Selasa, 19 Mei 2015

Hubungan Antara Kesehatan Mental dengan Budaya, Agama, Sosial Ekonomi dan Sejarah

Menurut Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa terdapat banyak cara dalam mendefenisikan kesehatan mental (mental hygene) yaitu: (1) karena tidak mengalami gangguan mental, (2) tidak jatuh sakit akibat stessor, (3) sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya, dan (4) tumbuh dan berkembang secara positif. Berbicara mengenai kesehatan mental masyarakat memang merupakan sesuatu hal yang kompleks untuk di bahas. Karena untuk saat ini masalah kesehatan mental di Indonesia bisa di bilang memprihatinkan. Tingginya angka prevalensi gangguan jiwa tidak diimbangi dengan tersedianya jumlah profesi yang menangani dan fasilitas pelayanan yang memadai.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita gangguan jiwa di dunia pada tahun 2001 adalah 450 juta jiwa. Satu dari empat keluarga sedikitnya mempunyai seorang anggota keluarga dengan gangguan kesehatan jiwa. Setiap empat orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan, seorang diantaranya mengalami gangguan jiwa dan sering kali tidak terdiagnosa secara tepat sehingga tidak memperoleh perawatan dan pengobatan dengan tepat (WHO, 2001). Hal tersebut menunjukan masalah gangguan jiwa di dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius dan menjadi masalah kesehatan global. Dan  data tersebut diatas, kini jumlah itu di perkirakan sudah meningkat.
Di Indonesia berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2007 bahwa prevalensi gangguan jiwa berat sebesar empat sampai lima penduduk dari 1000 penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa berat. Prevalensi gangguan mental emosional penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 15 tahun sebesar 11,6%. Masalah kesehatan jiwa dengan pasien gangguan jiwa terbesar (70%) adalah skizofrenia, angka kejadian skizofrenia didunia 0,1 permil tanpa memandang perbedaan status sosial budaya. Tahun 2009 berdasarkan data dari 33 rumah sakit jiwa di Indonesia menyebutkan bahwa penderita gangguan jiwa berat mencapai 2,5 juta orang.
Kemudian berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan, prevalensi gangguan jiwa berat atau dalam istilah medis disebut psikosis/skizofrenia di daerah pedesaan ternyata lebih tinggi dibanding daerah perkotaan. Di daerah pedesaan, proporsi rumah tangga dengan minimal salah satu anggota rumah tangga mengalami gangguan jiwa berat dan pernah dipasung mencapai 18,2 persen. Sementara di daerah perkotaan, proporsinya hanya mencapai 10,7 persen.
BUDAYA
Sudut pandang terhadap suatu permasalahan seringkali dipengaruhi oleh budaya yang melatar belakangi, baik dalam proses memahami masalah atau pun dalam menyelesaikan masalah. Banyak hal dalam kehidupan yang dipengaruhi oleh budaya, kesehatan mental dan gerakan kesehatan mental adalah salah satu contohnya. Terjadi pergeseran paradigma dalam pemahaman gerakan kesehatan mental, yang mana saat ini gerakan kesehatan mental  lebih mengedepankan pada aspek pencegahan gangguan mental serta bagaimana peran komunitas dalam membantu optimalisasi fungsi mental individu.
Dalam kesehatan mental, faktor kebudayaan juga memegang peran penting. Apakah seseorang itu dikatakan sehat atau sakit mental bergantung pada kebudayaannya (Marsella dan White, 1984). Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh (Wallace, 1963) meliputi :
1). Kebudayaan yang mendukung dan menghambat kesehatan mental.
2). Kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental.
3). Berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, dan
4). Upaya peningkatan dan pencegahan gannguan mental dalam telaah budaya.
