Thursday, 4 June 2015

Bonus Demografi Indonesia, Untung atau Buntung?

Definisi
Demographic bonus atau bonus demografi adalah kondisi yang menguntungkan bila dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan. Bonus demografi ini sesungguhnya suatu kesempatan yang sangat langka. Hal ini terjadi bila suatu masyarakat atau bangsa berhasil mengubah struktur umur penduduknya dari berbentuk piramid menjadi bentuk kubah dan kemudian berubah lagi menjadi bentuk granat. Dalam perjalanan perubahan itu, akan bisa dihitung berapa banyak penduduk yang berusia produktif (15-59 tahun) di banding yang berada di usia tidak produktif (0-14 tahun, d tambah 60 tahun ke atas). Bila suatu bangsa struktur umur penduduknya piramid atau granat maka 100 penduduk usia produktif akan disertai dengan 70-80 atau lebih penduduk usia tidak produktif. Hanya bedanya, kalau pada bentuk piramid yang banyak adalah anak-anak (0-14 tahun ), dalam bentuk granat yang banyak adalah lansia (60 tahun ke atas). Suatu masyarakat dikatakan mengalami bonus demografi bila berada dalam struktur yang berbentuk kubah tadi, yakni 100 penduduk usia produktif hanya diimbangi oleh sekitar 40-50 penduduk usia tidak produktif. Artinya bebannya tidak terlalu berat. Bila keberhasilan program KB dapat dipertahankan dan berhasil mencapai Total Fertility Rate (TFR) sekitar 2,1 maka pada 2015-2025 Indonesia akan mengalami bonus demografi dengan angka ketergantungan (dependency ratio) sekitar 0,4 sampai 0,5.(bkkbn,2008). Inilah yang kita sebut dengan “Bonus Demografi”. Lebih singkatnya Bonus Demografi adalah keadaan ketika jumlah penduduk usia produktif (15-59 tahun)  di suatu negara lebih besar dari jumlah penduduk tidak produktif (0-14 tahun, d tambah 60 tahun ke atas).
Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Saat ini jumlah penduduk Indonesia dengan usia produktif lebih banyak dua kali lipat dari usia non-produktif. Wendy Hartanto, Deputri Pengendalian Penduduk BKKBN mengatakan sejak tahun 2011, jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dua kali lipat dari usia non-produktif. Ini kesempatan bagi kita meningkatkan pembangunan.
Untung?
HSBC Global Research menilai dengan bonus demografi usia produktif yang melimpah, Indonesia dapat memanfaatkan hal tersebut untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, dengan bonus demografi tersebut, dapat menarik minat investor untuk menanamkan modalnya dalam mengembangkan bisnis di dalam negeri.
Managing Director and Co-head of Asian Economic Research HSBC, Frederic Neumann mengatakan, di tengah tren usia produktif negara lain yang cenderung menurun, Indonesia justru kebanjiran usia produktif. Jumlah usia produktif di Indonesia bahkan melebihi Tiongkok, Thailand, dan negara macan Asia seperti Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura.
Buntung?
Meskipun dengan adanya Bonus Demografi, Indonesia akan kedatangan banyak investor. Namun hal tersebut akan menjadi malapetaka semata jika tidak di imbangi dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Saat ini, bonus demografi Indonesia tak terserap secara maksimal akibat sebagian besar SDM tak mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Jumlah SDM yang telah mengenyam pendidikan perguruan tinggi di Indonesia kalah jauh dibanding beberapa negara di Asia. Dalam hal ini, Indonesia tertinggal di bawah Hongkong, Jepang, Thailand dan Malaysia, meski secara perbandingan, Indonesia masih berada di atas Tiongkok, India, Vietnam dan Filipina. Bahkan Anies Baswedan menilai ada yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia sekarang, dalam forum Pengajar Muda Indonesia Mengajar beliau menerangkan bahwa “jumlah SD di Indonesia lebih banyak dari SMP, jumlah SMP lebih banyak dari SMA, sistem seperti ini di buat seolah-olah untuk membuat kita tidak banyak yang bisa mengenyam pendidikan hingga SMA, pendidikan tidak akan bisa merata jika jumlahnya saja tidak seimbang”.
Statistik tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah SD/MI di Indonesia adalah 177.539, SMP/MTs 49.486, SMA/MA 19.173. Secara kasar, jumlah sekolah untuk jenjang berikutnya (SD-SMP dan SMP-SMA) hanya sepertiga dari jumlah sekolah di bawahnya. Tak heran, riset UNDP di tahun 2011 menyebutkan bahwa rata-rata lama sekolah di Indonesia adalah 5,8 tahun.
