Senin, 03 November 2014

Analisis Kasus Tessy Konsumsi Narkoba (2014) Berdasarkan Perpektif Psikologi

I. Gambaran Kasus
Tepatnya hari Jumat tanggal 23 Oktober 2014 sekitar jam 22.00 WIB. Tessy ditangkap oleh jajaran Direktorat Tindak Pidana Narkotika IV Bareskrim Polri di kawasan Bekasi. Tessy atau pemilik nama asli Kabul Basuki tersandung kasus narkotika jenis sabu. Tessy pelawak yang berusia 66 tahun ini ditangkap bersama 3 orang lainnya karena terbukti telah membawa narkoba. Berdasarkan pengakuannya kepada polisi, Tessy sudah lima kali berpesta narkoba bersama kedua rekannya Pudji Sapto dan Ahmad Jamhari. Barang bukti berupa dua bungkus sabu seberat 1,6 gram telah ditemukan polisi di jok belakang mobilnya, tepatnya di dalam kotak kacamata. Selain itu juga telah diamankan barang bukti lain berupa alat penghisap sabu (mong), satu mobil milik Tessy, handphone ketiga tersangka, buku tabungan milik Tessy dan print out rekening tiga bulan terakhir milik Pudji Sapto. Karena perbuatannya itu Tessy dijerat pasal berlapis dan terancam hukuman paling lama 20 tahun penjara atau seumur hidup sebab memiliki dan mengkonsumsi barang haram tersebut. Berdasarkan alat bukti yang ditemukan, Tessy melanggar pasl 114 ayat (1) juncto Pasal 132 ayat (1) subsider pasal 112 ayat (1) juncto pasal 132 ayat (1) lebih subsider pasal 127 Undang-Undang RI No 35 tahun 2009 dengan hukuman minimal 4 tahun. Sementara untuk kedua tersangka lainnya yaitu, Pudjo dan Jamhari dijerat pasal 114 ayat (1) juncto pasal 132 ayat (1), subsider pasal 112 ayat (1) juncto pasal 132 ayat (1) lebih subsider pasal 131 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Yang mengejutkan, Tessy ternyata mencoba untuk bunuh diri ketika di grebek polisi. Agus Riyanto Kombes Polisi mengatakan Tessy sempat meminta izin ke kamar mandi saat akan diamankan. Tapi ternyata ketika berada di dalam kamar mandi dia meminum cairan pembersih untuk kloset. Tessy sempat mengeluh sakit begitu keluar dari kamar mandi dan langsung muntah-muntah. Karena percobaan bunuh diri ini, mulai dari kerongkongan, lambung dan usus 12 jari Tessy bermasalah. Tessy langsung dilarikan ke Rumah Sakit Polri Soekanto, Kramat Jati, Jakarta Timur untuk menjalani perawatan atas percobaan bunuh dirinya. Meski sekarang kondisinya sudah membaik, namun masih belum terlalu maksimal dalam berkomunikasi. Butuh waktu satu sampai dua pekan untuk bisa menyembuhkan luka ditenggorokannya. Sebenarnya Tessy bukan anggota srimulat pertama yang terjerat kasus narkoba. Sebelumnya, sahabat Tessy sesama anggota srimulat juga berurusan dengan barang haram tersebut. Sebut saja Gogon, Doyok  dan Polo pernah merasakan dinginnya penjara karena kasus yang sama. Bahkan, Polo sudah dua kali berurusan dengan narkoba. Ketika teman-temannya tersebut berkesempatan untuk menjenguk Tessy di ruang Cendrawasih I Rumah Sakit Polri Soekanto mereka mengungkapkan perihal ketidaktahuan mereka akan kebiasaan Tessy mengonsumsi narkoba. Di akui mereka bahwa ketika bertemu tanggal 19 Oktober silam, tidak ada yang aneh dari Tessy. Apa sebab sehingga Tessy nekat mengonsumsi narkoba juga tak mereka ketahui. Banyak rumor yang mengatakan bahwa faktor sepi pekerjaan menjadi salah satunya. Akan tetapi hal tersebut disanggah oleh Nunung. Ketika diwawancarai, Nunung mengatakan untuk off air masih ramai, Cuma memang tidak muncul di TV saja. Doyok pun menyarankan untuk mengklarifikasi secara langsung kepada Tessy. Tanya kepada Tessy kalau dia sudah sehat. Sampai sekarang tidak ada yang tahu latar belakang yang pasti penyebab Tessy Srimulat mengonsumsi sabu. Gogon, sahabat seperjuangan Tessy mengungkapkan bahwa alasan Tessy mengonsumsi Sabu kemungkinan besar karena sepi tawaran pekerjaan. Mungkin juga mantan tentara (TNI Angkatan Laut untuk pembebasan Irian Barat pada tahun 1961-1963) itu masih merasa terbebani karena kasus dengan KPI beberapa tahun lalu. Yakni kasus mengenai teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terhadap Tessy (akhir tahun 2008) karena perannya yang meniru perilaku setengah laki-laki dan setengah perempuan itu. KPI juga beranggapan leluconnya di anggap jorok, berlebiha dan melecehkan wanita. Banyolan Tessy yang di semprit KPI itu saat dia memakai balon berisi air sebagai payudara kemudian dia sodor-sodorkan ke lawan main prianya. Sempat dia mengatakan, sejak di singgung KPI, sangat jarang tawaran pekerjaan datang. Hal ini tidak membuat dia kesal. Hanya saja dia menilai kebijakan KPI ini sebagai pembunuhan karakter sekaligus mematikan rezekinya. Tessy sangat menyayangkan keputusan itu. Dia merasa tidak mendapatkan keadilan. Kenapa KPI menegurnya sementara tokoh-tokoh lain di luar Srimulat yang kadang jauh lebih kelewetan malah di diamkan.

