Sabtu, 15 November 2014

Sejarah Jilbab di Indonesia

Negara Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Meskipun hanya 88% penduduknya beragama Islam, Indonesia bukanlah negara Islam. Besarnya jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia tentunya berpengaruh pada kultur masyarakatnya, terutama pada kaum perempuan. Sebagian besar kaum perempuan atau muslimah di Indonesia menggunakan pakaian panjang atau pakaian muslimah dan jilbab sebagai salah satu alternatif untuk menutup aurat. Tahun 1970-an tercatat sebagai tahun munculnya gelombang kebangkitan pemeluk Islam di dunia internasional yang gaungnya merambah ke segala penjuru dunia, termasuk Indonesia. Selama tahun 80 sampai 90-an jumlah pemakai jilbab terus bertambah, utamanya di kalangan mahasiswa dan pelajar. Tepatnya tiga puluh tahun lalu, saat jilbab serta busana muslim masuk ke belantika mode Indonesia. Penggunaannya masih di anggap gagap dan kurang pergaulan. Desainer yang serius menggarap jilbab dan busana muslim pun masih bisa di hitung dengan jari.
Namun sekarang, dengan cepat jilbab dan busana muslim dapat beradaptasi, bahkan timbul istilah baru yakni hijab (jilbab modis). Dengan menyerap tren yang ada di medan mode kontemporer seperti eksplorasi fashion timur tengah, etnik tradisional dan fashion internasional. Serta peran media massa dan internet yang sangat berpengaruh karena dapat memberikan informasi-informasi tren masa kini seputar jilbab dan busana muslim. Contohnya Youtobe yang bisa mengajarkan bagaimana cara mengeksplorasi dan mengkreasikan jilbab dan hijab. Sekarang bisa ditemukan banyak sekali tutorial jilbab dan hijab di Youtobe, baik yang berbahasa Inggris ataupun Indonesia. Cara memasang jilbab pasmina, jilbab segi empat, jilbab segitiga, jilbab langsung dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sejak selebritis Indonesia, Inneke Koesherawati yang sebelumnya adalah seorang ikon seks memutuskan untuk berhijab pada akhir tahun 1990-an. Hasilnya jilbab, hijab dan busana muslim menciptakan tren dalam dunia fashion Indonesia. Kondisi muslim/muslimah negara Indonesia yang lebih moderat dan toleran dibandingkan negara lainnya, menciptakan perubahan dalam segi kultur masyarakat.
Menurut Suzanne April Brenner, jilbab di Indonesia merupakan suatu peristiwa 100% modern, bahkan terlampau modern dimana perempuan berjilbab merupakan suatu tanda globalisasi, suatu lambang identifikasi orang Islam di Indonesia dan negara-negara lain di dunia modern ini, menolak tradisi lokal dalam hal berpakaian sekaligus juga menolak hegemoni dan fashionible Barat.
Hingga sampai hari ini pandangan orang mengenai jilbab terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama, yang tampaknya merupakan kelompok mayoritas adalah perempuan Islam yang senantiasa mengikuti perkembangan mode tanpa memperdulikan ketentuan-ketentuan syariat dalam hal menutup aurat. Mereka masih beranggapan bahwa jilbab itu kuno, ketinggalan zaman dan sebutan-sebutan lain yang kurang simpatik. Kelompok kedua diisi oleh perempuan Islam yang mengenakan jilbab secara kaku tanpa memperdulikan dan menafikan pentingnya mode jilbab, karena selama ini istilah mode menurut mereka mengandung konotasi jahili. Di antara kedua kelompok ini berkumpul wanita-wanita Islam Islam yang merasa terpanggil untuk berjilbab sesuai dengan tuntunan syariat, tetapi tidak menjauhkan diri dari mode busana wanita yang tengah berkembang.

REFERENSI
www.en.wikipedia.org
www.syariahpublications.com, Jilbab Antar Gaya dan Rekontruksi Diri, akses 2 September 2008, halaman 1
www.ajang-kita.com, Jilbab,Antara Gaul dan Pembungkus Aurat, akses 1 September 2008, halaman 1
Surtiretna, Nina, (1993) Anggun Berjilbab, Bandung: Al-Bayan

Tidak ada komentar:
Write komentar