Selain itu budaya juga mempengaruhi tindakan penanganan yang dilakukan terhadap gangguan mental itu sendiri. Misalnya banyak riset-riset dalam psikiatri dan psikologi cenderung bias, karena tidak memperhitungkan faktor budaya. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa pengalaman sakit (illness experience) adalah bersifat Interpretive, artinya ia dikonstruksi pada suatu situasi sosial tertentu, karenanya harus dipahami lewat premis-premis yang berlaku pada suatu budaya tertentu. Dengan kata lain konsep kesehatan mental pada suatu budaya tertentu harus dipahami dari hal-hal yang dianggap mempunyai arti dan bermakna pada suatu budaya tertentu, sehingga harus dipahami dari nilai-nilai dan falsafah suatu budaya tertentu.
Salah satu contoh adanya pengaruh budaya dalam kesehatan mental adalah melalui penelitian yang dilakukan oleh Hamdi Muluk (Psikologi UI) dan J. Murniati (Psikologi Unpad) yang membahas teoretik tentang konsepsi kesehatan mental menurut konsepsi kultural etnik Jawa dan Minangkabau. Kerangka pembahasan memakai tentatif hipotesis oleh Naim (1980) tentang dua pola kebudayaan, yakni  J (Jawa) dan M (Minangkabau). Pola J yang dicirikan oleh hirarkis, feodalistis, dan paternalisitik, sementara pola M berciri masyarakat yang tribal, bersuku-suku, demokratis, fraternalistik dan desentralistis. Analisis terhadap isi prinsip kebudayaan yang ideal (ideal culture) memperlihatkan perbedaan yang mendasar dalam melihat konsep kesehatan mental. Jawa mengartikan keselarasan sebagai sesuatu yang harus dibatinkan, dimana konflik-konflik yang timbul diredam dan dialihkan, bahkan disublimasi kedalam bentuk lain, antara lain dengan laku batin atau kebatinan. Melalui kebatinan ini manusia Jawa berusaha mencapai manuggaling kawulo-gusti; suatu keadaan yang sempurna. Kondisi demikian mencerminkan keadaan yang fit dari psikis seseorang yaitu kondisi mental yang sangat sehat. Sementara etnik Minangkabau tidaklah memandang konflik sebagai hal yang harus dipendam, sebaliknya malah dibiarkan terbuka dan harus dicari penyelesaian dengan mufakat terbuka. Ketegangan diperbolehkan, untuk mendorong kompetisi asal masih dalam prinsip alua jo patuik dan raso jo pareso. Pemecahan konflik tidak harus dibatinkan, tapi harus dicari dalam dialog yang intens. Disamping hal tersebut ukuran yang dipakai untuk menentukan sehat mental seseorang adalah: kepintaran menyesuaikan diri terutama untuk survive dengan pergulatan dengan kehidupan keras dirantau, kemampuan menyembunyikan aib (terutama aib pribadi dan keluarga), kemashuran, ketenaran, kemegahan (ego pribadi dan meyangkut harga diri), serta kemampuan menyumbang secara nyata bagi masyarakatnya. Karenanya seorang individu terus didorong untuk terus berkompetisi dan mencari prestasi setinggi-tingginya.
AGAMA
Hubungan antara kejiwaan  dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap penyerahan diri seorang  terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tinggi. Sikap pasrah serupa itu akan memberikan sikap optimis pada seseorang sehingga akan muncul perasaan positif seperti bahagia, rasa senang, puas, merasa sukses, merasa dicintai atau rasa aman.
Salah satu pandangan yang paling terkenal mengenai interaksi keyakinan beragama dengan mental health adalah dari Viktor Frankl, pendiri logoterapi. Victor Frankl dalam bukunya The Doctor and the Soul, menunjukkan tiga bidang kegiatan secara potensial mengandung nilai-nilai yang memungkinkan seseorang memperoleh makna dalam hidupnya, yaitu nilai-nilai kreatif (creative values), nilai-nilai penghayatan (experiental values), dan nilai-nilai bersikap (attitudinal values). Dengan merealisasikan nilai-nilai tersebut, diharapkan seseorang mampu menemukan dan mengembangkan makna hidupnya, sehingga mengalami hidup secara lebih bermakna (the meaningful life) yang merupkan pintu menuju kebahagiaan (happiness).
