Sabtu, 29 Agustus 2015

Mohon Doa Restu Untuk Saya, Semifinalis Muda Sabudarta Indonesia 2015

Hallo teman-teman. Gimana kabar kalian hari ini? Lagi sibuk apa sekarang? Semoga kabar kalian baik-baik saja dan selalu dalam kesibukan yang positif ya. Amin. Kalau saya, sekarang sedang persiapan dalam ajang pemilihan Muda Sabudarta Indonesia menuju babak grand final nih. Kalian sudah pada tau belum Pemilihan Muda Sabudarta Indonesia itu apa? Oke, saya ceritakan sedikit gambarannya ya. Pemilihan Muda Sabudarta Indonesia adalah salah satu program yang di canangkan oleh Asosiasi Duta Wisata Indonesia (Adwindo) untuk melakukan pencarian pemuda-pemudi Indonesia yang sadar akan kesenian, kebudayaan dan pariwisata Indonesia serta dapat menyebarkan virus-virus awareness tersebut melalui media sosial utamanya dan aksi nyata kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ingin tau lebih jelas mengenai Adwindo silahkan (klik di sini) . Atau penasaran dengan Pemilihan Muda Sabudarta langsung saja (klik di sini) .
Nah saat ini saya merupakan semifinalis Muda Sabudarta Indonesia 2015. Kebetulan saya adalah satu-satunya perwakilan dari Kabupaten Tapin dan satu-satunya perwakilan Universitas Muhammadiyah Malang yang lolos ke tahap semi final. Untuk masuk dan lolos ke tahap grand final saya mohon bantuan teman-teman semua untuk memberikan like/suka/jempol pada video saya di bawah ini, serta bagikan ke teman-teman kalian sebanyak-banyaknya sebelum voting di tutup tanggal 31 agustus 2015 pukul 24.00 WIB.


Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman semua yang sudah memberikan like/suka/jempol pada video saya.  Semoga semua informasi yang ada di video saya tersebut bermanfaat untuk kalian dan saya doakan juga semoga semua kebaikan kalian bernilai ibadah serta akan dibalas dengan kebaikan yang lebih besar lagi oleh Allah SWT. Amin.

