Selasa, 26 Mei 2015

Rencanakan Masa Depan mu dengan PUP (Pendewasaan Usia Perkawinan)

Hallo Sobat GenRe!! Gimana dengan rencana-rencana masa depan kalian? Udah matang tau belum nih? 
Nah kali ini saya akan sedikit sharing dan berbagi cerita mengenai pentingnya menunda usia perkawinan. Monggo di simak. ^_^

Miris hati saya melihat kondisi realita generasi muda Indonesia sekarang. Di pinggir jalan, di restoran, di mall ataupun ditempat-tempat lainnya mudah sekali bagi saya untuk menemukan sepasang kekasih yang berjalan berduaan sambil bergandengan tangan, ada juga yang sedang mojok berduaan di taman ataupun alun-alun kota. Sampai-sampai beberapa bulan yang lalu para nitizen Indonesia dihebohkan oleh sepasang kekasih anak kelas 5 SD yang sedang bermesraan lewat sosial media. Pada zaman dulu tidak ada yang seperti itu, jangankan ingin bermesraan, surat cinta saja belum tentu bisa sampai ke orang yang ingin di tuju. Bisa jadi nyangkut dulu ke tangan orang tua. Karena orang tua zaman dulu kebanyakan care dan mengawasi apa yang dilakukan oleh anaknya.

Memang tidak bisa di pungkiri, hal tersebut adalah dampak dari arus globalisasi yang cepat ataupun lambat pasti akan terjadi. Belum lagi gaya hidup generasi muda sekarang yang mengarah kepada hedonisme dan meninggalkan kesederhanaan. Sampai pada akhirnya terbentuklah pola hidup serba mewah, selalu mencari kesenangan, clubbing dan sebaginya. Dari pola hidup yang seperti itu, terciptalah pergaulan bebas yang dapat berdampak kepada generasi muda itu sendiri. Seperti : minum-minuman keras, obat-obatan terlarang, pernikahan dini, seks bebas yang dapat mengakibatkan terserang HIV/AIDS. Hal ini dibuktikan oleh data UNICEF pada tahun 2007 bahwa wanita yang berusia 25 sampai 29 tahun yang menikah dibawah usia 18 tahun di Indonesia mencapai 34 %. Bukan hanya itu, Indonesia menempati ranking ke-37 dunia dan tertinggi ke-2 di ASEAN dalam hal pernikahan usia muda.

Apa itu Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP)?

Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) merupakan bagian dari program GenRe (generasi berencana) yang di canangkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BkkbN) yang dapat menjawab permasalahan-permasalahan di atas. Program tersebut berfokus pada generasi muda Indonesia yang berada pada masa transisi dari usia remaja ke usia dewasa sehingga perlu untuk merencanakan penundaan usia perkawinan sampai pada usia minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun laki-laki. Selain itu PUP juga dilakukan agar kehamilan pertama terjadi pada usia yang cukup dewasa. Dengan perencanaan dan persiapan kehidupan berumah tangga diharapkan generasi muda Indonesia mampu mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera, sehingga kelak menjadi keluarga yang berkualitas serta dapat mencegah ledakan penduduk di masa yang akan datang.

Kenapa Pendewasaan Usia Perkawinan Penting?

Sangat penting!! Karena banyak dampak negatif yang akan di terima oleh remaja jika tidak dilakukan pendewasaan usia perkawinan. Pertama dari segi medis, pada perempuan biasanya organ reproduksi dianggap sudah cukup matang pada usia 18 tahun, pada usia ini rahim (uterus) bertambah panjang dan indung telur bertambah berat. Sehingga jika sampai terjadi pembuahan indung telur di bawah usia tersebut maka sudah pasti kesehatan reproduksi remaja akan terancam. Resiko yang akan di timbulkan jika tidak menunda usia perkawinan pada perempuan seperti : keguguran, Eklamsia (keracunan kehamilan), timbulnya kesulitan persalinan, bayi lahir sebelum waktunya, Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), Fistula Vesikovaginal (merembesnya air seni ke  vagina) dan Kanker leher Rahim. Belum lagi jika si ibu atau pihak keluarga menolak kehadiran bayi yang diinginkan. Maka sudah pasti aborsi lah solusinya, membunuh nyawa seorang bayi yang ada dalam perut. Sangat jelas bahwa tindakan terbut dilarang 5 agama yang ada di Indonesia.

Kedua dari segi psikologis, kestabilan emosi umumnya terjadi pada usia 24 tahun, karena pada saat itulah orang mulai memasuki usia dewasa. Masa remaja, boleh di bilang baru berhenti pada usia 19 tahun. Dan pada usia 20 – 24 tahun dalam psikologi, dikatakan sebagai usia dewasa muda. Pada masa ini, biasanya mulai timbul transisi dari gejolak remaja ke masa dewasa yang lebih stabil. Maka, kalau pernikahan dilakukan di bawah 20 tahun secara emosi si remaja masih ingin bertualang menemukan jati dirinya. Bisa dibayangkan kalau orang seperti itu menikah, ada anak, si istri harus melayani suami dan suami tidak bisa ke mana-mana karena harus bekerja untuk belajar tanggung jawab terhadap masa depan keluarga. Ini yang menyebabkan gejolak dalam rumah tangga sehingga mereka bedua strees dan pada akhirnya terjadilah perceraian. Untung-untung masih belum kebablasan sampai punya anak, kalau sudah? Siapa yang mau mengurus anaknya? Dari situ timbul lagi gembel di jalanan dan sebaginya.


Nah. Dari berbagai macam resiko yang sudah dijelaskan di atas Sobat GenRe tentunya tidak inginkan jadi salah satu korban dalam resiko tersebut? Maka dari itu MULAI SEKARANG, RENCANAKAN MASA DEPAN KALIAN dengan sebanyak-banyaknya karya, pantang nikah sebelum dapat kerja dan dewasa, serta wujudkanlah keluarga yang kecil dan sejahtera

Tidak ada komentar:
Write komentar