Selasa, 18 Maret 2014

CONTOH LAPORAN ANALISIS FILM PSIKOLOGI PENDIDIKAN



I.    PENDAHULUAN
Dalam bab 6 ini, kami akan mencoba untuk mengamati para siswa kelas lima berpikir dari perspektif orang lain (perspective taking) dalam diskusi-diskusi di kelas. Menurut kami ada dua unsur penting interaksi sosial efektif yang terlihat di dalam video tersebut.
- Kognisi Sosial: Anak-anak dan remaja harus terus-menerus mempertimbangkan bagaimana orang lain mungkin berpikir dan berperilaku dalam suatu situasi sosial. Mereka harus bisa menduga kemungkinan pikiran dan perasaan orang lain-yaitu, mereka harus terlibat dalam perspective taking (kemampuan berpikir dari sudut pandang orang lain). Dan mereka harus mengantisipasi bagaimana orang lain cenderung merespons berbagai tindakan yang mereka lakukan-misalnya, bagaimana orang lain mungkin merespons kata-kata yang baik dan gerak-isyarat yang memikat, di satu sisi, serta hinaan dan bahasa tubuh yang bermusuhan, di sisi lain.
- Keterampilan sosial: Anak-anak dan remaja harus juga mengetahui cara-cara spesifik berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Beberapa keterampilan sosial mencerminkan apa yang dianggap sebagai "sikap yang baik" bagi kebudayaan tertentu-mengatakan "silahkan" dan "terima kasih", tidak menginterupsi, dan sebagainya. Beberapa keterampilan sosial yang lain membantu menjaga agar alur komunikasi terbuka-misalnya, menunggu sampai diberi giliran untuk berbicara saat sebuah percakapan berlangsung dan menunjukkan minat terhadap apa yang sedang disampaikan orang lain. Yang lain lagi adalah perilaku-perilaku prososial yang ditujukan untuk memberikan manfaat yang lebih banyak bagi orang lain ketimbang diri sendiri-misalnya, memberikan pujian, bekerja sama dalam sebuah projek, atau menenangkan seseorang yang sedang mengalami tekanan.


