Jumat, 12 Juni 2015

MODIFIKASI PERILAKU : Tehnik Self-Control

A. Pengantar
Tiap orang memerlukan kebebasan untuk menjadi kreatif dan mengaktualisasi diri. Di sisi lain, kendali dari dalam diri diperlukan sebagai regulasi atas dorongan dan kemampuan yangdimiliki, baik secara fisik, psikis, maupun perilaku. Bertindak tanpa pikir panjang merupakan ciri khas yang melekat pada anak-anak. Mereka bertindak spontan. Bila sakit mereka akan menangis di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi apa saja. Bila gembira, anak yang sehat akan berlarian, mencoret-coret, berteriak-teriak girang, atau melakukan apa pun yang ia inginkan.
Bayangkan bila perilaku semacam ini dilakukan oleh remaja atau orang dewasa. Tentu saja cukup aneh. Kita akan merasa sangat terganggu bila menemukan seseorang yang bukan lagi anak-anak bertindak sesuka hati, membiarkan dorongan-dorongan atau keinginan yang bersifat egoistis termanifestasi begitu saja. Semakin bertambah usia seseorang, ia diharapkan semakin memiliki kendali atas perilakunya sendiri. Dengan kata lain, semakin mengembangkan kemampuannya mengontrol diri.
Kontrol diri merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan individu selama proses-proses dalam kehidupan, termasuk dalam menghadapi kondisi yang terdapat di lingkungan tempat tinggalnya. Para ahli berpendapat bahwa selain dapat mereduksi efek-efek psikologis yang negatif dari stressor-stessor lingkungan, kontrol diri juga dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat pencegahan. Kontrol diri dapat mencakup semua bidang perilaku, yaitu perilaku politik, sosial, spritual, budaya dan perilaku kerja. Pengaruh kontrol diri terhadap timbulnya tingkah laku seseorang dapat dianggap cukup besar, karena tingkah laku over merupakan hasil proses pengontrolan diri seseorang.
B. Kajian Teori
1. Definisi
Larry (dalam R.S Satmoko, 1986:130) mengungkapkan bahwa kontrol diri (Self-Control) adalah kemampuan mengenali emosi dirinya dan orang lain. Baik itu perasaan bahagia, sedih, marah, senang, takut, dan sebagainya, mengelola emosi, baik itu menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas, kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan, mengendalikan dorongan hati memotivasi diri sendiri, dan memahami orang lain secara bijaksana dalam hubungan antar manusia.
2. Tujuan
Beberapa tujuan yang biasanya ingin dicapai dalam melakukan modifikasi perilaku yang menggunakan teknik Self-Control antara lain :
a. Mampu menghadapi situasi yang tidak diinginkan dengan cara mencegah atau menjauhi situasi tersebut
b. Mampu mengatasi frustasi dan ledakan emosi.
c. Mampu menunda kepuasan dengan segera untuk mengatur perilaku agar dapat mencapai sesuatu yang lebih berharga atau lebih diterima oleh masyarakat
d. Mampu mengantisipasi peristiwa dengan mengantisipasi keadaan melalui pertimbangan secara objektif.
e. Mampu menafsirkan peristiwa dengan melakukan penilaian dan penafsiran suatu keadaan dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara subjektif
f. Mampu mengontrol keputusan dengan cara memilih suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya.
3. Karakteristik
Kontrol diri seseorang yang baik dan yang buruk dapat terlihat dari kehidupan seseorang, baik dari sifat yang berasal dari dalam maupun dari luar, yakni terbagi menjadi dua karakteristik eksternal dan internal.
a. Internal (dari dalam)
Pengendalian diri dapat dilihat dari kehidupan seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang mempunyai keinginan yang tinggi agar pada diri seseorang dapat tercapai keinginan dalam kehidupannya, seperti:
1. Suka bekerja keras.
2.Memiliki inisiatif yang tinggi.
3.Selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah.
4.Selalu mencoba untuk berpikir seefektif mungkin.
5.Selalu mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika ingin berhasil.
b. External (dari luar)
Pengendalian diri dari luar yang menunjukkan kendali diri seseorang kurang mempunyai harapan atau kemauan untuk berusaha memperbaiki kegagalan yang ada pada diri nya seperti:
1.Kurang memiliki inisiatif.
2.Mempunyai harapan bahwa ada sedikit korelasi antara usaha dan kesuksesan.
3.Kurang suka berusaha, karena mereka percaya bahwa faktor luarlah yang mengontrol.
4.Kurang mencari informasi untuk memecahkan masalah.
