Sabtu, 22 Maret 2014

PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN LINGUISTIK

Dalam bab ini kami akan menjelaskan tentang perkembangan kognitif dan lingustik yang kebanyakan membahas tentang perkembangan anak dan remaja berkaitan tentang kemampuan fisik, kognitif, sosial, dan emosional pada perkembangan manusia. Perkembangan kemampuan berpikir dan penalaran yang semakin canggih seiring bertambahnya usia (perkembangan kognitif) dan perkembangan pemahaman, penggunaan bahasa yang semakin canggih seiring bertambahnya usia (perkembangan linguistik).

Pahami dulu : Tahapan Perkembangan Manusia dari Lahir Hingga Menjelang Kematian

1). PRINSIP-PRINSIP DASAR PERKEMBANGAN MANUSIA
  • Urutan perkembangan sedikit banyak dapat di ramalkan.
Perkembangan manusia seringkali dicirikan oleh tonggakan perkembangan perilaku-perilaku baru yang semakin kompleks seiring meningkatnya tahap perkembanganyang muncul dalam urutan yang dapat diramalkan. Sebagai contoh anak-anak lazimnya mulai belajar berjalan hanya setelah mereka mampu berdiri dan merangkak. Dalam batas tertentu kita melihat keseragaman dalam tahap perkembangan pola yang serupa dalam hal bagaimana anak berubah seiring waktu terlepas dari perbedaan lingkungan tempat anak-anak tersebut tumbuh dan berkembang.
  • Anak-anak berkembang dalam kecepatan yang berbeda
Penelitian deskriptif memberikan informasi mengenai usia rata-rata saat anak-anak nemcapai berbagai tonggak perkembangan. Sebagai contoh anak pada umumnya dapat menggambar bujur sangkar dan bentuk-bentuk segitiga pada usia 3 tahun, mulai menggunakan pengulangan sebagai cara mempelajari informasi pada usia 7 atau 8 tahun, dan mulai memasuki masa puber pada usia 10 tahun (anak perempuan) atau 11 tahun (anak laki-laki). Meski demikian tidak semua anak mencapai perkembangan pada usia yang sama. Beberapa anak mencapai lebih dini dan bahkan lebih lambat.
  • Perkembangan itu terkadang terjadi dengan cepat, terkadang juga lambat.
Perkembangan tidak terjadi dalam kecepatan yang konstan. Suatu petumbuhan yang relatif cepat dapat diselingi dengan pertumbuhan yang lambat. Contoh anak mungkin berbicara dengan kosakata yang terbatas. Hanya dalam rentang beberapa minggu, kosakata si anak berkembang dengan pesat dan kalimat yang di ucapkannya pun menjadi semakin panjang.
  • Faktor hereditas (keturunan), dalam batas tertentu mempengaruhi perkembangan.
Hereditas terus mempengaruhi perkembangan anak sepanjang proses kematangan yakni mulai berkembangnya perubahan-perubahan yang di kontrol secara genetis ketika anak berkembang. Contoh keterampilan motorik seperti berjalan, berlari, dan meloncat.
  • Faktor-faktor lingkungan juga memberikan kontribusi yang penting terhadap perkembangan.
Kondisi-kondisi lingkungan bahkan dapat mempengaruhi karakteristik yang sebagian besar dikendalikan oleh faktor hereditas. Contoh sekalipun tinggi badan tubuh merupakan karakteristik yang di wariskan, kadar gizi dalam makanan yang di santap anak akan mempengaruhi tinggi dan bentuk tubuh yang spesifik. Kebudayaan juga berpengaruh penting dalam sistem perilaku dan keyakinan yang menjadi karakteristik kelompok sosial dan kebudayaan juga mempengaruhi perilaku individu anak.
  • Hereditas dan lingkungan saling berinteraksi membentuk perilaku individu.
Banyak peneliti berupaya membandingkan pengaruh hereditas dan lingkungan yang kerap disebut nature versus nurture (bawaan & lingkungan). Meski demikian para psikolog menyadari bahwa hereditas dan lingkungan saling berinteraksi dan tidak dapat dipisahkan karena gen membutuhkan dukungan lingkungan agar dapat beroperesi.