II.    TRANSKRIP FILM 6
Guru: Mari kita berbicara tentang pelajaran ini. Pelajaran ini sedikit di luar kebiasaan. Ini berarti pada bagian awalnya kalian tidak menggunakan pensil. Pada bagian selanjutnya kalian baru akan menggunakan pensil. Sudah siap? Oke. Saya berharap kalian akan menyukai pelajaran ini. Saya menyukai pelajaran ini. Barangkali karena menarik. Terdapat beberapa kosa kata di papan. Kalian sudah pernah diperkenalkan dengan kata-kata itu. Kita sudah berbicara sedikit mengenai arti kata-kata tersebut. Kita membicarakan kata-kata itu sedikit di luar konteks. Tolong hal-hal ini diingat. Kita akan berjumpa lagi dengan kata-kata ini. Kemudian, kalian memiliki peta dalam buku kalian dan sebentar lagi saya akan meminta kalian membukanya. Saya akan memberitahu kalian halamannya. Ketika pelajaran ini selesai, apa yang saya harapkan ialah kalian akan jadi lebih paham. Geografi perang, Perang Saudara adalah topik kita. Saya ingin kalian memahami dengan lebih baik arti kata-kata ini, dan kalian benar-benar akan memahaminya. Saya ingin kalian memahami dinamika perang itu-mengapa terjadi, bagaimana perang itu berlangsung, dan mengapa perang itu berakhir dengan cara seperti itu. Kemudian, satu hal menarik di akhir pelajaran ini adalah, saya menghendaki supaya kalian memiliki beberapa pertanyaan bagus di kepala kalian yang tidak kita jawab hari ini. Ini seperti berjumpa seseorang untuk pertama kalinya. Kalian akan berjumpa lagi dengan topik Perang Saudara di SMP, SMA, atau universitas. Jadi ini hanyalah pengantar kecil mengenai Perang Saudara itu. Apakah kalian sudah siap? Kalian sudah memiliki sebuah peta kecil di sini. Sekarang kalian arahkan tatapan ke sini. Saya ingin menjelaskan kepada kalian mengenai seksionalisme, maksud saya adalah jika kalian berpikir tentang kata itu kalian menyadari bahwa akar kata itu adalah seksi (bagian). Memang kita pada dasarnya memiliki tiga bagian. Kita memiliki bagian yang kita namakan bagian Timur Laut. Kalian tahu tentang itu. Apakah kalian masih tidak bisa melihatnya? Kemudian kita memiliki bagian Tenggara di sini. Kemudian kita memiliki wilayah yang menuju ke Barat. Nah, ini keadaan pada awal tahun 1800-an. Jadi, ini kondisi lebih dari seratus tahun setelah para peziarah itu tiba, hampir dua ratus tahun. Namun, negara kita masih sangat muda. Jika kemudian kalian berpikir tentang cara orang hidup waktu itu dan apa yang tidak kita miliki dipandang dari segi perbekalan (makanan), hal apa yang setiap orang lakukan untuk keluarganya pada itu? Bagaimana ... apa yang mereka lakukan untuk mencari nafkah? Apa yang menurut kalian harus mereka semua kerjakan, seandainya kalian berpikir mengenai hal itu? Gunakan akal kalian. Menurut kamu? Candace?
Siswa: Bertani.
Guru: Bagus untukmu. Mereka semua harus bertani, bukan? Karena mereka harus ...
Siswa: Makan.
Guru: Makan. Mereka harus makan. Oke. Tetapi ada yang menarik. Orang-orang di bagian Timur Laut memang bertani, tetapi mereka memiliki pabrik-pabrik.
Guru: Oke, kita sudah berbicara tentang perbudakan. Nah, saya ingin kalian berpura-pura di dalam pikiran kalian bahwa kalian adalah budak. Oke? Salah satu masalah yang dimiliki oleh para budak, tentu saja, ialah bahwa mereka ingin bebas. Maka, mereka melakukan hal-hal yang akan ... dan seringkali mereka marah kepada para majikan mereka, karena mereka dipukul dan tidak dipedulikan sebagaimana seharusnya. Jika kam
