Jumat, 25 November 2016

Mengenal Psikologi Forensik dan Peluang kerjanya

Akhir-akhir ini Indonesia sering di hebohkan dengan kasus-kasus yang di kaitkan dengan kondisi psikologis korban atau pelakunya. Sebut saja, kasus yang paling lama di tangani, menyita banyak perhatian netizen dan memakan banyak energi dan mungkin biaya untuk menuntaskannya, “Kasus Jessica, Kopi Bersianida”. Begitu mengundang perhatian publik hingga banyak meme meme berhamburan tentang Jessica dan Mirna (korban). Banyak pemberitaan yang di buat, seolah-olah seperti progress report case yang di publikaskan melalui berbagai media, baik televisi, surat kabar ataupun berita online. Terhitung mulai dari tanggal 6 Januari sampai sekarang bulan november 2016 (hampir 1 tahun) .
Sumber : http://www.bintang.com/lifestyle/read/2440587/3-kesalahan-jessica-yang-takkan-pernah-dilupakan-oleh-ayah-mirna
Baca : Mengejutkan! Fakta Orang Gila/ Skizofrenia di Indonesia.

Terlepas dari bagaimana proses kasus tersebut hingga begitu lama terselesaikan. Ilmu mengenai Psikologi Forensik memiliki banyak kontribusi di dalamnya. Mungkin ilmu yang satu ini masih tidak lebih terkenal dari kajian-kajian psikologi lainnya, misal psikologi industri ataupun klinis.
Padahal berbagai kasus yang berkaitan dengan proses peradilan pidana seringkali berhubungandengan berbagai permasalahan psikologi, melainkan sebagai permasalahan hukum. Sesungguhnya banyak permasalahan hukum yang memerlukan peran serta psikologi. Kontribusi psikologi dalam bidang forensik sebenarnya mencakup area kajian yang sangat luas, mulai membuat kajian tentang profil para pelaku kejahatan (offender profilling), mengungkap dasar neuropsikologik, genetik, dan proses perkembangan pelaku, saksi mata (eyewitness), mendeteksi kebohongan, menguji kewarasan mental, soal penyalahgunaan obat dan zat adiktif, kekerasan seksual, kekerasan domestik, soal perwalian anak, dan juga soal rehabilitasi psikologis di penjara. Dengan begitu luasnya cakupan kontribusi psikologi dalam bidang forensik, subbidang ilmu ini sebenarnya sangat menjanjikan baik bagi karier akademis ataupun profesional praktisioner
Sumber : http://www.slideshare.net/husnafajrina/spesialisasi-psikologi-klinis
Tugas Profesi Psikologi Forensik. Berikut akan dipaparkan tugas profesi psikologi forensik di setiap tahap proses peradilan pidana :
1. Di kepolisian, seperti telah diuraikan terdahulu tugas polisi dalam peradilan pidana adalah menyelidik dan menyidik (Departemen Kehakiman Republik Indonesia, 1982). Dalam kasus-kasus tertentu psikolog dapat diminta bantuannya agar informasi yang diperoleh mendekati kebenaran. Psikolog Forensik dapat membantu penyelidikan polisi pada pelaku, korban dan saksi
2. Pada pelaku, psikolog forensik dapat membantu polisi dalam melakukan interogasi (Bartol & Bartol, 1994; Constanzo, 2006; Gudjonsson & Haward, 1998; Putwain & Sammons, 2002), membuat criminal profiling, mendeteksi kebohongan (Constanzo, 2006). Bantuan psikolog forensik dalam interogasi pada pelaku agar mengakui kesalahannya. Biasnaya jika poisi yang menangani, maka teknik yang di gunakan adalah model lama, yakni menggunakan kekerasan sebagai ancaman bagi pelaku yg di interogasi, jika pelaku menunjukkan tanda-tanda berbohong maka polisi akan memukul ataupun menampar pelaku, intinya menyakiti secara fisik dengan harapan pelaku akan berkata jujur. Deteksi kebohongan merupakan keahlian dari psikologi forensik yang dapat di tularkan kepada polisi. Alat polygraph yang di kombinasikan dengan metode bertanya dapat menjadi bantuan psikolog forensik untuk mendeteksi kebohongan pelaku.
3. Pada korban, biasanya pada kasus-kasus tertentu korban mengalami trauma, misalnya kasus perkosaan atau kekerasan pada anak. Sehingga untuk mendapatkan keterangan secara langsung dari korban akan sedikit kesulitan. Di sinilah peran psikolog forensik, karena psikolog lihai dalam membuat orang lain menjadi lebih nyaman dan terbuka ketika berbicara. Maka skill ini sangat di butuhkan untuk mengkroscek data, mungkin antara pelaku dengan korban ataupun dengan informan lainnya. Selain itu, untuk kasus yang masih ambigu antara korban yang bunuh diri atau di bunuh, psikolog forensik bisa masuk sebagai ahli untuk melakukan otopsi psikologi. Cara melakukan otopsi adalah mngkaji sumber bukti, tidak langsung seperti catatan yang ditinggalkan almarhum, data dari teman atau keluarga korban. Tujuan dari otopsi psikologi adalah merekonstruksi keadaan emosional, kepribadian, pikiran dan gaya hidup almarhum. Hingga dapat di tarik beberapa hipotesis untuk membantu polisi dalam memutuskan apakah korban bunuh diri atau terbunuh.
4. Pada saksi, proses peradilan pidana sangat bergantung pada hasil investigasi pada saksi, karena baik polisi, jaksa dan hakim tidak melihat langsung kejadian perkara. Brigham dan Wolfskeil (Brigham, 1991) meneliti bahwa hakim dan juri di Amerika menaruh kepercayaan 905 terhadap penyataan saksi, padahal banyak penelitain membuktikan bahwa kesaksian yang diberikan saksi banyak yang bias. Teknik intervies investigasi yang sering di bicarakan adalah (Constanzo, 2004; Kapardis, 1997; Milne & Bull, 2000) hipnosis dan wawancara koginitif. Teknik hipnosis ini walau tidak selalu digunakan pada tiap saksi, namun masih bisa digunakan ketika informasi tentang suatu kejadian tidak ada kemajuan yang berarti. Psikologi forensik yangmenguasai teknik hipnosis dapat membantu polisi untuk menemukan informasi dalam memori saksi yang tidak akan di capai oleh teknik lain. Kemudian wawancara kognitif, merupakan teknik yang diciptakan oleh Ron Fisher dan Edward Giesielman pada 1992. Tujuannya adalah untuk meningkatkan proses retrieval yang akan meningkatkan kuantitas dan kualitas informasi dengan cara membuat saksi/ korban merasa rileks dan kooperatif


