Sabtu, 22 Maret 2014

PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN LINGUISTIK

Dalam bab ini kami akan menjelaskan tentang perkembangan kognitif dan lingustik yang kebanyakan membahas tentang perkembangan anak dan remaja berkaitan tentang kemampuan fisik, kognitif, sosial, dan emosional pada perkembangan manusia. Perkembangan kemampuan berpikir dan penalaran yang semakin canggih seiring bertambahnya usia (perkembangan kognitif) dan perkembangan pemahaman, penggunaan bahasa yang semakin canggih seiring bertambahnya usia (perkembangan linguistik).

Pahami dulu : Tahapan Perkembangan Manusia dari Lahir Hingga Menjelang Kematian

1). PRINSIP-PRINSIP DASAR PERKEMBANGAN MANUSIA
  • Urutan perkembangan sedikit banyak dapat di ramalkan.
Perkembangan manusia seringkali dicirikan oleh tonggakan perkembangan perilaku-perilaku baru yang semakin kompleks seiring meningkatnya tahap perkembanganyang muncul dalam urutan yang dapat diramalkan. Sebagai contoh anak-anak lazimnya mulai belajar berjalan hanya setelah mereka mampu berdiri dan merangkak. Dalam batas tertentu kita melihat keseragaman dalam tahap perkembangan pola yang serupa dalam hal bagaimana anak berubah seiring waktu terlepas dari perbedaan lingkungan tempat anak-anak tersebut tumbuh dan berkembang.
  • Anak-anak berkembang dalam kecepatan yang berbeda
Penelitian deskriptif memberikan informasi mengenai usia rata-rata saat anak-anak nemcapai berbagai tonggak perkembangan. Sebagai contoh anak pada umumnya dapat menggambar bujur sangkar dan bentuk-bentuk segitiga pada usia 3 tahun, mulai menggunakan pengulangan sebagai cara mempelajari informasi pada usia 7 atau 8 tahun, dan mulai memasuki masa puber pada usia 10 tahun (anak perempuan) atau 11 tahun (anak laki-laki). Meski demikian tidak semua anak mencapai perkembangan pada usia yang sama. Beberapa anak mencapai lebih dini dan bahkan lebih lambat.
  • Perkembangan itu terkadang terjadi dengan cepat, terkadang juga lambat.
Perkembangan tidak terjadi dalam kecepatan yang konstan. Suatu petumbuhan yang relatif cepat dapat diselingi dengan pertumbuhan yang lambat. Contoh anak mungkin berbicara dengan kosakata yang terbatas. Hanya dalam rentang beberapa minggu, kosakata si anak berkembang dengan pesat dan kalimat yang di ucapkannya pun menjadi semakin panjang.
  • Faktor hereditas (keturunan), dalam batas tertentu mempengaruhi perkembangan.
Hereditas terus mempengaruhi perkembangan anak sepanjang proses kematangan yakni mulai berkembangnya perubahan-perubahan yang di kontrol secara genetis ketika anak berkembang. Contoh keterampilan motorik seperti berjalan, berlari, dan meloncat.
  • Faktor-faktor lingkungan juga memberikan kontribusi yang penting terhadap perkembangan.
Kondisi-kondisi lingkungan bahkan dapat mempengaruhi karakteristik yang sebagian besar dikendalikan oleh faktor hereditas. Contoh sekalipun tinggi badan tubuh merupakan karakteristik yang di wariskan, kadar gizi dalam makanan yang di santap anak akan mempengaruhi tinggi dan bentuk tubuh yang spesifik. Kebudayaan juga berpengaruh penting dalam sistem perilaku dan keyakinan yang menjadi karakteristik kelompok sosial dan kebudayaan juga mempengaruhi perilaku individu anak.
  • Hereditas dan lingkungan saling berinteraksi membentuk perilaku individu.
Banyak peneliti berupaya membandingkan pengaruh hereditas dan lingkungan yang kerap disebut nature versus nurture (bawaan & lingkungan). Meski demikian para psikolog menyadari bahwa hereditas dan lingkungan saling berinteraksi dan tidak dapat dipisahkan karena gen membutuhkan dukungan lingkungan agar dapat beroperesi.

Baca juga : Tahapan Perkembangan Manusia dari Lahir Hingga Menjelang Kematian

2). PERAN OTAK DALAM PEMBELAJARAN PERKEMBANGAN
Otak manusia adalah organ rumit mencakup 100 milyar sel. Sel sarat tersebut disebut dengan neuron yang berukuran sangat kecil dan saling terhubung satu sama lain.
Urutan kerja otak atau neuron adalah sebagai berikut :
  1. Sejumlah neuron menerima informasi dari bagian tubuh lain.
  2. Sebagian lain mensintesiskan dan menafsirkan info tersebut
  3. Sebagian lain mengirimkan cara merespon yang tepat sesuai dengan kondisi yang ada
Contoh sewaktu kita berjalan melihat paku, mungkin kita akan berhenti dan mengambilnya. Lalu di buang ke pinggir jalan atau kita mengabaikannya dan terus berjalan. Artinya saraf mata melihat sesuatu (paku), dia menerima informasi. Neuron yang lain mensintesiskan dan menafsirkan informasi tersebut untuk berhenti atau berlalu. Setelah informasi diterima dan ditafsirkan, neuron yang lain akan mengirimkan pesan pada tubuh.

3). TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT PIAGET
A. ASUMSI-ASUMSI DASAR :
- Anak-anak pembelajar aktif dan termotivasi.
- Anak-anak mengaplikasikan pengetahuan berdasarkan pengalaman.
- Anak-anak belajar melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
- Anak-anak suka system mengajar seperti penemuan.
- Anak-anak membutuhkan interaksi apapun itu, untuk meningkatkan kepekaan menangkap informasi. Sebagai contoh orang yang berbeda, maka argument nya pasti berbeda juga.
- Anak-anak berkembang step by step.
- Anak-anak berpikir berbeda pada umur yang berbeda.
- Tahap Sensorimotor (0-12 tahun). Anak-anak fokus pada apa yang dilakukan dan mereka lihat.
- Tahap Praoperasional (2-6 atau 7 tahun). Anak-anak bisa memikirkan peristiwa di luar jangkauan mereka. Tapi belum bisa bernalar logis. Di dalam tahapan ini, anak juga mulai bersifat intuitif yaitu proses dimana anak mulai sering merasa penasaran dan bertanya-tanya tentang apa yang mereka lihat, rasakan dan dengarkan.
- Tahap Operasional Konkret (6 atau 7 tahun sampai 12 tahun). Sudah mempunyai pemikiran yang mantap tentang apa yang akan mereka alami. Anak-anak mempertajam kemampuan berpikirinya. Sadar bahwa pemikirannya tidak selalu di terima orang lain.
- Tahap oprasional formal (usia 11 atau 12 tahun hingga dewasa). Pada tahap ini anak-anak dan remaja sudah dapat memikirkan dan membayangkan konsep-konsep yang tidak berhubungan dengan realitas konkret. Selain itu mereka juga mengenali kesimpulan yang logis yang berbeda dari kenyataan dunia sehari-hari.
C. PERSPEKTIF TERKINI TENTANG TEORI PIAGET
Beberapa asumsi piaget misalnya, bahwa anak mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri tentang dunia, bahwa mereka harus menghubungkan pengalaman-pengalaman baru dengan hal-hal yang telah mereka ketahui dan perjumpaan dengan fenomena yang membingungkan mendorong mereka mengubah pemahaman mereka telah bertahan melewati ujian waktu. Dalil Piaget bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam tahap-tahap telah memicu sejumlah penelitian lanjutan yang secara umum penelitian tersebut mendukung dalil piaget mengenai sekuensi (urutan) munculnya kemampuan yang berbeda-beda. Contohnya bayi dan balita tampaknya memiliki kompeten lebih daripada yang dikemukakan piaget dalam deskripsinya tentang tahap sensorimotor dan praoprasional. Piaget mungkin juga agak meremehkan kemampuan-kemampuan anak sekolah dasar karena terkadang menunjukan kemampuan berpikir abstrak dan hipotesis. Namun sebaliknya Piaget melebih-lebihkan kemampuan-kemampuan anak remaja. Dalam hal ini, pengalaman membantu anak belia memperoleh kemampuan penalaran oprasional formal, manipulative-manipulatif (concrete manipulative) dapat membantu anak-anak berusia 9 tahun memahami hakikat umum proporsi. Di masa sekarang ini sebagian besar ahli meyakini bahwa perkembangan kognitif lebih tepat digambarkan sebagai tren yang terjadi secara berangsur-angsur. Hakikat perkembangan kognitif mungkin bersifat spesifik, tergantung konteks, area isi, dan kebudayaan yang berbeda-beda.

