Sunday, 6 November 2016

“Kesurupan” Menurut Perspektif Psikologi

Mungkin anda yang sedang membaca tulisan ini sudah tidak asing lagi dengan yang namanya fenomena kesurupan. Mungkin ada yang pernah melihat secara langsung bagaimana proses kesurupan itu terjadi? Atau bahkan mungkin teman kalian atau kalian sendiri pernah mengalami nya? Penulis sendiri kebetulan pernah melihat secara langsung dan menangani kesurupan. Sedikit cerita, ketika zaman SMA dulu, pernah beberapa minggu secara berturut-turut terjadi kesurupan di sekolah saya. Lebih tepatnya hari senin ketika upacara di lapangan sekolah, terjadi kesurupan secara massal, dan itu terjadi berulang-ulang selama beberapa minggu. Kemudian ketika zaman MTsN, penulis juga pernah mengalami kejadian yang serupa, tapi bedanya saat itu ketika penulis mengikuti acara PERJUSAMI (Perkemahan Jumat-Sabtu-Minggu). Persis seperti efek domino, ketika yang satu jatuh maka yang lainnya ikut jatuh juga, sama persis dengan kejadian ketika saya ikut perkemahan saat itu. Awalnya ada satu perempuan yang berteriak-teriak dengan keras seperti ini (seingat saya) :
“Jangan ke siniii. Menjauh kau dari sini. Itu di pohon orangnya”
Beberapa menit kemudian perempuan di tenda sebelah berteriak lagi, sampai beberapa perempuan dari beberapa tenda berteriak-teriak histeris yang intinya mereka ketakutan yang “katanya” karena melihat hantu. Tapi penulis pikir-pikir, ko yang di takut-takutin perempuan semua? Jangan-jangan hantu nya jomblo dan merasa kesepian kali ya. Karena kejadiannya itu pada saat malam minggu. Hihihihi...
Ketika kuliah? Lagiiiii. Penulis menemui lagi dengan yang namanya kesurupan. Tapi kali ini penulis berkesempatan untuk MENANGANI orang kesurupan secara langsung. Ternyata gampang gampang susah, karena background penulis adalah orang Psikologi dan mengerti tentang ilmu Hipnotis. Alhamdulillah saat itu tinggal di beri beberapa sugesti, “si doi” sudah sadar. Mungkin kapan-kapan kita akan bahas lebih dalam tentang bagaimana cara saya menangani orang kesurupan saat itu.
Sumber : http://tehruqyahherbal.blogspot.co.id/2015/03/mengupas-tehnik-mengatasi-kesurupan.html
Sekarang, kita akan bahas dulu kesurupan menurut kajian Psikologi . Okeee. 
Fenomena kesurupan menjadi tema yang menarik dalam kajian psikologi. Sebuah kajian debatable yang mengundang kontroversi dan dipandang dari berbagai sisi yang berbeda. Dalam banyak literatur sejarah psikologi, fenomena kesurupan dianggap sebagai sebuah asumsi primitif dalam memandang gangguan jiwa.
Menanggapi kejadian kesurupan yang akhir-akhir ini sering terjadi di beberapa wilayah Indonesia, baik kota maupun desa, banyak psikiater (RSUD Dr. Soetomo Surabaya) seperti : diantaranya Prof. Hanafi, Sp.KJ., dr. Nalini M. Agung, Sp.KJ., dr. Marlina Wahyudin, Sp.KJ., dr. Fatima, Sp.KJ., serta dr. Didi Aryono Budiyono, Sp.KJ., memberikan penjelasan bahwa kesurupan massal terjadi murni karena persoalan  kejiwaan, bukan masalah mistis atau klenik (Widyawan, 2006)
Berdasarkan penelitian yang di lakukan oleh Harsono (Judul  : Gambaran Trans Disasosiatif Pada Mahasiswa), Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, kesurupan tergolong dalam gangguan trans disasosiatif (dissociative trance disorder) yang termasuk dalam gangguan jiwa ringan. Kesurupan dipercaya oleh masyarakat sebagai suatu keadaan yang terjadi bila roh yang lain memasuki seseorang dan menguasainya sehingga orang itu menjadi lain dalam hal bicara, perilaku dan sifatnya. Perilakunya menjadi seperti ada kepribadian lain yang memasukinya. Kepercayan sebagian besar manusia akan keberadaan alam ghaib dan roh telah berlangsung sejak lama, keyakinan ini juga dikuatkan lagi oleh berbagai budaya serta agama yang ada dan di wariskan secara turun temurun.