Baca juga : Tahapan Perkembangan Manusia dari Lahir Hingga Menjelang Kematian

2). PERAN OTAK DALAM PEMBELAJARAN PERKEMBANGAN
Otak manusia adalah organ rumit mencakup 100 milyar sel. Sel sarat tersebut disebut dengan neuron yang berukuran sangat kecil dan saling terhubung satu sama lain.
Urutan kerja otak atau neuron adalah sebagai berikut :
  1. Sejumlah neuron menerima informasi dari bagian tubuh lain.
  2. Sebagian lain mensintesiskan dan menafsirkan info tersebut
  3. Sebagian lain mengirimkan cara merespon yang tepat sesuai dengan kondisi yang ada
Contoh sewaktu kita berjalan melihat paku, mungkin kita akan berhenti dan mengambilnya. Lalu di buang ke pinggir jalan atau kita mengabaikannya dan terus berjalan. Artinya saraf mata melihat sesuatu (paku), dia menerima informasi. Neuron yang lain mensintesiskan dan menafsirkan informasi tersebut untuk berhenti atau berlalu. Setelah informasi diterima dan ditafsirkan, neuron yang lain akan mengirimkan pesan pada tubuh.

3). TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT PIAGET
A. ASUMSI-ASUMSI DASAR :
- Anak-anak pembelajar aktif dan termotivasi.
- Anak-anak mengaplikasikan pengetahuan berdasarkan pengalaman.
- Anak-anak belajar melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
- Anak-anak suka system mengajar seperti penemuan.
- Anak-anak membutuhkan interaksi apapun itu, untuk meningkatkan kepekaan menangkap informasi. Sebagai contoh orang yang berbeda, maka argument nya pasti berbeda juga.
- Anak-anak berkembang step by step.
- Anak-anak berpikir berbeda pada umur yang berbeda.
- Tahap Sensorimotor (0-12 tahun). Anak-anak fokus pada apa yang dilakukan dan mereka lihat.
- Tahap Praoperasional (2-6 atau 7 tahun). Anak-anak bisa memikirkan peristiwa di luar jangkauan mereka. Tapi belum bisa bernalar logis. Di dalam tahapan ini, anak juga mulai bersifat intuitif yaitu proses dimana anak mulai sering merasa penasaran dan bertanya-tanya tentang apa yang mereka lihat, rasakan dan dengarkan.
- Tahap Operasional Konkret (6 atau 7 tahun sampai 12 tahun). Sudah mempunyai pemikiran yang mantap tentang apa yang akan mereka alami. Anak-anak mempertajam kemampuan berpikirinya. Sadar bahwa pemikirannya tidak selalu di terima orang lain.
- Tahap oprasional formal (usia 11 atau 12 tahun hingga dewasa). Pada tahap ini anak-anak dan remaja sudah dapat memikirkan dan membayangkan konsep-konsep yang tidak berhubungan dengan realitas konkret. Selain itu mereka juga mengenali kesimpulan yang logis yang berbeda dari kenyataan dunia sehari-hari.
C. PERSPEKTIF TERKINI TENTANG TEORI PIAGET
Beberapa asumsi piaget misalnya, bahwa anak mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri tentang dunia, bahwa mereka harus menghubungkan pengalaman-pengalaman baru dengan hal-hal yang telah mereka ketahui dan perjumpaan dengan fenomena yang membingungkan mendorong mereka mengubah pemahaman mereka telah bertahan melewati ujian waktu. Dalil Piaget bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam tahap-tahap telah memicu sejumlah penelitian lanjutan yang secara umum penelitian tersebut mendukung dalil piaget mengenai sekuensi (urutan) munculnya kemampuan yang berbeda-beda. Contohnya bayi dan balita tampaknya memiliki kompeten lebih daripada yang dikemukakan piaget dalam deskripsinya tentang tahap sensorimotor dan praoprasional. Piaget mungkin juga agak meremehkan kemampuan-kemampuan anak sekolah dasar karena terkadang menunjukan kemampuan berpikir abstrak dan hipotesis. Namun sebaliknya Piaget melebih-lebihkan kemampuan-kemampuan anak remaja. Dalam hal ini, pengalaman membantu anak belia memperoleh kemampuan penalaran oprasional formal, manipulative-manipulatif (concrete manipulative) dapat membantu anak-anak berusia 9 tahun memahami hakikat umum proporsi. Di masa sekarang ini sebagian besar ahli meyakini bahwa perkembangan kognitif lebih tepat digambarkan sebagai tren yang terjadi secara berangsur-angsur. Hakikat perkembangan kognitif mungkin bersifat spesifik, tergantung konteks, area isi, dan kebudayaan yang berbeda-beda.