Pada orang-orang yang memiliki pengendalian diri dari dalam faktor kemampuan dan usaha terlihat dominan, oleh karena itu apabila individu dengan internal mengalami kagagalan mereka akan menyalahkan dirinya sendiri karena kurangnya usaha yang dilakukan. Begitu pula dengan keberhasilan, mereka akan merasa bangga atas hasil usahanya. Hal ini akan membawa pengaruh untuk tindakan selanjutnya dimasa akan datang bahwa mereka akan mencapai keberhasilan apabila berusaha keras dengan segala kemampuannya.
Sebaliknya pada orang yang memiliki pengendalian diri dari luar melihat keberhasilan dan kegagalan dari faktor kesukaran dan nasib, oleh karena itu apabila mengalami kegagalan mereka cenderung menyalahkan lingkungan sekitar yang menjadi penyebabnya. Hal itu tentunya berpengaruh terhadap tindakan dimasa datang, karena merasa tidak mampu dan kurang usahanya maka mereka tidak mempunyai harapan untuk memperbaiki kegagalan tersebut.
Dimensi kepribadian yang berupa kontinum dari pengendalian diri dari dalam menuju pengendalian diri dari luar, oleh karenanya tidak satupun individu yang benar-benar dari dalam atau yang benar-benar dari luar. Kedua tipe terdapat pada setiap individu, hanya saja ada kecenderungan untuk lebih memiliki salah satu tipe tertentu. Disamping itu pengendalian diri dari luar dan dari dalam tidak bersifat stastis tapi juga dapat berubah. Individu yang berorientasi dari dalam dapat berubah menjadi individu yang berorientasi dari luar dan begitu sebaliknya, hal tersebut disebabkan karena situasi dan kondisi yang menyertainya yaitu dimana ia tinggal dan sering melakukan aktifitasnya.
4. Prinsip-Prinsip
Prinsip-prinsip dalam melakukan kontrol diri (Self-Control) adalah :
1. Prinsip kemoralan.
Setiap agama pasti mengajarkan moral yang baik bagi setiap pemeluknya, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menipu, tidak berbohong, tidak mabuk-mabukan, tidak melakukan tindakan asusila maupun tidak merugikan orang lain. Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif, maka kita dapat bersegera lari ke rambu-rambu kemoralan. Apakah yang kita lakukan ini sejalan atau bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama? Saat terjadi konflik diri antara ya atau tidak, mau melakukan atau tidak, kita dapat mengacu pada prinsip moral di atas.
2. Prinsip kesadaran.
Prinsip ini mengajarkan kepada kita agar senantiasa sadar saat suatu bentuk pikiran atau perasaan yang negatif muncul. Pada umumnya orang tidak mampu menangkap pikiran atau perasaan yang muncul, sehingga mereka banyak dikuasai oleh pikiran dan perasaan mereka. Misalnya seseorang menghina atau menyinggung kita, maka kita marah. Nah, kalau kita tidak sadar atau waspada maka saat emosi marah ini muncul, dengan begitu cepat, tiba-tiba kita sudah dikuasai kemarahan ini. Jika kesadaran diri kita bagus maka kita akan tahu saat emosi marah ini muncul, menguasai diri kita dan kemungkinan akan melakukan tindakan yang akan merugikan diri kita dan orang lain. Saat kita berhasil mengamati emosi maka kita dapat langsung menghentikan pengaruhnya. Jika masih belum bisa atau dirasa berat sekali untuk mengendalikan diri, maka kita dapat melarikan pikiran kita pada prinsip moral.
3. Prinsip Perenungan.
Ketika kita sudah benar-benar tidak tahan untuk meledakkan emosi karena amarah dan perasaan tertekan, maka kita bisa melakukan sebuah perenungan. Kita bisa menanyakan pada diri sendiri tentang berbagai hal, misalnya apa untungnya saya marah, apakah benar reaksi saya seperti ini, mengapa saya marah atau apakah alasan saya marah ini sudah benar. Dengan melakukan perenungan, maka kita akan cenderung mampu mengendalikan diri. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa saat emosi aktif maka logika kita tidak jalan, sehingga saat kita melakukan perenungan atau berpikir secara mendalam maka kadar kekuatan emosi atau keinginan kita akan cenderung menurun.
4. Prinsip Kesabaran.
Pada dasarnya emosi kita naik-turun dan timbul-tenggelam. Emosi yang bergejolak merupakan situasi yang sementara saja, sehingga kita perlu menyadarinya bahwa kondisi ini akan segera berlalu seiring bergulirnya waktu. Namun hal ini tidaklah mudah karena perlu adanya kesadaran akan kondisi emosi yang kita miliki saat itu dan tidak terlalu larut dalam emosi. Salah satu cara yang perlu kita gunakan adalah kesabaran, menunggu sampai emosi negatif tersebut surut kemudian baru berpikir untuk menentukan respon yang bijaksana dan bertanggung jawab (reaksi yang tepat).
5. Prinsip Pengalihan Perhatian.
