Kamis, 03 November 2016

Semua Orang Bisa Memiliki Indra Ke Enam?

Beberapa tahun yang lalu kita sering menemui fenomena-fenomena yang terbilang “mustahil terjadi” tapi ternyata “bisa terjadi”.  Kasus yang paling ramai adalah batu ajaib Ponari yang “katanya” bersumber dari kekuatan petir, dapat menyembuhkan beratus-ratus bahkan ribuan penyakit dengan sekejap.
Sumber : https://masshar2000.com/2015/07/23/apa-kabar-ponari-berapa-kekayaannya-sekarang/
Kemudian hadir lagi fenomena aneh perut yang di penuhi paku, meskipun perut Supiyati (Perempuan-25 tahun) sudah di operasi, namun hasil rontgen tetap menunjukkan adanya paku di perut Supiyati (Baca berita di sini) .
Sumber : http://kabardaripanyileukan.blogspot.co.id/2014/12/ahli-bedah-indonesia-bicara-di-forum.html
Dan tentunya masih banyak lagi fenomena-fenomena unik yang pernah terjadi di Indonesia. Atau mungkin anda sendiri pernah merasakan fenomena yang menurut anda mustahil?
Dalam kehidupan sehari-hari, anda mungkin pernah mengalami suatu fenomena yang secara logika tidak dapat diterima oleh akal sehat. Misalnya : seperti melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, mendengar suara yang tidak bisa didengar orang lain, melihat suatu kejadian yang akan datang maupun melihat kejadian masa lalu. Sedikit berbeda dari 2 contoh (Ponari & Supiyati) di atas, fenomena tersebut biasanya terjadi di sebabkan karena ketajaman batiniah anda sendiri, atau Indra ke enam, atau dalam kajian psikologi bisa di sebut sebagai Extra Sensory Perception (ESP). Berbeda dengan Ponari dan Supiyati yang tidak mengerti sama sekali kenapa hal ajaib tersebut bisa terjadi kepada mereka, ESP bisa di pelajari dan ditingkatkan fungsinya. Bagaimana caranya?
MARI MENGENAL EXTRA SENSORY PERCEPTION
Di Eropa Barat, ESP dimasukkan dalam bidang ilmu psikologi, yang akhirnya menjadi satu aliran yang disebut Parapsikologi. Kemampuan ESP merupakan suatu kemampuan untuk mendapatkan informasi tanpa menggunakan panca indera manusia (Darmanto, 2012). Orang yang memiliki ESP adalah orang yang bisa melihat bayangan berupa gambaran. Gambaran tersebut umumnya mampu memberikan informasi tentang sesuatu yang akan terjadi, sedang terjadi maupun belum terjadi (Prakuso, 2013). Semua orang mempunai kemampuan ESP sejak lahir. Akan tetapi, ketika seseorang duah mulai tumbuh remaja, dewasa dan tua, maka ESP nya akan menurun. Hal tersebut di sebabkan oleh fungsi indra yang sudah banyak digunakan. Ketika sang anak sudah mulai masuk sekolah dan belajar matematika, olahraga, fisika yang notabane nya menggunakan fungsi otak kiri, maka ESP nya berkurang.
Menurut Tanous & Donnelly (dalam Zahran, 2011), terdapat beberapa bentuk dari Extra Sensory Perception atau Indra ke enam, yaitu:
1) Telepati adalah mengirim pikiran. Biasanya disebut transferensi pemikiran.
2) Clairvoyance adalah persepsi visual dari peristiwa atau hal. Fenomena ini termasuk juga melihat kejadian yang terjadi di tempat lain.
3) Precognition adalah pengetahuan tentang masa depan.
4) Premonition adalah sebuah pengalaman yang mirip dengan prekognisi dan dapat didefinisikan sebagai perasaan. Mengalami seperti ada sesuatu yang akan terjadi, tetapi tidak memberikan informasi yang spesifik.
5) Psikis mimpi adalah mimpi yang berhubungan dengan peristiwa telepati, clairvoyance, precognition atau firasat.
6) Psikometri adalah mendapatkan informasi dengan menyentuh sebuah objek.
7) Psikokinesis adalah menggerakkan objek tanpa menggunakan fisik.
Banyak orang yeng bercita-cita memiliki kemampuan tersebut, namun banyak  juga orang yang telah memiliki kemampuan tersebut malah tidak menginginkannya. Kebanyakan orang yang di anugerahi kemampuan ESP sejak lahir sampai dewasa memiliki hambatan dalam bersosial, bahkan tak jarang membuat dia strees. Orang yang memiliki kemampuan ESP harus mampu mengontrol emosi dia kapanpun dan dimanapun, agar tidak menjadi bumerang bagi dia sendiri.
LATIHAN UNTUK MENINGKATKAN EXTRA SENSORY PERCEPTION
Caranya adalah dengan mempertajam intuisi kita, bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari, misalnya :
1.Ketika telpon berdering, sebelum mengangkatnya kita bisa lebih dulu memfokuskan perhatian untuk mencoba menebak siapa yang menelepon.
2. Ketika menerima surat, sebelum membuka sampulnya fokuskan dulu perhatian kita dan cobalah untuk mengetahui apa kira-kira isinya.
3. Mengambil kartu-kartu berwarna, sambil memejamkan mata lalu menebak apakah warna yang terpegang sesuai dengan warna yang memang ingin diambil.
4. Melempar koin lalu menebaknya.
Latihan lainnya bisa dilakukan sambil duduk dalam kondisi rileks di tempat yang cukup sepi. Niatkan bahwa kita ingin mendapatkan petunjuk dari Tuhan mengenai perjalanan yang akan kita lakukan, kondisi kesehatan, keuangan, urusan bisnis, atau apa saja yang menjadi masalah kita saat itu. Selanjutnya fokuskan perhatian pada keluar masuknya napas dari lubang hidung, sehingga kita semakin rileks dan memasuki suasana yang hening. Begitu memasuki kondisi alpha, cobalah mulai menangkap sinyal-sinyal yang muncul.
Sinyal yang muncul sangat tergantung pada kepekaan masing-masing orang. Mereka yang penglihatannya peka (clair voyance) akan menangkap sinyal itu dalam bentuk gambaran visual, mereka yang pendengarannya peka (clair audience) akan menangkapnya dalam bentuk suara atau bisikan. Sementara orang peka perasaannya (clair sentience) akan mengangkap sinyal itu dengan perasaannya. Atau, tiba-tiba muncul begitu saja sebuah pengertian atau keseimpulan baru yang kita yakini sebagai sesuatu yang benar meski kita tidak tahu alasannya secara jelas.
Latihan-latihan tersebut perlu dilakukan setiap hari, sehingga semakin lama kita menjadi semakin peka. Jika sudah sampai pada tahap mahir, dengan mudah dan cepat kita akan bisa “mengetahui” sesuatu yang akan terjadi. Dengan begitu kita bisa berupaya menghindari terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan.

  • Referensi :

Darmanto. (2012). Mengaktifkan alam bawah sadar manusia. Jakarta: Tugu Publisher
http://sweetspearls.com/health/melatih-intuisi-demi-keselamatam-diri/
http://www.tribunnews.com/regional/2012/09/28/tubuh-supiyati-penuh-paku-kawat-perut-saya-terasa-panas
Prakuso, B. (2012). Psikotransmiter (komunikasi bawah sadar). Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Zahran, S. K. (2011). Some personal and social variables that affect extra sensory perception (sixth sense). Scientific Reserch, 2(4), 388-392


Tidak ada komentar:
Write komentar