Friday, 25 November 2016

Mengenal Psikologi Forensik dan Peluang kerjanya

Akhir-akhir ini Indonesia sering di hebohkan dengan kasus-kasus yang di kaitkan dengan kondisi psikologis korban atau pelakunya. Sebut saja, kasus yang paling lama di tangani, menyita banyak perhatian netizen dan memakan banyak energi dan mungkin biaya untuk menuntaskannya, “Kasus Jessica, Kopi Bersianida”. Begitu mengundang perhatian publik hingga banyak meme meme berhamburan tentang Jessica dan Mirna (korban). Banyak pemberitaan yang di buat, seolah-olah seperti progress report case yang di publikaskan melalui berbagai media, baik televisi, surat kabar ataupun berita online. Terhitung mulai dari tanggal 6 Januari sampai sekarang bulan november 2016 (hampir 1 tahun) .
Sumber : http://www.bintang.com/lifestyle/read/2440587/3-kesalahan-jessica-yang-takkan-pernah-dilupakan-oleh-ayah-mirna
Baca : Mengejutkan! Fakta Orang Gila/ Skizofrenia di Indonesia.

Terlepas dari bagaimana proses kasus tersebut hingga begitu lama terselesaikan. Ilmu mengenai Psikologi Forensik memiliki banyak kontribusi di dalamnya. Mungkin ilmu yang satu ini masih tidak lebih terkenal dari kajian-kajian psikologi lainnya, misal psikologi industri ataupun klinis.
Padahal berbagai kasus yang berkaitan dengan proses peradilan pidana seringkali berhubungandengan berbagai permasalahan psikologi, melainkan sebagai permasalahan hukum. Sesungguhnya banyak permasalahan hukum yang memerlukan peran serta psikologi. Kontribusi psikologi dalam bidang forensik sebenarnya mencakup area kajian yang sangat luas, mulai membuat kajian tentang profil para pelaku kejahatan (offender profilling), mengungkap dasar neuropsikologik, genetik, dan proses perkembangan pelaku, saksi mata (eyewitness), mendeteksi kebohongan, menguji kewarasan mental, soal penyalahgunaan obat dan zat adiktif, kekerasan seksual, kekerasan domestik, soal perwalian anak, dan juga soal rehabilitasi psikologis di penjara. Dengan begitu luasnya cakupan kontribusi psikologi dalam bidang forensik, subbidang ilmu ini sebenarnya sangat menjanjikan baik bagi karier akademis ataupun profesional praktisioner
Sumber : http://www.slideshare.net/husnafajrina/spesialisasi-psikologi-klinis
Tugas Profesi Psikologi Forensik. Berikut akan dipaparkan tugas profesi psikologi forensik di setiap tahap proses peradilan pidana :
1. Di kepolisian, seperti telah diuraikan terdahulu tugas polisi dalam peradilan pidana adalah menyelidik dan menyidik (Departemen Kehakiman Republik Indonesia, 1982). Dalam kasus-kasus tertentu psikolog dapat diminta bantuannya agar informasi yang diperoleh mendekati kebenaran. Psikolog Forensik dapat membantu penyelidikan polisi pada pelaku, korban dan saksi
2. Pada pelaku, psikolog forensik dapat membantu polisi dalam melakukan interogasi (Bartol & Bartol, 1994; Constanzo, 2006; Gudjonsson & Haward, 1998; Putwain & Sammons, 2002), membuat criminal profiling, mendeteksi kebohongan (Constanzo, 2006). Bantuan psikolog forensik dalam interogasi pada pelaku agar mengakui kesalahannya. Biasnaya jika poisi yang menangani, maka teknik yang di gunakan adalah model lama, yakni menggunakan kekerasan sebagai ancaman bagi pelaku yg di interogasi, jika pelaku menunjukkan tanda-tanda berbohong maka polisi akan memukul ataupun menampar pelaku, intinya menyakiti secara fisik dengan harapan pelaku akan berkata jujur. Deteksi kebohongan merupakan keahlian dari psikologi forensik yang dapat di tularkan kepada polisi. Alat polygraph yang di kombinasikan dengan metode bertanya dapat menjadi bantuan psikolog forensik untuk mendeteksi kebohongan pelaku.
3. Pada korban, biasanya pada kasus-kasus tertentu korban mengalami trauma, misalnya kasus perkosaan atau kekerasan pada anak. Sehingga untuk mendapatkan keterangan secara langsung dari korban akan sedikit kesulitan. Di sinilah peran psikolog forensik, karena psikolog lihai dalam membuat orang lain menjadi lebih nyaman dan terbuka ketika berbicara. Maka skill ini sangat di butuhkan untuk mengkroscek data, mungkin antara pelaku dengan korban ataupun dengan informan lainnya. Selain itu, untuk kasus yang masih ambigu antara korban yang bunuh diri atau di bunuh, psikolog forensik bisa masuk sebagai ahli untuk melakukan otopsi psikologi. Cara melakukan otopsi adalah mngkaji sumber bukti, tidak langsung seperti catatan yang ditinggalkan almarhum, data dari teman atau keluarga korban. Tujuan dari otopsi psikologi adalah merekonstruksi keadaan emosional, kepribadian, pikiran dan gaya hidup almarhum. Hingga dapat di tarik beberapa hipotesis untuk membantu polisi dalam memutuskan apakah korban bunuh diri atau terbunuh.
4. Pada saksi, proses peradilan pidana sangat bergantung pada hasil investigasi pada saksi, karena baik polisi, jaksa dan hakim tidak melihat langsung kejadian perkara. Brigham dan Wolfskeil (Brigham, 1991) meneliti bahwa hakim dan juri di Amerika menaruh kepercayaan 905 terhadap penyataan saksi, padahal banyak penelitain membuktikan bahwa kesaksian yang diberikan saksi banyak yang bias. Teknik intervies investigasi yang sering di bicarakan adalah (Constanzo, 2004; Kapardis, 1997; Milne & Bull, 2000) hipnosis dan wawancara koginitif. Teknik hipnosis ini walau tidak selalu digunakan pada tiap saksi, namun masih bisa digunakan ketika informasi tentang suatu kejadian tidak ada kemajuan yang berarti. Psikologi forensik yangmenguasai teknik hipnosis dapat membantu polisi untuk menemukan informasi dalam memori saksi yang tidak akan di capai oleh teknik lain. Kemudian wawancara kognitif, merupakan teknik yang diciptakan oleh Ron Fisher dan Edward Giesielman pada 1992. Tujuannya adalah untuk meningkatkan proses retrieval yang akan meningkatkan kuantitas dan kualitas informasi dengan cara membuat saksi/ korban merasa rileks dan kooperatif


