Jumat, 12 Juni 2015

MODIFIKASI PERILAKU : Tehnik Stimulus Control

A. Pengantar
Jake meminta uang kepada ibunya karena ia ingin berbelanja dan ibunya pun memberikan uang tersebut. Ketika Jake melakukan hal yang sama kepada ayahnya, meminta uang kepada ayahnya, ayahnya menolak permintaan Jake dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan sendiri. Sebagai hasilnya, ketika Jake membutuhkan uang untuk berbelanja, maka ia akan meminta uang kepada ibunya, bukan pada ayahnya. Dari contoh kasus ini kita katakan bahwa, kesediaan ibu memberikan uang kepada Jake merupakan stimulus control bagi tingkah laku Jake untuk meminta uang. Contoh tersebut menggambarkan prinsip dari stimulus control. Sebuah tingkah laku cenderung untuk muncul saat spesific antecedent stimulus ada/terjadi. Sebuah tingkah laku dikatakan berada di bawah kontrol stimulus ketika kemungkinan peningkatan perilaku itu muncul saat stimulus antesedent terjadi.
B. Kajian Teori
1. Definisi
Kontrol stimulus dikatakan terjadi ketika suatu organisme berperilaku dalam satu cara dikarenakan adanya stimulus yang diberikan. Misalnya, adanya tanda berhenti (lampu merah) meningkatkan kemungkinan terjadinya pengereman. Stimulus kontrol merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan jalan bagaimana sebuah stimulus tertentu  menentukan munculnya respon yang benar sebuah stimulus yang menempatkan atau memerlukan petunjuk, respon yang muncul disebut discriminative respod.
2. Tujuan
            Kontrol stimulus memiliki tujuan untuk memicu respon yang diinginkan ketika stimulus yang terkontrol diberikan. Seperti contoh lampu merah di atas. Perambuan lalu lintas merupakan stimulus yang sengaja dibuat oleh petugas lalu lintas untuk mengatur lancarnya arus lalu lintas sehingga pengendara dapat aman selamat sampai ke tujuan.
3. Karakteristik
Stimulus kontrol berkembang karena tingkah laku diperkuat hanya jika stimulus antisedent yang spesifik hadir/ada. Oleh kaena itu, tingkah laku akan kembali muncul/berlanjut dimasa yang akan datang hanya jika stimulus antesedent hadir. Antecedent stimulus yang muncul/hadir saat tingkah laku diperkuat di berinama discriminative stimulus (SD). Secara sederhana SD/discriminative stimulus dapat dipahami sebagai stimulus spesifik yang memicu timbulnya sebuah tingkah laku, tingkah laku tidak muncul kecuali stimulus spesifik ini terjadi. Jadi SD merupakan stimulus spesifik (hanya dengan stimulus ini, bukan stimulus lain) yang menyebabkan sebuah tingkah laku muncul. Proses penguatan (reinforcing) tingkah laku hanya disaat stimulus antesedent spesifik (discriminative stimulus) hadir, disebut stimulus discrimination training.
4. Prinsip-Prinsip
Sebuah tingkah laku cenderung untuk muncul saat spesific antecedent stimulus ada/terjadi. Antecedent stimulus adalah stimulus yang mendahului terjanya tingkah laku. Sebuah tingkah laku dikatakan berada di bawah kontrol stimulus ketika kemungkinan peningkatan perilaku itu muncul saat stimulus antesedent terjadi.
C. Prosedur Pelaksanaan
1. Saat discriminative stimulus (SD) muncul/hadir, tingkah laku diperkuat.
2. Saat antecedent stimulus yang lainnya diberikan (bukan discriminative stimulus (SD)), tingkah laku tersebut tidak mengalami penguatan (tidak diperkuat). Selama discrimination training berlangsung, antecedent stimulus lain yang muncul saat tingkah laku tidak diperkuat disebut S-delta (S∆).
Sebagai hasil dari discrimination training, tingkah laku cenderung untuk muncul kembali dimasa mendatang saat SD dimunculkan/tampil tapi akan cenderung untuk tidak muncul saat S∆ dimunculkan.
D. Contoh Kasus atau Riset
Contoh penelitian yang berkaitan dengan teknik stimulus control adalah penelitian yang dilakukan oleh Rahmawan, Rois Eko dari Universitas Muria Kudus dengan judul “Upaya Meningkatkan Konsentrasi Belajar Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Stimulus Control”
Berikut adalah gambaran penelitian yang dituliskan dari abstraknya :