4). TEORI VYGOTSKY TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF
Teori ini menjabarkan berbagai peran penting interaksi anak dengan orang dewasa dan rekan-rekan sebayanya, yang meningkatkan perkembangan kognitif. Lev Vygotsky melaksanakan banyak studi mengenai proses berpikir anak-anak sejak tahun 1920 hingga kematiannya yang dini akibat tuberculosis pada tahun 1934 saat ia berusia 37 tahun. Sekalipun Vygotsky belum mengembangkan teorinya secara utuh, gagasan-gagasannya memliki dampak signifikan pandangan kita mengenai perkembangan anak, pembelajaran dan praktik belajar mengajar (intrusional practice).
A. ASUMSI-ASUMSI DASAR VYGOTSKY
Dalam pengalaman Piaget, anak-anak memegang kendali terhadap perkembangan kognitif mereka sendiri. Sebaliknya Vygotsky bahwa orang-orang dewasa di masyarakat mendorong perkembangan kognitif anak secara sengaja dan sistematis, serta menekankan pentingnya masyarakat dan budaya dalam mendorong pertumbuhan kognitif sehingga teorinya sering disebut sebagai perspektif sosiokultur (socialculture perpective).
Melalui sekolah formal yang menjadi sarana para guru untuk secara sistematis menanamkan gagasan, konsep-konsep, dan percakapan informal adalah sebuah metode yang lazim digunakan orang dewasa untuk menyampaikan kepada anak bagaimana kebudayaan mereka menafsirkan dan merespon dunia. Vygotsky mengemukakan bahwa saat berinteraksi dengan anak-anak, orang-orang dewasa membagikan makna (meaning) yang mereka lekatkan dengan objek, peristiwa dan secara lebih umum, ke pengalaman manusia. Setiap kebudayaan menanamkan perangkat-perangkat fisik dan kognitif yang menjadikan kehidupan sehari-hari semakin produktif dan efisien. Tidak hanya mengajari anak cara-cara spesifik pengalaman tetapi juga mengajari sejumlah prangkat (tools) spesifit yang dapat membantu anak mengatasi masalah yang dihadapi.
Pemikiran dan bahasa menjadi semakin interpenden dalam tahun-tahun pertama kehidupan. Vygotsky mengemukakan bahwa pikiran merupakan fungsi-fungsi yang terpisah bagi bayi dan anak kecil yang baru belajar berjalan. Saat pikiran dan bahasa mulai menyatu anak sering berbicara pada diri mereka sendiri yang di kenal sebagai self talk. Proses-proses mental yang kompleks bermula sebagai aktivitas-aktivitas sosial seiring berkembangnya, anak-anak secara berangsur-angsur menginternalisasikan proses-proses yang mereka gunakan dalam konteks-konteks sosial dan mulai menggunakannya secara indipenden. Proses berkembangnya aktivitas-aktivitas sosial menjadi aktivitas-aktivitas mental internal yang disebut internalisasi. Anak-anak dapat mengerjakan tugas-tugas yang menantang bila di bimbing oleh seseorang yang lebih berkompeten dan lebih maju daripada mereka. Vygotsky membedakan menjadi dua jenis kemampuan yang mencirikan kemampuan anak pada segala tahap perkembangan yaitu,tingkat perkembangan aktual (actual developmental level) dan tingkat perkembangan potensial (level of potential development).
Permainan memungkinkan anak berkembang secara kognitif. Dalam sebuah permainan, anak selalu berada dalam usia di atas usianya yang sesungguhnya, di atas perilakunya sehari-hari, dalam sebuah permainan, anak seolah-olah lebih tinggi dari tingginya yang sebenarnya (Vygotsky, 1978, hlm.102). Sebagai contoh permainan restoran, di dalam permainan tersebut mereka seolah-olah mampu untuk memasak, membaca, menulis, matematika dan kemampuan organisasional yang di perlukan untuk menjalankan sebuah restoran. Dalam kehidupan nyata, skenario tersebut tentunya tidak mungkin terjadi, jarang sekali anak berusia 5 tahun memiliki kemampuan seperti itu. Bermain pada usia anak seperti itu bukanlah aktivitas yang membuang-buang waktu, melainkan wadah sebagai pelatihan bagi anak guna menghadapi masa dewasanya kelak.
B. PERSPEKTIF TERKINI TENTANG TEORI VYGOTSKY
