Jumat, 17 Oktober 2014

Pandangan Saya Mengenai Sinetron Ganteng Ganteng Serigala ‘14



Akhir-akhir ini pertelevisian Indonesia di hebohkan oleh kabar berita tentang Penghentian sementara penayangan sinetron Ganteng Ganteng Serigala (GGS) di SCTV oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selama tiga hari berturut-turut (21, 22 dan 23 Oktober 2014). Hal ini sangat menarik untuk diperhatikan karena dari pihak Komisi Penyiaran Indonesia sendiri menjelaskan secara terang-terangan bahwa sinetron Ganteng Ganteng Serigala (GGS) telah melakukan pelanggaran pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) pada tayangan 16 Agustus 2014. Pada episode tersebut sinetron ini menayangkan adegan seorang remaja perempuan melompat ke dalam api serta adegan remaja laki-laki dan remaja perempuan yang mengenakan seragam sekolah berpelukan di lingkungan sekolah. Padahal, adegan bermesraan dan berpelukan dengan menggunakan seragam sekolah di lingkungan sekolah ini sebelumnya sudah ditemui di tanggal 30 Mei 2014. Maka dari itu KPI berkesimpulan bahwa sinetron Ganteng Ganteng Serigala bertentangan dengan etika yang ada di lingkungan pendidikan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 6 ayat 2 huruf b dan Pasal 37 ayat 1 dan 2 SPS. Dikarenakan sinetron Ganteng Ganteng Serigala ini telah mendapat sanksi administratif sebanyak 2 (dua) kali, yakni pada 20 Mei 2014 dan 16 Juni 2014, maka pelanggaran yang timbul selanjutnya mengakibatkan sinetron ini harus dihentikan sementara.
Sementara itu menurut pandangan Piaget (Ilmuwan Psikolog berkebangsaan Swiss), terdapat dua proses yang mendasari perkembangan seorang individu, yakni melalu Asimilasi dan Akomodasi. Asimilasi adalah ketika individu menggabungkan suatu informasi yang di terima kedalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan Akomodasi adalah individu menyesuaikan diri dengan dengan informasi tersebut. Dari dua proses itulah seorang individu belajar. Terlebih lagi pada masa anak-anak, proses pembelajaran melalui asimilasi dan akomodasi tersebut terjadi berangsur-angsur. Anak belajar dari apa yang mereka tonton sehari-hari. Sehingga saya merasa bahwa permasalahan penayangan sinetron Ganteng Ganteng Serigala ini patut untuk di bawa ke permukaan dan ditindak lanjuti. Mengingat isi dan komposisi dari sinteron tersebut sangat tidak mendidik.
Selain itu, para orang tua zaman sekarang sebaiknya lebih memperhatikan dan menyeleksi tayangan-tayangan yang berkualitas untuk anak-anaknya bukan malah ikut-ikutan keasikan nonton Sinetron yang isinya hanya khayalan belaka. Pikiran orang tua sebaiknya lebih terbuka akan pentingnya pengaruh tontonan televisi terhadap perkembangan kognitif dan emosi anak. Kemudian guru di sekolah, guru dapat menjelaskan kepada siswa-siswi nya bahwa tidak ada manfaat menonton tayangan sinetron Ganteng Ganteng Serigala dan sejenisnya, yang ada hanyalah keuntungan yang di dapat oleh pihak produsen dan sebaliknya guru bisa memberikan rekomendasi tayangan apa saja yang layak dan bermanfaat untuk di tonton. Ini semua kita lakukan demi mencerdaskan bangsa kita. Boleh menonton, namun jadikan tontonan tersebut hanya sebagai hiburan semata dan ditonton untuk di saat-saat tertentu saja. Bukan untuk di tiru ataupun di terapkan di kehidupan kita. Karena mengingat banyak aspek-aspek negatif yang akan timbul jika kita mengimplementasikan hal tersebut di kehidupan kita. Misalnya agresifitas yang meningkat, pergaulan bebas, hedonisme dan sebagainya.

