Senin, 25 September 2017

Mahasiswa Psikologi Bukan Dukun


“Eh, kamu anak Psikologi ya? Coba baca karakter ku dong, aku orangnya gimana?”
“Menurut mu dari garis tangan ku ini, di masa depannya nanti aku bakalan kerja apa ya?”
“Kira-kira dari fotonya ini (sambil menyodorkan foto profil Facebook doi), orangnya kaya gimana ya?

Sumber foto : https://fasyaulia.wordpress.com/2016/02/15/enak-gak-enak-pacaran-sama-anak-psikologi-part-1/
Mungkin bagi Anda mahasiswa Psikologi pasti sering menerima kalimat-kalimat di atas ketika bertemu dengan teman-teman Anda. Terlebih, mungkin ketika sedang reuni akbar atau buka bersama saat bulan Ramadhan, dan teman-teman kalian tau bahwa kalian sedang atau lulusan jurusan Psikologi. Pasti kalian akan di serbu dengan kalimat-kalimat tersebut.

Sumber foto : https://mufidaelkhairi.wordpress.com/2016/01/17/mahasiswa-psikologi-ums-keren/
Nah. Sekarang kita akan membahas beberapa argumen yang dapat menyatakan bahwa mahasiswa Psikologi itu bukanlah dukun ;

1. Mahasiswa Psikologi adalah seorang observer, mereka terbiasa melakukan pengamatan, melihat apa yang nampak secara detail dari ujung kaki hingga kepala, melihat secara intens gerak-gerik yang di lakukan, bagaimana posisi kaki ketika duduk di kursi, apakah di lipat atau kaki keduanya di letakkan di lantai, melihat tangannya apakah di lipat di dada, arah matanya kemana ketika berbicara. Mahasiswa psikologi adalah seorang pengamat. Sehingga dari situlah terkadang mereka dapat berbicara banyak mengenai karakter orang lain. Sebagai contoh dalam sebuah organisasi, sebut saja A yang mudah terpancing emosi ketika rapat, sering berbicara dengan nada yang tinggi, dan susah untuk di berikan nasehat. Sebagai mahasiswa Psikologi yang berada dalam organisasi tersebut, dengan beberapa hasil pengamatan dia yang di jelaskan melalui ciri-ciri yang disebutkan di atas, sangat jelas dapat disimpulkan bahwa si A adalah orang yang seperti apa? Pemarah dan arogan. Nah seperti itulah cara kami mahasiswa Psikologi membaca karakter, dengan pengamatan. Itupun masih hanya sekedar hipotesis, bukan kesimpulan akhir.


2. Kami di latih untuk lebih peka dan berempati dari mahasiswa-mahasiswi lainnya. Dari banyak mata kuliah yang kami tempuh, hampir mayoritas bertujuan untuk melatih kepekaan dan empati kepada orang lain, semisal memberikan modifikasi perilaku kepada anak berkebutuhan khusus, konseling kepada remaja yang sedang galau putus cinta atau psiko edukasi kepada lansia (lanjut usia). Sehingga mereka terbiasa merasakan bagaimana menjadi orang lain. Hingga tak di pungkiri jika mereka di tanya bagaimana karakter seorang anak dari keluarga yang broken home misalnya, mereka bisa menjelaskan kecenderungan-kecenderungan perilaku nya. Bukan karena mereka dukun. Sekali lagi, karena mereka terbiasa merasakan perasaan orang lain.

.
3. Mahasiswa Psikologi kenyang akan cerita kehidupan. Setiap perjalanan kehidupan manusia di muka bumi ini sangatlah beragam. Namun meskipun demikian, perjalanan hidup tersebut sebenarnya dapat kita kelompokkan menjadi beberapa bagian, berdasarkan kecenderungan ras, suku, kearifan lokal, kondisi ekonomi, pendidikan dsb. Hingga pada akhirnya muncul istilah sterotyping ; prasangka kebanyakan. Sebagai contoh : orang gemuk biasanya pemalas dan rakus, orang Tionghoa atau Cina sangat perhitungan, orang batak cenderung kasar ketika berbicara dan sebaliknya orang Jawa sangat halus dan lemah lembut.

Sumber foto : http://www.kompasiana.com/liliyanasari/mahasiswa-psikologi-bukan-calon-dukun_55283717f17e61dd2a8b4569
Nah itulah sebenarnya bahan kami untuk bisa berbicara banyak tentang karakter; menggunakan kecenderungan orang kebanyakan, meskipun kita sudah sepakat bahwa sterotyping tidak dapat di generalisir.

Tidak ada komentar:
Write komentar