u seorang budak, apa hal-hal yang mungkin telah kalian lakukan? Anthony, saya minta kamu duduk. Saya akan merasa lebih baik, dan saya berharap kamu pun demikian, jika kalian semua duduk di lantai. Saya takut kalian akan jatuh. Oke. Apa yang mungkin telah kalian lakukan jika kalian seorang budak diminta untuk membalas? Kita semua tahu apa artinya. Apa kata yang digunakan untuk usaha membalas?
Para siswa: Balas dendam.
Guru: Bagus. Oke. Bagaimana kalian bisa melakukan pembalasan terhadap seorang majikan? Menurut kalian?
Siswa: Menaruh batu ke dalam mesin-mesinnya.
Guru: Mereka merusak peralatan. Saya pikir itulah yang sedikit disinggung oleh Jesse. Ya, mereka akan merusak alat-alat. Masuk akal, bukan? Candace?
Siswa: Membakar hasil panen.
Guru: Mereka membakar hasil panen. Cukup serius. Apa itu ... itu jawabanmu? Mereka membakar hasil panen. Baik. Bagus. Apa lagi yang mungkin kalian lakukan? Chris?
Siswa: Mereka mencabut rumput-rumput liar daripada panenan.
Guru: Oke. Mereka ... baiklah, mari kita pikirkan pernyataan itu lagi. Mereka membiarkan ...
Siswa: Panenan.
Siswa: Bukan, mereka membiarkan ...
Siswa: Rumput-rumput liar.
Guru: Rumput-rumput liar, dan mencabut panenan, yang benar-benar merugikan majikannya.
Siswa: Mereka berteriak kepada para majikannya.
Guru: Ya, benar. Mereka berteriak. Maksud kalian para budak berteriak? Ya. Sekalipun, Camille, jika kita berpikir tentang pernyataan itu, jika kamu seorang budak dan kamu menduga bahwa kamu akan dipukul, akankah kamu berteriak kepada tuanmu atau melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi?
Siswa: Secara sembunyi-sembunyi.
Guru: Barangkali lebih baik jika kalian melakukan sesuatu ketika para majikan tidak dapat mendakwa atau memukul kalian. Oke. Jadi kita memiliki sekelompok orang di bagian Utara dan Selatan yang ingin membebaskan para budak. Mereka ingin supaya perbudakan berakhir. Orang-orang ini, dan hal ini harus kalian catat ... orang-orang ini disebut kaum abolisionis (pembebas). Kita tidak dapat berbicara tentang Perang Saudara tanpa berbicara tentang tokoh kita, Abe Lincoln, bukan? Kita tidak bisa melupakannya. Kita tidak boleh melupakannya. Jadi, pikirkan di kepalamu sekarang mengenai apa yang kalian pikirkan ketika kalian mendengar nama itu, karena nama itu membuat kita semua berpikir tentang sesuatu, saya yakin. Callie, katakan apa yang kamu pikirkan? Apakah ini pertanyaan yang sulit? Baiklah. Saya memberi kalian bantuan sedikit. Dapatkah kalian menggambarkan seperti apa orang ini berdasarkan gambar-gambar yang kalian sudah lihat? Tampak seperti apakah orang ini? Dia sepertinya ...
Siswa: Tinggi.
Guru: Ya, dia tinggi. Dia tinggi. Tingginya luar biasa, mungkin 6,4 kaki atau lebih. Lumayan tinggi. Baiklah. Apa lagi yang muncul di pikiran kalian mengenai orang ini?
Siswa: Kurus.
Guru: Ya, dia kurus. Kita memiliki satu kata dalam daftar kata-kata dua hari yang lalu, yang saya harap kalian masih ingat, yang menggambarkan cara dia kadang-kadang tampil dalam berapa gambar. Menurut kalian apa? Ada yang ingat? Tad, kamu masih ingat?
Siswa: Ahh, dia seperti orang yang ingin asyik dengan dirinya sendiri.
Guru: Oke. Dia adalah model pribadi yang suka menyendiri. Sebuah pengamatan yang bagus. Patrick.
Siswa: Berkerenyut.
Guru: Maaf, bisa diulang?
Siswa: Terdapat banyak keriput di wajahnya.
Guru: Dia baik. Dia bisa kelihatan sangat ... Dia bisa kelihatan berkeriputan. Dia bisa kelihatan sangat serius.
Siswa: Kurus kerempeng.
Guru: Dia kurus kerempeng. Dia kurus-kering dan ceking. Itulah kata yang saya pikirkan tentang dia. Jenny?
Siswa: Dia tampak sedih.
Guru: Tampak sedih.