Referensi
http://spiritriau.com/view/Pendidikan/15432/KPI-Hentikan--Sinetron-Ganteng-ganteng Serigala.html#.VDwEOxa0PIU
http://tabloidbintang.com/articles/film-tv-musik/kabar/13463-kpi-berhentikan-sinetron-gantengganteng-serigala
http://rideralam.com/2014/10/12/akhirnya-kpi-hentikan-tayangan-sinetron-ganteng-ganteng-srigala


Jumat, 10 Oktober 2014

Contoh Review Jurnal Psikologi



I.A. Judul Penelitian
Jurnal Penelitian Kualitatif
  B. Nama Penulis
Fitria Ismali (Universitas Negeri Gorontalo)
  C. Nama Jurnal
Deskripsi Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Dalam Pembelajaran Matematika Di Kelas V SDN 6 Bulango Selatan Kabupaten Bone Bolango

II.Latar Belakang masalah
Pendidikan  menjadi kebutuhan  yang  primer,  karena  dengan  arus  globalisasi  yang  semakin  pesat, manusia  harus  dapat  mengikuti  perkembangan  zaman.  Salah  satu  cara  yang ditempuh  adalah  dengan  belajar.  Dengan  belajar,  manusia  diharapkan  dapat menyerap  informasi  sebanyak-banyaknya  melalui  pembelajaran  dan  dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di  samping  itu,  siswa atau pembelajar harus bisa ikut  berpartisipasi,  ikut  mencoba  dan  melakukan sendiri  yang  sedang  dipelajari.  Pembelajaran  yang  mengacu  pada  pembelajaran aktif  adalah  jika  guru  mampu  menciptakan  suatu  kondisi  belajar  yang memungkinkan  siswa  berkembang  secara  optimal.  Salah  satu  metode pembelajaran yang biasa diterapkan guru dalam kelas di SDN 6 Bulango Selatan adalah  metode  ceramah. Pembelajaran  matematika  dengan  metode  ceramah cenderung  meminimalkan  keterlibatan  siswa  dalam  belajar  dan  siswa  menjadi kurang aktif. Kenyataan  ini  nampak  pada  siswa  kelas  V  di  SDN  6  Bulango  Selatan, sebagian  siswa  mengalami  kesulitan  belajar  mata  pelajaran matematika. Agar  ketuntasan belajar  siswa  dapat  tercapai  salah  satu  upaya  yang  dilakukan  adalah  dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran  kooperatif  yang  di  maksud  adalah  model  pembelajaran kooperatif  tipe  STAD (Student Team Achievement Divisions).  Pembelajaran  kooperatif  tipe  STAD  adalah  salah  satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana,dan merupakan model yang paling  baik  untuk  permulaan  bagi  guru  yang  baru  menggunakan  pendekatan kooperatif (Slavin, 2010:143). Slavin  (dalam  Asma,  2006:51)  menjelaskan  bahwa  model  pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Divisions), siswa ditempatkan dalam  kelompok  belajar  beranggotakan  empat  atau  lima  orang  siswa  yang merupakan  campuran  dari  kemampuan  akademik  yang  berbeda,  sehingga  dalam setiap  kelompok  terdapat  siswa  yang  berprestasi  tinggi,  sedang  dan  rendah  atau variasi jenis kelamin, kelompok ras dan etnis, atau kelompok sosial lainnya.

III. Masalah/ Pertanyaan Penelitian
-

IV. Hipotesis
-

V. Metode
- Jenis/ Metode Penelitian
Metode pendekatan fenomenologis dengan jenis  penelitian  kualitatif,  maksudnya  bahwa  dalam  penelitian  ini  peneliti berusaha  memahami  arti  sebuah  peristiwa  dan  kaitannya  terhadap  objek penelitian.
- Metode Pengambilan Data
Sebelum dilakukan pengambilan dan pengumpulan data. Data keseluruhan dikelompokkan terlebih dahulu menjadi 2 jenis data, yaitu :
1. Data  primer,  merupakan  informasi  utama  dalam  penelitian,  meliputi  seluruh data  kualitatif  yang  diperoleh  melalui  kegiatan  observasi,  wawancara  dan dokumentasi.  Dalam  hal  ini,  yang  menjadi  data  penelitian  adalah  deskripsi penerapan  model  pembelajaran  kooperatif  tipe  STAD  dalam  pembelajaran matematika di kelas V SDN 6 Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango.
2. Data  sekunder,  merupakan  data  yang  diperoleh  melalui  buku–buku  referensi berupa  pengertian–pengertian  dan  teori–teori  yang  ada  hubungannya  dengan permasalahan yang sedang diteliti. Yang menjadi sumber data adalah guru dan siswa.
Adapun  prosedur  pengumpulan  data  dalam  penelitian  ini  antara  lain observasi, wawancara dan dokumentasi.
1. Observasi
Observasi merupakan langkah awal dalam melakukan penelitian, observasi dilakukan untuk mengetahui secara detail tentang lokasi maupun kondisi tempat (sekolah) yang akan di teliti baik dari segi siswa, guru bahan ajar, sumber belajar, lingkungan belajar dan sebagainya.
2. Wawancara
Wawancara  sebagai  alat  penilaian  digunakan  untuk  mengetahui  pendapat, aspirasi,  harapan,  prestasi,  keinginan,  keyakinan  dan  proses  belajar  siswa.Kegiatan  wawancara  dilakukan  secara  langsung  yaitu  mengadakan  tanya  jawab dengan  responden  seperti  guru,  siswa  dan  ditunjang  dari  berbagai  data  lainnya. Instrumen  pedoman  wawancara  dilakukan  secara  terstruktur  untuk  mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
3. Dokumentasi
Dokumen  diartikan  sebagai  suatu  catatan  tertulis/gambar  yang  tersimpan tentang  sesuatu  yang  sudah  terjadi.  Dokumentasi  merupakan  bukti  fisik  berupafoto  yang  diambil  pada  saat  mengadakan  penelitian,  dalam  kegiatan  observasi, wawancara, dan pengamatan proses pembelajaran.
- Metode Analisis Data
Sedangkan analisis data dalam penelitian ini, Milles dan Hubberman (dalam Tohirin, 2012 : 141) menjelaskan bahwa analisis data merupakan langkah-langkah untuk  memproses  temuan  penelitian  yang  telah  ditranskripkan  melalui  proses reduksi  data,  yaitu  data  disaring  dan  disusun  lagi,  dipaparkan,  diverifikasi  atau dibuat kesimpulan.