II. Hasil Analisa Kasus
Saya memilih kasus ini sebagai bahan dalam melengkapi tugas ulangan tengah semester kesehatan mental karena saya melihat di Indonesia sekarang sangat banyak sekali artis-artis yang tersangkut dengan kasus NAPZA (Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya) dengan berbagai macam latar belakang. Mulai dari hanya sekedar mencoba-coba hingga akhirnya kecanduan, terpengaruh dengan lingkungan yang hedonis dan pergaulan yang akrab dengan obat-obatan atau karena anggapan bahwa narkoba dapat menghilangkan rasa lelah dan stres yang mereka alami. Seorang artis yang sering menjadi sorotan publik seharusnya bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Tessy bukan satu-satunya artis yang tersangkut kasus narkoba. Sangat banyak sekali artis-artis di Indonesia yang sudah tersangkut kasus narkoba. Memang kasus narkoba sekarang sangat memprihatinkan. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Anang Iskandar, mengatakan di dunia ada 315 juta orang usia produktif atau berumur 15 sampai 65 tahun yang menjadi pengguna narkoba. Data ini berdasarkan UNODC, yaitu organisasi dunia yang menangani masalah narkoba dan kriminal. Selain itu, ada 200 juta orang meninggal dunia setiap tahunnya akibat narkoba. Hal ini diakibatkan karena akibat jumlah narkoba yang beredar cukup besar dan pengguna narkoba yang memperoleh pemulihan masih relatif kecil. Sementara, di Indonesia sendiri angka penyalahgunaan narkoba mencapai 2,2 persen atau 4,2 juta orang pada tahun 2011. Mereka terdiri dari pengguna coba pakai, teratur pakai, dan pecandu. Meskipun begitu, menurut Anang, pada aspek pemberantasan peredaran gelap narkoba, menunjukkan adanya peningkatan hasil pengungkapan kasus dan tersangka kejahatan serta pengungkapan tindak pidana pencucian uang yang berasal dari kejahatan narkoba. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, telah terungkap 108.107 kasus kejahatan narkoba dengan jumlah tersangka 134.117 orang. Hasil pengungkapan tindak pidana pencucian uang sebanyak 40 kasus dngan nilai aset yang disita sebesar Rp163,1 miliar. Sementara untuk upaya pencegahan, kata Anang, telah dilakukan upaya peningkatan ekstensifikasi dan intensifikasi komunikasi, informasi dan edukasi mulai dari kalangan usia dini sampai dewasa di seluruh pelosok Indonesia. Pencegahan itu dilakukan dengan memanfaatkan sarana media cetak, online, elektronik maupun tatap muka secara langsung kepada masyarakat. 
Fakta-fakta tersebut mengartikan bahwa narkoba di Indonesia adalah kasus yang sangat memprihatinkan, sampai-sampai banyak artis top Indonesia yang tersandung kasus narkoba. Seperti pesinetron Revaldo (2006), Roy Martin (2007), Gary Iskak pemain film d’Bijis (2007), Sammy vokalis Kerispatih (2010), Yoyo Padi (2011), Andika vokalis Kangen Band (2011) dan masih banyak yang lainnya.