Jumat, 12 Juni 2015

MODIFIKASI PERILAKU : Tehnik Self-Control

A. Pengantar
Tiap orang memerlukan kebebasan untuk menjadi kreatif dan mengaktualisasi diri. Di sisi lain, kendali dari dalam diri diperlukan sebagai regulasi atas dorongan dan kemampuan yangdimiliki, baik secara fisik, psikis, maupun perilaku. Bertindak tanpa pikir panjang merupakan ciri khas yang melekat pada anak-anak. Mereka bertindak spontan. Bila sakit mereka akan menangis di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi apa saja. Bila gembira, anak yang sehat akan berlarian, mencoret-coret, berteriak-teriak girang, atau melakukan apa pun yang ia inginkan.
Bayangkan bila perilaku semacam ini dilakukan oleh remaja atau orang dewasa. Tentu saja cukup aneh. Kita akan merasa sangat terganggu bila menemukan seseorang yang bukan lagi anak-anak bertindak sesuka hati, membiarkan dorongan-dorongan atau keinginan yang bersifat egoistis termanifestasi begitu saja. Semakin bertambah usia seseorang, ia diharapkan semakin memiliki kendali atas perilakunya sendiri. Dengan kata lain, semakin mengembangkan kemampuannya mengontrol diri.
Kontrol diri merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan individu selama proses-proses dalam kehidupan, termasuk dalam menghadapi kondisi yang terdapat di lingkungan tempat tinggalnya. Para ahli berpendapat bahwa selain dapat mereduksi efek-efek psikologis yang negatif dari stressor-stessor lingkungan, kontrol diri juga dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat pencegahan. Kontrol diri dapat mencakup semua bidang perilaku, yaitu perilaku politik, sosial, spritual, budaya dan perilaku kerja. Pengaruh kontrol diri terhadap timbulnya tingkah laku seseorang dapat dianggap cukup besar, karena tingkah laku over merupakan hasil proses pengontrolan diri seseorang.
B. Kajian Teori
1. Definisi
Larry (dalam R.S Satmoko, 1986:130) mengungkapkan bahwa kontrol diri (Self-Control) adalah kemampuan mengenali emosi dirinya dan orang lain. Baik itu perasaan bahagia, sedih, marah, senang, takut, dan sebagainya, mengelola emosi, baik itu menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas, kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan, mengendalikan dorongan hati memotivasi diri sendiri, dan memahami orang lain secara bijaksana dalam hubungan antar manusia.
2. Tujuan
Beberapa tujuan yang biasanya ingin dicapai dalam melakukan modifikasi perilaku yang menggunakan teknik Self-Control antara lain :
a. Mampu menghadapi situasi yang tidak diinginkan dengan cara mencegah atau menjauhi situasi tersebut
b. Mampu mengatasi frustasi dan ledakan emosi.
c. Mampu menunda kepuasan dengan segera untuk mengatur perilaku agar dapat mencapai sesuatu yang lebih berharga atau lebih diterima oleh masyarakat
d. Mampu mengantisipasi peristiwa dengan mengantisipasi keadaan melalui pertimbangan secara objektif.
e. Mampu menafsirkan peristiwa dengan melakukan penilaian dan penafsiran suatu keadaan dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara subjektif
f. Mampu mengontrol keputusan dengan cara memilih suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya.
3. Karakteristik
Kontrol diri seseorang yang baik dan yang buruk dapat terlihat dari kehidupan seseorang, baik dari sifat yang berasal dari dalam maupun dari luar, yakni terbagi menjadi dua karakteristik eksternal dan internal.
a. Internal (dari dalam)
Pengendalian diri dapat dilihat dari kehidupan seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang mempunyai keinginan yang tinggi agar pada diri seseorang dapat tercapai keinginan dalam kehidupannya, seperti:
1. Suka bekerja keras.
2.Memiliki inisiatif yang tinggi.
3.Selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah.
4.Selalu mencoba untuk berpikir seefektif mungkin.
5.Selalu mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika ingin berhasil.
b. External (dari luar)
Pengendalian diri dari luar yang menunjukkan kendali diri seseorang kurang mempunyai harapan atau kemauan untuk berusaha memperbaiki kegagalan yang ada pada diri nya seperti:
1.Kurang memiliki inisiatif.
2.Mempunyai harapan bahwa ada sedikit korelasi antara usaha dan kesuksesan.