5. Di kejaksaan, Psikolog Forensik dapat membantu jaksa dengan memberikan keterangan terkait dengan kondisi psikologis pelaku maupun korban. Pada kasus KDRT dengan kondisi korban mengalami trauma psikis yang berat. Keterangan psikologi forensik tentang kondisi psikis korban dapat digunakan sebagai dasar melakukan penuntutan terhadap pelaku. Psikolog juga dapat memberikan pelatihan kepada jaksa terkait dengan gaya bertanya kepada saksi, korban maupun pelaku. Ancok (1995) menengarai bahwa gaya bertanya jaksa yang salah akan membawa pada informasi yang keliru.
6. Pengadilan, peran psikolog forensik dalam peradilan pidana di pengadilan, dapat sebagai saksi ahli dalam kasus yang terkait dengan aspek psikologis (Meliala, 2008). Psikolog forensik juga dapat bekerja untuk pengacara dalam memberikan masukan terkait dengan jawaban-jawaban yang harus diberikan kliennya agar tampak meyakinkan. Sebelum persidangan yang sesunggunya, psikolog akan merancang kalimat, ekspresi dan gaya yang akan ditampilkan terdakwa agar ia tidak dapat mendapat hukuman yang berat (Wrightsman, 2001). Namun hal ini di Indonesia masih jarang. Yang sudah ada adalah pengacara meminta keterangan dari psikolog untuk memberi keterangan yang menuntungkan kliennya.

  • Referensi :

Ancok D (1995), Nuansa Psikologi Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset
Bartol, C & Bartol, A, M (1994), Psychological and Law, Pasicif Grove, California: Brooks/Cole Publishing Company
Constanzo, M (2004). Psychology applied to law, Singapore: Thomson Wadsworth
Constanzo, M (2006) Aplikasi Psikologi dalam Sistem Hukum (H. P Soetjipto & S. M.Soetjipto, Pengalih bahasa), Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gudjonsson, G. H & Haward L R C (1998), Forensic Psychology: A guide to practice, London Routledge
Kapardis, A (1997), Psychology and law, Cambridge: Cambridge Universty Press
Meliala, A (2008), Kontribusi Psikologi dalam Dunia Peradilan: Dimana dan mau kemana? Indonesian Journal-Legal and Forensic Sciences.l (1) 56-59
Milne, P & Bull R (2000), Investigative Interviewing: Psychology and practice. Singapore: John Wiley & Sons. LTD
Probowati Yusti (2008), Psikologi Forensik : Tantangan Psikolog sebagai Ilmuwan dan Profesional, Surabaya, Anima, Indonesian Psychological Journal
Putwain, D & Sammons, A (2002), Psychology and crime, New York: Routledge
Wrightsman, L.S (2001), Forensic Psychology. Singapore: Wadworth Thhomson Learning.


Senin, 21 November 2016

Tahapan Perkembangan Menurut Erikson

Erikson mengelompokkan tahapan kehidupan ke dalam 8 fase yang merentang sejak kelahiran hingga kematian :
Sumber : http://www.slideshare.net/Astraea_Ikaros/sosiologi-dan-politik
TAHAPAN PERKEMBANGAN