VI. Hasil Penelitian
Peneliti  mengamati  bahwa  guru  sudah  baik  dalam  menggunakan  model pembelajaran  kooperatif  tipe  STAD,  mulai  dari  menyampaikan  tujuan  dan memotivasi  siswa  terlihat  sangat  baik,  menyajikan  materi,  mengorganisasikan siswa  ke  dalam  kelompok  kooperatif,  evaluasi,  dan  sampai  pada  penghargaan kelompok terlihat baik. Meskipun dalam kegiatan membimbing kelompok bekerja dan  belajar  masih  cukup,  namun  penerapan  model  pembelajaran  kooperatif  ini dapat terlaksana dengan baik, karena sebagian besar langkah-langkah dari model kooperatif tipe STAD, dilaksanakan dengan baik. Namun dalam proses pembelajaran guru sering mendapati siswa yang sulit untuk diatur, terlihat hanya bermain dan tidak aktif dalam mengerjakan tugas kelompok,  sehingga  seringkali  teman-teman  kelompoknya,  ataupun  kelompok yang  lain  merasa  terganggu.  Sedangkan  untuk  siswa,  dalam  mengerjakan  tugas kelompok  terkadang  siswa  merasa  sulit  atau  kurang  paham  dalam  mengerjakan tugas  yang  diberikan  oleh  guru,  hal  ini  karena  guru  belum  maksimal  dalam membimbing  kelompok  untuk  bekerja  dan  belajar.  Karena  guru  hanya  sesekali membimbing  siswa  dalam  kelompok,  guru  kebanyakan  hanya  duduk  di  depan kelas dan menyuruh siswa bertanya apabila ada yang belum dipahami. peneliti mengamati  bahwa  penerapan  model  pembelajaran  kooperatif  tipe  STAD  dalam pembelajaran  matematika,  pada  materi  pecahan  telah  dilaksanakan  dengan  baik, terdiri dari 6 (enam) langkah utama yaitu: Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa,  menyajikan/menyampaikan  materi,  mengorganisasikan  siswa  dalam kelompok  belajar,  membimbing  kelompok  bekerja  dan  belajar,  evaluasi,  dan memberikan penghargaan. Dampak dari pembelajaran tersebut dapat dilihat atau diamati dengan jelas ketika proses pembelajaran berlangsung, yaitu guru ataupun siswa  sudah   menerapkan  langkah-langkah  model  pembelajaran  kooperatif  tipe STAD  dengan   benar,  sehingga  proses  pembelajaran  berjalan  dengan  baik, interaksi  guru  dengan  siswa,  siswa  dengan  siswa  terlihat  baik,  selain  itu  siswa dapat berinteraksi dan bekerja sama dalam kelompok.