Solusi
Solusi yang ditawarkan terhadap masalah bonus demografi adalah dengan memanfaatkan bonus demografi dimana anak-anak harus dibentuk kualitasnya sejak sekarang. Pada tahun 2025 nanti anak-anak sudah dewasa dan termasuk dalam usia produktif. Oleh karena itu, mulai saat ini generasi muda harus mempersiapkan diri agar mampu bersaing meraih kesempatan kerja dan bersaing dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Artinya mulai sekarang, anak-anak harus meningkatkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual secara optimal. Indonesia tengah mengalami bonus demografi yang ditandai dengan banyaknya penduduk usia muda dan produktif. Bonus demografi itu harus segera dioptimalkan dengan investasi lebih besar pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena itu mulai tahun 2011, Pemerintah melalui BKKBN telah meluncurkan program Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan (PHBK) guna mengantisipasi periode bonus demografi itu. PHBK diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kesejahteraan hidup masyarakat yang adil, makmur, merata dan berkualitas. 4 ciri PHBK :
1. Peduli terhadap manusia dan kebutuhan hidupnya
2. Peduli terhadap pertumbuhan penduduk dan kehidupan ekonomi
3. Peduli terhadap pertumbuhan penduduk dan kehidupan sosial, budaya dan agama
4. Peduli terhadap pertumbuhan penduduk dan lingkungan hidup.
Agar program PHBK mampu menjadi sebuah gerakan yang aktif dan efektif maka integrasi bersama program yang selama ini sudah dijalankan Bkkbn menjadi sangat penting. Terlebih lagi pada pemerintahan yang baru nanti akan dibentuk sebuah Kementerian Kependudukan yang harus selalu berkoordinasi dengan kementerian lainnya seperti kemenakertrans, kementerian agama, kementerian sosial, kemenko perekonomian, kementerian lingkungan dan kementerian pendidikan.
Menurut proyeksi penduduk tahun 2035 berbasis sensus 2010 diketahui masa maksimum bonus demografi ini terjadi pada 2028, 2029, 2030 dan 2031. Selama itu, prosentase penduduk usia muda dan produktif mencapai 46.7 persen. Melihat dari proyeksi ini, Indonesia memiliki peluang hingga 2030, jadi selama 16 tahun mendatang, Indonesia harus investasi habis-habisan di SDM. Ada beberapa syarat agar bonus demografi bisa tercapai. Pertama, yakni suplai tenaga kerja produktif yang besar harus diimbangi dengan lapangan pekerjaan sehingga pendapatan perkapita naik dan bisa menabung yang akan meningkatkan tabungan nasional. Kedua, tabungan rumah tangga diinvestasikan untuk kegiatan produktif. Ketiga, jumlah anak sedikit memungkinkan perempuan memasuki pasar kerja, membantu peningkatan pendapatan. Keempat, anggaran yang sebelumnya dipakai untuk anak usia 0-15 tahun karena jumlah berkurang, bisa dialihkan untuk peningkatan sumber daya manusia untuk usia 15 tahun ke atas seperti untuk traning, pendidikan, dan upaya pemeliharaan kesehatan remaja terutama kesehatan reproduksi dan penanggulangan perilaku tidak sehat seperti alkohol, narkoba, rokok dan seks bebas. Bonus demografi tidak serta merta datang dengan sendirinya, tetapi untuk menjadikan potensi nasional, perlu dipersiapkan dan selanjutnya dimanfaatkan bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Syarat agar bonus demografi dapat dimanfaatkan dengan baik, adalah dengan mempersiapkannya sejak perencanaan sampai dengan implementasinya di tingkat lapangan. Persiapan ini antara lain melalui :
1. Peningkatan Pelayanan Kesehatan Masyarakat;
2. Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Pendidikan;
3. Pengendalian Jumlah Penduduk;
4. Kebijakan Ekonomi yang mendukung fleksibilitas tenaga kerja dan pasar, keterbukaan perdagangan dan saving nasional

Referensi :
http://www.bonusdemografi.or.id/peluang-atau-bencana/
http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/05/26/129927/bonus-demografi-indonesia-bisa-kembangkan-bisnis-dalam-negeri
http://www.bonusdemografi.or.id/peluang-atau-bencana
http://rimaljaya.blogspot.com/2015_04_01_archive.html

No comments:
Write komentar