USIA
HASIL PERKEMBANGAN

KARAKTERISTIK
Tahap Bayi (Infancy)
Sejak lahir – 18 bulan
Percaya vs Tidak Percaya
- Mengalami tahapan sensorik oral atau memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut
- Sepenuhnya mempercayai orang tua atauorang-orang terdekatnya
- Cenderung menangis jika di dekati atau di pangku oleh orang asing
- Jika si ibu/ orang terdekat memberikan perhatian positif & penuh kasih, maka bayi akan menumbuhkan rasa percaya pada lingkungan, berprasangka baik pada orang lain serta melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik.
- Jika si ibu/ orang terdekat gagal mengasuh, maka bayi akan memiliki rasa tidak percaya pada orang lain, selalu curiga serta akan melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh frustrasi
- Tugas orang tua pada fase ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk tidak percaya
Tahap Kanak-Kanak Awal
18 Bulan - 3 tahun           
Otonomi vs Rasa Malu
- Mulai mempelajari ketrampilan untuk diri sendiri. Bukan sekedar belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri. Tetapi motorik yang lebih halus, seperti : toilet training
- Di sisi lain, bayi telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
- Kemampuan mengendalikan bagian tubuh berkembang
- Tumbuhnya pemahaman tentang benar dan salah.
- Mulai belajar untuk berkata tidak pada sesuatu yang tidak di sukai/ diinginkan
- Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam mengasuh anaknya bersikap salah, maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu
- Tugas orang tua dalam mengasuh pada fase ini adalahtidak perlu mengobarkan keberanian anak dan tidak pula harus mematikannya. Dengan kata lain, keseimbangan antara kontrol kemandirian dan rasa malu pada anak. Ada sebuah kalimat yang seringkali menjadi teguran maupun nasihat bagi orang tua dalam mengasuh anaknya yakni “tegas namun toleran”. Makna dalam kalimat tersebut ternyata benar adanya, karena dengan cara ini anak akan bisa mengembangkan sikap kontrol diri dan harga diri.
Tahap Usia Bermain
3 - 5 tahun
Inisiatif vs Rasa Bersalah
- Anak biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa di sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Anak laki-laki bermain dengan kuda-kudaan dan senapan kayu, anak perempuan main “pasar-pasaran” atau boneka yang mengimitasi kehidupan keluarga, mobil-mobilan, handphone mainan, tentara mainan untuk bermain peran, dsd
- Satu kata yang sering muncul, yakni kenapa
- Anak telah memiliki beberapa kecakapan dan terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas, adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat
- Belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa terlalu banyak melakukan kesalahan
- Orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. Akan tetapi, semuanya akan terbalik apabila tujuan dari anak pada masa ini mengalami hambatan karena dapat mengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya yaitu merasa berdosa dan pada puncaknya mereka seringkali akan merasa bersalah atau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang mereka rasakan dan lakukan.
Tahap Usia Sekolah
6 – 12 tahun
Industri vs Inferioritas
- Paling menonjol dalam hal pertumbuhan secara fisik
- Keterampilan yang dikembangkan  menagarah pada sikap kerja seperti : ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat, kerajinan serta berada dalam konteks sosial
- Sekolah dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting dalam pembentukan sikap, sementara orang tua sekalipun masih penting namun bukan lagi sebagai otoritas tunggal
- Pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri
- Area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya
- Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin
- Jika anak tidak dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil maka mereka cenderung merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap rendah diri
- Tugas orang tua adalah menyeimbankan antara sikap kerja yang harus di kembangkan pada diri anak dan keasadaran bahwa ada beberapa hal yang tidak sanggup di lakukan dengan usaha tertentu dengan jangka waktu tertentu.
Tahap Remaja
12 - 18 tahun
Identitas vs kebingungan peran

- Pada fase ini perkembangan bukan lagi tergantung pada apa yang dilakukan untuk saya, akan tetapi tergantung pada apa yang saya kerjakan. Karena pada masa ini bukan lagi anak, tetapi juga belum menjadi dewasa,
- Hidup berubah menjadi sangat kompleks karena individu berusaha mencari identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat dengan persoalan-persoalan moral
- Tugas perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai individu yang terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian dari lingkup sosial yang lebih luas. Bila fase ini tidak lancara diselesaikan, orang akan mengalami kebingungan dan kekacauan peran
- Hal yang perlu dikembangkan di adalah filosofi kehidupan.
- Di fase ini anak cenderung idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang pada kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada kesetiaan dan ketergantungan pada teman
- Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan.
- Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota
- Jika pada fase sebelumnya tidak berlangsung secara baik, maka anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya atau bisa di sebut kebingungan peran
- Jika kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingkan dengan kebingungan peran, maka mereka tidak menyisakan sedikit ruang toleransi terhadap orang-orang di sekitarnya
- Tugas orang tua adalah mengontrol siapa saja teman dan memilihkan teman yang bisa membawa anak ke jalan kehidupan yang benar.
Tahap Dewasa Awal
18 - 35 tahun
Solidaritas vs Is isolasi
- Pada fase ini ikatan kelompok sudah mulai longgar, mulai selektif dan membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham.
- Menjalin hubungan spesial dengan orang lain dan kerja sama dengan orang lain
- Jika pada fase ini, individu tidak memiliki kemampuan membangung relasi yang baik, maka individu tersebut yaitu cenderung mengisolasi/menutup diri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.
- Kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta, baik wilayah cinta dengan orang tua, tetangga, sahabat dan lain-lain
Tahap Dewasa
35 -55 atau 65tahun
Generativitas vs Stagnasi
- Puncak dari segala kemampuan yang dimilki
- Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan
- Cenderung penuh dengan pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta berbagai permasalahan di seputar keluarga. Selain itu fase ini adalah masa “berwenang” yang diidamkan sejak lama
- Timbul ketakutan akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri
- Tugas yang penting di fase ini adalah meneruskan nilai budaya pada keluarga (membentuk karakter anak) serta memantapkan lingkungan yang stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian orang lain, dan karya yang memberikan sumbangan pada kebaikan masyarakat (generativitas)
- Ketika anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan interpersonal tujuan berubah, ada kehidupan yang berubah drastic, individu harus menetapkan makna dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak berhasil di tahap ini, maka akan timbul stagnasi
- Apabila pada fase pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada fase ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi)
Tahap Dewasa Akhir
55 atau 65 tahun hingga mati
Integritas vs Keputus asaan
- Jika pada fase-fase sebelumnya dilewati dengan kegagalan, maka individu cenderung merasakan keputus asaan, belum bisa menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia merasa telah menemukan jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang dianutnyalah yang paling benar
- Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya
- Fase ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri
- Jika pada fase-fase yang telah dilaluinya di lewatidengan bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan, maka ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya tumbuh, menerima keluasan dunia menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan

  • Referensi :

https://suhartoalwachidi.wordpress.com/2015/07/22/psikologi-perkembangan-manusia/
https://mercusuarku.wordpress.com/2008/08/10/perkembangan-manusia/
https://rhenniyhanasj.wordpress.com/2014/05/25/fase-fase-perkembangan-manusia/
http://www.psychologymania.net/2010/03/teori-perkembangan-psikoseksual.html

Minggu, 06 November 2016

“Kesurupan” Menurut Perspektif Psikologi

Mungkin anda yang sedang membaca tulisan ini sudah tidak asing lagi dengan yang namanya fenomena kesurupan. Mungkin ada yang pernah melihat secara langsung bagaimana proses kesurupan itu terjadi? Atau bahkan mungkin teman kalian atau kalian sendiri pernah mengalami nya? Penulis sendiri kebetulan pernah melihat secara langsung dan menangani kesurupan. Sedikit cerita, ketika zaman SMA dulu, pernah beberapa minggu secara berturut-turut terjadi kesurupan di sekolah saya. Lebih tepatnya hari senin ketika upacara di lapangan sekolah, terjadi kesurupan secara massal, dan itu terjadi berulang-ulang selama beberapa minggu. Kemudian ketika zaman MTsN, penulis juga pernah mengalami kejadian yang serupa, tapi bedanya saat itu ketika penulis mengikuti acara PERJUSAMI (Perkemahan Jumat-Sabtu-Minggu). Persis seperti efek domino, ketika yang satu jatuh maka yang lainnya ikut jatuh juga, sama persis dengan kejadian ketika saya ikut perkemahan saat itu. Awalnya ada satu perempuan yang berteriak-teriak dengan keras seperti ini (seingat saya) :
“Jangan ke siniii. Menjauh kau dari sini. Itu di pohon orangnya”
Beberapa menit kemudian perempuan di tenda sebelah berteriak lagi, sampai beberapa perempuan dari beberapa tenda berteriak-teriak histeris yang intinya mereka ketakutan yang “katanya” karena melihat hantu. Tapi penulis pikir-pikir, ko yang di takut-takutin perempuan semua? Jangan-jangan hantu nya jomblo dan merasa kesepian kali ya. Karena kejadiannya itu pada saat malam minggu. Hihihihi...
Ketika kuliah? Lagiiiii. Penulis menemui lagi dengan yang namanya kesurupan. Tapi kali ini penulis berkesempatan untuk MENANGANI orang kesurupan secara langsung. Ternyata gampang gampang susah, karena background penulis adalah orang Psikologi dan mengerti tentang ilmu Hipnotis. Alhamdulillah saat itu tinggal di beri beberapa sugesti, “si doi” sudah sadar. Mungkin kapan-kapan kita akan bahas lebih dalam tentang bagaimana cara saya menangani orang kesurupan saat itu.
Sumber : http://tehruqyahherbal.blogspot.co.id/2015/03/mengupas-tehnik-mengatasi-kesurupan.html
Sekarang, kita akan bahas dulu kesurupan menurut kajian Psikologi . Okeee. 
Fenomena kesurupan menjadi tema yang menarik dalam kajian psikologi. Sebuah kajian debatable yang mengundang kontroversi dan dipandang dari berbagai sisi yang berbeda. Dalam banyak literatur sejarah psikologi, fenomena kesurupan dianggap sebagai sebuah asumsi primitif dalam memandang gangguan jiwa.
Menanggapi kejadian kesurupan yang akhir-akhir ini sering terjadi di beberapa wilayah Indonesia, baik kota maupun desa, banyak psikiater (RSUD Dr. Soetomo Surabaya) seperti : diantaranya Prof. Hanafi, Sp.KJ., dr. Nalini M. Agung, Sp.KJ., dr. Marlina Wahyudin, Sp.KJ., dr. Fatima, Sp.KJ., serta dr. Didi Aryono Budiyono, Sp.KJ., memberikan penjelasan bahwa kesurupan massal terjadi murni karena persoalan  kejiwaan, bukan masalah mistis atau klenik (Widyawan, 2006)