Penelitian ini dilatar belakangi karena rendahnya konsentrasi belajar siswa kelas X-2. Ada 8 siswa yang rendah konsentrasi belajarnya, hal ini ditunjukkan dengan sikap siswa yang cenderung ramai/gaduh di dalam kelas, berbicara sendiri dengan teman sebangku dan mengantuk saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Oleh karena itu persolan tentang rendahnya konsentrasi belajar pada siswa kelas X-2 harus segera diatasi, supaya siswa dapat berkonsentrasi saat pelajaran berlangsung, tertib saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan dapat termotivasi memperhatikan pelajaran/tidak mengantuk. Kondisi tersebut diatas menurut peneliti dapat diatasi melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control. Permasalahan yang akan diteliti adalah “Apakah layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control dapat meningkatkan konsentrasi belajar pada siswa kelas X-2 SMA NU Al Ma’ruf Kudus Tahun 2013/2014”. Tujuan penelitian ini adalah: memperoleh peningkatan konsentrasi belajar melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control pada siswa kelas X-2 SMA NU Al Ma’ruf Kudus Tahun 2013/2014. Kegunaan penelitian ini adalah : 1. Kegunaan teoritis : hasil dari layanan bimbingan kelompok ini diharapkan bisa mengembangkan teori bimbingan kelompok dalam meningkatkan konsentrasi belajar siswa dalam memahami mata pelajaran. 2. Kegunaan praktis penelitian ini adalah : 1) Bagi Kepala Sekolah 2) Bagi Guru BK 3) Bagi Guru Mata Pelajaran 4) Bagi Siswa 5) Bagi Peneliti. Hipotesis penelitian ini adalah : “Layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control dapat meningkatkan konsentrasi belajar pada siswa kelas X-2 SMA NU Al Ma’ruf Kudus Tahun 2013/2014”. Penelitian ini dilakukan di SMA NU Al Ma’ruf Kudus yang beralamat di Jl. AKBP.R.Agil Kusumadya No. 2 Kudus, sedangkan subyek penelitian ini adalah 8 siswa yang konsentrasi belajarnya rendah diantara siswa kelas X-2. Variabel penelitian : Layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control (variabel bebas) dan konsentrasi belajar (variabel terikat). Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan 2 siklus (siklus I dan siklus II) setiap siklus 3 pertemuan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara sebelum pra layanan bimbingan kelompok konsentrasi belajar siswa termasuk dalam kategori sangat kurang (13,12). Setelah diberi treatment layanan bimbingan kelompok pada sikus I, konsentrasi belajar siswa meningkat menjadi kategori cukup (33,75) dan setelah siklus II konsentrasi belajar siswa meningkat menjadi kategori sangat baik (42,12). Hal ini menunjukkan layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control dapat meningkatkan konsentrasi belajar pada siswa kelas X-2 SMA NU Al Ma’ruf Kudus Tahun 2013/2014. Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control dapat meningkatkan konsentrasi belajar Melihat temuan di lapangan, peneliti memberikan saran kepada: 1. Kepala Sekolah mengenai sarana dan prasarana yang mendukung bagi pelaksanaan penelitian. 2. Para guru BK memberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control yang berkaitan dengan cara meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dalam memahami pelajaran. 3. Guru Mata Pelajaran memberikan perhatian pada siswa yang konsentrasi belajarnya rendah sehingga dapat ditindaklanjuti secara cepat dan konsentrasi belajarnya dapat ditingkatkan. 4. Siswa diharapkan dapat berkonsentrasi saat guru menerangkan dan mampu menjawab dengan baik pertanyaan dari guru. 5. Bagi peneliti berikutnya perlu mengadakan penelitian lebih lanjut dan lebih lengkap yang keterkaitan dengan masalah konsentrasi belajar.

DAFTAR PUSTAKA
Sumadi Suryabrata (B.A, Drs., MA, Ed.S, Ph.D.), (1998) Psikologi Pendidikan,
Jakarta: PT RajaGravindo Persada.
Catania, A. C (1992) "Learning" 3rd ed, Prentice Hall, Englewoood Cliffs, NJ.
Dr.H.Mahmud, M.Si (2010) Psikologi Pendidikan.Bandung ; CV Pustaka Setia
Purwa Atmaja Prawira (2013) Psikologi Pendidikan dalam Pesrfektif Baru.
Jakarta ; Ar-ruzz Media
Feist & Feist (2010) Teori Kepribadian. Jakarta ; Salemba Humanika
Santrock, John W (2007) Psikologi Pendidikan edisi kedua. Jakarta ; Kencana
Media Group
Jeanne Ellis Ormrod (2008) Psikologi Pendidikan. Jakarta ; Erlangga
Robert E. Slavin (2008) Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta ; PT

Indeks

Tidak ada komentar:
Write komentar