Berdasarkan jenis kelamin, perempuan mempunyai risiko lebih besar mengalami trans disosiatif dibandingkan laki-laki. Kondisi trans biasanya terjadi pada perempuan dan seringkali dihubungkan dengan stress atau trauma (Barlow dan Durand, 2002). Hal ini terbukti dari kasus-kasus yang terjadi sebagian besar adalah perempuan. Hal ini mungkin karena perempuan lebih sugestible atau lebih mudah dipengaruhi dibandingkan laki-laki. Orang yang sugestible ini lebih berisiko untuk disosiasi atau juga menjadi korban kejahatan hipnotis.Trans disosiatif adalah gangguan yang menunjukkan adanya kehilangan sementara aspek penghayatan akan identitas diri dan kesadaran terhadap lingkungannya, dalam beberapa kejadian individu tersebut berperilaku seakan-akan dikuasai oleh kepribadian lain, kekuatan ghaib, malaikat atau “kekuatan lain” (Maslim, 2002).
PENYEBAB TRANS DISASOSIATIF
Kartono (1981) menyebutkan penyebab trans disosiatif adalah faktor psikologis dan kultural yang menimbulkan munculnya stres dan ketegangan kuat yang kronis pada seseorang. Selain itu faktor-faktor penyebabnya adalah:
a) Predisposisi pembawaan berupa sistem syaraf yang lemah.
b) Tekanan-tekanan mental (stres) yang disebabkan oleh kesusahan, kekecewaan, shocks dan pengalaman-pengalaman pahit yang menjadi trauma.
c) Disiplin dan kebiasaan hidup yang salah. Hal ini mengakibatkan kontrol pribadi yang kurang baik, atau memunculkan integrasi kepribadian yang sangat rapuh.
d) Mempergunakan defence mechanism yang negatif/keliru dan maladjustment, sehingga menimbulkan semakin banyak kesulitan.
e) Kondisi fisik/organis yang tidak menguntungkan; misalnya sakit, lemah, lelah, fungsi-fungsi organik yang lemah, gangguan pikiran dan badan.
Sumber : http://sariwaran.com/fenomena-kesurupan/4054
Dari kasus yang pernah di alami oleh penulis sendiri, mulai dari MTsN, SMA sampai kuliah, penulis sendiri merasakan kebenaran penyebab trans disasosiatif  yang telah di sebutkan oleh Kartono di atas. Ketiga subjek yang mengalami trans disasosiatif pada saat itu sama-sama memiliki kondisi fisik yang tidak menguntungkan atau sedang KELELAHAN. Yang pertama adalah peserta kemah (Perjusami), wajar untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan perkemahan membutuhkan energi yang besar, hingga mungkin bagi peserta merasa drop atau kelelahan (*MTsN). Kedua, ketika upacara hari senin (*SMA) juga tentunya membutuhkan energi yang lebih dan terkadang banyak siswa-siswi yang belum sempat sarapan pagi, hinga berpotensi untuk mengalami trans disasosiatif. Sedangkan yang ketiga (*ketika kuliah), karena pada saat itu, subjek yang mengalami trans disasosiatif sebelumnya sedang mengikuti gladi bersih upacara pembukaan ospek Universitas, sehingga juga pasti memakan energi yang banyak dan berdampak kelelahan.

  •  Referensi :

Barlow, D.H. & Durand, M. 2005. Abnormal Psychology: An Integrative Approach (4th Ed). USA: Thomson Learning.
Harsono, 2012, Gambaran Trans Disosiatif Pada Mahasiswi, Journal of Social and Industrial Psychology, ISSN 2252-6838
Kartono, K. 1981. Psikologi Abnormal. Bandung: Offset Alumni
Maslim, R. 2002. Diagnosis Gangguan Jiwa. PPDGJ-III
Widyawan, Luluk. 27 April 2006. Dari Kesurupan Sampai Exorcism. Sumber: http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2006/04/dari-kesurupan-sampaixor cism. html


No comments:
Write komentar