Senin, 15 Desember 2014

Poetry : Apakah Ekonomi Indonesia menciut atau berkuasa?



Indonesia ini negara kami bersama
Aku, kamu, dia, mereka memiliki negeri khatulistiwa
Aku adalah pewaris goa batu hapu dan goa-goa indah lainnya
Kamu adalah pewaris candi prambanan, candi asu, candi gatotkaca dan candi lainnya
Dia adalah pewaris pantai goa cina, pantai kuta dan banyak pantai indah lainnya
Kauuu itu siapa?
Kami adalah penerus bangsa ini, bangsa nan jaya, bangsa nan indah permai
Aku tanya kauuu itu siapa? Kau bukan kami
Kau kuda liar, kau penghancur, kau negosiator unggul yang licik
Bergerilya bak belatung yang masuk menggerogoti tanah air
Hahh investor kotor bercampur lumpur kufur
Ingat! Kami adalah pewaris
Indonesia ini negara kami bersama

Opus : Jainal Ilmi
 (16/12/2014)

Fakta Tentang Skizofrenia di Indonesia


Skizofrenia adalah kelainan psikiatrik kronis, termasuk gangguan mental yang sangat berat (Docherty, Hall & Gordiner, 1998). Skizofrenia sangat banyak di temukan di Indonesia, sekitar 99% pasien rumah sakit jiwa di Indonesia adalah orang dengan skizofrenia. Prevalensi orang dengan skizofrenia di Indonsia adalah 0,3-1% dan biasanya dialami pada usia sekitar 18-45 tahun, bahkan ada juga yang baru berusia 11-12 tahun sudah mengalami skizofrenia. Umumnya skizofrenia mulai dialami pada rentang usia 16-30 tahun dan jarang mulai terjadi di atas 35 tahun (Mueser & Gingerich, 2006).
Dapat diketahui dari laporan Rumah Sakit yang ada di Brebes pada triwulan pertama tahun 2008, dari 135 orang pasien rawat jalan, ditemukan 124 orang pasien dengan kasus skizofrenia. Sedangkan berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) Indonesia 2007 menunjukkan bahwa penderita gangguan jiwa berat di Indonesia adalah 0,46% atau sejuta orang.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Ascobat Gani dalam hasil perthitungannya menjelaskan berdasarkan Riskesdas, kerugian ekonomi minimal yang diperoleh akibat masalah kesehatan jiwa 2007 adalah sebesar 20 Triliun Rupiah. Data itu dia sampaikan dalam seminar MDGS dan kesehatan jiwa pada 2010 lalu. Dia menambahkan, dari total populasi resiko 1.093.150 jiwa, hanya 3,5% atau 38.260 jiwa yang baru terlayani di rumah sakit jiwa, rumah sakit umum atau pusat kesehatan masyarakat dengan fasilitas yang memadai. Menurut Pendiri Rumah Komunitas Penderita Skizofrenia Indonesia (KPSI), Bagus Utomo, penanganan atau proses pemulihan pasien dengan gangguan jiwa di Indonesia masih buruk serta prosedur penanganannya pun juga panjang. Misalnya seorang pasien sudah mendapatkan obat dengan baik, proses pemulihan di rumah sakit berjalan bagus, tapi kalau di rumah tidak di dukung keluarga dan lingkungan, maka bisa jadi pasien akan susah sembuh. Data Pemerintah Indonesia menyebutkan bahwa ada 18 ribu orang dengan skizofrenia (ODS) di pasung dan dirantai oleh keluarganya. Banyak juga keluarga yang memasukkan anggota keluarganya yang ODS itu ke dukun, pondok pesantren khusus orang gila atau rumah penampungan sosial.
Wartawan Majalah Time, Andrea Star Reese pernah datang ke Indonesia meliput tempat-tempat pengobatan orang dengan gangguan jiwa (skizofrenia) selama setahun, dari Januari 2011 hingga 2012. Dia mengabadikan lokasi-lokasi itu dalam foto yang dipublikasikan pada 3 September 2013 lalu. Dia mengatakan kendala umum bagi masyarakat Indonesia sehingga memilih memasung anggota keluarganya karena masalah akses ke perawatan, biaya pengobatan yang tidak terjangkau dan kurangnya penyebarluasan informasi dasar.
Andreas juga mengatakan minimnya tenaga psikiater di Indonesia. Dia mengutip data pemerintah yang menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 600-800 psikiater, 50% berdomisili di Jawa dan 50% berdomsili di Jakarta. Dari 34 provinsi di Indonesia, hingga kini masih ada 7 provinsi yang belum memiliki rumah sakit jiwa. Jumlah psikiaternya juga minim, perbandingannya 1 banding 400 ribu.

Referensi
Mueser, K.T & Gingerich, K. (2006). Co-morbidity of schizophrenia and substance abuse: Implication for treatment. Journal of Counseling and Clinical Psychology, 60, 845-856
Docherty, N. M., Hall, M. J & Gordiner, S. W (1998). Affective reactive of speech in schizophrenia patients and their nonschizophrenics relatives. Journal of Abnormal Psychology, 107, 461-467
m.merdeka.com/persitiwa/banyak-orang-berpikir-skizofrenia-karena-gangguan-jin.html
m.merdeka.com/peristiwa/di-indonesia-ada-18-ribu-penderita-gangguan-jiwa-berat-dipasung.html