan kurang lebih hanya 50%, 50% nya akan di dapatkan dari S2 dan pengalaman. Jadi kembali lagi di pertanyakan, apakah sarjana psikologi pasti lulus psikotes dan wawancara?

BAHAYA INSTAGRAM BAGI KESEHATAN PSIKOLOGIS ANDA

Di era jaman now, siapa yang tidak tau sosial media? Terlebih lagi sosial media instagram. Bahkan anak kecil SD sekarang sudah banyak yang menggunakan Instagram, lagi ekstrakulikuler upload di instastory, sambil nyanyi yang hapenya di puter-puter atau tangan nya yg muter-muter ya (mbohlah gimana) di upload juga di instagram. Bahkan balita looh (*anak-bawah lima tahun) sudah ada instagramnya. Namun taukah Anda? Sebenarnya di balik aplikasi Instagram yang sering kita buka setiap hari itu, bahkan mungkin sampai 2-3 jam sehari itu, terdapat buanyak bahaya bagi kesehatan psikologis Anda :


1. Anda menipu diri Anda sendiri demi sebuah pengakuan

Kebanyakan foto instagram berisi fantasi seseorang terhadap dunianya. Misal foto selfie; biasanya sih ini cewe, tapi tidak selalu. Utk mendapatkan 1 foto selfie yg di upload di instagram, mereka harus memfoto diri mreka sendiri (selfie) dengan belasan atau bahkan puluhan kali foto, kemudian di edit dengan 1 atau mungkin bahkan 2 aplikasi edit foto agar foto yang mereka hasilkan adalah yang terbaik dan bisa VIRAL di mana-mana dengan harapan dapat ribuan like dan ratusan komen. Yang warna kulit atau mukanya (agak) hitam di edit di putihin, yang (agak) gemuk di edit di kurusin, yang jerawatan di edit di mulusin,  yang rendah di tinggiin, yang pesek di mancungin. Ya semua semuanya aja di edit.


Dan ternyata, secara tidak sadar pelakuan Anda terhadap diri Anda tersebut melatih Anda untuk tidak bersyukur terhadap diri Anda sendiri, Anda tidak menerima diri Anda apa adanya, Anda ingin di lihat lebih baik lebih bagus dari diri Anda yang sebenarnya. Wah wah selamat. Anda berhasil menipu diri Anda sendiri demi sebuah apresiasi

2. Membuat Anda takut untuk ketinggalan moment bahagia


Menurut survei #StatusOfMind yang dipublikasi oleh Royal Society for Public Health Inggris, dari 5 sosial media; Instagram, Snapchat, Facebook, Twitter, dan You Tube kepada kurang lebih 1.500 org yg mengikuti survei. TERNYATA instagram adalah sosial media terburuk bagi kesehatan mental dan kesejahteraan. Salah satunya berhubungan dengan tingkat Fear of Missing Out (FOMO); ketakutan bahwa orang lain sedang mengalami kejadian menyenangkan, di mana ia tidak merasa terlibat. Anda sendiri tahu. Berapa banyak moment berharga yang teman-teman Anda posting di instagram dan Anda melewatkan moment-moment tersebut. Acara tahun baru misalnya, teman-teman Anda asik party di luar Anda hanya mengurung diri di rumah lantaran tak ada uang. Teman-teman Anda asik muncak ke gunung, sementara Anda masih sibuk dengan tugas dan tugas kuliah. Membuat Anda menjadi takut untuk tidak terlibat dalam moment-moment yang membahagiakan, Anda takut di bilang tidak gaul.

Wah hati-hati. Membuang-buang energi untuk ketakutan yang tidak ada faedahnya. Buatlah moment bahagia Anda sendiri. Jadilah pribadi yang merdeka, tanpa tergantung dengan orang lain.

3. Membuat Anda membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain

Berhubungan dengan poin pertama, menurut saya pribadi Instagram merupakan sosial media paling high class yang di dominasi oleh kaum anak muda, di instagram kita bisa lihat banyak postingan foto orang dengan rumah super mewah, mobil mahal, motor keren, foto dengan fashion-fashion kekinian, foto di restoran elit, foto dengan make up brand ternama yang terkadang secara tidak sadar membuat kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang-orang tersebut. “Coba yah saya bisa punya rumah mahal kaya gitu pasti saya akan... Enak yah dia bisa keliling-keliling dunia. Enak yah dia bisa makan di situ”.

Bagus lah kalau termotivasi untuk bekerja lebih giat lebih keras. Nah bahayanya jika kondisi ekonomi yang memang tidak mencukupi, tapi gayanya di paksakan. Wah bahaya bahaya...

4. Membuat fokus hidup Anda terganggu.

Sedikit berbeda dengan bentuk sosial media yang lain, Instagram lebih memanjakan auditori dan visual penggunanya, dalam sistem pertemanan; menggunakan fitur follow/ unfollow serta membebaskan penggunanya untuk melihat isi profil/ foto-foto orang lain, kita bahkan bisa melihat foto-foto orang lain tanpa mengikuti dia (kecuali akun yg di privat). Kita bebas melihat foto-foto apa saja dan siapa saja di tayangan eksplor. Follow (mengikuti) di instagram berarti kita mengikuti segala macam foto dan aktivitas dari orang tersebut. Ya namanya sebagai pengikut, orang jalan ke taman kita ikut, ke pantai ikut, ke gunung ikut. Nah yang bahaya orang jalan masuk ke sumur kita ikut juga terjun.


Maksudnya gini, bayangkan, jika semua orang yang Anda ikuti sukanya posting foto-foto alay atau bikin caption galau otomatis itu akan mempengaruhi Anda. Awas ini yang bahaya. Kadang kita mahasiswa kebanyakan follow akun artis atau malah akun hoax.Ya kembali sih terserah yang punya akun, tapi Anda seorang mahasiswa;  apa pentingnya bagi Anda untuk tahu segala macam kehidupan para artis dengan memfollownya? Mestinya ya seorang pengusaha follow akun-akun pengusaha, Anda mau hidup Anda baik follow akun-akun yang baik. Okeyyy