Agama dapat digolongkan pada nilai-nilai penghayatan, salah satu nilai yang dapat menjadi sumber makna hidup. Walaupun menurut victor Frankl, antara keyakinan beragama dengan kesehatan mental tidak ada hubungan kausalitas secara langsung.
Walaupun tidak ada hubungan kausalitas langsung, tetapi berdasarkan penelitian para ahli psikologi dan  kesehatan, ternyata bahwa komitmen keagamaan, pada kasus-kasus gangguan mental, mampu mencegah dan melindungi seseorang dari berbagai macam penyait mental.
The experiental values adalah religious commitment, yaitu hidup secara Islami. Maka untuk hidup secara islami bibutuhkan konsep dan prinsip-prinsip Islam untuk kesehatan jiwa. Pertama, melalui pendekatan training bercorak psiko-edukasi, yaitu sadar akan keunggulan dan kelemahan, sehingga terus-menerus melakukan evaluasi diri untuk mampu mengaktualisasikan potensi-potensi dirinya, yakni mampu mengembangkan fitrahnya. Kedua, berusaha untuk selalu mampu menyesuaikan dirinya, berusaha untuk menentukan arti dan tujuan hidup (hanya semata-mata untuk beribadah dan memperoleh ridho-Nya). Ketiga, pelatihan disiplin (meningkatkan kualitas pribadi) yang berorientasi Spiritual Religius, misalnya dengan dzikir, puasa, salat dan ritual-ritual keagamaan lainnya.
SOSIAL EKONOMI
Menurut Patel, Swartz, & Cohen (2005) faktor-faktor sosial ekonomi seperti: kemiskinan, kekurangan pendidikan dan kekurangan lapangan kerja menjadi faktor resiko dari kesehatan mental. Artinya, orang yang mengalami keadaan sosial dan ekonomi yang buruk beresiko mengalami ketidaksehatan mental. Dalam bagan yang digambarkan di A Public Health Approach to Mental Health, hubungan antara faktor ekonomi khususnya kemiskinan dengan kesehatan mental adalah seperti lingkaran setan yang berketerusan.
Berikut beberapa data yang pernah di temukan terkait dengan hubungan sosial ekonomi dengan permasalahan kesehatan mental :
a. Gangguan mental (neurosis) yang dialami masyarakat miskin 2 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat yang tidak miskin (Patel, V, et al., Women, poverty, and common mental disorders in four restructuring societies. Journal Social Sciense and Medicine, 1999).
b. Masyarakat yang mempunyai persoalan dengan kelaparan dan berhutang, memiliki potensi yang besar untuk mengalami gangguan mental-neurosis (Patel, V, et al., Women, poverty, and common mental disorders in four restructuring societies. Journal Social Sciense and Medicine, 1999)
c. Gangguan mental (neurosis) pada umumnya dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah pemukiman yang miskin dan padat (Araya, et al.,Education and income: which is more important for mental health?)