III.    DESKRIPSI FILM
Diawal pelajaran seorang guru kelas lima menyampaikan harapannya kepada murid. Sang guru memancing siswanya untuk mengingat kembali pelajaran sebelumnya. Kemudian sang guru menjelaskan topik pembelajaran pada hari itu dan membuka proses berpikir para siswa dan memberitahukan bahwa pelajaran tersebut akan selalu ada ditingkat selanjutnya. Dalam proses pembelajaran sang guru mengajak para siswa untuk berimajinasi jika mereka berada pada situasi perang, gurunya bertanya bagaimana orang pada zaman perang bertahan hidup, apa yang mereka kerjakan , kemudian membuat murid-muridnya menjawab pertanyaan dari sang guru. Kemudian guru meminta para muridnya untuk berspekulasi mengenai bagaimana perasaan dan pikiran mereka jika menjadi budak. Lalu guru memberikan pertanyaan dengan cepat agar siswanya merespon kemudian guru menyebutkan salah satu tokoh Abe Lincoln  dan siswa mendreskripsikan tokoh tersebut.

IV.    HASIL ANALISIS FILM
1). Dari video tersebut (Bab 3 Latihan 3.2) dapat kita amati bahwa anak-anak yang ada di kelas tersebut terlihat  menunjukkan minat yang sangat tinggi untuk memahami perspektif yang di sampaikan oleh guru. Terbukti dari focus, antusias dan sebagian besar bahasa tubuh mereka. Dari 4 menit pertama pelajaran di mulai (09.00-09.04), siswa di kelas tersebut sudah memperlihatkan minat yang begitu besar dengan cara menjawab pertanyaan dan memberikan pendapat kepada guru terkait dengan perspective taking. Hal ini sesuai dengan asumsi-asumsi dasar teori Piaget yang menjelaskan bahwa anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan mudah untuk termotivasi. Piaget meyakini bahwa anak-anak secara alami memiliki ketertarikan terhadap dunia dan secara aktif mencari informasi yang dapat membantu mereka memahami dunia tersebut. Dalam konteks video tersebut di tampilkan dengan cara anak aktif memberikan respon pertanyaan dan menjawab.
2). Dari cuplikan video tersebut terlihat dengan jelas bahwa siswa sudah dapat “berjalan dengan sepatu orang lain”, dalam artian mereka benar-benar dapat memahami dan mengerti bagaimana cara mempertimbangkan perspective orang lain (perspective taking). Kita lihat contoh pada tanya jawab guru dan siswa, ketika guru bertanya tentang “apa lagi yang mungkin akan kalian lakukan setelah mereka membakar hasil panen”, awal nya para siswa menjawab dengan serentak “membiarkan hasil panen dan mencabuti rumput-rumput”, kemudian jawaban tersebut mendapat  dari guru. Para siswa mencoba lagi untuk menjawab “membiarkan  rumput dan mencabut hasil panen agar balas dendam ini memang benar-benar merugikan majikan”. Dari Tanya jawab tersebut yang jawaban pertamanya adalah salah dan kemudian yang kedua benar dapat di analisa bahwa para siswa memang sangat berusaha untuk masuk kedalam perspective sang guru. Dan ikut memikirkan masalah tersebut secara penuh.
3). Di bagian tengah dan akhir video tersebut, dapat di analisa teori pikiran (theory of mind) benar-benar berkembang. Anak mampu menafsirkan dan memprediksi perilaku orang lain dan mampu berinteraksi dengan baik (Flavell, 2000; Gopnik & Meltzoff, 1997; Wellman & Gelman,1998). Ini terbukti ketika siswa awalnya hanya disuguhi penjelasan tentang seksionalisme, timur laut dan tenggara. Namun penjelasan-penjelasan tersebut berkembang dengan sendiri nya dari pikiran siswa yang di hasilkan dari tehnik-tehnik sang guru untuk mengajak siswa ikut serta memikirkan. Dari situ maka lahirlah pemahaman yang semakin kompleks oleh pikiran anak.
4). Keterampilan social siswa yang ada di video tersebut bisa di katakan mencerminkan sikap yang baik, tidak menginterupsi, berkomunikasi secara terbuka (menunggu sampai diberi giliran untuk berbicara saat sebuah percakapan berlangsung) dan menunjukkan minat terhadap apa yang sedang disampaikan orang lain.

V.     KESIMPULAN FILM
            Dari cuplikan video metode pembelajaran yang di sampaikan oleh guru kelas lima terhadap siswa-siswi nya di kelas dapat di tarik menjadi beberapa kesimpulan yakni pada umumnya anak-anak kelas lima yang mana berada pada tahap operasional konkret (menurut piaget, usia antara 6 atau 7 tahun hingga 11 atau 12 tahun) biasanya sudah mampu untuk melakukan proses kognisi social, perspective taking, mempertimbangkan bagaimana cara berpikir dan berperilaku jika di hadapkan dalam sebuah situasi social, melakukan komunikasi secara terbuka serta mampu menunjukkan minat dan tindakan prososial,  jika proses ini di latih dan di latih secara terus menerus (contoh : video Bab 3 Latihan 3.2) , tentunya akan meningkatkan keterampilan social anak. Dengan begitu anak menjadi lebih mudah menjalin hubungan persahabatan secara lebih mudah dengan anak yang lainnya, memilki perasaan diri yang lebih baik, simpati dan empati menjadi lebih kuat serta akan timbul perasaan menghargai yang lebih terhadap orang tua, guru dan sebagainya. Namun semua hal tersebut akan sukses di capai tergantung dengan kondisi psikologis-mental anak serta sangat tergantung pada peran orang tua di rumah, guru di sekolah dan lingkungan untuk mendidik dan mengajarkan anak secara bersama-sama. Karena pada dasarnya, menurut Erikson (1968), anak-anak harus dipaksa secara lembut tetapi tegas ke dalam petualangan untuk menemukan bahwa seseorang dapat belajar menyelesaikan sesuatu, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya.  Sehingga anak bisa keluar dari zona perkembangan proksimal dan terus melakukan pembelajaran.