3.Kurang suka berusaha, karena mereka percaya bahwa faktor luarlah yang mengontrol.
4.Kurang mencari informasi untuk memecahkan masalah.
Pada orang-orang yang memiliki pengendalian diri dari dalam faktor kemampuan dan usaha terlihat dominan, oleh karena itu apabila individu dengan internal mengalami kagagalan mereka akan menyalahkan dirinya sendiri karena kurangnya usaha yang dilakukan. Begitu pula dengan keberhasilan, mereka akan merasa bangga atas hasil usahanya. Hal ini akan membawa pengaruh untuk tindakan selanjutnya dimasa akan datang bahwa mereka akan mencapai keberhasilan apabila berusaha keras dengan segala kemampuannya.
Sebaliknya pada orang yang memiliki pengendalian diri dari luar melihat keberhasilan dan kegagalan dari faktor kesukaran dan nasib, oleh karena itu apabila mengalami kegagalan mereka cenderung menyalahkan lingkungan sekitar yang menjadi penyebabnya. Hal itu tentunya berpengaruh terhadap tindakan dimasa datang, karena merasa tidak mampu dan kurang usahanya maka mereka tidak mempunyai harapan untuk memperbaiki kegagalan tersebut.
Dimensi kepribadian yang berupa kontinum dari pengendalian diri dari dalam menuju pengendalian diri dari luar, oleh karenanya tidak satupun individu yang benar-benar dari dalam atau yang benar-benar dari luar. Kedua tipe terdapat pada setiap individu, hanya saja ada kecenderungan untuk lebih memiliki salah satu tipe tertentu. Disamping itu pengendalian diri dari luar dan dari dalam tidak bersifat stastis tapi juga dapat berubah. Individu yang berorientasi dari dalam dapat berubah menjadi individu yang berorientasi dari luar dan begitu sebaliknya, hal tersebut disebabkan karena situasi dan kondisi yang menyertainya yaitu dimana ia tinggal dan sering melakukan aktifitasnya.
4. Prinsip-Prinsip
Prinsip-prinsip dalam melakukan kontrol diri (Self-Control) adalah :
1. Prinsip kemoralan.
Setiap agama pasti mengajarkan moral yang baik bagi setiap pemeluknya, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menipu, tidak berbohong, tidak mabuk-mabukan, tidak melakukan tindakan asusila maupun tidak merugikan orang lain. Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif, maka kita dapat bersegera lari ke rambu-rambu kemoralan. Apakah yang kita lakukan ini sejalan atau bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama? Saat terjadi konflik diri antara ya atau tidak, mau melakukan atau tidak, kita dapat mengacu pada prinsip moral di atas.
2. Prinsip kesadaran.
Prinsip ini mengajarkan kepada kita agar senantiasa sadar saat suatu bentuk pikiran atau perasaan yang negatif muncul. Pada umumnya orang tidak mampu menangkap pikiran atau perasaan yang muncul, sehingga mereka banyak dikuasai oleh pikiran dan perasaan mereka. Misalnya seseorang menghina atau menyinggung kita, maka kita marah. Nah, kalau kita tidak sadar atau waspada maka saat emosi marah ini muncul, dengan begitu cepat, tiba-tiba kita sudah dikuasai kemarahan ini. Jika kesadaran diri kita bagus maka kita akan tahu saat emosi marah ini muncul, menguasai diri kita dan kemungkinan akan melakukan tindakan yang akan merugikan diri kita dan orang lain. Saat kita berhasil mengamati emosi maka kita dapat langsung menghentikan pengaruhnya. Jika masih belum bisa atau dirasa berat sekali untuk mengendalikan diri, maka kita dapat melarikan pikiran kita pada prinsip moral.
3. Prinsip Perenungan.
Ketika kita sudah benar-benar tidak tahan untuk meledakkan emosi karena amarah dan perasaan tertekan, maka kita bisa melakukan sebuah perenungan. Kita bisa menanyakan pada diri sendiri tentang berbagai hal, misalnya apa untungnya saya marah, apakah benar reaksi saya seperti ini, mengapa saya marah atau apakah alasan saya marah ini sudah benar. Dengan melakukan perenungan, maka kita akan cenderung mampu mengendalikan diri. Secara sederhana dapat digambarkan bahwa saat emosi aktif maka logika kita tidak jalan, sehingga saat kita melakukan perenungan atau berpikir secara mendalam maka kadar kekuatan emosi atau keinginan kita akan cenderung menurun.
4. Prinsip Kesabaran.
