Tuesday, 30 September 2014

Sejarah Ilmu Sidik Jari

Dermatoglyphic berasal dari bahasa yunani yang dibagi menjadi dua kata, yakni derma yang berarti kulit dan glyph yang berarti ukiran. Ilmu ini mendasarkan pada teori epidermal atau garis-garisan pada permukaan kulit. Dermatoglyphics adalah sebuah ilmu yang dihasilkan dari beberapa penelitian, sehingga ilmu ini meyakini bahwa garis-garis atau gelombang-gelombang yang ada pada permukaan kulit (jari tangan, jari kaki, telapak tangan dan telapak kaki) mengisyaratkan DNA dari sel otak atau kondisi genetis seseorang dan potensi kecerdasan seseorang.
Para ilmuwan yang memberikan banyak sumbangsih dalam penelitian tentang ilmu dermatologyphic ini antara lain :
1. John Evangelist Purkinje (1823)
Seorang profesor di Universitas Breslau, Jerman. Beliau mengklasifikasikan pola sidik jari kedalam 9 kategori dan memberi nama pada masing-masing kategori, yaitu : arch, tented arch, ulnar loop, radial loop, peacock’s eye/compound, spiral whorl, elliptical whorl, circular whorl, and double loop/composite. Meskipun beliau hanya bisa mengklasifikasikan sidik jari kedalam 9 kategori, tetapi kontibusi beliau sangat penting untuk penelitian selanjutnya.
2. Hermann Welcker (1856)
Seorang antropolog asal Jerman dan profesor di Univesitas Halle. Beliau memulai penelitiannya dengan membuat cetakan tangan kanannya sendiri pada tahun 1856 dan kemudian pada tahun 1897.
3. Sir William Herschel James (1858)
Pegawai Pemerintah Inggris yang bekerja di Bengal. Mengamati bahwa permukaan tangan itu bergaris-garis, dan bahwa sidik jari tiap orang itu khas, serta tak berubah.
4. Dr Henry Faulds (1880)
Dr Faulds menerbitkan sebuah artikel dalam Journal Ilmiah, "nautre" (alam). Dia membahas sidik jari sebagai alat identifikasi pribadi, dan penggunaan printer tinta sebagai metode untuk mendapatkan sidik jari tersebut.
5. Sir Francis Galton (1893)
Seorang penulis buku pertama tentang sidik jari. Selain itu dia juga mampu menerapkan metode statistik untuk mempelajari perbedaan manusia dan warisan kecerdasan. Sebagai penyidik ​​dari pikiran manusia, Sir Galton mendirikan psikometri (ilmu tentang pengukuran kemampuan mental) & diferensial psikologi bersama dengan hipotesis leksikal kepribadian. Dia menemukan cara untuk mengklasifikasi sidik jari yang memberikan kontribusi baik dalam ilmu forensik.
6. Sir Edward Richard Henry (1894)
Inspektur Jenderal Polisi untuk Provinsi Bawah, Bengal, berkolaborasi dengan Galton pada metode klasifikasi sidik jari. Ketika sistem klasifikasi dikembangkan dan terbukti efektif itu diverifikasi untuk dilakukan review komparatif antropometri dan sidik jari. Sistem ini bernama Henry Classification System dan itu terbukti menjadi tonggak awal dalam pemetaan sidik jari.
Sehingga dari sini dikenal istilah Dactyloscopy, diambil dari bahasa yunani, dactylos yang berarti jari jemari/garis jari dan scopein artinya mengamati atau meneliti. Dari pengertian tersebut kemudian diambillah sebuah istilah dari bahasa inggris Dactyloscopy yaitu ilmu penggunaan sidik jari sebagai alat identifikasi yang diperlukan dalam pelaksana hukum modern. Termasuk didalamnya adalah membersihkan jari dengan bensin, mengeringkannya, kemudian menggulingkannya ke permukaan gelas yang telah dilapisi tinta cetak. Selanjutnya jari-jari itu dengan hati-hati di tempelkan ke kartu hingga menghasilkan cetakan abu-abu terang dengan jarak antara