VI.    LATIHAN KERJA
Film 5-6
1).Apa bukti yang anda lihat bahwa para siswa memiliki kemampuan mempertimbangkan perspektif orang lain?
2).Dalam cara-cara apa guru membantu mengembangkan kemampuan siswa untuk mempertimbangkan perspektif orang lain?
3).Keterampilan-keterampilan sosial apa yang ditampilkan oleh para siswa?
4).Strategi-strategi apa yang digunakan guru untuk meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial para siswa?
Jawab :
1).Buktinya terlihat dari sangat besarnya usaha dan minat para siswa tersebut untuk memahami  dan melakukan perspective taking (mempertimbangkan perspektif orang lain) terhadap penjelasan guru. Sebagai contoh ada beberapa jawaban yang berhasil di jawab atau kata yang berhasil di tebak oleh siswa.
Seperti pertanyaan tentang :
- Pada awalnya guru menjelaskan tentang geografi perang saudara dan bagaimana kehidupan orang-orang pada masa itu. Guru melontarkan pertanyaan kepada siswanya bagaimana orang-orang pada masa itu mampu bertahan hidup? Kemudian guru menunjuk seorang siswa untuk menjawab pertanyaannya. Siswa tersebut menjawab “bertani” hal itu membuktikan bahwa siswa tersebut mampu memprediksi apa yang dilakukan oleh orang-orang pada masa itu
- Apa kata yang di gunakan untuk usaha balas dendam, para siswa menjawab dengan serentak “balas dendam” dan di akhiri pujian “bagus” oleh gurunya.
- Para siswa berhasil menebak bagaimana gambaran Abe Linclon yaitu tinggi, kurus, model pribadi yang suka menyendiri dan memiliki wajah yang berkeriput.
2).Memberikan pemicu untuk berpikir siswa, membenarkan yang tidak sesuai dengan perspektif guru dan menggunakan elaborasi. Kemudian mengajak siswa untuk berimajinasi menjadi orang yang mereka bahas dan membayangkan apa yang dilakukan jika menjadi orang itu menggunakan pikiran mereka sendiri. 
3).Banyak sekali keterampilan social yang di tampilkan oleh siswa dalam video tersebut antara lain :
- Interaktif dan kerja sama social yang terlihat antara guru dan siswa, Misalnya, ketika siswa di minta oleh guru untuk ikut terlibat dalam perspektif guru, mereka mampu menebak kata dari kalimat yang di sampaikan oleh guru, seperti ketika guru bertanya “mereka semua harus bertani, bukan? Karena mereka harus ...? Siswa secara spontan menjawab “makan” . Artinya terjalin interaksi dari kedua belah pihak, siswa dan guru.
- Dengan keterampilan dari sang guru untuk mendorong para siswa agar masuk ke dalam perspektif nya maka para siswa akhirnya mampu dan terampil melakukan perspective taking yaitu mampu untuk mempertimbangkan perspektif orang lain.
- Selain dua poin di atas, menurut pengamatan kami, siswa di kelas tersebut juga sudah mampu untuk menafsirkan pengetahuan yang sudah mereka dapatkan sebelumnya. Dalam video tersebut guru meminta para siswa untuk mendeskripsikan tentang tokoh Abe Lincoln. Dan siswa menjawab dengan sangat antusias sekali, ada beberapa yang mendeskrisikan Abe Lincoln seperti orang yang asyik dengan diri sendiri, terlihat sedih, berwajah keriput dan bahkan ada yang mendeskripsikan Abe Lincoln mempunyai poster badan yang kurus kerempeng.
4).Tersedianya banyak kesempatan bagi siswa untuk memberikan pendapat, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi dan kerjasama social, memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada siswa dalam bentuk pujian, criteria dari bahan yang ingin di pertanyakan di jelaskan secara akurat. Guru menetapkan aturan dan menegakkan aturan-aturan yang tegas mengenai cara berperilaku.

REFERENSI
Ellis Ormrod, 2008. Psikologi Pendidikan Edisi Keenam Jilid 1, Jakarta : Penerbit Erlangga
Santrock,  2012. Life Span Development Perkembangan Masa Hidup Edisi Ketigabelas, Jakarta : Penerbit Erlangga
Santock, 1995. Life Span Development Perkembangan Masa Hidup Edisi Kelima, Jakarta : Penerbit Erlangga

Tidak ada komentar:
Write komentar