d. Gangguan mental (neurosis) juga pada umumnya dijumpai pada masyarakat yang tingkat penganggurannya tinggi dan berpenghasilan rendah (WHO International Consortium of Psychiatric Epidemiology. Cross-national Comparisons of Mental Disorders.Bulletin of the WHO, 2000)
e. Khusus gangguan mental psikosis masyarakat yang memiliki status social ekonomi terendah mempunyai kecenderungan resiko schizophrenia 8 kali lebih tinggi ketimbang masyrakat yang memiliki status sosial tertinggi bandingkan dengan penelitian yang dilakukan pada tahun 1964 oleh Holingshead ditemukan hasil bahwa masyarakat kelas sosial ekonomi rendah memiliki prevalensi yang tinggi mengalami psikotik, sedangkan prevalensi neurotik lebih banyak dialami oleh kelompok sosial ekonomi tinggi. Kesimpulan ini tidak berlaku untuk psikosis jenis depresi, karena prevalensinya lebih tinggi dialami oleh kelompok ekonomi tinggi (Saraceno, B and Barbui C., Poverty and mental illness. Canadian Journal of Psychiatry, 1997)
SEJARAH
Sejak zaman dahulu di Indonesia sudah dikenal adanya gangguan jiwa. Namun demikian tidak diketahui secara pasti bagaimana mereka diperlakukan pada saat itu.Beberapa tindakan terhadap pasien gangguan jiwa sekarang dianggap merupakan warisan nenek moyang kita,maka dapat dibayangkan tindakan yang dimaksud adalah dipasung,dirantai atau diikat lalu ditempatkan tersendiri di rumah atau hutan apabila gangguan jiwanya berat dan membahayakan. Bila pasien tidak membahayakan maka dibiarkan berkeliaran di desa sambil mencari makan sendiri dan menjadi bahan tontonan masyarakat. Ada juga yang diperlakukan sebagai orang sakti atau perantara Roh dan manusia. Jika belajar dari sejarah,usaha kesehatan jiwa dan perawatannya di Indonesia dibagi menjadi dua, yakni zaman kolonial dan setelah kemerdekaan.
 1). Zaman Kolonial.
Sebelum didirikan  Rumah sakit jiwa di Indonesia pasien gangguan jiwa ditampung di Rumah Sakit Sipil atau militer di Jakarta,Semarang dan Surabaya.Pasien yang ditampung adalah mereka yang sakit jiwa berat saja.Perawatan yang dijalankan saat iu hanya bersifat penjagaan saja.Tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda melakukan sensus pasien gangguan jiwa diseluruh Indonesia.Di Pulau Jawa dan Madura ditemukan pasien sekita 600 orang,sedangkan didaerah lain ditemukan sekitar 200 orang.Berdasarkan temuan tersebut pemerintah mendirikan Rumah sakit jiwa bagi pasien gangguan jiwa.
Suasana Rumah Sakit Jiwa di Cilendek Pada Zaman Kolonial
Pada tanggal 1 Juli 1882 didirikan rumah sakit jiwa pertama di Indonesia, di Cilendek Bogor Jawa Barat   dengan kapasitas 400 tempat tidur.Rumah sakit jiwa yang kedua didirikan di Lawang Jawa timur tanggal 23 Juni 1902.Rumah Sakit jiwa ini adalah terbesar di Asia tenggara dengan kapasitas 3300 tempat tidur.Rumah sakit jiwa yang ke-3 didirikan di Magelang pada tahun 1923,dengan kapasitas 1400 tempat tidur.Rumah sakit jiwa di Sabang tahun 1927.Menyusul didirikannya rumah sakit jiwa lainnya di Grogol Jakarta,Padang,Palembang,Banjarmasin dan manado,masing-masing memikili kapasitas yang berbeda. Era Pemerintah Hindia Belanda mengenal empat macam tempat perawatan pasien gangguan jiwa yakni 1. Rumah Sakit Jiwa (di Bogor, Magelang, Lawang dan Sabang), perawatan bersifat isolasi dan penjagaa, 2. Rumah Sakit Sementara yakni tempat penampungan sementara bagi pasien Psikotik akut yang dipulangkan setelah sembuh, 3. Rumah Perawatan, berfungsi sebagai Rumah sakit jiwa, dikepalai oleh seorang perawat berijazah dibawah penugasan Dokter umum, 4. Koloni yakni tempat penampungan pasien yang sudah tenang dan mereka bekerja dilahan pertanian.
2). Zaman Setelah Kemerdekaan.
