Sabtu, 09 Mei 2015

Nasib Museum yang Terkikis oleh Kekinian (Part II)

            Kondisi Konkret Museum Indonesia
Undang-Undang Pelayanan Publik Nomor 25 Tahun 2009 menyebutkan bahwa museum termasuk dalam bagian dari objek wisata. Lebih jauh Undang-undang ini mengamanatkan mengenai kewajiban penyelenggara pelayanan publik. Pada Pasal 15 dijelaskan bahwa “penyelenggara pelayanan publik berkewajiban menyusun dan menetapkan standar pelayanan, menyusun, menetapkan dan membublikasikan maklumat pelayanan, menempatkan pelaksana yang kompeten, menyediakan sarana, prasarana dan/atau fasilitas pelayanan publik yang mendukung teciptanya iklim pelayanan yang memadai, memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas penyelenggaran pelayanan publik, melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan”. Permasalahan klasik yang selama ini terjadi adalah museum di Indonesia belum memiliki standar pelayanan yang baik serta pelaksana pelayanan publik yang berkompeten. Senada dengan yang dikatakan oleh Putu Supadma Rudana Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia ketika diwawancarai awak media beberapa minggu yang lalu, kondisi museum di Indonesia sekarang cukup memprihatinkan dan pengunjungnya juga sepi. Bahkan ada selintingan negatif mengenai pengelola museum yang lebih mementingkan profit dengan memanfaatkan koleksi benda atau cerita bersejarah. Contoh museum yang kondisinya masih memprihantinkan adalah Museum Pendidikan Kota Malang, berlokasi di kawasan Malang International Education Park (MIE) Tlogowaru, Kedungkandang. Cat tembok bagian dalam mengelupas, koleksi museum kurang tertata dengan rapi bahkan pintu utama gedung tersebut juga rusak, sehingga tidak pernah dikunci dan hanya diganjal dengan sebatang kayu. Padahal museum tersebut sudah berdiri sejak tahun 2011.Kemudian Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru. Memang dari luar terlihat masih bagus dan kokoh, namun jika pengunjung masuk ke dalam museum, pengunjung akan dikagetkan dengan atap museum yang berlubang. Ketika hujan datang, air akan mengucur ke lantai teras museum. Sehingga setiap hujan datang, teras museum pasti tergenang air. Menurut kordinator museum tersebut, sejak museum didirikan tahun 1980-an belum pernah dilakukan renovasi besar-besaran sampai sekarang. Bahkan di tahun 2010, saat launching program Museum Seni Lukis di Kabupaten Klungkung Bali, Menteri  Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pernah mengungkapkan rasa keprihatinannya. Beliau mengungkapkan 90% dari 275 museum di tahun itu tidak layak untuk di kunjungi. Sebab kondisi museum dan barang-barang yang ada di dalamnya tidak terawat. Dari 280 museum yang ada di tahun 2012, hanya 25 museum yang di revitalisasi. Padahal di waktu itu, kebijakan revitalisasi museum merupakan program prioritas Kebinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II.
Meskipun demikian, sekarang Pemerintah nampaknya benar-benar serius bekerja keras untuk mengoptimalkan permuseuman Indonesia. Penambahan jumlah museum, revitalisasi secara keseluruhan dan standarisasi semakin digiatkan. Tahun 2015, jumlah museum Indonesia adalah 400, ini artinya dalam kurun waktu 3 tahun saja Pemerintah berhasil menambah jumlah museum sebanyak 120. Bahkan di tahun 2013 yang lalu, pemerintah menghabiskan anggaran dana kurang lebih Rp.146,5 miliar, di tahun 2014 Rp.109 miliar dan di tahun 2015 pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp.143 miliar. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk pembangunan museum modern, peningkatan kualitas museum-museum daerah serta revitalisasi museum dan cagar budaya Indonesia.
Standarisasi dan Solusi Permuseuman Indonesia
Program yang dijalankan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 2014 sudah sangat bagus. Ada 130 museum yang sudah terstandarisasi, sebanyak 40 museum masuk kategori A, 55 museum masuk kategori B dan 25 museum masuk kategori C. Kemudian di tahun 2015 ini, pemerintah berencana melanjutkan strategi pengelolaan museum tersebut dengan melakukan standarisasi dengan target 100 museum lagi. Program standarisasi ini sangat tepat sasaran dan efektif. Dengan adanya tingkatan-tingakatan tersebut, setiap museum pasti terstimulus untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitasnya. Jika sebuah museum masuk dalam kategori C artinya masih banyak aspek yang harus diperbaiki dan ditingkatkan sehingga bisa naik level menjadi kategori B. Penilaian kategoripun harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Semua aspek harus terjamah, mulai dari tata ruang dan bangunan, struktur organisasi, visi, misi serta tujuan museum. Penilaian dilakukan oleh para tokoh, para pakar dan pemerhati museum, serta akan lebih popular lagi jika penilain ini mengikutsertakan media massa dan seluruh masyarakat Indonesia. Dengan maraknya sosial media di kalangan masyarakat dunia khususnya Indonesia sekarang, maka sosial media bisa dimanfaatkan untuk mengiklankan museum dan masyarakat nantinya bisa memberikan voting dan memilih museum terbaik versi mereka. Dari solusi ini masyarakat minimal mengerti nama-nama museum yang ada di Indonesia beserta letaknya, sehingga harapannya kedepan masyarakat tertarik untuk mengunjungi musem-musem tersebut.