4). TEORI VYGOTSKY TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF
Teori ini menjabarkan berbagai peran penting interaksi anak dengan orang dewasa dan rekan-rekan sebayanya, yang meningkatkan perkembangan kognitif. Lev Vygotsky melaksanakan banyak studi mengenai proses berpikir anak-anak sejak tahun 1920 hingga kematiannya yang dini akibat tuberculosis pada tahun 1934 saat ia berusia 37 tahun. Sekalipun Vygotsky belum mengembangkan teorinya secara utuh, gagasan-gagasannya memliki dampak signifikan pandangan kita mengenai perkembangan anak, pembelajaran dan praktik belajar mengajar (intrusional practice).
A. ASUMSI-ASUMSI DASAR VYGOTSKY
Dalam pengalaman Piaget, anak-anak memegang kendali terhadap perkembangan kognitif mereka sendiri. Sebaliknya Vygotsky bahwa orang-orang dewasa di masyarakat mendorong perkembangan kognitif anak secara sengaja dan sistematis, serta menekankan pentingnya masyarakat dan budaya dalam mendorong pertumbuhan kognitif sehingga teorinya sering disebut sebagai perspektif sosiokultur (socialculture perpective).
Melalui sekolah formal yang menjadi sarana para guru untuk secara sistematis menanamkan gagasan, konsep-konsep, dan percakapan informal adalah sebuah metode yang lazim digunakan orang dewasa untuk menyampaikan kepada anak bagaimana kebudayaan mereka menafsirkan dan merespon dunia. Vygotsky mengemukakan bahwa saat berinteraksi dengan anak-anak, orang-orang dewasa membagikan makna (meaning) yang mereka lekatkan dengan objek, peristiwa dan secara lebih umum, ke pengalaman manusia. Setiap kebudayaan menanamkan perangkat-perangkat fisik dan kognitif yang menjadikan kehidupan sehari-hari semakin produktif dan efisien. Tidak hanya mengajari anak cara-cara spesifik pengalaman tetapi juga mengajari sejumlah prangkat (tools) spesifit yang dapat membantu anak mengatasi masalah yang dihadapi.
Pemikiran dan bahasa menjadi semakin interpenden dalam tahun-tahun pertama kehidupan. Vygotsky mengemukakan bahwa pikiran merupakan fungsi-fungsi yang terpisah bagi bayi dan anak kecil yang baru belajar berjalan. Saat pikiran dan bahasa mulai menyatu anak sering berbicara pada diri mereka sendiri yang di kenal sebagai self talk. Proses-proses mental yang kompleks bermula sebagai aktivitas-aktivitas sosial seiring berkembangnya, anak-anak secara berangsur-angsur menginternalisasikan proses-proses yang mereka gunakan dalam konteks-konteks sosial dan mulai menggunakannya secara indipenden. Proses berkembangnya aktivitas-aktivitas sosial menjadi aktivitas-aktivitas mental internal yang disebut internalisasi. Anak-anak dapat mengerjakan tugas-tugas yang menantang bila di bimbing oleh seseorang yang lebih berkompeten dan lebih maju daripada mereka. Vygotsky membedakan menjadi dua jenis kemampuan yang mencirikan kemampuan anak pada segala tahap perkembangan yaitu,tingkat perkembangan aktual (actual developmental level) dan tingkat perkembangan potensial (level of potential development).
Permainan memungkinkan anak berkembang secara kognitif. Dalam sebuah permainan, anak selalu berada dalam usia di atas usianya yang sesungguhnya, di atas perilakunya sehari-hari, dalam sebuah permainan, anak seolah-olah lebih tinggi dari tingginya yang sebenarnya (Vygotsky, 1978, hlm.102). Sebagai contoh permainan restoran, di dalam permainan tersebut mereka seolah-olah mampu untuk memasak, membaca, menulis, matematika dan kemampuan organisasional yang di perlukan untuk menjalankan sebuah restoran. Dalam kehidupan nyata, skenario tersebut tentunya tidak mungkin terjadi, jarang sekali anak berusia 5 tahun memiliki kemampuan seperti itu. Bermain pada usia anak seperti itu bukanlah aktivitas yang membuang-buang waktu, melainkan wadah sebagai pelatihan bagi anak guna menghadapi masa dewasanya kelak.
B. PERSPEKTIF TERKINI TENTANG TEORI VYGOTSKY