Menurut saya, banyak alasan yang mengakibatkan seseorang masuk kedalam dunia obat-obatan terlarang. Namun untuk kasus yang saya ambil mengenai Tessy Srimulat. Saya lebih yakin bahwa penyebab dia menikmati barang haram itu karena Coping Stres. Tessy mencoba untuk mencari pelarian atau pelampiasan yang dia rasa jika dia melakukan hal tersebut maka perasaan lebih tenang dan damai dari stres akan datang. Stres didefinisikan oleh Lazarus dan Folkman (1984) dalam Townsend (2003) sebagai hubungan antara seseorang dengan lingkungannya yang dinilai oleh individu tersebut sebagai harga atau sesuatu yang di luar kemampuannya yang dapat membahayakan kesejahteraaannya. Selye (1976) dikutip dari Lewis, Heitkemper dan Dirksen (2004) menyatakan stres adalah segala situasi dimana tuntutan non spesifik mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan. Sedangkan Coping didefinisikan sebagai upaya kognitif yang berubah secara konstan untuk mengelola tindakan tuntutan eksternal dan atau internal tertentu yang dinilai berat dan melebihi sumber daya (kekuatan) seseorang (Lazarus & Folkman, 1984). 
Strategi coping stres merupakan suatu upaya indivdu untuk menanggulangi situasi stres yang menekan akibat masalah yang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kogntif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya sendiri. Coping yang efektif umtuk dilaksanakan  adalah coping yang membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan dan tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya (Lazarus & Folkman). 
Menurut Lazarous dan koleganya (Lazarous dan Folkman, 1984). mengidentifikasi dimensi coping menjadi dua yaitu
1. Coping yang berfokus pada masalah (problem focused coping)
Yaitu mencakup tindakan secara langsung untuk mengatasi masalah atau mencari informasi yang relevan dengan solusi.
2. Coping yang berfokus pada emosi ( emotion focused coping)
Merujuk pada berbagai upaya untuk mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stres, contohnya dengan mengalihkan perhatian dari masalah, melakukan relaksasi, atau mencari rasa nyaman dari orang lain.
Jenis-jenis coping yang konstruktif dan destruktif
1. Coping yang bersifat destruktif adalah coping yang bersifat merusak, ataupun menimbulkan efek negatif pada diri kita. Coping negatif dapat menimbulkan persoalan lagi di kemudian hari.
2. Coping yang bersifat konstruktif adalah coping yang baik dan bermanfaat. Koping positif ini digunakan agar bisa menjadi lebih dewasa, matang dan bahagia. Seperti melakukan hal yang positif, melakukan hobi seperti memasak, menyanyi, latihan menari dan sebagainya.
Tessy termasuk orang yang melakukan coping stres secara desktruktif, dia menggunakan narkoba dengan harapan bisa lebih tenang dan melupakan permasalahannya sejenak. Namun sebenarnya coping negatif dapat menimbulkan permasalahan lagi di kemudian hari. Itu kenapa dia di tangkap oleh Polisi ketika sedang mengonsumsi narkoba. 


III. Referensi :
Jess, Gregory Feist, 2010, Teori Kepribadian Edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika
http://pamangsah.blogspot.com/2008/10/strategi-coping-pengguna-narkotika-dan.html
http://www.tempo.co/read/news/2014/10/28/064617739/Nyabu-Pelawak-Tessy-Ditangkap-Polisi
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/516363-bnn--pengguna-narkoba-di-indonesia-capai-4-2-juta-orang
http://dedeh89-psikologi.blogspot.com/2013/04/koping-coping-stress.html
http://silvinamar.wordpress.com/2013/04/19/coping-stress-mengatasi-situasi-menekan/

Tidak ada komentar:
Write komentar