Jumat, 12 Juni 2015

Apa itu Optimis dan Harapan?

A. Definisi Optimisme
Sikap optimis sering disebut optimisme. Optimisme adalah kepercayaan bahwa kejadian di masa depan akan memiliki hasil yang positif (Scheier dkk., 2000).  Optimisme merupakan sikap selalu memiliki harapan baik dalam segala hal serta kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menyenangkan. Dengan kata lain optimisme adalah cara berpikir atau paradigma berpikir positif (Carver & Scheier 1993). Konsep optimisme dan pesimisme cenderung  fokus kepada ekspektasi individu terhadap masa depan. Konsep ini memiliki ikatan dengan teori psikologi mengenai motivasi, yang disebut dengan expectancy-value theories. Beberapa teori juga menyatakan optimisme dan pesimisme mempengaruhi perilaku dan emosi seseorang.Masa depan mencakup tujuan dan harapan-harapan yang baik dan positif mencakup seluruh aspek kehidupannya. Penelitian juga menunjukkan, optimisme memiliki efek moderasi terhadap bagaimana individu menghadapi situasi baru atau sulit. Ketika berhadapan dengan situasi sulit, orang yang optimis akan lebih memiliki reaksi emosi dan harapan yang positif, mereka berharap akan memperoleh hasil yang positif meskipun hal tersebut sulit, mereka cenderung menunjukkan sikap percaya diri dan persisten. Orang yang optimis juga cenderung untuk menganggap kesulitan dapat ditangani dengan berhasil dengan suatu cara atau cara lain dan mereka lebih melakukan active dan problem-focused coping strategy dari pada menghindar atau menarik diri (Carver & Scheier, 1985; Chemers, Hu, & Garcia, 2001; Scheier et al.,1986). Optimisme hampir mirip dengan beberapa konstruk, tetapi sesungguhnya berbeda. Dua konstruk yang memiliki hubungan dekat adalah sense of control dan Sense of personal efficacy (Bandura, 1997). Konsep-konsep ini memiliki nada yang sama kuat dalam mengharapkan hasil yang diinginkan, seperti optimisme. Tetapi perbedaannya terletak pada asumsi yang dibuat (atau tidak dibuat) mengenai bagaimana hasil yang diinginkan tersebut diekspektasikan terjadi. Self efficacy adalah konsep dimana self sebagai agen penyebab adalah yang terpenting. Jika individu memiliki high self-efficacy expectancies, individu itu akan percaya usaha personal mereka (atau personal skill) adalah yang menentukan hasil. Contohnya, seandainya individu percaya individu memiliki ketabahan personal untuk mengatasi efek samping chemotherapy, kamu akan lebih berjuang keras untuk mengatasinya. Sama halnya dengan konsep control. melihat diri mereka sendiri terkontrol, mereka percaya bahwa hasil yang baik akan terjadi lewat usaha personal.