Menurut para peneliti teori Vygotsky sangat sulit untuk diuji dan diverifikasi di karenakan teori Vygotsky yang sedikit sekali menyinggung karakteristik-karakteristik spesifik yang cenderung ditampilkan anak-anak pada usia tertentu. Sebaliknya menurut, para ahli dan pendidik kontemporer teori Vygotsky mengandung banyak wawasan dan manfaat. Salah satunya tentang beragam cara kebudayaan mempengaruhi perkembangan kognitif. Kebudayaan membimbing anak kea rah-arah tertentu dengan mendorong pusat perhatian mereka kepada stimuli tertentu serta mendorong untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas tertentu. Kebudayaan memberikan suatu lensa untuk menafsirkan dan memandang pengalaman-pengalaman mereka dalam cara yang sesuai dengan budaya mereka. Yang terpenting kebudayaan mempengaruhi proses berpikir mereka.
  • Konstruksi Makna Secara Sosial.
Menurut Vygotsky orang dewasa perlu membantu anak untuk melekatkan makna ke berbagai objek dan peristiwa di sekeliling mereka. Interaksi semacam itu biasa disebut pengalaman belajar yang dimediasi (mediated learning experience) yaitu diskusi antara orang dewasa dengan anak, dimana orang dewasa membantu anak untuk memahami suatu peristiwa yang mereka alami bersama. Contoh nya sering kita jumpai pada proses pembelajaran di sekolah dasar, ketika anak mengkontruksi pikiran mereka secara bersama-sama dengan guru mengenai pelajaran plus minus hitungan matematika atau ketika melakukan anak-anak melakukan perjalanan wisata ke museum purbakala.
  • Scaffolding
Perancah (scaffold) adalah perangkat yang berfungsi sebagai penyangga (tempat berpijak) bagi para pekerja hingga bangunan itu sendiri telah cukup kuat untuk menyangga mereka. Saat kestabilan bangunan mulai meningkat, perancah akan di kurangi secara bertahap. Berikut ini adalah beberapa mekanisme yang dapat mendukung siswa untuk menguasai tugas-tugas yang berada dalam zona perkembangan proksimal mereka :
  • Bantulah siswa mengembangkan rencana dalam mengerjakan suatu tugas baru.
  • Tunjukkanlah cara mengerjakan tugas dengan benar, yang dapat ditiru siswa dengan mudah.
  • Bagilah suatu tugas yang kompleks menjadi sejumlah tugas-tugas yang lebih kecil dan sederhana.
  • Jagalah atensi siswa agar tetap terpusat pada aspek-aspek relevan dalam tugas.
  • Sering-seringlah memberikan umpan balik mengenai kemajuan siswa.
Seiring berlalunya waktu, scaffolding secara berangsur-angsur dihentikan, sehingga timbullah sebuah proses yang namanya fading atau pemudaran sampai siswa dapat sepenuhnya menyelesaikan tugas secara mandiri. Terkadang scaffolding melibatkan pemberian perangkat-perangkat kognitif baru kepada siswa, yang dapat mereka gunakan dalam mengerjakan tugas. Contohnya menulis, merupakan sebuah ranah yang di dalamnya penyediaan perangkat-perangkat kognitif dapat membuat suatu perbedaan besar dalam performa siswa (Scardamalia & Bereiter, 1985; Zellermayer, Salomon, Globerson & Givon, 1991)
  • Partisipasi Terbimbing dalam Akativitas-aktivitas Orang Dewasa
Dalam partisipasi anak-anak yang terliba dalam aktivitas-aktivitas orang dewasa akan melalui partisipasi terbimbing (guided participation). Menurut teori Vygotsky, keterlibatan yang bertahap dalam ativitas orang dewasa memungkinkan anak terlibat dalam perilaku-perilaku dan keterampilan berpikir. Partisipasi terbimbing dapat membantu mereka menghubungkan berbagai keterampilan dan kemampuan berpikir yang baru mereka terima dan berguna di kemudian hari.
  • Pemagangan (apprenticeship)
Saat seorang pemula bekerja bersama seorang pakar dalam jangka waktu yang cukup lama, dalam rangka mempelajari cara-cara melakukan berbagai tugas yang kompleks dalam suatu ranah tertentu. Melalui pemagangan, anak seringkali mempelajari tidak hanya cara melakukan suatu tugas, melainkan juga cara memikirkan tugas tersebut, situasi ini dikenal sebagai pemegangan kognitif (cognitive apprenticeship).
  • Interaksi dengan Rekan Sebaya
Bekerja bersama bersama teman sebaya memiliki manfaat tersendiri. Ketika mereka berdiskusi mereka melibatkan perdebatan dan ketidaksetujuan, mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas yang sulit ketika bekerja sama, dan anak-anak mempelajari nilai-nilai sosial tentang bagaimana merencanakan suatu usaha bersama dan sebagainya.