5. Di kejaksaan, Psikolog Forensik dapat membantu jaksa dengan memberikan keterangan terkait dengan kondisi psikologis pelaku maupun korban. Pada kasus KDRT dengan kondisi korban mengalami trauma psikis yang berat. Keterangan psikologi forensik tentang kondisi psikis korban dapat digunakan sebagai dasar melakukan penuntutan terhadap pelaku. Psikolog juga dapat memberikan pelatihan kepada jaksa terkait dengan gaya bertanya kepada saksi, korban maupun pelaku. Ancok (1995) menengarai bahwa gaya bertanya jaksa yang salah akan membawa pada informasi yang keliru.
6. Pengadilan, peran psikolog forensik dalam peradilan pidana di pengadilan, dapat sebagai saksi ahli dalam kasus yang terkait dengan aspek psikologis (Meliala, 2008). Psikolog forensik juga dapat bekerja untuk pengacara dalam memberikan masukan terkait dengan jawaban-jawaban yang harus diberikan kliennya agar tampak meyakinkan. Sebelum persidangan yang sesunggunya, psikolog akan merancang kalimat, ekspresi dan gaya yang akan ditampilkan terdakwa agar ia tidak dapat mendapat hukuman yang berat (Wrightsman, 2001). Namun hal ini di Indonesia masih jarang. Yang sudah ada adalah pengacara meminta keterangan dari psikolog untuk memberi keterangan yang menuntungkan kliennya.

  • Referensi :

Ancok D (1995), Nuansa Psikologi Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset
Bartol, C & Bartol, A, M (1994), Psychological and Law, Pasicif Grove, California: Brooks/Cole Publishing Company
Constanzo, M (2004). Psychology applied to law, Singapore: Thomson Wadsworth
Constanzo, M (2006) Aplikasi Psikologi dalam Sistem Hukum (H. P Soetjipto & S. M.Soetjipto, Pengalih bahasa), Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gudjonsson, G. H & Haward L R C (1998), Forensic Psychology: A guide to practice, London Routledge
Kapardis, A (1997), Psychology and law, Cambridge: Cambridge Universty Press
Meliala, A (2008), Kontribusi Psikologi dalam Dunia Peradilan: Dimana dan mau kemana? Indonesian Journal-Legal and Forensic Sciences.l (1) 56-59
Milne, P & Bull R (2000), Investigative Interviewing: Psychology and practice. Singapore: John Wiley & Sons. LTD
Probowati Yusti (2008), Psikologi Forensik : Tantangan Psikolog sebagai Ilmuwan dan Profesional, Surabaya, Anima, Indonesian Psychological Journal
Putwain, D & Sammons, A (2002), Psychology and crime, New York: Routledge
Wrightsman, L.S (2001), Forensic Psychology. Singapore: Wadworth Thhomson Learning.


No comments:
Write komentar