Saturday, 9 May 2015

Nasib Museum yang Terkikis oleh Kekinian (Part I)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai peninggalan sejarahnya. Seperti isi pidato terakhir kenegaraan Bung Karno yang berbunyi “jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Baik peninggalan kisahnya ataupun peninggalan yang berupa keris, batu akik, perhiasan dan sebagainya. Museum merupakan wadah yang tepat untuk menyimpan bukti-bukti otentik mengenai peninggalan sejarah kebudayaan. Seperti yang dijelaskan oleh Direktorat Museum RI pada tahun 2008, museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan, dan kesenangan, barang pembuktian manusia dan lingkungannya. Sedangkan menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) museum merupakan  gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu atau tempat menyimpan barang kuno. Memuseumkan berarti memasukkan/menyimpankan ke museum atau menyimpan dan tidak menggunakan barang-barang yg sudah terlalu lama digunakan atau tidak pantas lagi digunakan.
            Namun jika 2 definisi di atas di bandingkan  dengan realita secara konkret yang ada di Indonesia sekarang. Definisi-definisi tersebut tanpa disadari bergeser dan berubah arti. Barang-barang kuno yang seharusnya mendapatkan perhatian umum tak lagi bernasib sama. Kunjungan masyarakat Indonesia ke museum yang tersebar di berbagai kota hanya sebesar 2 persen dari jumlah penduduk per tahun. Bahkan dari hasil perhitungan Direktorat Permuseuman Departemen Kebudayaan dan Pariwisata didapatkan data yang menyedihkan. Dalam rentang beberapa tahun terakhir, jumlah kunjungan masyarakat Indonesia ke museum tampak terus mengalami penurunan. Tahun 2006, angka kunjungan total masyarakat Indonesia ke museum adalah 4.561.165 kunjungan. Pada tahun 2007, jumlah tersebut menurun menjadi 4.204.321 kunjungan kemudian menurun lagi di tahun 2008 menjadi 4.174.020 kunjungan. Museum yang seharusnya bisa digunakan sebagai media untuk studi dan mengenal jati diri bangsa lebih dalam malah berubah fungsi menjadi kesenangan belaka tanpa mengerti makna di balik barang antik yang ada. Mayoritas anak remaja yang pergi ke museum hanya sekedar mengikuti agenda study tour dari sekolah, sebagai formalitas agar mendapatkan nilai yang baik di raport mereka ataupun hanya sekedar ingin mengambil foto dan memamerkannya di sosial media.
Gaya Hidup Hedonisme
Paham Hedonisme rintisan filosof Yunani Epicurus (341-270 SM) dan Aristippus of Cyrine (435-366 SM) memang nampak terlihat jelas perkembangannya sekarang di seluruh penjuru dunia. Pola hidup manusia yang selalu dinamis dan pengaruh globalisasi adalah 2 faktor yang jika dibenturkan ibarat mempercepat proses meletusnya gunung merapi. Globalisasi telah banyak membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat dunia, khususnya di Indonesia. Di mana sekat yang menghalangi terjadinya komunikasi antar individu ditiadakan. Maka dari itu banyak informasi yang berasal dari negara lain dengan mudah dapat tersampaikan. Hal ini terjadi di karenakan kemajuan pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Berbagai macam informasi mengalir dari satu tempat ke tempat lain. Globalisasi timbul karena akibat dari modernisasi dalam kurun waktu tertentu. Banyak manusia yang sudah menjadi korban modernisasi. Perubahan akibat modernisasi tersebut menjadikan masyarakat jatuh dalam kehidupan yang hedonisme. Hedonisme pada prinsipnya adalah pandangan yang menganggap bahwa hidup hanyalah tentang kesenangan semata tanpa peduli kondisi lingkungan sekitar. Hal ini sudah menjadi penyakit masyarakat Indonesia kedepan. Di zaman seperti sekarang, siapa yang tidak ingin hidup yang serba glamour dan mewah, punya 5 mobil sport terparkir di sebuah villa ekslusif bertingkat dengan luas 1 km persegi dan dilengkapi dengan kolam renang. Pola hidup hedonisme tersebut akhirnya merusak nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga penghargaan akan sejarah dan kebudayaan menjadi semakin terkikis.
Menghabiskan weekend di mall atau bioskop lebih dipilih daripada pergi ke museum atau tempat-tempat bersejarah lainnya. Riset yang dilakukan oleh Consumer Survey Indonesia selama bulan Februari 2010 sangat mencengangkan. Dari 512 responden yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya dihasilkan kesimpulan berupa rata-rata intensitas atau keseringan kunjungan orang pergi ke mall adalah setiap 6,5 hari sekali. Rata-rata waktu yang dihabiskan setiap kunjungan adalah 3,5 jam. Kemudian untuk rata-rata uang yang dihabiskan dalam satu kali kunjungan ke mall adalah Rp194.500 per orang. Jika jumlah uang tersebut dikonversikan selama setahun dengan cara mengalikannya dengan jumlah kunjungan selama setahun (365 hari dibagi 6,5 hari), kita akan dapatkan angka Rp10.921.000. Kondisi ini mengindikasikan mall pada akhirnya berubah fungsi, bukan hanya sekedar tempat berbelanja bagi para konsumen.Tetapi semua aktifitas bisa dilakukan di mall, seperti makan, bersosialisasi, bergaya dan hiburan. Ini mengukuhkan mal tidak lagi sekedar one stop shopping, tetapi menjadi one stop weekend activities. Jelas hasil survey tersebut membuat kita mengerti bahwa selama ini daya tarik dari museum itu sendiri masih kurang jika dibandingkan dengan mall. Orang lebih memilih mengeluarkan uang 10 juta setiap tahun untuk ke mall dari pada ke museum yang mungkin jika biaya keseluruhan dikalkulasikan tidak akan lebih dari 10% uang yang dihabiskan jika pergi ke mall.
BERSAMBUNG >>>>>

No comments:
Write komentar