Jumat, 26 September 2014

Pandangan secara psikologis tentang Ilmu Weton



Sebelum masuk ke pembahasan apakah weton itu ilmiah atau tidak. Ada baiknya kita memahami konsep weton jawa terlebih dahulu. Menurut kepercayaan Jawa, arti dari suatu peristiwa (kelahiran, nasib buruk dan nasib baik, percintaan dll) dan karakter dari seseorang yang lahir dalam hari tertentu dapat ditentukan dengan menelaah saat terjadinya peristiwa tersebut menurut berbagai macam perputaran kalender tradisional. Salah satu penggunaan yang umum dari metode ramalan ini dapat ditemukan dalam sistem hari kelahiran Jawa yang disebut wetonan. Weton anda merupakan gabungan dari tujuh hari dalam seminggu (Senin, selasa sampai minggu) dengan lima hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Perputaran ini berulang setiap 35 (7 x 5) hari, sehingga menurut perhitungan Jawa hari kelahiran anda berulang setiap lima minggu dimulai dari hari kelahiran anda.
Kemudian apakah weton itu ilmiah atau tidak?
1. Konsep validasi subjektif, di uji pertama kali oleh psikolog Bertram R. Forer. Forer memberikan tes kepribadian kepada siswa-siswi di sebuah kelas. Setelah itu, analisis kepribadian di bagikan ke masing-masing anak. Dia mengatakan kepada siswanya bahwa hasil tes kepribadian itu unik (berbeda satu dengan yang lain) sesuai dengan hasil tes sebelumnya. Kemudian mereka di minta untuk memberikan skor hasil analisis kepribadian yang mereka terima. Skala 0 (sangat buruk) – 5 (sangat baik) kesesuainnya dengan mereka. Hasilnya rata-rata skor penilaian satu kelas terhadap analisis yang mereka terima adalah 4,26, 85% akurat. Padahal ternyata, Forer memberikan hasil analisis yang sama persis kepada setiap siswa. Kemudian timbul pertanyaan, kenapa hasilnya bisa akurat dengan kepribadian mereka? Karena Barnum Statement, yaitu pernyataan-pernyataan yang sangat umum atau masih samar. Contoh hasil analisis Forer yang menggunakan Barnum Steatment adalah kamu punya kebutuhan untuk disukai dan dipuja orang lain, beberapa impian mu cenderung tidak realistis, kamu punya potensi besar yang belum kamu manfaatkan sebaik mungkin, kamu adalah pemikir mandiri dan tidak menerima perkataan orang lain tanpa bukti yang jelas. Hal ini selain berlaku pada ramalan weton, banyak juga berlaku di ramalan-ramalan semacamnya seperti ramalan zodiak. Ini mengartikan bahwa konsep weton tidak ilmiah, buktinya adalah eksperimen yang di lakukan oleh Forer.
2. Tidak jelas bagaimana asal muasal dan siapa penciptanya. Karena konsep weton pada dasarnya adalah hasil dari akumulasi kerpcayaan dan kebudayaan Kejawen nenek moyang. Tidak ada teori dan metodologi penelitian yang jelas dalam menemukan ilmu weton ini. Sehingga konsep weton ini sendiri terlepas dari persyaratan ilmiah nya sebuah ilmu yakni objektif,  metodis, sistematis dan universal. Dari banyak artikel, blog dan buku yang sudah saya baca, tidak ada satupun yang bisa menjelaskan bagaimana asal muasal dan siapa penciptanya, pada tanggal, bulan dan tahun berapa di ciptakannya. Sehingga sangat sulit untuk di buktikan kebenaran dan kepastiannya, karena weton merupakan hasil dari subjektifitas turun temurun masyarakat Jawa jaman dahulu.
3. Kemudian timbul pertanyaan kenapa hasil ramalan weton kadang banyak yang benar-benar terjadi. Contohnya seperti larangan bagi sepasang kekasih untuk menikah karena hasil perhitungan wetonnya tidak sesuai atau akan mendapat kesialan jika diteruskan untuk menikah. Sedikit berhubungan dengan poin pertama di atas, karena weton adalah hasil akumulasi kepercayaan dan kebudayaan Kejawen. Dalam ilmu psikologi sesuatu akan bisa benar-benar terjadi jika mereka meyakini dan percaya bahwa hal tersebut memang bisa benar-benar terjadi. Lebih spesifiknya bisa kita tinjau dari teori Sigmund Freud suatu informasi yang sudah masuk kedalam alam bawah sadar seseorang baik itu yang bersumber dari persepsinya sendiri atau alam tidak sadarnya, maka hal tersebut akan menjadi beliefnya. Dan tentunya hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat sugestibilitas seseorang, semakin sering informasi ini masuk ke alam bawah sadarnya, maka beliefnya tertanam semakin kuat sehingga memunculkan upaya-upaya yang bisa menyebabkan kesialan atau apa yang sudah diramalkan tadi.


REFERENSI :

http:// www.zenius.net
http:// kiyomi-marin.blogspot
Feist, Jess and Gregory, 2010. Teori Kepribadian Theoris of personality. Jakarta Selatan : Salemba Humanika
 

Tidak ada komentar:
Write komentar