VII.Review/ Komentar
Secara konten keseluruhan jurnal ini sudah terlihat sangat baik dalam hal mendeskripsikan apa yang ingin disampaikan oleh peneliti. Karena penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan metode secara kualitatif yakni dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Deskripsi yang detail dan mendalam tentang kasus merupakan sebuah keharusan bagi peneliti kualitatif. Kemudian dari segi struktural, meskipun dalam penelitian kualitatif narasi yang disampaikan berdasarkan dengan kebutuhan penelitian, namun akan lebih baik lagi jika ditambahkan poin masalah atau pertanyaan penelitian. Hal ini tentunya akan membantu peneliti untuk mempermudah dalam hal mengkategorikan atau mengklasifikasikan tujuan penelitiannya. Seperti pertanyaan “bagaimana cara menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Stad dalam pembelajaran Matematika di kelas V SDN 6 Bulango Selatan Kabupaten Bone Bolango?” dan “mengapa siswa Matematika di kelas V SDN 6 Bulango Selatan Kabupaten Bone Bolango memerlukan model pembelajarn kooperatif tipe Stad?” .

VIII. Abstrak Jurnal
Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  penerapan  model  pembelajaran  kooperatif  tipe  STAD  dalam  pembelajaran  matematika,  telah  dilaksanakan  dengan  baik, terdiri  dari  6  (enam)  langkah  utama  yaitu:  Menyampaikan  tujuan  pembelajaran dan  memberi  motivasi,   menyajikan  materi,  mengorganisasikan  siswa  dalam kelompok  belajar,  membimbing  kelompok  bekerja  dan  belajar,  memberikan evaluasi, dan memberikan penghargaan. Dampak dari pembelajaran tersebut dapat dilihat  atau  diamati  dengan  jelas  ketika  proses  pembelajaran  berlangsung,  yaitu guru  ataupun  siswa  sudah   menerapkan  langkah-langkah  model  pembelajaran kooperatif  tipe  STAD  dengan   benar,  sehingga  proses  pembelajaran  berjalan dengan baik, interaksi guru dengan siswa, siswa dengan siswa terlihat baik, selain itu siswa dapat berinteraksi dan bekerja sama dalam kelompok.
Kata  kunci  :  Penerapan,  Model  pembelajaran  kooperatif  tipe  STAD, pembelajaran matematika.

IX. Referensi
Asma,  Nur.  2006.  Model  pembelajaran  kooperatif.  Jakarta:  Depertemen Pendidikan Nasional
http://nopiwanabadi.blogspot.com/2011/5/hakikat-pembelajaranmatematika.html
Jonson,  D.  W.,  &  Johnson,  R.1991,  Learning  Together  and  Alone,  Cooperative and individualisti learning. Boston: Allyn and Bacon.
Sagala,  Syaiful,  2009,  Konsep  dan  Makna  Pembelajaran  Untuk  Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar, Alfabeta, Bandung
Tohirin.  2012.  Metode  Penelitian  Kualitatif  Dalam  Pendidikan  dan  Bimbingan Konseling    Pendekatan  Praktid  untuk  Peneliti  Pemula  dan  Dilengkapi dengan  Contoh  Transkip  Hasil Wawancara  Serta  Model  Penyajian  Data.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Trianto.  2009.  Mendesain  Model  Pembelajaran  Inovatif  Progresif:  Konsep,Landasan,  dan  Implementasinya  Pada  Kurikulum  Tingkat  Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Madia Group
Wardhani,  Sri.  2008.  Paket  fasilitasi  pemberdayaan  kkg/mgmp  matematika Analisis si dan skl mata pelajaran matematika smp/mts untuk optimalisasi tujuan mata pelajaran matematika.  Yogyakarta: Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Matematika.

Rabu, 01 Oktober 2014

Ilmu Sidik Jari. Ilmiah atau tidak?