Pada dasarnya emosi kita naik-turun dan timbul-tenggelam. Emosi yang bergejolak merupakan situasi yang sementara saja, sehingga kita perlu menyadarinya bahwa kondisi ini akan segera berlalu seiring bergulirnya waktu. Namun hal ini tidaklah mudah karena perlu adanya kesadaran akan kondisi emosi yang kita miliki saat itu dan tidak terlalu larut dalam emosi. Salah satu cara yang perlu kita gunakan adalah kesabaran, menunggu sampai emosi negatif tersebut surut kemudian baru berpikir untuk menentukan respon yang bijaksana dan bertanggung jawab (reaksi yang tepat).
5. Prinsip Pengalihan Perhatian.
Situasi dan kondisi yang memberikan tekanan psikologis sering menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran yang cukup banyak bagi seseorang untuk menghadapinya. Apabila berbagai cara (4 prinsip sebelumnya) sudah dilakukan untuk berusaha menghadapi namun masih sulit untuk mengendalikan diri, maka kita bisa menggunakan prinsip ini dengan menyibukkan diri dengan pikiran dan aktifitas yang positif. Ketika diri kita disibukkan dengan pikiran positif yang lain, maka situasi yang menekan tersebut akan terabaikan. Begitu pula manakala kita menyibukkan diri dengan aktifitas lain yang positif, maka emosi yang ingin meledak akibat peristiwa yang tidak kita sukai tersebut akan menurun bahkan hilang. Saat kita berhasil memaksa diri memikirkan hanya hal-hal yang positif maka emosi kita akan ikut berubah kearah yang positif juga.
C. Prosedur Pelaksanaan
Prosedur pelaksanaan teknik Self-Control terbagi menjadi beberapa tahap seperti :
1. Spesifikasi Masalah
    a. Menentukan tujuan perilaku dengan rinci, konkrit, dan wajar
    b. Membuat daftar bukti yang menyatakan bahwa program kontrol diri telah berhasil.
   c. Cantumkan beberapa orang yang punya tujuan sama. Amati, dan berikan alasan mengapa mereka berhasil dan mengapa mereka tidak berhasil.
    d. Buat  daftar perilaku yang dapat membantu tercapainya tujuan
2. Membuat Komitmen Untuk Berubah
    a. Buat daftar keuntungan apabila program ini berhasil
    b. Atur lingkungan : ada orang lain yang mengingatkan
    c. Siapkan waktu dan energi untuk melakukan program
    d. Rencanakan cara untuk mengatasi gangguan
3. Mengambil Data dan Analisis Penyebab
    a. Ambil data tentang munculnya masalah : kapan, dimana, seberapa sering?
    b. Catat frekuensi permasalahan
    c. Analisis anteseden & konsekuensi yang memelihara perilaku : dasar untuk menyusun strategi berikutnya
4. Merancang Program
    a. Manage The Situation
i. Self Instruction
ii. Modelling
iii. Mengatur lingkungan
iv. Mengurangi kontak dengan orang lain
v. Menentukan waktu
    b. Manage The Behavior
i. Chaining : tiap perilaku kecil merupakan syarat bagi perilaku selanjutnya.
ii. Incompatible Behavior : Perilaku bermasalah diganti perilaku lain yang lebih tepat.
iii. Shaping : Membentuk perilaku secara bertahap
    c. Manage The Consequences
i. Utilizing Feedback : cermin, tape recorder, video, self monitoring
ii. Menyediakan self reward
iii. Mencatat keuntungan melakukan program
iv. Administering Punishment
D. Contoh Kasus atau Riset
            Contoh riset yang berkaitan dengan Self-Control adalah hasil penelitian dari Meirina Ramdhani mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2013. Penelitian ini berjudul “Penerapan teknik kontrol diri untuk mengurangi konsumsi rokok pada kategori perokok ringan”. Adapun gambaran abstrak dari penelitian ini sebagai berikut :
Menghentikan kebiasaan merokok merupakan permasalahan utama para perokok aktif yang mulai menyadari bahaya akibat rokok. Kesulitan untuk berhenti merokok berkaitan dengan kemampuan individu untuk mengontrol dirinya (self-control). Tujuan dari penelitian ini untuk mengembangkan teknik kontrol diri untuk mengurangi konsumsi rokok. Pendekatan penelitian ini adalah rangkaian kasus (case series). Subjek berjumlah 4 orang perokok laki-laki usia dewasa yang biasa merokok tidak lebih dari 10 batang per hari (kategori ringan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keempat subjek mengalami penurunan konsumsi rokok per hari, yang dapat dilihat dari kondisi awal sebelum diberikan intervensi, kondisi pada proses intervensi, kondisi setelah intervensi dihentikan dan tahap tindak lanjut.