Perkembangan usaha kesehatan jiwa di Indonesia meningkat,ditandai terbentuknya jawatan urusan penyakit jiwa pada bulan Oktober 1947.Usaha kesehatan jiwa tetap berjalan walaupun lambat. Pada saat itu masih terjadi revolusi fisik,tetapi pembinaan dan penyelenggaraan kesehatan jiwa tetap dilaksanakan. Pada tahun 1951 dibuka sekolah perawat jiwa untuk orang Indonesia. Perawatan kesehatan jiwa mulai dikerjakan secara modern dan tidak lagi ditempatkan secara tertutup. Pasien dirawat diruangan dan bebas berinteraksi dengan orang lain. Pasien dihargai martabatnya sama dengan manusia lainnya. Jawatan urusan kesehatan jiwa bernaung dibawah Departemen Kesehatan terus membenahi sistem pengelolaan dan pelayanan kesehatan.Tahun 1966 dirubah menjadi Direktorat Kesehatan jiwa dan sampai sekarang dipimpin oleh Kepala direktorat Kesehatan jiwa. Pada tahun yang sama ditetapkan Undang-Undang kesehatan jiwa no.3 tahun 1966 oleh pemerintah,sehingga membuka peluang untuk melaksanakan modernisasi semua sistem RSJ dan pelayanannya.
Kesehatan jiwa terus berkembang pesat pada abat ke-20 ini.Metode perawatan dan pengobatan bersifat ilmiah.Pengobatan disesuaikan dengan perkembangan Iptek,menggunakan obat-obatan psikofarmaka,terapi shock/ECT dan terapi lainnya.Demikian juga dengan Praktek keperawatan menggunakan metode ilmiah proses keperawatan,komunikasi terapeutik dan terapi modalitas keperawatan dengan kerangka ilmu pengetahuan yang mendasari praktek profesional.
Peran dan fungsi perawat jiwa dituntut lebih aktif dan profesional untuk melaksanakan pelayanan keperawatan kesehatan jiwa. Pada saat ini pelayanan keperawatan kesehatan jiwa berorientasi pada pelayanan komunitas. Komitmen ini sesuai dengan hasil Konferensi Nasional I Keperawatan jiwa pada bulan Oktober 2004,bahwa pelayanan keperawatan diarahkan pada tindakan preventif dan promotif. Hal ini juga sejalan dengan paradigma sehat yang digariskan WHO dan dijalankan departemen kesehatan RI, bahwa upaya proaktif perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan jiwa. Upaya proaktif ini melibatkan banyak profesi termasuk psikiater dan perawat. Penanganan kesehatan jiwa bergeser pada upaya kuratif/perawatan rumah sakit menjadi perawatan kesehatan jiwa masyarakat. Pusat kesehatan jiwa masyarakat akan memberikan pelayanan dirumah berdasarkan wilayah kerjanya,diharapkan pasien dekat dengan keluarganya sebagai sistem pendukung yang dapat membantu pasien mandiri dan boleh berfungsi sebagai individu yang berguna.

DAFTAR PUSTAKA
Hamdi Muluk dan J Muniarti. Konsep Kesehatan Mental menurut Masyarakat Etnik Jawa dan minangkabau
Djumhana, H.B (1997) Integrasi Psikologi dengan islam menuju Psikologi Islami cetakan ke2 hlm.131, Pustaka Pelajar
https://psychosystem.wordpress.com/2011/02/09/hello-world/
http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2014/01/16/fakta-menarik-tentang-prevalensi-gangguan-jiwa-di-indonesia-di-yogyakarta-paling-tinggi-624891.html
Jalaluddin (2010) Psikologi Agama hlm 170-172, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Mukhtar GZ. Materi Kuliah Psikologi Agama II. Jurusan PA, Fakultas Ushuluddin, UIN SGD

Patel, V., Swartz, L., & Cohen, A. (2005). Chapter 14: The Evidence for Mental Health Promotion in Developing Countries. Dalam H. Herrman, S. Saxena, & R. Moodie. Promoting Mental Health: Concepts, Emerging Evidence, Practice. Geneva: World Health Organization & Victorian Health Promotion Foundation.

Tidak ada komentar:
Write komentar