2. Definisi Harapan (hope)
Rasa optimis yang muncul dari dalam diri seseorang ditunjukkan dengan adanya sikap selalu memiliki harapan baik dalam segala hal serta kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menyenangkan. Hope dikatakan memiliki dua bagian. Bagian pertama adalah persepsi individu pada kehadiran pathways yang dibutuhkan individu untuk mencapai tujuannya. Kedua adalah tingkat percaya diri individu dalam kemampuannya menggunakan pathways untuk mencapai tujuan. Jadi, hope memiliki karakterikstik keduanya yaitu will (confidence) dan the ways (pathways). Dimensi percaya diri (confidence) sama dengan yang di optimisme, dengan lebih dulu menekankan pada agen personal. Komponen pathway adalah sebuah kualitas dimana konsep optimisme tidak beralamat (Snyder, 2002). Dapat dilihat terlebih dahulu, bahwa seseorang yang melihat beberapa jalan untuk hasil spesifik yang diharapkan akan terus mencoba cara yang tersisa jika salah satu cara tidak bisa
D. Karateristik Individu Yang Optimisme Dan Memiliki Harapan
Berdasarkan penjelasan di atas individu yang memiliki karateristik optimisme. Menurut Murdoko (dalam Shofia F., 2009) bahwa ciri-ciri individu yang memiliki sikap optimis ada 6 (enam), yaitu :
1.    Memiliki visi pribadi
Visi pribadi seseorang akan memiliki cita-cita ideal, karena dengan mempunyai visi pribadi seseorang akan memiliki semangat untuk menjalani kehidupan tanpa harus banyak mengeluh ataupun merenungi apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi nanti. Dengan visi pribadi, individu akan mempunyai tenaga penggerak yang akan membuat kehidupan dinamis dan berusaha untuk mewujudkan keinginan-keinginan. Artinya, akan muncul harapan bahwa apa yang akan dilakukan itu membuahkan hasil. Dan yang lebih penting dengan visi pribadi, individu berpikir jauh ke depan (terutama mengenai tujuan hidup).
2.  Bertindak Konkret
Orang yang optimis tidak akan pernah merasa puas jika yang diinginkan cuma sebatas kata-kata sehingg akan bertindak konkret atau nyata.
3.  Berpikir Realistis
Berpikir realistis Seorang optimis akan selalu menggunakan pemikiran yang realistis dan rasional dalam menghadapi persoalan. Jika individu ingin menanamkan optimisme, maka harus membuang jauh-jauh perasaan dan emosi (feeling) yang tidak ada dasarnya. Dengan demikian, segala tindakan apapun perilaku didasarkan pada kemampuan untuk menggunakan akal sehat secara rasional. Sehingga apapun yang akan terjadi betul-betul sudah diperhitungkan sebelumnya. Individu yang optimis tingkah lakunya selalu dapat dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu, berpikir realistis merupakan sarana untuk tidak mudah diombangambingkan oleh perasaan, karena dengan menggunakan perasaan, maka objektivitas akan berubah menjadi informantivitas.
4. Menjalin Hubungan Sosial
Orang yang optimis tidak akan merasa terancam oleh kehadiran orang-orang di sekitar. Kehidupan sosial pada dasarnya dapat dijadikan sebagai salah satu cara mengukur ataupun menilai sejauh mana seseorang mampu menjadikan orang disekitarnya sebagai partner di dalam menjalani hidup.
5. Melakukan Suatu Tindakan Konkret.
Seorang optimis akan selalu menggunakan pemikiran yang realistis dan rasional dalam menghadapi persoalan. Jika individu ingin menanamkan optimisme, maka harus membuang jauh-jauh perasaan dan emosi (feeling) yang tidak ada dasarnya. Dengan demikian, segala tindakan apapun perilaku didasarkan pada kemampuan untuk menggunakan akal sehat secara rasional.
6. Berpikir Proaktif
Seseorang yang optimis  harus berani melakukan antisipasi sebelum suatu persoalan muncul, sehingga dituntut memiliki analisa yang tinggi sehingga, ketika persoalan yang tidak di inginkan muncul maka sudah memiliki antisipasi apa yang akan dilakukan selanjutnya.
7. Berani melakukan trial and error
Dengan optimisme, kegagalan yang terjadi akan dipahami sebagai hal yang wajar, bahkan merasa menjadi sebuah tantangan dan menganggap kegagalan sebagai pemicu untuk kembali bangkit dan mencoba lagi sampai sesuai dengan harapannya.
D. Dampak Untuk Individu Yang Memiliki Hope Dan Optimisme
Whelen dkk (1997) melaporkan bahwa optimisme memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan, penyesuaian diri setelah operasi kanker, operasi jantung koroner, penyesuaian di sekolah dan dapat menurunkan depresi serta ketergantungan alkohol. Optimisme dalam jangka panjang juga bermanfaat bagi kesejahteraan dan kesehatan fisik dan mental, karena membuat individu lebih dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial, pekerjaan, perkawinan, mengurangi depresi dan lebih dapat menikmati kepuasan hidup serta merasa bahagia (Weinstein, 1980 ). Sementara itu Mc Clelland (1961) menunjukkan bukti bahwa optimisme akan lebih memberikan banyak keuntungan dari pada pesimisme.
Optimisme memiliki manfaat pada bidang sosial,optimisme dapat meningkatkan kepercayaan diri, harga diri, mengurangi sikap pesimis,membuat individu lebih dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial serta dapat menikmati kepuasan hidup dan merasa bahagia. Disamping itu dengan adanya optimisme akan membuat orang lebih sukses di sekolah, pekerjaan, manggunakan waktu lebih bersemangat, lebih berprestasi dalam potensinya.
E. Mengkomparasikan Konsep Hope  &  Optimism Dari Perspektif Psikologi Positif Dan Psikologi Islam
Dalam buku berjudul Positive Psychological Assesment a Handbook of Models and Measures (Lopez dan Snyder, 2003), Carver dan Scheier mengatakan bahwa optimisme didasarkan pada harapan seseorang tentang masa depannya. Hal ini menunjukkan bahwa optimisme akan berhubungan dengan model-model nilai  harapan motivasi. Harapan ini akan berpengaruh pada tingkat optimisme seseorang karena motivasi berisi tentang motif individu dan bagaimana motif ini  dikeluarkan dalam kebiasaan individu tersebut.  Teori tentang nilai harapan mengasumsikan bahwa kebiasaan dan sikap seseorang ditujukan pada proses pencapaian target-target hidup orang tersebut. Dari pendapat ini sangat jelaslah bahwa motivasi individu dalam proses untuk mencapai harapan yang diinginkan sangatlah berpengaruh pada optimisme orang tersebut. Sehingga dalam psikologi positife orang yang memiliki harapan yang tinggi akan menjadi orang yang optimis karena orang yang optimis adalah orang yang memiliki kepercayaan terhadap harapan-harapannya akan terpenuhi. Harapan merupakan salah satu bentuk perasaan yang terkait dengan dimensi waktu.  Setiap orang pun memiliki harapan-harapan yang berbeda dalam hidupnya, namun ada juga individu yang tidak memiliki harapan. Menurut Stotland, orang yang mempunyai harapan menunjukkan keadaannya yang optimis, aktif. Sebaliknya, orang yang tidak mempunyai harapan menunjukkan bahwa keadaan dirinya pasif apatis (Shaw dan Costanzo, 1984, et.al Walgito, 2005: 226). Dalam psikologi islam Berbicara mengenai harapan dalam perspektif Islam, hal itu tentu saja  bersinggungan dengan Al-Qur‟an dan Hadits sebagai sumber utamanya. Dalam Islam, harapan berasal dari kata  Rajaa– Yarjuu –  Rajaun yang berarti harapan atau berharap. Raja’  atau harapan yang dikehendaki oleh Islam adalah harapan yang ditujukan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang berkuasa di muka bumi, untuk mendapatkan ampunan-Nya, memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta yang terpenting adalah mengharap rahmat dan keridhaan Allah SWT.