DAFTAR PUSTAKA
Dayakisni, Tri & Hudaniah (2003). Psikologi Sosial. UMM Press. Malang
Gie (1996) Strategi Hidup Sukses. Yogyakarta: Liberty
http://www.autism.org/selfmanage.html
https://elqorni.wordpress.com/2009/02/06/manajemen-diri-self-management/
http://animenekoi.blogspot.com/2012/05/teknik-self-management.html
Komalasari, Dantina. dan Eka Wahyuni (2011) Teori Dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks.
Martin, Garry & Pear, Joseph. (2003). Behavior Modification, What It Is and How
To Do It, 7th Ed. Pearson Education International. New Jersey
Richard, Jones-Nelson (2011) Teori dan Praktik Konseling Dan Terapi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
R.S Satmoko (1986) Psikologi Tentang Penyesuaiandan Hubungan Kemanusiaan

edisi ke 3

MODIFIKASI PERILAKU : Tehnik Self-Management

A. Pengantar
Manajemen diri (Self-Management) merupakan istilah yang sangat populer saat ini. Banyak seminar, training maupun tulisan yang mengupas subyek ini karena memang diperlukan bagi mereka yang berada di lingkungan profesional maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Pada dasarnya manajemen diri merupakan pengendalian diri terhadap pikiran, ucapan, dan perbuatan yang dilakukan, sehingga mendorong pada penghindaran diri terhadap hal-hal yang tidak baik dan peningkatan perbuatan yang baik dan benar. Manajemen diri juga menuju pada konsistensi dan keselarasan pikiran, ucapan dan perbuatan sehingga apa yang dipikirkan sama dan sejalan dengan apa yang diucapkan dan diperbuat. Integritas seperti inilah yang diharapkan akan timbul dalam diri para praktisi manajemen diri. Sebelum bisa memiliki pikiran-ucapan-perbuatan baik, terlebih dahulu seseorang harus memiliki pemahaman dan pengertian yang benar.
Akan tetapi walaupun punya pemahaman terhadap kebaikan dan ketidakbaikan, belum tentu pikiran seseorang mampu diarahkan terus-menerus terhadap kebaikan. Dan walaupun seandainya pikiran seseorang sudah didominasi oleh kebaikan, belum menjamin bahwa ucapannya selalu sejalan dengan pikiran baik ini. Demikian pula tidak ada garansi bahwa perbuatannya secara fisik merefleksikan sepenuhnya pikiran yang baik ini. Sebagai contoh, apapun latar belakang, umur, jenis kelamin, pendidikan, suku dan lain sebagainya, umumnya kita setuju bahwa olah raga dengan frekuensi dan dosis yang tepat, dapat menjaga kebugaran, daya tahan dan kesehatan seseorang. Pemahaman ini menuntun pada pikiran yang baik bahwa olah raga penting bagi kesehatan. Pemahaman dan pikiran tentang kebaikan olah raga ini lebih mudah sejalan dengan ucapan. Sewaktu menasihati orang lain, dengan mudah kita menjelaskan pentingnya berolah raga secara teratur. Akan tetapi sewaktu harus praktek langsung, banyak di antara kita akan memunculkan berbagai alasan untuk mendukung dan memberikan pembenaran mengapa diri kita sendiri jarang atau bahkan tidak sama sekali berolah raga. Mulai dari alasan sibuk bekerja, waktunya belum tepat, tidak ada sarana, dan lain-lain. Ini menjelaskan mengapa banyak orang yang tidak atau belum sukses padahal begitu banyak kiat, taktik, strategi, dan metode sukses diajarkan melalui buku, kaset, seminar dan lain-lain. Banyak di antara kita hafal di ‘luar kepala’ dan mampu dengan cepat menyebutkan persyaratan untuk bisa sukses, mulai dari berdisiplin tinggi, tepat waktu, punya integritas, jujur, fokus pada apa yang sedang dikerjakan, kerja sama team, bertanggung jawab, bekerja keras, tidak mudah putus asa, dan lain sebagainya.