Situasi dan kondisi yang memberikan tekanan psikologis sering menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran yang cukup banyak bagi seseorang untuk menghadapinya. Apabila berbagai cara (4 prinsip sebelumnya) sudah dilakukan untuk berusaha menghadapi namun masih sulit untuk mengendalikan diri, maka kita bisa menggunakan prinsip ini dengan menyibukkan diri dengan pikiran dan aktifitas yang positif. Ketika diri kita disibukkan dengan pikiran positif yang lain, maka situasi yang menekan tersebut akan terabaikan. Begitu pula manakala kita menyibukkan diri dengan aktifitas lain yang positif, maka emosi yang ingin meledak akibat peristiwa yang tidak kita sukai tersebut akan menurun bahkan hilang. Saat kita berhasil memaksa diri memikirkan hanya hal-hal yang positif maka emosi kita akan ikut berubah kearah yang positif juga.
C. Prosedur Pelaksanaan
Prosedur pelaksanaan teknik Self-Control terbagi menjadi beberapa tahap seperti :
1. Spesifikasi Masalah
    a. Menentukan tujuan perilaku dengan rinci, konkrit, dan wajar
    b. Membuat daftar bukti yang menyatakan bahwa program kontrol diri telah berhasil.
   c. Cantumkan beberapa orang yang punya tujuan sama. Amati, dan berikan alasan mengapa mereka berhasil dan mengapa mereka tidak berhasil.
    d. Buat  daftar perilaku yang dapat membantu tercapainya tujuan
2. Membuat Komitmen Untuk Berubah
    a. Buat daftar keuntungan apabila program ini berhasil
    b. Atur lingkungan : ada orang lain yang mengingatkan
    c. Siapkan waktu dan energi untuk melakukan program
    d. Rencanakan cara untuk mengatasi gangguan
3. Mengambil Data dan Analisis Penyebab
    a. Ambil data tentang munculnya masalah : kapan, dimana, seberapa sering?
    b. Catat frekuensi permasalahan
    c. Analisis anteseden & konsekuensi yang memelihara perilaku : dasar untuk menyusun strategi berikutnya
4. Merancang Program
    a. Manage The Situation
i. Self Instruction
ii. Modelling
iii. Mengatur lingkungan
iv. Mengurangi kontak dengan orang lain
v. Menentukan waktu
    b. Manage The Behavior
i. Chaining : tiap perilaku kecil merupakan syarat bagi perilaku selanjutnya.
ii. Incompatible Behavior : Perilaku bermasalah diganti perilaku lain yang lebih tepat.
iii. Shaping : Membentuk perilaku secara bertahap
    c. Manage The Consequences
i. Utilizing Feedback : cermin, tape recorder, video, self monitoring
ii. Menyediakan self reward
iii. Mencatat keuntungan melakukan program
iv. Administering Punishment
D. Contoh Kasus atau Riset
            Contoh riset yang berkaitan dengan Self-Control adalah hasil penelitian dari Meirina Ramdhani mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2013. Penelitian ini berjudul “Penerapan teknik kontrol diri untuk mengurangi konsumsi rokok pada kategori perokok ringan”. Adapun gambaran abstrak dari penelitian ini sebagai berikut :
Menghentikan kebiasaan merokok merupakan permasalahan utama para perokok aktif yang mulai menyadari bahaya akibat rokok. Kesulitan untuk berhenti merokok berkaitan dengan kemampuan individu untuk mengontrol dirinya (self-control). Tujuan dari penelitian ini untuk mengembangkan teknik kontrol diri untuk mengurangi konsumsi rokok. Pendekatan penelitian ini adalah rangkaian kasus (case series). Subjek berjumlah 4 orang perokok laki-laki usia dewasa yang biasa merokok tidak lebih dari 10 batang per hari (kategori ringan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keempat subjek mengalami penurunan konsumsi rokok per hari, yang dapat dilihat dari kondisi awal sebelum diberikan intervensi, kondisi pada proses intervensi, kondisi setelah intervensi dihentikan dan tahap tindak lanjut.

DAFTAR PUSTAKA
Dayakisni, Tri & Hudaniah (2003). Psikologi Sosial. UMM Press. Malang
Gie (1996) Strategi Hidup Sukses. Yogyakarta: Liberty
http://www.autism.org/selfmanage.html
https://elqorni.wordpress.com/2009/02/06/manajemen-diri-self-management/
http://animenekoi.blogspot.com/2012/05/teknik-self-management.html
Komalasari, Dantina. dan Eka Wahyuni (2011) Teori Dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks.
Martin, Garry & Pear, Joseph. (2003). Behavior Modification, What It Is and How
To Do It, 7th Ed. Pearson Education International. New Jersey
Richard, Jones-Nelson (2011) Teori dan Praktik Konseling Dan Terapi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
R.S Satmoko (1986) Psikologi Tentang Penyesuaiandan Hubungan Kemanusiaan

edisi ke 3

1 komentar:
Write komentar