Berdasarkan penelitian yang di lakukan oleh Harsono (Judul  : Gambaran Trans Disasosiatif Pada Mahasiswa), Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, kesurupan tergolong dalam gangguan trans disasosiatif (dissociative trance disorder) yang termasuk dalam gangguan jiwa ringan. Kesurupan dipercaya oleh masyarakat sebagai suatu keadaan yang terjadi bila roh yang lain memasuki seseorang dan menguasainya sehingga orang itu menjadi lain dalam hal bicara, perilaku dan sifatnya. Perilakunya menjadi seperti ada kepribadian lain yang memasukinya. Kepercayan sebagian besar manusia akan keberadaan alam ghaib dan roh telah berlangsung sejak lama, keyakinan ini juga dikuatkan lagi oleh berbagai budaya serta agama yang ada dan di wariskan secara turun temurun.
Berdasarkan jenis kelamin, perempuan mempunyai risiko lebih besar mengalami trans disosiatif dibandingkan laki-laki. Kondisi trans biasanya terjadi pada perempuan dan seringkali dihubungkan dengan stress atau trauma (Barlow dan Durand, 2002). Hal ini terbukti dari kasus-kasus yang terjadi sebagian besar adalah perempuan. Hal ini mungkin karena perempuan lebih sugestible atau lebih mudah dipengaruhi dibandingkan laki-laki. Orang yang sugestible ini lebih berisiko untuk disosiasi atau juga menjadi korban kejahatan hipnotis.Trans disosiatif adalah gangguan yang menunjukkan adanya kehilangan sementara aspek penghayatan akan identitas diri dan kesadaran terhadap lingkungannya, dalam beberapa kejadian individu tersebut berperilaku seakan-akan dikuasai oleh kepribadian lain, kekuatan ghaib, malaikat atau “kekuatan lain” (Maslim, 2002).
PENYEBAB TRANS DISASOSIATIF
Kartono (1981) menyebutkan penyebab trans disosiatif adalah faktor psikologis dan kultural yang menimbulkan munculnya stres dan ketegangan kuat yang kronis pada seseorang. Selain itu faktor-faktor penyebabnya adalah:
a) Predisposisi pembawaan berupa sistem syaraf yang lemah.
b) Tekanan-tekanan mental (stres) yang disebabkan oleh kesusahan, kekecewaan, shocks dan pengalaman-pengalaman pahit yang menjadi trauma.
c) Disiplin dan kebiasaan hidup yang salah. Hal ini mengakibatkan kontrol pribadi yang kurang baik, atau memunculkan integrasi kepribadian yang sangat rapuh.
d) Mempergunakan defence mechanism yang negatif/keliru dan maladjustment, sehingga menimbulkan semakin banyak kesulitan.
e) Kondisi fisik/organis yang tidak menguntungkan; misalnya sakit, lemah, lelah, fungsi-fungsi organik yang lemah, gangguan pikiran dan badan.
Sumber : http://sariwaran.com/fenomena-kesurupan/4054
Dari kasus yang pernah di alami oleh penulis sendiri, mulai dari MTsN, SMA sampai kuliah, penulis sendiri merasakan kebenaran penyebab trans disasosiatif  yang telah di sebutkan oleh Kartono di atas. Ketiga subjek yang mengalami trans disasosiatif pada saat itu sama-sama memiliki kondisi fisik yang tidak menguntungkan atau sedang KELELAHAN. Yang pertama adalah peserta kemah (Perjusami), wajar untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan perkemahan membutuhkan energi yang besar, hingga mungkin bagi peserta merasa drop atau kelelahan (*MTsN). Kedua, ketika upacara hari senin (*SMA) juga tentunya membutuhkan energi yang lebih dan terkadang banyak siswa-siswi yang belum sempat sarapan pagi, hinga berpotensi untuk mengalami trans disasosiatif. Sedangkan yang ketiga (*ketika kuliah), karena pada saat itu, subjek yang mengalami trans disasosiatif sebelumnya sedang mengikuti gladi bersih upacara pembukaan ospek Universitas, sehingga juga pasti memakan energi yang banyak dan berdampak kelelahan.