5). PERKEMBANGAN LINGUISTIK
Agar dapat berkomunikasi secara efektif, anak harus menguasai banyak aspek bahasa, termasuk makna dari ribuan kata, seperangkat aturan yang rumit mengenai bagamana cara merangkai kata-kata, dan aturan-aturan sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Pengetahuan dan keterampilan tersebut terus berkembang sepanjang masa-masa sekolah, dan seringkali dengan bimbingan guru. Pengetahuan siswa mengenai makna-makna kata disebut semantika. Terkadang pengetahuan anak-anak bersifat samar dan tidak akurat.
A. PERKEMBANGAN SINTAKSIS
Merupakan rangkaian peraturan yang digunakan seseorang yang seringkali tanpa disadari untuk menempatkan kata-kata menjadi kalimat. Kemudian, pragmatika merupakan pengetahuan mengenai konvensi-konvensi sosial yang khas budaya tertentu, yang berfungsi memandu interaksi verbal. Kesadaran metalinguistik harus dipelajari oleh anak-anak karena, kesadaran metalinguistik merupakan kemampuan memikirkan hakikat atau sifat bahasa itu sendiri.
B. PERKEMBANGAN KEMAMPUAN MENDENGARKAN
Kemampuan siswa memahami apa yang didengar dipengaruhi oleh pengetahuan mereka mengenai kosakata dan sintaksis, namun faktor-faktor lainnya juga berpengaruh. Pemahaman anak mengenai apa yang didengar seringkali dipengaruhi oleh konteks tempat mereka mendengarkan kata-kata tersebut. Cara mendorong perkembangan semantika ( makna kata-kata dan kombinasi-kombinasinya) siswa adalah mengajarkan kosakata-kosakata baru beserta definisinya secara langsung. Dengan menggunakan istilah-istilah baru dengan konsep yang beragam kita dapat mengoreksi setiap miskonsepsi yang terungkap dalam ucapan siswa. Perkembangan sintaksis aturan-aturan sintaksis memungkinkan kita untuk meletakkan berbagai kata sekaligus menjadi kalimat-kalimat yang memiliki tata bahasa yang yang tepat. Saat mencapai bangku SMP, mereka menggunakan sintaksis yang lebih rumit dalam tulisan mereka daripada dalam percakapan. Akibat pengajaran bahasa secara formal selama di SMU, siswa cenderung meraih peningkatan kemampuan berbicara dan menulis saat mereka mendapat banyak kesempatan mengekspresikan gagasan-gagasan secara lisan dan tulisan. Mereka juga menerima umpan balik langsung mengenai ambiguitas dan kesalahan-kesalahan tata bahasa dalam ucapan dan tulisan mereka. Perkembangan kemampuan mendengarkan anak-anak SD menganggap diri sebagai pendengar yang baik jika mereka telah duduk diam tanpa menginterupsi guru. Banyak anak-anak SD meyakini bahwa tidaklah tepat meminta klarifikasi dari guru, mungkin karena mereka sebelumnya pernah dimarahi karena mengajukan pertanyaan di sekolah atau di rumah.
Penting untuk tidak menanyai siswa apakah mereka memahami apa yang mereka dengar, namun juga mengecek pemahaman mereka dengan cara meminta mereka mengungkapkannya dengan cara lain dalam kata-kata mereka sendiri. Pada masa-masa awal SD, anak-anak memahami kata-kata secra harfiah. Contohnya, mereka belum mampu menyusun generalisasi dari sebuah peribahasa. Kemampuan siswa menafsirkan peribahasa secara abstrak dan tergeneralisasi akan terus berkembang bahkan selama di SMU.
C. PERKEMBANGAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI LISAN
Anak-anak yang masih belia terkadang mengucapkan kata-kata tanpa mempertimbangkan sudut pandangnya (Piaget menyebutnya pembicaraan egosentris). Ketika ucapan siswa tidak dapat kita pahami, sebagai guru kita harus membuat mereka menyadari hal tersebut dan menunjukkan kebingungan saat mereka menceritakan peristiwa-peristiwa atau gagasan-gagasan yang ambigu. Pragmatika, yakni konvensi-konvensi sosial yang mengarahkan interaksi lisan yang tepat dengan orang lain. Pragmatika mencakup peraturan-peraturan mengenai etiket, strategi-strategi mengawali dan mengakhiri percakapan, mengubah subjek pembicaraan, menceritakan kisah, dan berdebat secara efektif. Kurangnya keterampilan pragmatika bisa sangat menghambat hubungan siswa dengan rekan-rekannya. Sebagai guru, kita perlu mengamati ketrampilan pragmatika para siswa dan memberikan praktik terbimbing dalam setiap keterampilan yang belum mereka kuasai.