Menurut para peneliti teori Vygotsky sangat sulit untuk diuji dan diverifikasi di karenakan teori Vygotsky yang sedikit sekali menyinggung karakteristik-karakteristik spesifik yang cenderung ditampilkan anak-anak pada usia tertentu. Sebaliknya menurut, para ahli dan pendidik kontemporer teori Vygotsky mengandung banyak wawasan dan manfaat. Salah satunya tentang beragam cara kebudayaan mempengaruhi perkembangan kognitif. Kebudayaan membimbing anak kea rah-arah tertentu dengan mendorong pusat perhatian mereka kepada stimuli tertentu serta mendorong untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas tertentu. Kebudayaan memberikan suatu lensa untuk menafsirkan dan memandang pengalaman-pengalaman mereka dalam cara yang sesuai dengan budaya mereka. Yang terpenting kebudayaan mempengaruhi proses berpikir mereka.
  • Konstruksi Makna Secara Sosial.
Menurut Vygotsky orang dewasa perlu membantu anak untuk melekatkan makna ke berbagai objek dan peristiwa di sekeliling mereka. Interaksi semacam itu biasa disebut pengalaman belajar yang dimediasi (mediated learning experience) yaitu diskusi antara orang dewasa dengan anak, dimana orang dewasa membantu anak untuk memahami suatu peristiwa yang mereka alami bersama. Contoh nya sering kita jumpai pada proses pembelajaran di sekolah dasar, ketika anak mengkontruksi pikiran mereka secara bersama-sama dengan guru mengenai pelajaran plus minus hitungan matematika atau ketika melakukan anak-anak melakukan perjalanan wisata ke museum purbakala.
  • Scaffolding
Perancah (scaffold) adalah perangkat yang berfungsi sebagai penyangga (tempat berpijak) bagi para pekerja hingga bangunan itu sendiri telah cukup kuat untuk menyangga mereka. Saat kestabilan bangunan mulai meningkat, perancah akan di kurangi secara bertahap. Berikut ini adalah beberapa mekanisme yang dapat mendukung siswa untuk menguasai tugas-tugas yang berada dalam zona perkembangan proksimal mereka :
  • Bantulah siswa mengembangkan rencana dalam mengerjakan suatu tugas baru.
  • Tunjukkanlah cara mengerjakan tugas dengan benar, yang dapat ditiru siswa dengan mudah.
  • Bagilah suatu tugas yang kompleks menjadi sejumlah tugas-tugas yang lebih kecil dan sederhana.
  • Jagalah atensi siswa agar tetap terpusat pada aspek-aspek relevan dalam tugas.
  • Sering-seringlah memberikan umpan balik mengenai kemajuan siswa.
Seiring berlalunya waktu, scaffolding secara berangsur-angsur dihentikan, sehingga timbullah sebuah proses yang namanya fading atau pemudaran sampai siswa dapat sepenuhnya menyelesaikan tugas secara mandiri. Terkadang scaffolding melibatkan pemberian perangkat-perangkat kognitif baru kepada siswa, yang dapat mereka gunakan dalam mengerjakan tugas. Contohnya menulis, merupakan sebuah ranah yang di dalamnya penyediaan perangkat-perangkat kognitif dapat membuat suatu perbedaan besar dalam performa siswa (Scardamalia & Bereiter, 1985; Zellermayer, Salomon, Globerson & Givon, 1991)
  • Partisipasi Terbimbing dalam Akativitas-aktivitas Orang Dewasa
Dalam partisipasi anak-anak yang terliba dalam aktivitas-aktivitas orang dewasa akan melalui partisipasi terbimbing (guided participation). Menurut teori Vygotsky, keterlibatan yang bertahap dalam ativitas orang dewasa memungkinkan anak terlibat dalam perilaku-perilaku dan keterampilan berpikir. Partisipasi terbimbing dapat membantu mereka menghubungkan berbagai keterampilan dan kemampuan berpikir yang baru mereka terima dan berguna di kemudian hari.
  • Pemagangan (apprenticeship)
Saat seorang pemula bekerja bersama seorang pakar dalam jangka waktu yang cukup lama, dalam rangka mempelajari cara-cara melakukan berbagai tugas yang kompleks dalam suatu ranah tertentu. Melalui pemagangan, anak seringkali mempelajari tidak hanya cara melakukan suatu tugas, melainkan juga cara memikirkan tugas tersebut, situasi ini dikenal sebagai pemegangan kognitif (cognitive apprenticeship).
  • Interaksi dengan Rekan Sebaya
Bekerja bersama bersama teman sebaya memiliki manfaat tersendiri. Ketika mereka berdiskusi mereka melibatkan perdebatan dan ketidaksetujuan, mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas yang sulit ketika bekerja sama, dan anak-anak mempelajari nilai-nilai sosial tentang bagaimana merencanakan suatu usaha bersama dan sebagainya.