  •  Referensi :

Barlow, D.H. & Durand, M. 2005. Abnormal Psychology: An Integrative Approach (4th Ed). USA: Thomson Learning.
Harsono, 2012, Gambaran Trans Disosiatif Pada Mahasiswi, Journal of Social and Industrial Psychology, ISSN 2252-6838
Kartono, K. 1981. Psikologi Abnormal. Bandung: Offset Alumni
Maslim, R. 2002. Diagnosis Gangguan Jiwa. PPDGJ-III
Widyawan, Luluk. 27 April 2006. Dari Kesurupan Sampai Exorcism. Sumber: http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/2006/04/dari-kesurupan-sampaixor cism. html


Kamis, 03 November 2016

Semua Orang Bisa Memiliki Indra Ke Enam?

Beberapa tahun yang lalu kita sering menemui fenomena-fenomena yang terbilang “mustahil terjadi” tapi ternyata “bisa terjadi”.  Kasus yang paling ramai adalah batu ajaib Ponari yang “katanya” bersumber dari kekuatan petir, dapat menyembuhkan beratus-ratus bahkan ribuan penyakit dengan sekejap.
Sumber : https://masshar2000.com/2015/07/23/apa-kabar-ponari-berapa-kekayaannya-sekarang/
Kemudian hadir lagi fenomena aneh perut yang di penuhi paku, meskipun perut Supiyati (Perempuan-25 tahun) sudah di operasi, namun hasil rontgen tetap menunjukkan adanya paku di perut Supiyati (Baca berita di sini) .
Sumber : http://kabardaripanyileukan.blogspot.co.id/2014/12/ahli-bedah-indonesia-bicara-di-forum.html
Dan tentunya masih banyak lagi fenomena-fenomena unik yang pernah terjadi di Indonesia. Atau mungkin anda sendiri pernah merasakan fenomena yang menurut anda mustahil?
Dalam kehidupan sehari-hari, anda mungkin pernah mengalami suatu fenomena yang secara logika tidak dapat diterima oleh akal sehat. Misalnya : seperti melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, mendengar suara yang tidak bisa didengar orang lain, melihat suatu kejadian yang akan datang maupun melihat kejadian masa lalu. Sedikit berbeda dari 2 contoh (Ponari & Supiyati) di atas, fenomena tersebut biasanya terjadi di sebabkan karena ketajaman batiniah anda sendiri, atau Indra ke enam, atau dalam kajian psikologi bisa di sebut sebagai Extra Sensory Perception (ESP). Berbeda dengan Ponari dan Supiyati yang tidak mengerti sama sekali kenapa hal ajaib tersebut bisa terjadi kepada mereka, ESP bisa di pelajari dan ditingkatkan fungsinya. Bagaimana caranya?
MARI MENGENAL EXTRA SENSORY PERCEPTION
Di Eropa Barat, ESP dimasukkan dalam bidang ilmu psikologi, yang akhirnya menjadi satu aliran yang disebut Parapsikologi. Kemampuan ESP merupakan suatu kemampuan untuk mendapatkan informasi tanpa menggunakan panca indera manusia (Darmanto, 2012). Orang yang memiliki ESP adalah orang yang bisa melihat bayangan berupa gambaran. Gambaran tersebut umumnya mampu memberikan informasi tentang sesuatu yang akan terjadi, sedang terjadi maupun belum terjadi (Prakuso, 2013). Semua orang mempunai kemampuan ESP sejak lahir. Akan tetapi, ketika seseorang duah mulai tumbuh remaja, dewasa dan tua, maka ESP nya akan menurun. Hal tersebut di sebabkan oleh fungsi indra yang sudah banyak digunakan. Ketika sang anak sudah mulai masuk sekolah dan belajar matematika, olahraga, fisika yang notabane nya menggunakan fungsi otak kiri, maka ESP nya berkurang.
Menurut Tanous & Donnelly (dalam Zahran, 2011), terdapat beberapa bentuk dari Extra Sensory Perception atau Indra ke enam, yaitu:
1) Telepati adalah mengirim pikiran. Biasanya disebut transferensi pemikiran.
2) Clairvoyance adalah persepsi visual dari peristiwa atau hal. Fenomena ini termasuk juga melihat kejadian yang terjadi di tempat lain.
3) Precognition adalah pengetahuan tentang masa depan.
4) Premonition adalah sebuah pengalaman yang mirip dengan prekognisi dan dapat didefinisikan sebagai perasaan. Mengalami seperti ada sesuatu yang akan terjadi, tetapi tidak memberikan informasi yang spesifik.
5) Psikis mimpi adalah mimpi yang berhubungan dengan peristiwa telepati, clairvoyance, precognition atau firasat.
6) Psikometri adalah mendapatkan informasi dengan menyentuh sebuah objek.
7) Psikokinesis adalah menggerakkan objek tanpa menggunakan fisik.
Banyak orang yeng bercita-cita memiliki kemampuan tersebut, namun banyak  juga orang yang telah memiliki kemampuan tersebut malah tidak menginginkannya. Kebanyakan orang yang di anugerahi kemampuan ESP sejak lahir sampai dewasa memiliki hambatan dalam bersosial, bahkan tak jarang membuat dia strees. Orang yang memiliki kemampuan ESP harus mampu mengontrol emosi dia kapanpun dan dimanapun, agar tidak menjadi bumerang bagi dia sendiri.
LATIHAN UNTUK MENINGKATKAN EXTRA SENSORY PERCEPTION
Caranya adalah dengan mempertajam intuisi kita, bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari, misalnya :
1.Ketika telpon berdering, sebelum mengangkatnya kita bisa lebih dulu memfokuskan perhatian untuk mencoba menebak siapa yang menelepon.
2. Ketika menerima surat, sebelum membuka sampulnya fokuskan dulu perhatian kita dan cobalah untuk mengetahui apa kira-kira isinya.
3. Mengambil kartu-kartu berwarna, sambil memejamkan mata lalu menebak apakah warna yang terpegang sesuai dengan warna yang memang ingin diambil.
4. Melempar koin lalu menebaknya.
Latihan lainnya bisa dilakukan sambil duduk dalam kondisi rileks di tempat yang cukup sepi. Niatkan bahwa kita ingin mendapatkan petunjuk dari Tuhan mengenai perjalanan yang akan kita lakukan, kondisi kesehatan, keuangan, urusan bisnis, atau apa saja yang menjadi masalah kita saat itu. Selanjutnya fokuskan perhatian pada keluar masuknya napas dari lubang hidung, sehingga kita semakin rileks dan memasuki suasana yang hening. Begitu memasuki kondisi alpha, cobalah mulai menangkap sinyal-sinyal yang muncul.
Sinyal yang muncul sangat tergantung pada kepekaan masing-masing orang. Mereka yang penglihatannya peka (clair voyance) akan menangkap sinyal itu dalam bentuk gambaran visual, mereka yang pendengarannya peka (clair audience) akan menangkapnya dalam bentuk suara atau bisikan. Sementara orang peka perasaannya (clair sentience) akan mengangkap sinyal itu dengan perasaannya. Atau, tiba-tiba muncul begitu saja sebuah pengertian atau keseimpulan baru yang kita yakini sebagai sesuatu yang benar meski kita tidak tahu alasannya secara jelas.
Latihan-latihan tersebut perlu dilakukan setiap hari, sehingga semakin lama kita menjadi semakin peka. Jika sudah sampai pada tahap mahir, dengan mudah dan cepat kita akan bisa “mengetahui” sesuatu yang akan terjadi. Dengan begitu kita bisa berupaya menghindari terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan.

