Saturday, 11 April 2015

Akankah Tragedi Begal di Indonesia Semakin Parah?

Pada beberapa bulan terakhir menyeruak fenomena begal ke animo masyarakat. Bukan hanya terjadi di pinggiran kota, namun fenomena ini bagaikan hujan salju, menjadi fenomena akut yang telah meresahkan masyarakat pada berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Sabang sampai Merauke.


Jika ditelaah lebih dalam, begal bukanlah kejahatan kelas baru. Namun sudah ada sejak beribu-ribu tahun silam. Beberapa naskah temuan para Arkeolog mengungkap, pembegalan pernah terjadi dalam peradaban kuno, lebih tepatnya di kawasan Mediterania, Romawi, dan Mesir. Yang paling populer berdasarkan literatur klasik adalah di kawasan Mediterania atau Cilicia (wilayah pantai selatan Anatolia). Pada zaman dahulu, masyarakat yang menghuni kawasan itu memang dikenal sebagai bangsa pembegal handal atau bajak laut yang menguasai Laut Mediterania. Menurut pakar geografi Amerika Serikat dalam karyanya Pirate Coasts of the Mediterranean Sea, Ellen Churchill Semple mengatakan kondisi pantai selatan Anatolia tidak cocok untuk bercocok tanam. Sehingga menangkap ikan adalah mata pencaharian utama masyarakat di kawasan tersebut (abad ke-16 SM). Akan tetapi, jika hanya menangkap ikan di laut saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup nelayan Cilicia. Kondisi seperti ini akhirnya mendorong para nelayan tersebut untuk beralih profesi menjadi pembegal atau bajak laut. Itulah awal sejarah pembegalan di kawasan Mediterania kuno. Seiring dengan perkembangan zaman, pembegalan semakin meluas hingga ke perairan Semenanjung Italia yang melahirkan suku perampok Illyria dan Tyrrhenia. Mereka biasanya beraksi di Laut Adriatik dan kerap menyebabkan beberapa konflik pada masa Republik Romawi (509-27 SM). Selanjutnya konflik semakin di Periode Helenistik (323-31 SM). Sampai pada akhirnya negarawan Aulus Gabinius mengajukan Undang-Undang Antiperompakan pertama di Romawi dan menyatakan bajak laut sebagai "musuh bagi seluruh umat manusia". Sebagai tindak lanjut dari UU Antiperompakan tersebut, di utuslah Gnaeus Pompey untuk menumpas bajak laut yang telah menyebabkan menurunnya pasokan makanan ke Romawi. Bersama 13 orang asisten, 20 legiun tentara dan 500 kapal, dia berhasil mengamankan Laut Mediterania sehingga para pembegal pun berhasil diusir dari perairan tersebut.
Berbeda lagi dengan sejarah Raja Hamurabi ketika memimpin Mesopotamia (1792-1750 SM). Menurut Arkeolog Inggris, Leonard William King, dalam bukunya The Code of Hammurabi, mengutarakan, dalam sejarah Mesopotamia kuno, para pelaku kejahatan seperti perampokan, begal, dan tindak kriminal serupa mendapat sanksi yang sangat tegas yakni eksekusi mati.
Sedangkan untuk di Indonesia, bukti-bukti pembegalan dimasa silam ditemukan dari sumber data prasasti, susastra dan relief candi. Dalam kitab Slokantara (68.14), Korawasrama (54), Tantri Kamandaka (136) dan Calon Arang (136), pembegalan diartikan tempat yang nyaman untuk menyamun. Kemudian istilah begal diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga pembegalan bisa diartikan proses, cara atau perbuatan membegal atau perampasan dijalan.
Di Indonesia sekarang, kasus kejahatan pembegalan identik dengan perampasan sepeda motor dengan berbagai motif dan cara. Sedangkan zaman dahulu pembegalan di artikan secara lebih luas dari perampasan harta karun kerajaan, bajak laut bahkan sampai menyebabkan pertumpahan darah.
Seperti yang ditemui pada bulan februari 2015 yang lalu di wilayah pondok Aren, Tanggerang Selatan, Jakarta, ditemukan pelaku begal sepeda motor yang tewas secara mengenaskan, dipanggang hidup-hidup di jalan oleh warga sekitar. Hendriansyah namanya, seseorang yang dikenal dengan baik oleh orang tua (Sutinah dan Sarifudin) dan lingkungan tempat dia tinggal. Namun siapa sangka, setelah 2 tahun Hendriansyah meninggalkan rumah, tiba-tiba Sutinah dikejutkan dengan kabar anaknya tewas terbakar karena begal. Kemudian bulan maret kembali tertangkap 4 orang tersangka kasus pembegalan sepeda motor dan rumah di Bantarjati, Bogor Utara. Aksi begal yang dilakukan pun semakin sadis, pelaku begal tidak sungkan-sungkan untuk menebas tubuh korban dengan parang dan membunuhnya kemudian merampas harta korban. Kejahatan jenis ini cepat sekali menyebar, Hendriansyah sebelum menemui ajalanya, sempat mengatakan ada 500 kawannya yang menyebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi untuk melakukan tindakan kriminal tersebut. Bukan hanya di daerah Jabodetabek, sejak awal tahun 2015 kejahatan begal motor juga di temukan di daerah Lampung, Palembang, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Makasar, Sulawesi Selatan dan Malang. Polda Metrojaya mencatat ada 80 kasus begal terjadi sepanjang Januari 2015 di berbagai wilayah di Jabodetabek.
Ironisnya, pelaku begal sadis bukan hanya dari orang dewasa, namun remaja-remaja yang masih berstatus pelajar. Seperti kasus di Depok, Darill Fadhil (18 tahun), Imam Syafii (17 tahun) dan Akbar Dwi Putra (18 tahun) yang sekarang mendekam di balik jeruji besi Mapolsek Sukmajaya Depok. Mereka yang masih tergolong muda, mengancam dan menganiaya korban apabila korban begalnya mengelak. Tak salah, ketika di selidiki Mapolsek Sukmajaya, 3 orang remaja ini sudah beraksi 7 kali dan berhasil mendapatkan 4 unit motor. Mereka bertiga terpaksa mengikuti Ujian Nasional dari dalam bui.
1. Sebab-Akibat Secara Psikologis
Menurut Psikolog Universitas Indonesia, Farida Haryoko para remaja yang melakukan tindak kejahatan begal itu dikarenakan masa anak-anak dan remaja adalah tahap pencarian jati diri dan tahap pematangan konsep diri dari Carl Roger. Proses perubahan akibat masa puber sangat mempengaruhi sikap dan perilaku anak, antagonisme sosial, inkoordinasi, emosi yang labil dan kontrol diri yang kurang baik adalah hasil dari proses pematangan konsep diri remaja. Namun beberapa hal tersebut perlu dilatih dan didukung oleh lingkungan yang positif agar konsep diri anak cepat membaik. Hierarki kebutuhan Maslow di tingkat 4 yakni mengenai penghargaan diri sangat identik di usia-usia anak remaja. Ada keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang-orang disekitarnya, terlepas dari dampak positif atau negatif yang akan ditimbulkan, yang jelas apa yang mereka lakukan dapat menarik perhatian lingkungan sekitar. Untuk itu peran orangtua, lingkungan, sekolah dan stakeholder sangat penting agar bisa membuat anak mengaktualisasikan dirinya ke ha-hal yang positif sehingga mendapat reward yang positif pula. Secara konseptual, masa anak-anak juga disebut dengan istilah Children in Need of Special Protection (CNSP) atau anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Bagi bangsa Indonesia, masyarakat, keluarga miskin dan terlebih lagi anak-anak, situasi krisis ekonomi adalah awal mula dari timbulnya berbagai masalah yang sepertinya makin mustahil untuk dipecahkan dalam waktu singkat. Memang permasalahan ekonomi bisa membuat orang lupa akan benar dan salah. Padahal sebagai negara hukum, Indonesia sendiri sebenarnya telah 10 tahun lebih meratifikasi konvensi hak anak (KHA) dan telah pula meratifikasi Konvensi ILO No.138 dan 128 yang intinya berupaya mencegah kemungkinan anak terpuruk pada eksploitasi duina kerja yang kontra-produktif bagi kelangsungan pendidikan.
2. Psikologi Hukum Indonesia
Hukum terbentuk dan dimasyarakatkan dalam pergaulan hidup manusia. Ia tidak begitu saja mekanis, begitu diumumkan undang-undang langsung dipatuhi atau ditaati, tetapi melalui pemasyarakatan yang wajar dalam proses sosial dan budaya yang mapan dan evolusionis (kadang-kadang ada yang revolusioner). Namun yang menjadi permasalahan hukum Indonesia sekarang adalah hukum seolah-olah tidak bisa konsisten sebagai sistem peraturan, karena memang faktor kebudayaan dan indigeous sangat mempengaruhi tindak kriminal di suatu tempat. Tentunya kita bisa melihat punishment yang sangat berbeda antara kasus pelaku begal yang dibakar hidup-hidup dengan kasus koruptor yang hidup bermewah-mewah.
3. Bagaimana Seharusnya Kita?
Menurut Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Kwartarini Wahyu Yunarti mengatakan hukuman yang diberikan kepada pelaku begal semestinya dilakukan dengan penyaluran yang bersifat positif. Rata-rata remaja yang pernah melakukan tindakan kriminal pada dasarnya memiliki kebranian dan energi yang besar, sehingga justru harus dipertimbangkan untuk disalurkan kepada aktivitas yang positif, seperti: mengikuti akademi militer, tinju, sepak bola atau hal-hal lainnya yang membutuhkan keberanian tinggi. Kita sebagai manusia harus memberikan bentuk suport yang positif. Terlebih lagi media pers yang mempunyai andil besar dalam menciptakan kesan di mata masyarakat. Jangan sampai terulang lagi kasus sebutan Kampung Begal yang ada di Lampung Timur. 