Setelah dilakukan standarisasi dilanjutkan dengan revitalisasi museum. Sejak pemberlakukan otonomi daerah, banyak urusan kebudayaan yang dilimpahkan ke daerah, salah satunya adalah revitalisasi museum. Setelah otonomi daerah, pemerintah pusat hanya mengelola enam museum di seluruh Indonesia, antara lain Museum Benteng Vredeburg, Museum Nasional, Museum Proklamasi, dan Museum Basuki Abdullah. Pengelolaan museum di daerah banyak dilimpahkan ke pemerintah provinsi atau kabupaten/kota. Oleh karena itu, dalam hal revitalisasi ini dibutuhkan dukungan dan kerja sama dari semua pihak, baik dari jajaran eksekutif ataupun legislatif, pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. Diharapkan dana yang dianggarkan APBN dapat digunakan secara optimal oleh pemerintah daerah untuk revitalisasi museum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), revitalisasi adalah proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Dari definisi tersebut dapat kita telaah bahwa aspek yang terpenting adalah penataan ulang museum. Perlakuan museum seperti kasus Bojonegoro perlu direnungkan dan harus menjadi keprihatinan bersama. Lokasi museum sebaiknya lebih representatif, lebih layak, strategis dan terkesan tidak asal-asalan. Biar bagaimanapun penampilan luar tetap diperlukan bagi kultur masyarakat Indonesia yang menganut falsafah ajining raga saka busana. Warna dinding museum perlu diperbaharui sesuai kebutuhan, halaman atau teras museum perlu di tambah aksesoris kekinian agar terkesan tidak kaku dan mengikuti perkembangan zaman, contohnya pohon-pohon yang rindang dan taman dapat membuat pengunjung merasa nyaman dan sejuk berada di museum.
Indonesia bisa mencontoh konsep museum yang dikembangan negara di Eropa, menjadikan museum sebagai ikon sebuah wilayah. Sebagian besar negara di Eropa mengelola museum sebagai potensi pariwisata, ada sebuah sistem pengelolaan yang bisa menarik wisatawan untuk mengunjungi sebuah museum. Sehingga ada ciri khas tersendiri dan kesan positif ketika berkunjung ke museum tersebut. Kemudian kita juga bisa mencontoh program dari negara tetangga Singapura, gerakan “I Love Museums” mendorong semua masyarakat Singapura untuk pergi ke museum. Dari sisi bangunan, gedung lama dibuat semenarik mungkin. Salah satunya di Asian Civilization Museum, beberapa bagian dirubah dengan model minimalis namun tidak menghilangkan kesan klasik dan sejarah. Yang hasilnya bangunan museum tak lagi menyeramkan. Citra museum di masyarakat Indonesia selama ini cenderung identik dengan benda-benda kuno. Masyarakat masih berpikiran bahwa pergi ke museum terkesan flat dan begitu-begitu saja. Nampaknya kita perlu menambah sentuhan-sentuhan yang berbau interaktif dan menyenangkan di museum Indonesia. Seperti yang ada pada film “Night at the Museum” hasil produksi dari perusahaan besar 20th Century Fox. Memang terdengar konyol jika kita menginginkan hewan purbakala yang ada di museum hidup dan beraktivitas pada malam hari. Namun dari film tersebut setidaknya dapat menginspirasi kita untuk membuat museum menjadi lebih hidup. Kebanyakan benda-benda yang ada di museum saat ini terbungkus dalam kaca. Misal pakaian peninggalan kerajaan zaman dulu, agar lebih interaktif dan menyenangkan sistem tersebut di ubah, pakaian tersebut di biarkan tergantung tanpa di bungkus kaca dan pengunjung diperbolehkan untuk mengenakan pakaian tersebut dan mengambil foto. Ini akan menciptakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia akan sejarahnya. Namun jelas harus di imbangi dengan sistem keamanan yang ketat dari petugas museum.
Terakhir, tidak bisa dipungkiri mengintensifkan promosi adalah hal yang harus digiatkan lebih keras lagi. Kemasan marketing yang menarik dapat meningkatkan nilai jual yang tinggi. Misal melalui kerja sama dengan pihak Dinas Pendidikan agar menghimbau pelajar untuk mengenal kepurbakalaan sejak dini. Khususnya jenjang SD, SMP, hingga SMA untuk melakukan studi ke museum. Output alternatif ini cukup strategis. Selain untuk menarik minat anak didik agar suka mengenal sejarah, cara ini juga efektif sebagai sarana transfer knowladge untuk membumikan sekaligus mengaplikasikan langsung pelajaran arkeologi dan sejarah kepada anak didik. Bukan hanya dengan Dinas Pendidikan, stakeholder dan seluruh elemen masyarakat juga diharapkan turut serta menyuarakan pentingnya merawat dan melestarikan museum-museum yang ada di Indonesia. 

Tidak ada komentar:
Write komentar