  • Referensi :

Darmanto. (2012). Mengaktifkan alam bawah sadar manusia. Jakarta: Tugu Publisher
http://sweetspearls.com/health/melatih-intuisi-demi-keselamatam-diri/
http://www.tribunnews.com/regional/2012/09/28/tubuh-supiyati-penuh-paku-kawat-perut-saya-terasa-panas
Prakuso, B. (2012). Psikotransmiter (komunikasi bawah sadar). Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Zahran, S. K. (2011). Some personal and social variables that affect extra sensory perception (sixth sense). Scientific Reserch, 2(4), 388-392


Rabu, 02 November 2016

Tips Sukses Tes Psikologi Menggambar Pohon (Baum Test)

Tulisan ini di buat untuk membantu teman-teman yang sedang kebingungan ketika akan menghadapi tes psikologi, khususnya tes menggambar pohon (BAUM Test). Jujur, selama penulis kuliah di jurusan Psikologi, penulis sering ditanyai oleh teman tentang bagaimana seharusnya menggambar pohon ketika tes psikologi? Pohon apa yang sebaiknya di gambar? Apakah ada perbedaan penilaian antara tes menggambar pohon ketika masuk sekolah/ kuliah dengan masuk kerja? Nah. Kali ini penulis mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalu tulisan ini. Silahkan di cermati baik-baik ya....
BAUM Test merupakan alat ukur psikologi. Fungsi dari BAUM Test ini sendiri pada umumnya terdiri dari 2, pertama untuk keperluan industri (seleksi kerja) dan yang kedua klinis, biasanya digunakan untuk mendiagnosa permasalahan psikologi (asesmen psikologi). Di awali oleh Goodenough pada tahun 1926 yang mengembangkan suatu prosedur yang terstandarisasi untuk mengevaluasi inteligensi anak-anak, di awali dengan menggambar seorang manusia (draw a man). Kemudian pada waktu yang bersamaan, Emil Jucker juga mengembangkan suatu metode yang terarah, yaitu tes menggambar pohon (BAUM Test). Tes ini kemudian dielaborasi lebih lanjut oleh Charles Koch (1952-1957). Jucker mengatakan bahwa Pohon itu memiliki karakteristik yang hampir sama seperti manusia. Pohon selalu tumbuh dan berkembang untuk hidup, juga membutuhkan asupan makanan layaknya manusia.
BAGAIMANA TES TERSEBUT DI LAKUKAN?
Untuk mengerjakan tes tersebut kalian cukup membutuhkan satu buah pensil dan kertas yang biasanya akan di berikan oleh tester. Kalian cukup menggambar pohon dengan tenang, usahakan relax. Sebelum tes di mulai, tester biasanya akan memberikan instruksi seperti berikut :
“Mohon perhatian kepada saudara-saudara sekalian. Silahkan tulis identitas kalian berupa nama lengkap, tanggal lahir dan tanggal hari ini di kertas kosong yang telah di berikan (tester sambil  menunjukkan kertas dengan posisi kertas potret). Jika sudah selesai, letakkan alat tulis saudara dan perhatikan ke depan. Sekarang balik kertas Saudara seperti ini (sambil menunjukkan kepada testee) sehingga saudara menghadapi halaman yang seluruhnya kosong.
Perhatikan!
Seluruh halaman ini sekarang adalah milik saudara (tester menunjukkan seluruh halaman yang kosong).
Tugas Saudara adalah MENGGAMBAR POHON!
Sumber : http://tespsikotes.com/gambar-pohon-tes-psikotes/
Jenis pohon yang tidak boleh digambar adalah jenis rumput, pisang, bambu, kelapa, cemara, pepaya, kaktus, dan perdu. Jadi gambarlah pohon yang lainnya.
Saudara hanya boleh menggunakan pensil yang kami pinjamkan.
Waktu pengerjaan adalah 10 menit
Apakah ada pertanyaan?
Jika tidak ada, ambillah pensil saudara dan silakan mulai menggambar SEKARANG!”
SEBAIKNYA JENIS POHON APA YANG DI GAMBAR? AGAR BISA LULUS TES
Tidak ada istilah salah atau benar dalam pengerjaan BAUM Test. Setiap garisan, tebal tipis tulisan,  tekanan serta objek detail yang digambar memilki karakteristik tersendiri. Sehingga lulus atau tidaknya anda ketika mengikuti tes seleksi kerja atau masuk sekolah/ kuliah sangat bergantung kepada karakteristik yang di butuhkan oleh perusahaan/ sekolah/ kampus tersebut. Semua perusahaan tentu ingin karyawannya “the right man on the right place” . Itulah fungsinya BAUM Test di lakukan, untuk memetakan serta mencari kecocokan pencari kerja dengan posisi pekerjaan yang dibutuhkan. 
Namun ada beberapa kecenderungan interpretasi umum yang dapat anda jadikan referensi sebagai pertimbangan untuk menggambar pohon :
1. Pohon yang digambar terletak di bagian mana?
- Di tengah kertas
Anda praktis dan rendah hati, dengan memilih menggambar di bagian tengah menunjukkan bahwa anda memilih pendekatan jalan tengah dalam menangani masalah dan mengharapkan yang terbaik dan membayangkan yang terburuk dalam membuat keputusan, dengan cara ini menunjukkan anda siap dengan apapun yang terjadi.
