Monday, 21 November 2016

Tahapan Perkembangan Menurut Erikson

Erikson mengelompokkan tahapan kehidupan ke dalam 8 fase yang merentang sejak kelahiran hingga kematian :
Sumber : http://www.slideshare.net/Astraea_Ikaros/sosiologi-dan-politik
TAHAPAN PERKEMBANGAN

USIA
HASIL PERKEMBANGAN

KARAKTERISTIK
Tahap Bayi (Infancy)
Sejak lahir – 18 bulan
Percaya vs Tidak Percaya
- Mengalami tahapan sensorik oral atau memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut
- Sepenuhnya mempercayai orang tua atauorang-orang terdekatnya
- Cenderung menangis jika di dekati atau di pangku oleh orang asing
- Jika si ibu/ orang terdekat memberikan perhatian positif & penuh kasih, maka bayi akan menumbuhkan rasa percaya pada lingkungan, berprasangka baik pada orang lain serta melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik.
- Jika si ibu/ orang terdekat gagal mengasuh, maka bayi akan memiliki rasa tidak percaya pada orang lain, selalu curiga serta akan melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh frustrasi
- Tugas orang tua pada fase ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk tidak percaya
Tahap Kanak-Kanak Awal
18 Bulan - 3 tahun           
Otonomi vs Rasa Malu
- Mulai mempelajari ketrampilan untuk diri sendiri. Bukan sekedar belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri. Tetapi motorik yang lebih halus, seperti : toilet training
- Di sisi lain, bayi telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
- Kemampuan mengendalikan bagian tubuh berkembang
- Tumbuhnya pemahaman tentang benar dan salah.
- Mulai belajar untuk berkata tidak pada sesuatu yang tidak di sukai/ diinginkan
- Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam mengasuh anaknya bersikap salah, maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu
- Tugas orang tua dalam mengasuh pada fase ini adalahtidak perlu mengobarkan keberanian anak dan tidak pula harus mematikannya. Dengan kata lain, keseimbangan antara kontrol kemandirian dan rasa malu pada anak. Ada sebuah kalimat yang seringkali menjadi teguran maupun nasihat bagi orang tua dalam mengasuh anaknya yakni “tegas namun toleran”. Makna dalam kalimat tersebut ternyata benar adanya, karena dengan cara ini anak akan bisa mengembangkan sikap kontrol diri dan harga diri.
Tahap Usia Bermain
3 - 5 tahun
Inisiatif vs Rasa Bersalah
- Anak biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa di sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Anak laki-laki bermain dengan kuda-kudaan dan senapan kayu, anak perempuan main “pasar-pasaran” atau boneka yang mengimitasi kehidupan keluarga, mobil-mobilan, handphone mainan, tentara mainan untuk bermain peran, dsd
- Satu kata yang sering muncul, yakni kenapa
- Anak telah memiliki beberapa kecakapan dan terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas, adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat
- Belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa terlalu banyak melakukan kesalahan
- Orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. Akan tetapi, semuanya akan terbalik apabila tujuan dari anak pada masa ini mengalami hambatan karena dapat mengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya yaitu merasa berdosa dan pada puncaknya mereka seringkali akan merasa bersalah atau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang mereka rasakan dan lakukan.
Tahap Usia Sekolah
6 – 12 tahun
Industri vs Inferioritas
- Paling menonjol dalam hal pertumbuhan secara fisik
- Keterampilan yang dikembangkan  menagarah pada sikap kerja seperti : ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat, kerajinan serta berada dalam konteks sosial
- Sekolah dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting dalam pembentukan sikap, sementara orang tua sekalipun masih penting namun bukan lagi sebagai otoritas tunggal
- Pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri
- Area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya
- Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin
- Jika anak tidak dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil maka mereka cenderung merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap rendah diri
- Tugas orang tua adalah menyeimbankan antara sikap kerja yang harus di kembangkan pada diri anak dan keasadaran bahwa ada beberapa hal yang tidak sanggup di lakukan dengan usaha tertentu dengan jangka waktu tertentu.
Tahap Remaja
12 - 18 tahun
Identitas vs kebingungan peran

- Pada fase ini perkembangan bukan lagi tergantung pada apa yang dilakukan untuk saya, akan tetapi tergantung pada apa yang saya kerjakan. Karena pada masa ini bukan lagi anak, tetapi juga belum menjadi dewasa,
- Hidup berubah menjadi sangat kompleks karena individu berusaha mencari identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat dengan persoalan-persoalan moral
- Tugas perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai individu yang terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian dari lingkup sosial yang lebih luas. Bila fase ini tidak lancara diselesaikan, orang akan mengalami kebingungan dan kekacauan peran
- Hal yang perlu dikembangkan di adalah filosofi kehidupan.
- Di fase ini anak cenderung idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang pada kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada kesetiaan dan ketergantungan pada teman
- Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan.
- Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota
- Jika pada fase sebelumnya tidak berlangsung secara baik, maka anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya atau bisa di sebut kebingungan peran
- Jika kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingkan dengan kebingungan peran, maka mereka tidak menyisakan sedikit ruang toleransi terhadap orang-orang di sekitarnya
- Tugas orang tua adalah mengontrol siapa saja teman dan memilihkan teman yang bisa membawa anak ke jalan kehidupan yang benar.
Tahap Dewasa Awal
18 - 35 tahun
Solidaritas vs Is isolasi
- Pada fase ini ikatan kelompok sudah mulai longgar, mulai selektif dan membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham.
- Menjalin hubungan spesial dengan orang lain dan kerja sama dengan orang lain
- Jika pada fase ini, individu tidak memiliki kemampuan membangung relasi yang baik, maka individu tersebut yaitu cenderung mengisolasi/menutup diri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.
- Kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta, baik wilayah cinta dengan orang tua, tetangga, sahabat dan lain-lain
Tahap Dewasa
35 -55 atau 65tahun
Generativitas vs Stagnasi
- Puncak dari segala kemampuan yang dimilki
- Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan
- Cenderung penuh dengan pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta berbagai permasalahan di seputar keluarga. Selain itu fase ini adalah masa “berwenang” yang diidamkan sejak lama
- Timbul ketakutan akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri
- Tugas yang penting di fase ini adalah meneruskan nilai budaya pada keluarga (membentuk karakter anak) serta memantapkan lingkungan yang stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian orang lain, dan karya yang memberikan sumbangan pada kebaikan masyarakat (generativitas)
- Ketika anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan interpersonal tujuan berubah, ada kehidupan yang berubah drastic, individu harus menetapkan makna dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak berhasil di tahap ini, maka akan timbul stagnasi
- Apabila pada fase pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada fase ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi)
Tahap Dewasa Akhir
55 atau 65 tahun hingga mati
Integritas vs Keputus asaan
- Jika pada fase-fase sebelumnya dilewati dengan kegagalan, maka individu cenderung merasakan keputus asaan, belum bisa menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia merasa telah menemukan jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang dianutnyalah yang paling benar
- Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya
- Fase ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri
- Jika pada fase-fase yang telah dilaluinya di lewatidengan bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan, maka ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya tumbuh, menerima keluasan dunia menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan

  • Referensi :

https://suhartoalwachidi.wordpress.com/2015/07/22/psikologi-perkembangan-manusia/
https://mercusuarku.wordpress.com/2008/08/10/perkembangan-manusia/
https://rhenniyhanasj.wordpress.com/2014/05/25/fase-fase-perkembangan-manusia/
http://www.psychologymania.net/2010/03/teori-perkembangan-psikoseksual.html

No comments:
Write komentar