Masyarakat Indonesia pastinya berharap semoga tindakan kriminal begal ini menurun dan tidak akan pernah terjadi lagi suatu saat nanti. Bukan hanya korban begal saja yang dirugikan, namun pelaku begal juga dibinasakan. Tidak ada keuntungan sama sekali dikedua belah pihak. Mari bertekad membangun pertahanan diri dan mendukung keamanan lingkungan sekitar sepenunhnya agar teercipta masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan Pancasila dan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA
B. Hurlock, Elizabeth, (1980) Psikologi Perkembangan “Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan”, Jakarta: Erlangga
Dayaksini, Tri & Hudaniah (2009) Psikologi Sosial, Malang: UMM Press
http://www.antaranews.com/berita/485825/psikolog-pelaku-begal-remaja-butuh-penyaluran-positif
http://news.okezone.com/read/2015/03/01/338/1112087/psikolog-sosial-begal-marak-karena-polisi-sibuk-urus-kpk
Ismatullah, Dedi, (2011) Psikologi Hukum, Bandung: Pustaka Setia
Suyanto, Bagong, (2013) Masalah Sosial Anak, Jakarta: Fajar Interpratama Mandiri

1 comment:
Write komentar
  1. Senang bisa berkunjung di blog Anda. trims.

    Buruan Gabung Sekarang Juga dan Dapatkan Bonus Hingga Jutaan Rupiah disetiap Harinya hanya di judi poker online terbesar

    ReplyDelete