guratan terbaca jelas sehingga bisa dihitung dan dilacak. Untuk mencari sidik jari tersembunyi yang ditinggalkan oleh penjahat, dikenal sebagai sidik jari laten, ahli sidik harus menemukan lokasi sidik, mengawetkan, dan mengidentifikasi cetakan sidik jari tersebut. Dalam sidik jari laten, guratan-guratan itu tidak direproduksi dengan tinta, tetapi zat lain seperti keringat, lemak kotoran, atau bahan-bahan alami lain yang ada pada jari si penjahat. Kebanyakan sidik jari laten tidak berwarna karenanya perlu dibuat kasat mata dengan mengoleskan bubuk abu-abu atau hitam yang berisi kandungan kapur atau jelaga di campur dengan zat lain. Selanjutnya sidik jari laten itu difoto atau diangkat dengan selotip untuk disimpan sebagai bukti. Hingga tahun 1960 sistem Galton Henry ini digunakan oleh Kepolisian di Indonesia.
7. Dr Harold Cummins (1926)
Seorang ilmuwan Amerika, memberikan kontribusi yang signifikan untuk mengambil ilmu ini ke tingkat yang lebih tinggi. Ia dikenal sebagai ayah dari analisis sidik jari. Dialah yang menciptakan istilah Dermatoglyphics yang berasal dari bahasa yunani, Derma berarti kulit dan Glyph berarti ukiran. Ilmu ini mendasarkan pada teori epidermal atau garis-garisan pada permukaan kulit. Bentuk lain dari ilmu sidik jari yang penggunaanya lebih mengarah kepada kelainan dalam kromosom yang menunjukkan keabnormalan atau kelainan pada sidik jari penderitanya. Namun bukan beliau yang menemukan ilmu ini. Hanya saja beliau membangun dan mengumpulkan dasar-dasar yang telah ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan sebelumnya khususnya Francis Galton dan HH Wilder. Dia dikenang untuk penelitiannya pada sindrom Down di mana ia menunjukkan bahwa Dermatoglyphics dapat membantu dalam mengidentifikasi pasien-pasien.
8. Sarah B Holt (1968)
Seorang dokter dan melakukan studi di bidang pola sidik jari dan menulis sebuah buku berjudul “The Relationship Between Total Ridge Count And The Variability Of Counts From Finger To Finger”. Dia menyebutkan bahwa pembentukan Ridge di bulan keempat janin dan bagaimana perhitungan harus dibuat tentang hal itu.
Sampai sekarang ilmu tentang sidik jari terus berkembang, dari teknik analisis Sidik Jari yang awalnya hanya untuk identifkasi fisik, berkembang menjadi teknik identifikasi psikis (kejiwaan) juga, contohnya DMI (Dermatoglyphic Multiple Intellegence) dan Fingerprint Analysis. Ilmuwan Inggris Sir Francis Galton, sepupu Sir Charles Darwin. Dia percaya bahwa kepribadian ditentukan oleh bakat-bakat yang dibawa sejak lahir dan bakat-bakat itu terukir di sidik jari setiap orang. Maka ia menerbitkan buku “Finger prints” (1888) dan memperkenalkan klasifikasi sidik jari yang dihubungkan dengan klasifikasi kepribadian. Hasil penelitian Galton itulah yang mendasari terciptanya Dermatoglyphic Multiple Intellegence dan Fingerprint Analysis.

REFERENSI :
http://sidikjariindonesia.com/sejarah-dermatoglyphics-analisa-sidikjari.html
http://mydna-jaktim.com/2013/06/sejarah-ilmu-dermatoglyphics/
http://www.uniquefingerprint.com/2010/11/sejarah-erkembangan-ilmu.html
http://maisaromanis.wordpress.com/2010/01/08/penemuan-sidik-jari/
http://primagamabogor.blogspot.com/2011/11/penjelasan-dermatoglyphics-multiple.html
http://widhihandoko.com/?p=380
http://gabohong.blogspot.com/2011/12/sejarah-ditemukannya-sidik-jari.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Dermatoglyphics
 

No comments:
Write komentar