Rabu, 01 Oktober 2014

Ilmu Sidik Jari. Ilmiah atau tidak?



Setelah mengetahui sejarah dan macam-macam pengaplikasian ilmu sidik jari. Melalui metode telaah pustaka dan sumber dari banyak artikel di internet, penulis mencoba untuk menyampaikan beberapa argumen dan fakta mengenai ilmiah atau tidaknya ilmu sidik jari tersebut.
1. Penulis lebih setuju mengatakan bahwa Dactyloscopy dan Dermatogyliphic adalah ilmiah sedangkan Dermatoglyphic Multiple Intellegence dan Fingerprint Analysis adalah tidak ilmiah. Saya mengutip pendapat dari Pak Sarlito Wirawan Sarwono bahwa dari sejumlah 40.000 jurnal psikologi yang tersimpan di Asosiasi Psikologi Amerika (APA) tidak ditemukan adanya hubungan sidik jari dengan bakat, kepribadian atau kecerdasan anak. Menurut Sarlito, tidak bisa diverifikasi bagaimana hubungan antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karir, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variable seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, termasuk faktor bawaan. Pandangan bahwa kepribadian ditentukan oleh faktor bawaan (nativisme) sudah lama ditinggalkan oleh Psikologi .Teori yang berlaku sekarang adalah bahwa kepribadian ditentukan oleh pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Karena itu untuk memeriksanya diperlukan proses yang panjang (metode psikodiagnostik, assessment) dan biaya yang lumayan banyak.
2. Adanya faktor mencari keuntungan yang membuat stimulus yang berlebihan seolah-olah  tes sidik jari adalah 100% ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan karena berdasarkan penelitian dengan jangka waktu yang panjang.  Bahkan ada beberapa yang  mengklaim tingkat akurasi kebenaran mencapai 87%. Kalau benar demikian maka tes sidik jari ini sungguh luar biasa. Seorang ibu yang sudah mengetahui seluruh rahasia kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, tinggal ongkang-ongkang kaki karena dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai dengan petunjuk hasil Tes Sidik Jari, dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti pada orangtua, beriman, bertakwa, saleh/salehah. Seolah-olah promotor tersebut mengatakan bahwa Tes Sidik Jari bisa menentukan kehidupan seseorang. Padahal kembali lagi ke poin pertama di atas, ada faktor lingkungan yang mempengaruhi perilaku seseorang bukan dari faktor genetis melulu.
3. Bukan maksud penulis untuk memojokkan satu pihak dan mendukung pihak yang lain, hanya saja hal ini merupakan pendapat penulis pribadi yang mungkin benar dan mungkin juga salah. Karena pada dasarnya ada paradigma (world-view) tersendiri untuk mengatakan sesuatu ilmiah dan tidak ilmiah. Seperti Prof Sarlito dan ilmuwan psikologi lainnya, terutama yang beraliran barat, akan melihat personaliti sebagai ilmu perilaku (aliran behaviorism).  Segalanya mesti bisa diukur berdasarkan perilaku yang tampak.  Unsur-unsur potensial yang tersembunyi tidak bisa dijadikan patokan.  Sehingga kalau kembali kepada rumus  100% Fenotip = 20% Genetik + 80% Lingkungan, maka aliran Prof Sarlito adalah yang 100% Fenotip,  sedangkan Finger Print, aliran yang 20% Genetik. Dalam konsep Finger Print, 20% Genetik itulah yang aktif mencari lingkungan yang mendukung faktor genetiknya. Perbedaan world-view ini merupakan perbedaan yang tidak pernah tuntas di dunia akademik.  Perbedaan itu dikenal dengan Nature vs Nurture.  FingerPrint penganut Nature, sedangkan Prof Sarlito penganut Nurture.
Perbedaan tersebut selaras dengan perbedaan: 1. Barat menganut Teori Evolusi Darwin bahwa manusia berasal dari monyet, sedangkan agamawan menganut teori eksistensi bahwa manusia pertama adalah Adam, juga selaras dengan 2. Stephen Hawking (fisikawan Barat) menganggap surga cuma dongeng, sedangkan agamawan meyakini keberadaan surga. World-view Barat seperti Darwin dan Hawking tersebut selaras dengan world view Behaviorism-nya Prof Sarlito. Konsep ini yang menjadi aliran Nature (ada campur tangan Allah dalam cetakan genetik manusia) sebagaimana yang saya anut, bahwa setiap manusia punya jalan sendiri-sendiri sesuai dengan genetiknya. Sedangkan aliran Nurture-nya Prof Sarlito akan mengatakan bahwa sepenuhnya manusia dapat dibentuk menjadi apapun, sepanjang bisa mengawal penggemblengan (menciptakan lingkungan sesuai keperluannya).  Menurutnya manusia dibentuk oleh pengalaman hidupnya.  Jika mempelajari manusia pelajarilah pengalamannya.

REFERENSI :

http://www.iami-india.com/dermatoglyphics.php
http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/19/analisis-minat-dan-potensi-anak-dengan-tes-sidik-jari-mungkinkah-364038.html
http://jojimmy.net/2012/05/14/dermatoglyphics-facts/
http://mushikutsuka.blogspot.com/2013/01/tes-sidik-jari-menggunakan-dmi.html
http://fingerprinttest.blogspot.com/
http://lihatsidikjarimu.wordpress.com/2011/02/12/apa-itu-fingerprint-analysis-analisa-sidikjari-2/
http://stifinlamongan.blogspot.com/2012/01/tes-sidik-jari-stifin-penipuan.html
 

Tidak ada komentar:
Write komentar