- Di bagian bawah kertas
Anda lebih suka melakukan riset terlebih dulu sebelum membuat keputusan, dan dalam memutuskan sesuatu anda terlebih dahulu mempertimbangkan rasa yakin atau pesimistik akan sebuah keputusan atau solusi. Menggambar di bagian bawah dari pertengahan halaman melambangkan pendekatan hidup yang lebih membumi.
- Tinggi di bagian atas kertas
Anda memilih melihat hikmah dari semua masalah. Semakin tinggi letak pohon yang digambar  akan menunjukkan sikap anda yang semakin tinggi dalam memandang hidup. Kendati yang terjadi dalam kehidupan tidak seperti yang anda inginkan, anda memandangnya sebagai pengalaman pembelajaran, dan menarik hikmah penting dari setiap masalah atau persoalan.
2. Batang pohon seperti apa yang anda gambar ?
- Lebar
Batang pohon melambangkan kekuatan emosional, batang lebar berarti anda bisa tetap tenang dan tidak mudah marah, dan pendirian anda juga sangat kuat. Ketika ada masalah anda dianggap bisa tenang.
- Ramping
Anda fleksibel dan terbuka dengan pandangan-pandangan atau pendapat orang lain. Anda juga sensitif dan banyak empati untuk masalah orang lain.
- Pohon bercabang di puncak
Anda terpecah di antara beberapa pilihan hidup saat ini
3. Berapa tinggi pohon yang anda gambar ?
- Lebih dari setengah tinggi kertas
Menggambar pohon lebih tinggi menunjukkan hasrat untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam hidup dan dermawan dalam uang. Dalam bekerja anda teliti, seksama serta mencek ulang setiap pekerjaan untuk memastikan hasil yang baik.
- Tinggi pohon kurang dari setengah tinggi kertas
Anda puas dengan hidup ini apa adanya, hemat dan sangat efisien.
4. Pohon yang digambar terletak di mana ?
- Di tanah
Anda mendambakan rasa aman dan stabilitas. Anda menyukai kehidupan keluarga, dan menyukai suatu pekerjaan yang dianggap mampu member kenyamanan dan bisa bertahan dalam jangkan waktu yang panjang.
- Di pot
Anda menyukai pekerjaan yang sangat sibuk sepanjang waktu, senang berpergian dan bertualang, serta mengenal orang-orang baru dan tempat-tempat baru.
- Di puncak gunung
Anda mendambakan perhatian dan senang menjadi pusat perhatian. Anda adalah entertainer alamiah dan komunikator ulung yang membuat orang tertarik pada anda.
- Melayang di awang-awang atau tidak ada dasarnya
Anda impulsif dan spontan, mudah menjadi senang jika sesuatu mengilhami anda.
- Di pulau
Anda memerlukan banyak waktu untuk menyendiri untuk mengisi ulang energi anda, menyendiri dibutuhkan untuk membantu menemukan solusi dari masalah.
5. Apakah pohon yang digambar mempunyai dahan ?
- Ya
Anda adalah orang yang berorientasi pada otak kiri. Dalam survei-survei, dahan-dahan digambar oleh orang yang logis dan analitis. Anda jarang kehilangan kesabaran karena anda terlalu sibuk memikirkan solusi rasional untuk semua masalah yang muncul.
- Tidak
Jika anda hanya menggambar kerangka dasar pohon, berarti anda dikuasai oleh otak kanan yang intuitif. Anda mengikuti instink-instink anda dalam segala sesuatu, mulai dari menerima pekerjaan sampai berteman dengan orang baru.
6. Pohon yang digambar condong ke arah mana ?
- Ke kiri
Anda cenderung memendam apa yang anda pikirkan. Sikap anda konsevatif dan introvert. Anda tidak menyukai guncangan-guncangan . Meskipun anda tidak setuju anda akan menyimpannya untuk diri sendiri.
- Ke kanan
Anda berorientasi pada aksi.anda akan mengatakan apa yang anda pikirkan kendatipun bertentangan dengan pandangan-pandangan orang lain.
- Lurus
Anda berada di tengah antara memendam perasaan-perasaan anda dan mengungkapkannya. Jadi anda cenderung memilih perang dengan diri anda. Anda akan bicara hanya jika masalah itu benar-benar penting untuk anda.
Sumber : http://poetrasoeloeng.blogspot.co.id/2014/03/contoh-interpretasi-tes-grafis-wartegg.html
TAMBAHAN TIPS !!!
1. Mempersiapakan alat tulis (pensil, rautan pensil & penghapus) dari rumah, untuk jaga-jaga jika alat tulis tidak di sediakan
2. Perhatikan dengan seksama instruksi dari tester
3. Gambarlah pohon dengan detail dan rinci setiap bagiannya seperti tangkai, bentuk daun, kerapatan daun, buah, akar, maupun alur pohon.
4. Meski waktu yang diberikan amat terbatas, sebaiknya tes dilakukan dengan tetap tenang dan cermat.
5. Sebelum melaksanakan tes, kalian dapat berlatih di rumah dengan memfoto sebuah pohon yang diinginkan, mempelajari karakter pohon tersebut, berikutnya berlatih menggambar dengan acuan foto tersebut.