B. Kajian Teori
1. Definisi
Edelson mengungkapkan “self-management is a psychological term used to describe the process of achieving personal autonomy”. Pada dasarnya self-management adalah sebuah terminologi psikologis untuk menggambarkan proses pencapaian otonomi diri.
Pengelolahan diri adalah prosedur dimana individu mengeatur prilakunya sendiri (Gantina 2011:180). Selanjutnya menurut Gie (1996:95) manajemen diri adalah dimana setelah seseorang menetapkan tujuan hidup bagi dirinya, ia harus mengatur dan mengelola dirinya sebaik-baiknya untuk membawanya ke arah tercapainya tujuan hidup dan itu juga segenap kegiatan dan langkah mengatur dan mengelola dirinya.
Menurut Cormier & Nurius, 2002; Watson & Tharp, 2001 dalam Richard Nelson Jones (2011:476) strategi self management adalah melibatakan membantu klien untuk mengamati perilakunya, menetapkan tujuan bagi dirinya sendiri, mengidentifikasi penguat yang cocok, merencanakan graded steps (langkah-langkah yang diberi nilai) untuk mencapai tujuannya, dan menetapkan kapan menerapkan konsekuensi.
2. Tujuan
Tujuan modifikasi perilaku menggunakan Teknik Self-Manajement adalah agar individu secara teliti dapat menempatkan diri dalam situasi-situasi yang menghambat tingkah laku yang mereka ingin hilangkan dan belajar untuk mencegah timbulnya perilaku atau masalah yang tidak diinginkan. Dalam arti individu dapat mengelola pikiran, perasaan dan perbuatan mereka sehingga mendorong pada pengindraan terhadap hal-hal yang tidak baik dan peningkatan hal-hal yang baik dan benar.
3. Karakteristik
Karakteristik dari Self-Management antara lain:
1. Kombinasi dari strategi mengelola diri sendiri biasanya lebih berguna dari pada sebuah strategi tunggal.
2. Penggunaan strategi yang konsisten adalah esensial.
3. Penggunaan penguatan diri sendiri merupakan komponen yang penting.
4. Tunjangan yang diberikan oleh lingkungan harus dipertahankan.
5. Perlu ditetapkan target yang realistis dan kemudian dievaluasi.
6. Dukungan lingkungan mutlak perlu untuk memelihara perubahan-perubahan yang merupakan hasil dari suatu program Self-Management.
4. Prinsip-Prinsip
Beberapa prinsip dalam teknik Self-Management antara lain :
1. Self regulation
Individu cenderung menjadi waspada ketika perilaku mereka mendatangkan konsekuensi yang tidak diharapkan.
2. Self kontrol
Individu tetap memiliki komitmen dan menjalankan program perubahan perilaku meskipun disalah satu sisi individu mengalami konsekuensi yang tidak mengenakan bagi dirinya.
3. Self attibution
Individu percaya bahwa dirinya bertanggungjawab atas terjadinya sesuatu dan yakin kesuksesan yang diraih karena kemampuan personalnya.
C. Prosedur Pelaksanaan
Dalam buku “Teori dan Teknik Konseling” Gantina Komalasari dkk, menjabarkan tahap-tahap dalam prosedur pelaksanaan Self-Management yaitu :
1. Memonitor diri/ Observasi
Mengamati tingkah laku sendiri kemudian mencatatnya dengan teliti (frekuensi, intensitas dan durasi)
2. Evaluasi Diri
Membandingkan hasil catatan tingkah laku dengan target tingkah laku yang telah dibuat oleh konseli sesuai efektifitas dan efesiensi program
3. Pemberian penguatan, penghapusan dan pemberian hukuman
Tujuanya adalah agar dapat mengatur dirinya sendiri, penguatan dan penghapusan tingkah laku pada dirinya sendiri.
D. Contoh Kasus atau Riset
Contoh Penelitian yang berkaitan dengan Self-Management adalah penelitian yang dilakukan oleh Dinia Ulfa dari Universitas Negeri Semarang yang berjudul “Meningkatkan Tanggung Jawab Belajar Dengan Layanan Konseling Individual Berbasis Self-Management Pada Siswa Kelas XI Di SMK Negeri 1 Pemalang Tahun Pelajaran 2013/2014”.
Adapun gambaran abstrak tentang penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
Penelitian ini didasarkan data yang diperoleh dari studi pendahuluan pada siswa kelas XI SMK Negeri 1 Pemalang yang menunjukkan indikator rendahnya tanggung jawab belajar. Masalah penelitian ini adalah apakah tanggung jawab belajar pada siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Pemalang tahun pelajaran 2013/2014 dapat ditingkatkan melalui layanan konseling individual berbasis selfmanagement? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris tentang peningkatan tanggung jawab belajar pada siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Pemalang tahun pelajaran 2013/2014 melalui layanan konseling individual berbasis self-management. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan desain penelitian one group pretest-postest design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Negeri 1 Pemalang tahun pelajaran 2013/2014. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling (sampling bertujuan). Sampel dalam penelitian ini adalah siswa yang memiliki tanggung jawab belajar rendah sebanyak 6 anak. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala psikologis. Sedangkan metode analisis data yaitu analisis data deskriptif persentase dan uji Wilcoxon. Hasil pre test, siswa termasuk dalam kriteria rendah dengan persentase rata-rata 50.35%. Sedangkan hasil post test, kriteria tanggung jawab belajar pada siswa menjadi tinggi dengan rata-rata sebesar 74.50%. Dari uji Wilcoxon diperoleh Zhitung sebesar 2.20 dan nilai Ztabel pada taraf signifikansi 5% dan N=6 yaitu 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab belajar pada siswa kelas XI SMK Negeri 1 Pemalang tahun pelajaran 2013/2014 dapat ditingkatkan melalui layanan konseling individual berbasis Self-Management.
Simpulannya adalah bahwa terdapat peningkatan signifikan tanggung jawab belajar pada siswa kelas XI SMK Negeri 1 Pemalang antara sebelum dan setelah diberikan treatment layanan konseling individual berbasis selfmanagement. Saran yang dapat diberikan adalah diharapkan konselor dapat melatih siswa untuk bertanggung jawab belajar agar mampu meningkatkan tanggung jawab belajarnya melalui tahap-tahap yang terdapat dalam layanan konseling individual berbasis self-management.

DAFTAR PUSTAKA

Dayakisni, Tri & Hudaniah (2003). Psikologi Sosial. UMM Press. Malang
Gie (1996) Strategi Hidup Sukses. Yogyakarta: Liberty
http://www.autism.org/selfmanage.html
https://elqorni.wordpress.com/2009/02/06/manajemen-diri-self-management/
http://animenekoi.blogspot.com/2012/05/teknik-self-management.html
Komalasari, Dantina. dan Eka Wahyuni (2011) Teori Dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks.
Martin, Garry & Pear, Joseph. (2003). Behavior Modification, What It Is and How
To Do It, 7th Ed. Pearson Education International. New Jersey
Richard, Jones-Nelson (2011) Teori dan Praktik Konseling Dan Terapi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
R.S Satmoko (1986) Psikologi Tentang Penyesuaiandan Hubungan Kemanusiaan
edisi ke 3

