Sunday, 8 March 2015

Perbedaan Psikoterapi, Konseling dan Modifikasi Perilaku

Psikoterapi
Wolberg (1967 dalam Phares dan Trull 2001), mengungkapkan bahwa psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya emosional. Dengan tujuan menghilangkan skimtom untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif. Psikoterapi adalah pengaplikasihan berbagai metode klinis dan sikap interpersonal yang informed (didasari oleh informasi yang cukup ) dan dilakukan secara sengaja, berdasarkan prinsip – prinsip psikologi yang sudah mapan, dengan maksud membantu orang lain untuk memodifikasi prilaku kognisi, emosi, dan karakteristik pribadi lainya ke arah yang diinginkan oleh partisipannya. Jadi psikoterapi dapat disimpulkan sebagai suatu proses yang dilakukan dua pihak antara klien yang membutuhkan pertolongan dengan psikolog yang memberikan pertolongan. Tujuannnya adalah untuk menciptakan perubahan atau penyembuhan terhadap gangguan atau ketidaknyamanan yang dialami oleh klien.


Konseling
Menurut Schertzer dan Stone (1980) konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya. Menurut Jones (1951) konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman klien difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. Dimana ia diberi panduan pribadi dan langsung dalam pemecahan untuk klien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.

Modifikasi Perilaku
Modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai: (1) upaya, proses, atau tindakan untuk  mengubah perilaku, (2) aplikasi prinsip-prinsip belajar yg  teruji secara sistematis  untuk   mengubah perilaku tidak adaptif menjadi perilaku adaptif, (3) penggunaan secara empiris teknik-teknik  perubahan  perilaku    untuk      memperbaiki  perilaku  melalui  penguatan positif, penguatan  negatif,  dan  hukuman,  atau  (4) usaha    untuk      menerapkan  prinsip prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen pada manusia. Dalam  pandangan  kaum  behavioristik  aliran  klasik,  modifikasi  perilaku dapat diartikan sebagai penggunaan secara sistematik teknik kondisioning pada manusia  untuk   menghasilkan  perubahan  frekuensi  perilaku  tertentu  /mengontrol  lingkungan  perilaku tersebut.  Jika  teknik  kondisioning  diterapkan  secara  ketat,  dengan    stimulus,  respon  dan akibat  konsekuensi  diharapkan  terbentuk  perilaku  lahiriah  yang    diharapkan.  Dalam pandangan aliran operan, modifikasi perilaku akan terbentuk ketika penguat /  pengukuh diberikan  berupa  reward  /    punishment.  Sedangkan  dalam  pandangan  aliran  behavior analist,  modifikasi  perilaku  merupakan  penerapan  dari  psikologi  eksperimen  seperti dalam  laboratorium.  Proses,  emosi,  problema,  prosedur,  semua  diukur.  Pengubahan perilaku  dilaksanakan dengan rancangan  eksperimen  dibuat dengan  cermat.  Perilaku dihitung  secara  cacah    untuk      mendaparkan  data  dasar.  Variabel  bebas  dimanipulasi, metode statistik digunakan  untuk   melihat perubahan perilaku, pengulangan jika perlu dilakukan hingga terjadi perubahan perilaku secara jelas.
Sedangkan dalam pandangan para ahli, menurut Eysenk  modifikasi Perilaku adalah upaya mengubah perilaku dan emosi manusia dgn  cara yg  menguntungkan berdasarkan teori  yg    modern  dalam  prinsip  psikologi  belajar.  Menurut  Wolpe,  yaitu  penerapan prinsip-prinsip belajar yg  telah teruji secara eksperimental  untuk   mengubah perilaku yg  tidak adaptif, dgn  melemahkan atau menghilangkannya dan perilaku adaptif ditimbulkan atau  dikukuhkan.  Sedangkan  menurut  Hana  Panggabean,  modifikasi  perilaku  adalah penerapan  dari  teori  Skinner,  sering  juga  disebut  sebagai  behavior  therapy.  Merupakan penerapan dari shaping (pembentukan TL bertahap), penggunaan positive reinforcement secara selektif, dan extinction.
Pear (2003) menyatakan modifikasi perilaku tidak hanya sekedar terapi biasa yang mengandalkan pembicaraan therapist kepada kliennya. Bedanya dengan psikoterapi, psikolog yang melakukan modifikasi perilaku :
1.      terlibat secara aktif dalam mengkonstruksi ulang lingkungan kehidupan sehari-hari klien dalam rangka memperkuat perilaku yang tepat.
2.      seringkali  memberikan  tugas  atau  pekerjaan  rumah  kepada  klien  untuk memfasilitasi perubahan perilaku ini.
3.      metode  dan  tahap  demi  tahapnya  dapat  dibuat  dengan  jelas,  sehinga  orang  lain dapat menggunakan dan menjalankan program yang dibuat orang lain.
4.      dapat dilakukan sendiri secara perseorangan atau paling tidak dapat dilakukan oleh orang  tua,  guru,  mentor  untuk  membantu  perubahan  perilaku  anak-anak  atau bawahannya.
5.      selalu  berlandaskan  pada  prinsip  belajar  umum  dan  operant,  khususnya conditioning dari Pavlov.
6.      menekankan bahwa pendekatan tertentu cocok untuk perubahan perilaku tertentu pula.
7.       melibatkan semua pihak, klien, administrator, konsultan, dll.
Referensi
http://nisanurfithanaki.blogspot.com/2013_03_01_archive.html
https://kresnazwolf.wordpress.com/2013/05/07/behavior-therapy-modifikasi-prilaku/
https://ayunoerhayati.wordpress.com/tag/modifikasi-perilaku/

No comments:
Write komentar