5). PERKEMBANGAN LINGUISTIK
Agar dapat berkomunikasi secara efektif, anak harus menguasai banyak aspek bahasa, termasuk makna dari ribuan kata, seperangkat aturan yang rumit mengenai bagamana cara merangkai kata-kata, dan aturan-aturan sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Pengetahuan dan keterampilan tersebut terus berkembang sepanjang masa-masa sekolah, dan seringkali dengan bimbingan guru. Pengetahuan siswa mengenai makna-makna kata disebut semantika. Terkadang pengetahuan anak-anak bersifat samar dan tidak akurat.
A. PERKEMBANGAN SINTAKSIS
Merupakan rangkaian peraturan yang digunakan seseorang yang seringkali tanpa disadari untuk menempatkan kata-kata menjadi kalimat. Kemudian, pragmatika merupakan pengetahuan mengenai konvensi-konvensi sosial yang khas budaya tertentu, yang berfungsi memandu interaksi verbal. Kesadaran metalinguistik harus dipelajari oleh anak-anak karena, kesadaran metalinguistik merupakan kemampuan memikirkan hakikat atau sifat bahasa itu sendiri.
B. PERKEMBANGAN KEMAMPUAN MENDENGARKAN
Kemampuan siswa memahami apa yang didengar dipengaruhi oleh pengetahuan mereka mengenai kosakata dan sintaksis, namun faktor-faktor lainnya juga berpengaruh. Pemahaman anak mengenai apa yang didengar seringkali dipengaruhi oleh konteks tempat mereka mendengarkan kata-kata tersebut. Cara mendorong perkembangan semantika ( makna kata-kata dan kombinasi-kombinasinya) siswa adalah mengajarkan kosakata-kosakata baru beserta definisinya secara langsung. Dengan menggunakan istilah-istilah baru dengan konsep yang beragam kita dapat mengoreksi setiap miskonsepsi yang terungkap dalam ucapan siswa. Perkembangan sintaksis aturan-aturan sintaksis memungkinkan kita untuk meletakkan berbagai kata sekaligus menjadi kalimat-kalimat yang memiliki tata bahasa yang yang tepat. Saat mencapai bangku SMP, mereka menggunakan sintaksis yang lebih rumit dalam tulisan mereka daripada dalam percakapan. Akibat pengajaran bahasa secara formal selama di SMU, siswa cenderung meraih peningkatan kemampuan berbicara dan menulis saat mereka mendapat banyak kesempatan mengekspresikan gagasan-gagasan secara lisan dan tulisan. Mereka juga menerima umpan balik langsung mengenai ambiguitas dan kesalahan-kesalahan tata bahasa dalam ucapan dan tulisan mereka. Perkembangan kemampuan mendengarkan anak-anak SD menganggap diri sebagai pendengar yang baik jika mereka telah duduk diam tanpa menginterupsi guru. Banyak anak-anak SD meyakini bahwa tidaklah tepat meminta klarifikasi dari guru, mungkin karena mereka sebelumnya pernah dimarahi karena mengajukan pertanyaan di sekolah atau di rumah.
Penting untuk tidak menanyai siswa apakah mereka memahami apa yang mereka dengar, namun juga mengecek pemahaman mereka dengan cara meminta mereka mengungkapkannya dengan cara lain dalam kata-kata mereka sendiri. Pada masa-masa awal SD, anak-anak memahami kata-kata secra harfiah. Contohnya, mereka belum mampu menyusun generalisasi dari sebuah peribahasa. Kemampuan siswa menafsirkan peribahasa secara abstrak dan tergeneralisasi akan terus berkembang bahkan selama di SMU.
C. PERKEMBANGAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI LISAN
Anak-anak yang masih belia terkadang mengucapkan kata-kata tanpa mempertimbangkan sudut pandangnya (Piaget menyebutnya pembicaraan egosentris). Ketika ucapan siswa tidak dapat kita pahami, sebagai guru kita harus membuat mereka menyadari hal tersebut dan menunjukkan kebingungan saat mereka menceritakan peristiwa-peristiwa atau gagasan-gagasan yang ambigu. Pragmatika, yakni konvensi-konvensi sosial yang mengarahkan interaksi lisan yang tepat dengan orang lain. Pragmatika mencakup peraturan-peraturan mengenai etiket, strategi-strategi mengawali dan mengakhiri percakapan, mengubah subjek pembicaraan, menceritakan kisah, dan berdebat secara efektif. Kurangnya keterampilan pragmatika bisa sangat menghambat hubungan siswa dengan rekan-rekannya. Sebagai guru, kita perlu mengamati ketrampilan pragmatika para siswa dan memberikan praktik terbimbing dalam setiap keterampilan yang belum mereka kuasai.
D. PERKEMBANGAN KESADARAN METALINGUISTIK
Permainan kata membantu siswa memahami kata-kata dan frase-frase yang seringkali memiliki lebih dari satu makna yang dapat mengembangkan kesadaran metalinguistik: kemampuan memikirkan hakikat bahasa itu sendiri. Tahun-tahun SD, siswa mampu menentukan kapan kalimat dapat diterima secara gramatikal dan kapan tidak bisa diterima. Masa SMP, mereka menyadari beragam fungsi kata dalam kalimat (kata benda, kata kerja, kata sifat, dsb). Siswa SMU, mempelajari hakikat kiasan kata dan makna kiasan.
E. MEMPELAJARI BAHASA KEDUA
Secara umum, pengenalan diri terhadap bahasa kedua tampaknya penting utnuk menguasai pelafalan yang tepat, terutama jika bahasa kedua tersebut sangatlah berbeda dengan bahasa asal si anak, selain itu, juga untuk menguasai konstruksi-konstruksi tata bahasa yang kompleks.
Bilingualisme, anak-anak bilingual artinya mereka berbicara dua (terkadang tiga atau lebih) bahasa secara fasih. Penelitian menunjukkan keuntungan-keuntungan nyata menjadi bilingual. Anak-anak bilingual menunjukkan keunggulan dalam perkembangan kesadaran metalinguistik. Pada masa awal SD, anak-anak bilingual memiliki kesadaran fonologis yang lebih besar- kesadaran terhadap bunyi-bunyi individual atau fonem, yang membentuk bahasa lisan. Mereka cenderung menunjukkan performa lebih baik dalam situasi-situasi yang memerlukan fungsi kognitif yang tinggi.
Bilingualisme juga memiliki keuntungan kultural dan personal. Penguasaan bahasa Inggris lisan maupun tulisan merupakan syarat mutlak keberhasilan jangka panjang dan keberhasilan karer. Penggunaan bahasa leluhur untuk menyampaikan sejarah lisan dan garis keturunan budaya. Bilingualisme memiliki manfaat sosial di kelas yakni, meningkatkan interaksi serta pemahaman lintas budaya diantara mereka.
6). KEBERAGAMAN DALAM PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN LINGUISTIK
Berdasarkan perspektif teori Vygotsky, zona perkembangan proksimal tiap anak berbeda-beda. Sebagai guru, kita harus terus mencermati kemampuan-kemampuan kognitif dan linguistik spesifik yang dimiliki anak serta menyesuaikan pengajaran sesuai kemampuan.
  • Perbedaan budaya dan etnik kebudayaan
Anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan formal, kemampuan konservasi dan kemampuan-kemampuan operasional konkret lainnya mungkin muncul lebih lambat dibandingkan anak-anak dalam kebudayaan barat. Keterampilan-keterampilan penalaran operasional dan pemikiran abstrak, pemisahan kontrol terhadap variabel dan juga bervariasi dalam tiap-tiap kebudayaan.
  • Menangani kebutuhan-kebutuhan khusus para pembelajar bahasa inggris
Idealnya, peralihan dari pengajaran dalam bahasa asli siswa ke pengajaran dalam bahasa resmi negara tersebut seharusnya terjadi secara berangsur-angsur dalam rentang waktu beberapa tahun, sehingga memungkinkan siswa imigran menjadi fasih dalam kedua bahasa.