MODIFIKASI PERILAKU : Tehnik Stimulus Control

A. Pengantar
Jake meminta uang kepada ibunya karena ia ingin berbelanja dan ibunya pun memberikan uang tersebut. Ketika Jake melakukan hal yang sama kepada ayahnya, meminta uang kepada ayahnya, ayahnya menolak permintaan Jake dan menyuruhnya untuk mencari pekerjaan sendiri. Sebagai hasilnya, ketika Jake membutuhkan uang untuk berbelanja, maka ia akan meminta uang kepada ibunya, bukan pada ayahnya. Dari contoh kasus ini kita katakan bahwa, kesediaan ibu memberikan uang kepada Jake merupakan stimulus control bagi tingkah laku Jake untuk meminta uang. Contoh tersebut menggambarkan prinsip dari stimulus control. Sebuah tingkah laku cenderung untuk muncul saat spesific antecedent stimulus ada/terjadi. Sebuah tingkah laku dikatakan berada di bawah kontrol stimulus ketika kemungkinan peningkatan perilaku itu muncul saat stimulus antesedent terjadi.
B. Kajian Teori
1. Definisi
Kontrol stimulus dikatakan terjadi ketika suatu organisme berperilaku dalam satu cara dikarenakan adanya stimulus yang diberikan. Misalnya, adanya tanda berhenti (lampu merah) meningkatkan kemungkinan terjadinya pengereman. Stimulus kontrol merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan jalan bagaimana sebuah stimulus tertentu  menentukan munculnya respon yang benar sebuah stimulus yang menempatkan atau memerlukan petunjuk, respon yang muncul disebut discriminative respod.
2. Tujuan
            Kontrol stimulus memiliki tujuan untuk memicu respon yang diinginkan ketika stimulus yang terkontrol diberikan. Seperti contoh lampu merah di atas. Perambuan lalu lintas merupakan stimulus yang sengaja dibuat oleh petugas lalu lintas untuk mengatur lancarnya arus lalu lintas sehingga pengendara dapat aman selamat sampai ke tujuan.
3. Karakteristik
Stimulus kontrol berkembang karena tingkah laku diperkuat hanya jika stimulus antisedent yang spesifik hadir/ada. Oleh kaena itu, tingkah laku akan kembali muncul/berlanjut dimasa yang akan datang hanya jika stimulus antesedent hadir. Antecedent stimulus yang muncul/hadir saat tingkah laku diperkuat di berinama discriminative stimulus (SD). Secara sederhana SD/discriminative stimulus dapat dipahami sebagai stimulus spesifik yang memicu timbulnya sebuah tingkah laku, tingkah laku tidak muncul kecuali stimulus spesifik ini terjadi. Jadi SD merupakan stimulus spesifik (hanya dengan stimulus ini, bukan stimulus lain) yang menyebabkan sebuah tingkah laku muncul. Proses penguatan (reinforcing) tingkah laku hanya disaat stimulus antesedent spesifik (discriminative stimulus) hadir, disebut stimulus discrimination training.
4. Prinsip-Prinsip
Sebuah tingkah laku cenderung untuk muncul saat spesific antecedent stimulus ada/terjadi. Antecedent stimulus adalah stimulus yang mendahului terjanya tingkah laku. Sebuah tingkah laku dikatakan berada di bawah kontrol stimulus ketika kemungkinan peningkatan perilaku itu muncul saat stimulus antesedent terjadi.
C. Prosedur Pelaksanaan
1. Saat discriminative stimulus (SD) muncul/hadir, tingkah laku diperkuat.
2. Saat antecedent stimulus yang lainnya diberikan (bukan discriminative stimulus (SD)), tingkah laku tersebut tidak mengalami penguatan (tidak diperkuat). Selama discrimination training berlangsung, antecedent stimulus lain yang muncul saat tingkah laku tidak diperkuat disebut S-delta (S∆).
Sebagai hasil dari discrimination training, tingkah laku cenderung untuk muncul kembali dimasa mendatang saat SD dimunculkan/tampil tapi akan cenderung untuk tidak muncul saat S∆ dimunculkan.
D. Contoh Kasus atau Riset
Contoh penelitian yang berkaitan dengan teknik stimulus control adalah penelitian yang dilakukan oleh Rahmawan, Rois Eko dari Universitas Muria Kudus dengan judul “Upaya Meningkatkan Konsentrasi Belajar Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Stimulus Control”
Berikut adalah gambaran penelitian yang dituliskan dari abstraknya :