D. PERKEMBANGAN KESADARAN METALINGUISTIK
Permainan kata membantu siswa memahami kata-kata dan frase-frase yang seringkali memiliki lebih dari satu makna yang dapat mengembangkan kesadaran metalinguistik: kemampuan memikirkan hakikat bahasa itu sendiri. Tahun-tahun SD, siswa mampu menentukan kapan kalimat dapat diterima secara gramatikal dan kapan tidak bisa diterima. Masa SMP, mereka menyadari beragam fungsi kata dalam kalimat (kata benda, kata kerja, kata sifat, dsb). Siswa SMU, mempelajari hakikat kiasan kata dan makna kiasan.
E. MEMPELAJARI BAHASA KEDUA
Secara umum, pengenalan diri terhadap bahasa kedua tampaknya penting utnuk menguasai pelafalan yang tepat, terutama jika bahasa kedua tersebut sangatlah berbeda dengan bahasa asal si anak, selain itu, juga untuk menguasai konstruksi-konstruksi tata bahasa yang kompleks.
Bilingualisme, anak-anak bilingual artinya mereka berbicara dua (terkadang tiga atau lebih) bahasa secara fasih. Penelitian menunjukkan keuntungan-keuntungan nyata menjadi bilingual. Anak-anak bilingual menunjukkan keunggulan dalam perkembangan kesadaran metalinguistik. Pada masa awal SD, anak-anak bilingual memiliki kesadaran fonologis yang lebih besar- kesadaran terhadap bunyi-bunyi individual atau fonem, yang membentuk bahasa lisan. Mereka cenderung menunjukkan performa lebih baik dalam situasi-situasi yang memerlukan fungsi kognitif yang tinggi.
Bilingualisme juga memiliki keuntungan kultural dan personal. Penguasaan bahasa Inggris lisan maupun tulisan merupakan syarat mutlak keberhasilan jangka panjang dan keberhasilan karer. Penggunaan bahasa leluhur untuk menyampaikan sejarah lisan dan garis keturunan budaya. Bilingualisme memiliki manfaat sosial di kelas yakni, meningkatkan interaksi serta pemahaman lintas budaya diantara mereka.
6). KEBERAGAMAN DALAM PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN LINGUISTIK
Berdasarkan perspektif teori Vygotsky, zona perkembangan proksimal tiap anak berbeda-beda. Sebagai guru, kita harus terus mencermati kemampuan-kemampuan kognitif dan linguistik spesifik yang dimiliki anak serta menyesuaikan pengajaran sesuai kemampuan.
  • Perbedaan budaya dan etnik kebudayaan
Anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan formal, kemampuan konservasi dan kemampuan-kemampuan operasional konkret lainnya mungkin muncul lebih lambat dibandingkan anak-anak dalam kebudayaan barat. Keterampilan-keterampilan penalaran operasional dan pemikiran abstrak, pemisahan kontrol terhadap variabel dan juga bervariasi dalam tiap-tiap kebudayaan.
  • Menangani kebutuhan-kebutuhan khusus para pembelajar bahasa inggris
Idealnya, peralihan dari pengajaran dalam bahasa asli siswa ke pengajaran dalam bahasa resmi negara tersebut seharusnya terjadi secara berangsur-angsur dalam rentang waktu beberapa tahun, sehingga memungkinkan siswa imigran menjadi fasih dalam kedua bahasa.

1 komentar:
Write komentar
  1. masalah-masalahn yang kadang diderita anak-anak, membuat orang tua,guru dan teman sebaya, lainnya menyadari bahwa apa yang anak miliki bukan yang abnormal, tetapi anak yang sangat khusus dengan bakat sendiri. Dengan waktu, kesabaran dan perawatan orang tua, guru,akan menjadi berhasil dalam mendorong tingkat kepercayaan yang dimiliki anak. akan membantu anak dalam mengatasi masalah pelajarannya dan kembali menemukan kepercayaan yang hilang.

    BalasHapus