Selasa, 18 Maret 2014

CONTOH LAPORAN ANALISIS FILM PSIKOLOGI PENDIDIKAN



I.    PENDAHULUAN
Dalam bab 6 ini, kami akan mencoba untuk mengamati para siswa kelas lima berpikir dari perspektif orang lain (perspective taking) dalam diskusi-diskusi di kelas. Menurut kami ada dua unsur penting interaksi sosial efektif yang terlihat di dalam video tersebut.
- Kognisi Sosial: Anak-anak dan remaja harus terus-menerus mempertimbangkan bagaimana orang lain mungkin berpikir dan berperilaku dalam suatu situasi sosial. Mereka harus bisa menduga kemungkinan pikiran dan perasaan orang lain-yaitu, mereka harus terlibat dalam perspective taking (kemampuan berpikir dari sudut pandang orang lain). Dan mereka harus mengantisipasi bagaimana orang lain cenderung merespons berbagai tindakan yang mereka lakukan-misalnya, bagaimana orang lain mungkin merespons kata-kata yang baik dan gerak-isyarat yang memikat, di satu sisi, serta hinaan dan bahasa tubuh yang bermusuhan, di sisi lain.
- Keterampilan sosial: Anak-anak dan remaja harus juga mengetahui cara-cara spesifik berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Beberapa keterampilan sosial mencerminkan apa yang dianggap sebagai "sikap yang baik" bagi kebudayaan tertentu-mengatakan "silahkan" dan "terima kasih", tidak menginterupsi, dan sebagainya. Beberapa keterampilan sosial yang lain membantu menjaga agar alur komunikasi terbuka-misalnya, menunggu sampai diberi giliran untuk berbicara saat sebuah percakapan berlangsung dan menunjukkan minat terhadap apa yang sedang disampaikan orang lain. Yang lain lagi adalah perilaku-perilaku prososial yang ditujukan untuk memberikan manfaat yang lebih banyak bagi orang lain ketimbang diri sendiri-misalnya, memberikan pujian, bekerja sama dalam sebuah projek, atau menenangkan seseorang yang sedang mengalami tekanan.


