Monday, 25 September 2017

Fenomena LGBT Menurut Perspektif Psikologi


Jika di lihat melalui perspektif agama, jelas bahwa fenomena LGBT sangatlah salah, bahkan termasuk dalam dosa besar. Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW menganjurkan untuk membunuh siapapun pelaku Homo seksual. Memang fenomena LGBT ini adalah bukan fenomena yang baru lagi. Sejak jaman Nabi Muhammad SAW pun sudah menjadi sumber pertikaian dan sampai sekarang pun masih ramai di perdebatkan. 

Sumber foto : ngelmu.id

Namun kali ini, penulis mencoba untuk menelaah sedikit lebih dalam tentang LGBT menurut perspektif ilmu psikologi.


LGBT bukan merupakan gangguan/ kelainan jiwa, jika Anda mengerti ilmu psikologi dan tau tentang DSM-IV, maka tidak ada lagi kategori homoseksualitas dkk dalam buku tersebut. Tahun 1990, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencabut homoseksualitas dari Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD). Kemudian diikuti dengan Kementerian Kesehatan mencabut LGBT sebagai penyakit kejiwaan di Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi III pada 1993. LGBT bukan gangguan/ kelainan jiwa, akan tetapi lebih tepatnya adalah kebingungan identitas. Ada segelintir manusia di muka bumi ini yang bingung tentang identitasnya sendiri, perilaku seperti perempuan namun tumbuh dan berkembang dalam tubuh laki-laki, atau sebaliknya. Mungkin Anda pembaca mempunyai teman perempuan yang tomboy? Atau teman laki-laki yang feminim? Anda mungkin memiliki teman perempuan yang suka trek motor, balap-balapan, nongkrongnya sama laki-laki, main kemana-mana sama laki-laki. Anda bingung tidak dengan kejadian semacam itu? Perempuan kok ke laki-lakian. Nah si orang tersebut pun tentunya bingung, dia sendiri merasa bingung, saya perempuan kok tapi saya suka aktivitas laki-laki ya. Nah itu sebenarnya sedikit potensi, akan berkembang menjadi LGBT? tergantung lingkungannya seperti apa.

Sumber foto : bintang.com
Sebagian kecil LGBT adalah karena faktor gen/ bawaan/ keturunan. Berawal dari banyaknya penelitan yang mengatakan bahwa 50% LGBT di sebabkan oleh lingkungan, kemudian 50% nya lagi di sebabkan oleh gen atau bawaan. Telah di sebutkan melalui proses penelitian berpuluh-puluh tahun, area kecil di hipotalamus otak pada laki-laki homoseksual ukurannya dua kali lebih besar dibandingkan laki-laki heteroseksual. Penelitian itu mengatakan otak manusia dapat membentuk sifat maskulin atau juga feminine. Ini terlepas dari bentuk seksual fisik yang mempunyai vagina atau juga penis. Ketika janin berkembang, identitas gender dan diferensiasi seksual dari alat kelamin berkembang secara mandiri dari satu sama lain. Lalu jika ada segelintir manusia di muka bumi ini yang memang dari lahir dia memiliki turunan orientasi gen untuk berperilaku homoseksual misalnya. Kita bisa apa?


Dean H. Hammer seorang ahli genetika, bersama tim penelitinya di Lembaga Kanker Nasional Amerika pada tahun 1993. Mereka mengatakan bahwa homoseksual, setidaknya, beberapa bersifat genetik. Dikatakan dari hasil penelitian silsilah keluarga yang dua atau lebih adalah homo, dan digabungkan dengan DNA homoseksual yang sebenarnya maka ditemukan adanya kemungkinan yang mempengaruhi orientasi seks seseorang. Kemudian Alferd C.Kensey, seorang profesor sexology ditahun 1950 an mengatakan hasil penelitiannyanya membuktikan bahwa 1 dari 10 orang adalah homo. Ini berarti 10% dari 100%. Artinya jika anda laki-laki, maka 1 dari 10 teman laki-laki Anda adalah homo. Sudah di teliti dan di buktikan, demikian benar adanya menurut Alfred. Nah. Masalahnya adalah di sini, yang kita tidak tau adalah sejauh mana keabsahan penelitian tersebut. Alferd C.Kensey ternyata merupakan seorang peneliti yang pro LGBT dan banyak peneliti-peneliti lainnya yang mereka sendiri sebenarnya adalah seorang Homo, sehingga wajar bagi mereka untuk mendukung hak-haknya. Penelitian yang di jadikan patokan bagi kaum intelektualitas pun akhirnya bergeser keabsahannya menjadi subjektif, bukan lagi berorientasi pada objektivitas penelitian. Itulah perangkap, dan kita harus berhati-hati.

Akhirnya, memang sebaiknya semuanya, semua hal yang ada di kehidupan kita ini kita kembalikan kepada panduan hidup “Al-Quran dan Hadis”. Agar hidup kita penuh dengan keyakinan yang mantap tanpa keragu-raguan yang dapat menyesatkan. 

No comments:
Write komentar