Setelah mengetahui sejarah dan macam-macam pengaplikasian ilmu sidik jari. Melalui metode telaah pustaka dan sumber dari banyak artikel di internet, penulis mencoba untuk menyampaikan beberapa argumen dan fakta mengenai ilmiah atau tidaknya ilmu sidik jari tersebut.
1. Penulis lebih setuju mengatakan bahwa Dactyloscopy dan Dermatogyliphic adalah ilmiah sedangkan Dermatoglyphic Multiple Intellegence dan Fingerprint Analysis adalah tidak ilmiah. Saya mengutip pendapat dari Pak Sarlito Wirawan Sarwono bahwa dari sejumlah 40.000 jurnal psikologi yang tersimpan di Asosiasi Psikologi Amerika (APA) tidak ditemukan adanya hubungan sidik jari dengan bakat, kepribadian atau kecerdasan anak. Menurut Sarlito, tidak bisa diverifikasi bagaimana hubungan antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karir, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variable seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, termasuk faktor bawaan. Pandangan bahwa kepribadian ditentukan oleh faktor bawaan (nativisme) sudah lama ditinggalkan oleh Psikologi .Teori yang berlaku sekarang adalah bahwa kepribadian ditentukan oleh pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Karena itu untuk memeriksanya diperlukan proses yang panjang (metode psikodiagnostik, assessment) dan biaya yang lumayan banyak.
2. Adanya faktor mencari keuntungan yang membuat stimulus yang berlebihan seolah-olah  tes sidik jari adalah 100% ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan karena berdasarkan penelitian dengan jangka waktu yang panjang.  Bahkan ada beberapa yang  mengklaim tingkat akurasi kebenaran mencapai 87%. Kalau benar demikian maka tes sidik jari ini sungguh luar biasa. Seorang ibu yang sudah mengetahui seluruh rahasia kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, tinggal ongkang-ongkang kaki karena dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai dengan petunjuk hasil Tes Sidik Jari, dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti pada orangtua, beriman, bertakwa, saleh/salehah. Seolah-olah promotor tersebut mengatakan bahwa Tes Sidik Jari bisa menentukan kehidupan seseorang. Padahal kembali lagi ke poin pertama di atas, ada faktor lingkungan yang mempengaruhi perilaku seseorang bukan dari faktor genetis melulu.
3. Bukan maksud penulis untuk memojokkan satu pihak dan mendukung pihak yang lain, hanya saja hal ini merupakan pendapat penulis pribadi yang mungkin benar dan mungkin juga salah. Karena pada dasarnya ada paradigma (world-view) tersendiri untuk mengatakan sesuatu ilmiah dan tidak ilmiah. Seperti Prof Sarlito dan ilmuwan psikologi lainnya, terutama yang beraliran barat, akan melihat personaliti sebagai ilmu perilaku (aliran behaviorism).  Segalanya mesti bisa diukur berdasarkan perilaku yang tampak.  Unsur-unsur potensial yang tersembunyi tidak bisa dijadikan patokan.  Sehingga kalau kembali kepada rumus  100% Fenotip = 20% Genetik + 80% Lingkungan, maka aliran Prof Sarlito adalah yang 100% Fenotip,  sedangkan Finger Print, aliran yang 20% Genetik. Dalam konsep Finger Print, 20% Genetik itulah yang aktif mencari lingkungan yang mendukung faktor genetiknya. Perbedaan world-view ini merupakan perbedaan yang tidak pernah tuntas di dunia akademik.  Perbedaan itu dikenal dengan Nature vs Nurture.  FingerPrint penganut Nature, sedangkan Prof Sarlito penganut Nurture.
Perbedaan tersebut selaras dengan perbedaan: 1. Barat menganut Teori Evolusi Darwin bahwa manusia berasal dari monyet, sedangkan agamawan menganut teori eksistensi bahwa manusia pertama adalah Adam, juga selaras dengan 2. Stephen Hawking (fisikawan Barat) menganggap surga cuma dongeng, sedangkan agamawan meyakini keberadaan surga. World-view Barat seperti Darwin dan Hawking tersebut selaras dengan world view Behaviorism-nya Prof Sarlito. Konsep ini yang menjadi aliran Nature (ada campur tangan Allah dalam cetakan genetik manusia) sebagaimana yang saya anut, bahwa setiap manusia punya jalan sendiri-sendiri sesuai dengan genetiknya. Sedangkan aliran Nurture-nya Prof Sarlito akan mengatakan bahwa sepenuhnya manusia dapat dibentuk menjadi apapun, sepanjang bisa mengawal penggemblengan (menciptakan lingkungan sesuai keperluannya).  Menurutnya manusia dibentuk oleh pengalaman hidupnya.  Jika mempelajari manusia pelajarilah pengalamannya.

REFERENSI :

http://www.iami-india.com/dermatoglyphics.php
http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/19/analisis-minat-dan-potensi-anak-dengan-tes-sidik-jari-mungkinkah-364038.html
http://jojimmy.net/2012/05/14/dermatoglyphics-facts/
http://mushikutsuka.blogspot.com/2013/01/tes-sidik-jari-menggunakan-dmi.html
http://fingerprinttest.blogspot.com/
http://lihatsidikjarimu.wordpress.com/2011/02/12/apa-itu-fingerprint-analysis-analisa-sidikjari-2/
http://stifinlamongan.blogspot.com/2012/01/tes-sidik-jari-stifin-penipuan.html