F. Contoh Penelitian
Contoh penelitian yang dilakukan oleh  A.M. Setyana Mega Cahyasari, Hastaning Sakti Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudharto SH, Tembalang, Semarang 50275 yang berjudul Optimisme Kesembuhan Pada Penderita Miomi Uteri pada penenlitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif sehingga pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi.



DAFTAR PUSTAKA
Bandura. 1997. Self-Efficacy (The Exercise Of Control).New York: W. H. Freeman and Company
Carver C, S., & Scheier M. F. (1993). On the Power of Positive Thinking: The Benefits of Being Optimistic. American Psychological Society
Lopez, S.J., Snyder, C.R. 2003. Positive Psychologycal Assessment: A Handbook of Models and Measures Washington DC :American Psychologycal Assosiation.
McClelland. (1961). The Acheievingsociety. New York. A Division of Macmillan Publishing Co, Inc.
Scheier, M. F., Carver, C. S. & Bridges, M. W. (2000). Optimism, Pessimism, and Psychological Well-Being. In E.C Chang (Eds.), Optimism and Pessimism. Washington, DC: American Psychological Association
Scheier, M. F., Weintraub, J. K. & Carver, C. S. (1986). Coping with stress: Divergent strategies of optimists and pessimists. Journal of Personality and Social Psychology, 51, (6) 1257-1264.
Shofia, F. (2009). Optimisme Masa Depan Narapidana. Surakarta
Snyder, C.R., dan Lopez, S.J. (2002). Handbook of Positive Psychology. New York: Oxford University Press
Weinstein, N. D. 1980. Reducing Unrealistic Optimism About Illness Susceptibility. Health Psychology Journal. (Vol. 2): 11-20.

Whelen dkk 1997. Distinguishing Optimism from Pesimism In Older Adult: is it More Important to be Optimistic or Not to be Pesimistic ? Journal of Personality and Social Psychology, Vol 62, 301-307 

Tidak ada komentar:
Write komentar