Penelitian ini dilatar belakangi karena rendahnya konsentrasi belajar siswa kelas X-2. Ada 8 siswa yang rendah konsentrasi belajarnya, hal ini ditunjukkan dengan sikap siswa yang cenderung ramai/gaduh di dalam kelas, berbicara sendiri dengan teman sebangku dan mengantuk saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Oleh karena itu persolan tentang rendahnya konsentrasi belajar pada siswa kelas X-2 harus segera diatasi, supaya siswa dapat berkonsentrasi saat pelajaran berlangsung, tertib saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan dapat termotivasi memperhatikan pelajaran/tidak mengantuk. Kondisi tersebut diatas menurut peneliti dapat diatasi melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control. Permasalahan yang akan diteliti adalah “Apakah layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control dapat meningkatkan konsentrasi belajar pada siswa kelas X-2 SMA NU Al Ma’ruf Kudus Tahun 2013/2014”. Tujuan penelitian ini adalah: memperoleh peningkatan konsentrasi belajar melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control pada siswa kelas X-2 SMA NU Al Ma’ruf Kudus Tahun 2013/2014. Kegunaan penelitian ini adalah : 1. Kegunaan teoritis : hasil dari layanan bimbingan kelompok ini diharapkan bisa mengembangkan teori bimbingan kelompok dalam meningkatkan konsentrasi belajar siswa dalam memahami mata pelajaran. 2. Kegunaan praktis penelitian ini adalah : 1) Bagi Kepala Sekolah 2) Bagi Guru BK 3) Bagi Guru Mata Pelajaran 4) Bagi Siswa 5) Bagi Peneliti. Hipotesis penelitian ini adalah : “Layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control dapat meningkatkan konsentrasi belajar pada siswa kelas X-2 SMA NU Al Ma’ruf Kudus Tahun 2013/2014”. Penelitian ini dilakukan di SMA NU Al Ma’ruf Kudus yang beralamat di Jl. AKBP.R.Agil Kusumadya No. 2 Kudus, sedangkan subyek penelitian ini adalah 8 siswa yang konsentrasi belajarnya rendah diantara siswa kelas X-2. Variabel penelitian : Layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control (variabel bebas) dan konsentrasi belajar (variabel terikat). Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan 2 siklus (siklus I dan siklus II) setiap siklus 3 pertemuan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara sebelum pra layanan bimbingan kelompok konsentrasi belajar siswa termasuk dalam kategori sangat kurang (13,12). Setelah diberi treatment layanan bimbingan kelompok pada sikus I, konsentrasi belajar siswa meningkat menjadi kategori cukup (33,75) dan setelah siklus II konsentrasi belajar siswa meningkat menjadi kategori sangat baik (42,12). Hal ini menunjukkan layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control dapat meningkatkan konsentrasi belajar pada siswa kelas X-2 SMA NU Al Ma’ruf Kudus Tahun 2013/2014. Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control dapat meningkatkan konsentrasi belajar Melihat temuan di lapangan, peneliti memberikan saran kepada: 1. Kepala Sekolah mengenai sarana dan prasarana yang mendukung bagi pelaksanaan penelitian. 2. Para guru BK memberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik stimulus control yang berkaitan dengan cara meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dalam memahami pelajaran. 3. Guru Mata Pelajaran memberikan perhatian pada siswa yang konsentrasi belajarnya rendah sehingga dapat ditindaklanjuti secara cepat dan konsentrasi belajarnya dapat ditingkatkan. 4. Siswa diharapkan dapat berkonsentrasi saat guru menerangkan dan mampu menjawab dengan baik pertanyaan dari guru. 5. Bagi peneliti berikutnya perlu mengadakan penelitian lebih lanjut dan lebih lengkap yang keterkaitan dengan masalah konsentrasi belajar.

DAFTAR PUSTAKA
Sumadi Suryabrata (B.A, Drs., MA, Ed.S, Ph.D.), (1998) Psikologi Pendidikan,
Jakarta: PT RajaGravindo Persada.
Catania, A. C (1992) "Learning" 3rd ed, Prentice Hall, Englewoood Cliffs, NJ.
Dr.H.Mahmud, M.Si (2010) Psikologi Pendidikan.Bandung ; CV Pustaka Setia
Purwa Atmaja Prawira (2013) Psikologi Pendidikan dalam Pesrfektif Baru.
Jakarta ; Ar-ruzz Media
Feist & Feist (2010) Teori Kepribadian. Jakarta ; Salemba Humanika
Santrock, John W (2007) Psikologi Pendidikan edisi kedua. Jakarta ; Kencana
Media Group
Jeanne Ellis Ormrod (2008) Psikologi Pendidikan. Jakarta ; Erlangga
Robert E. Slavin (2008) Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta ; PT

Indeks