II.    TRANSKRIP FILM 6
Guru: Mari kita berbicara tentang pelajaran ini. Pelajaran ini sedikit di luar kebiasaan. Ini berarti pada bagian awalnya kalian tidak menggunakan pensil. Pada bagian selanjutnya kalian baru akan menggunakan pensil. Sudah siap? Oke. Saya berharap kalian akan menyukai pelajaran ini. Saya menyukai pelajaran ini. Barangkali karena menarik. Terdapat beberapa kosa kata di papan. Kalian sudah pernah diperkenalkan dengan kata-kata itu. Kita sudah berbicara sedikit mengenai arti kata-kata tersebut. Kita membicarakan kata-kata itu sedikit di luar konteks. Tolong hal-hal ini diingat. Kita akan berjumpa lagi dengan kata-kata ini. Kemudian, kalian memiliki peta dalam buku kalian dan sebentar lagi saya akan meminta kalian membukanya. Saya akan memberitahu kalian halamannya. Ketika pelajaran ini selesai, apa yang saya harapkan ialah kalian akan jadi lebih paham. Geografi perang, Perang Saudara adalah topik kita. Saya ingin kalian memahami dengan lebih baik arti kata-kata ini, dan kalian benar-benar akan memahaminya. Saya ingin kalian memahami dinamika perang itu-mengapa terjadi, bagaimana perang itu berlangsung, dan mengapa perang itu berakhir dengan cara seperti itu. Kemudian, satu hal menarik di akhir pelajaran ini adalah, saya menghendaki supaya kalian memiliki beberapa pertanyaan bagus di kepala kalian yang tidak kita jawab hari ini. Ini seperti berjumpa seseorang untuk pertama kalinya. Kalian akan berjumpa lagi dengan topik Perang Saudara di SMP, SMA, atau universitas. Jadi ini hanyalah pengantar kecil mengenai Perang Saudara itu. Apakah kalian sudah siap? Kalian sudah memiliki sebuah peta kecil di sini. Sekarang kalian arahkan tatapan ke sini. Saya ingin menjelaskan kepada kalian mengenai seksionalisme, maksud saya adalah jika kalian berpikir tentang kata itu kalian menyadari bahwa akar kata itu adalah seksi (bagian). Memang kita pada dasarnya memiliki tiga bagian. Kita memiliki bagian yang kita namakan bagian Timur Laut. Kalian tahu tentang itu. Apakah kalian masih tidak bisa melihatnya? Kemudian kita memiliki bagian Tenggara di sini. Kemudian kita memiliki wilayah yang menuju ke Barat. Nah, ini keadaan pada awal tahun 1800-an. Jadi, ini kondisi lebih dari seratus tahun setelah para peziarah itu tiba, hampir dua ratus tahun. Namun, negara kita masih sangat muda. Jika kemudian kalian berpikir tentang cara orang hidup waktu itu dan apa yang tidak kita miliki dipandang dari segi perbekalan (makanan), hal apa yang setiap orang lakukan untuk keluarganya pada itu? Bagaimana ... apa yang mereka lakukan untuk mencari nafkah? Apa yang menurut kalian harus mereka semua kerjakan, seandainya kalian berpikir mengenai hal itu? Gunakan akal kalian. Menurut kamu? Candace?
Siswa: Bertani.
Guru: Bagus untukmu. Mereka semua harus bertani, bukan? Karena mereka harus ...
Siswa: Makan.
Guru: Makan. Mereka harus makan. Oke. Tetapi ada yang menarik. Orang-orang di bagian Timur Laut memang bertani, tetapi mereka memiliki pabrik-pabrik.
Guru: Oke, kita sudah berbicara tentang perbudakan. Nah, saya ingin kalian berpura-pura di dalam pikiran kalian bahwa kalian adalah budak. Oke? Salah satu masalah yang dimiliki oleh para budak, tentu saja, ialah bahwa mereka ingin bebas. Maka, mereka melakukan hal-hal yang akan ... dan seringkali mereka marah kepada para majikan mereka, karena mereka dipukul dan tidak dipedulikan sebagaimana seharusnya. Jika kam
u seorang budak, apa hal-hal yang mungkin telah kalian lakukan? Anthony, saya minta kamu duduk. Saya akan merasa lebih baik, dan saya berharap kamu pun demikian, jika kalian semua duduk di lantai. Saya takut kalian akan jatuh. Oke. Apa yang mungkin telah kalian lakukan jika kalian seorang budak diminta untuk membalas? Kita semua tahu apa artinya. Apa kata yang digunakan untuk usaha membalas?
Para siswa: Balas dendam.
Guru: Bagus. Oke. Bagaimana kalian bisa melakukan pembalasan terhadap seorang majikan? Menurut kalian?
Siswa: Menaruh batu ke dalam mesin-mesinnya.
Guru: Mereka merusak peralatan. Saya pikir itulah yang sedikit disinggung oleh Jesse. Ya, mereka akan merusak alat-alat. Masuk akal, bukan? Candace?
Siswa: Membakar hasil panen.
Guru: Mereka membakar hasil panen. Cukup serius. Apa itu ... itu jawabanmu? Mereka membakar hasil panen. Baik. Bagus. Apa lagi yang mungkin kalian lakukan? Chris?
Siswa: Mereka mencabut rumput-rumput liar daripada panenan.
Guru: Oke. Mereka ... baiklah, mari kita pikirkan pernyataan itu lagi. Mereka membiarkan ...
Siswa: Panenan.
Siswa: Bukan, mereka membiarkan ...
Siswa: Rumput-rumput liar.
Guru: Rumput-rumput liar, dan mencabut panenan, yang benar-benar merugikan majikannya.
Siswa: Mereka berteriak kepada para majikannya.
Guru: Ya, benar. Mereka berteriak. Maksud kalian para budak berteriak? Ya. Sekalipun, Camille, jika kita berpikir tentang pernyataan itu, jika kamu seorang budak dan kamu menduga bahwa kamu akan dipukul, akankah kamu berteriak kepada tuanmu atau melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi?
Siswa: Secara sembunyi-sembunyi.
Guru: Barangkali lebih baik jika kalian melakukan sesuatu ketika para majikan tidak dapat mendakwa atau memukul kalian. Oke. Jadi kita memiliki sekelompok orang di bagian Utara dan Selatan yang ingin membebaskan para budak. Mereka ingin supaya perbudakan berakhir. Orang-orang ini, dan hal ini harus kalian catat ... orang-orang ini disebut kaum abolisionis (pembebas). Kita tidak dapat berbicara tentang Perang Saudara tanpa berbicara tentang tokoh kita, Abe Lincoln, bukan? Kita tidak bisa melupakannya. Kita tidak boleh melupakannya. Jadi, pikirkan di kepalamu sekarang mengenai apa yang kalian pikirkan ketika kalian mendengar nama itu, karena nama itu membuat kita semua berpikir tentang sesuatu, saya yakin. Callie, katakan apa yang kamu pikirkan? Apakah ini pertanyaan yang sulit? Baiklah. Saya memberi kalian bantuan sedikit. Dapatkah kalian menggambarkan seperti apa orang ini berdasarkan gambar-gambar yang kalian sudah lihat? Tampak seperti apakah orang ini? Dia sepertinya ...
Siswa: Tinggi.
Guru: Ya, dia tinggi. Dia tinggi. Tingginya luar biasa, mungkin 6,4 kaki atau lebih. Lumayan tinggi. Baiklah. Apa lagi yang muncul di pikiran kalian mengenai orang ini?
Siswa: Kurus.
Guru: Ya, dia kurus. Kita memiliki satu kata dalam daftar kata-kata dua hari yang lalu, yang saya harap kalian masih ingat, yang menggambarkan cara dia kadang-kadang tampil dalam berapa gambar. Menurut kalian apa? Ada yang ingat? Tad, kamu masih ingat?
Siswa: Ahh, dia seperti orang yang ingin asyik dengan dirinya sendiri.
Guru: Oke. Dia adalah model pribadi yang suka menyendiri. Sebuah pengamatan yang bagus. Patrick.
Siswa: Berkerenyut.
Guru: Maaf, bisa diulang?
Siswa: Terdapat banyak keriput di wajahnya.
Guru: Dia baik. Dia bisa kelihatan sangat ... Dia bisa kelihatan berkeriputan. Dia bisa kelihatan sangat serius.
Siswa: Kurus kerempeng.
Guru: Dia kurus kerempeng. Dia kurus-kering dan ceking. Itulah kata yang saya pikirkan tentang dia. Jenny?
Siswa: Dia tampak sedih.
Guru: Tampak sedih.

III.    DESKRIPSI FILM
Diawal pelajaran seorang guru kelas lima menyampaikan harapannya kepada murid. Sang guru memancing siswanya untuk mengingat kembali pelajaran sebelumnya. Kemudian sang guru menjelaskan topik pembelajaran pada hari itu dan membuka proses berpikir para siswa dan memberitahukan bahwa pelajaran tersebut akan selalu ada ditingkat selanjutnya. Dalam proses pembelajaran sang guru mengajak para siswa untuk berimajinasi jika mereka berada pada situasi perang, gurunya bertanya bagaimana orang pada zaman perang bertahan hidup, apa yang mereka kerjakan , kemudian membuat murid-muridnya menjawab pertanyaan dari sang guru. Kemudian guru meminta para muridnya untuk berspekulasi mengenai bagaimana perasaan dan pikiran mereka jika menjadi budak. Lalu guru memberikan pertanyaan dengan cepat agar siswanya merespon kemudian guru menyebutkan salah satu tokoh Abe Lincoln  dan siswa mendreskripsikan tokoh tersebut.

IV.    HASIL ANALISIS FILM
1). Dari video tersebut (Bab 3 Latihan 3.2) dapat kita amati bahwa anak-anak yang ada di kelas tersebut terlihat  menunjukkan minat yang sangat tinggi untuk memahami perspektif yang di sampaikan oleh guru. Terbukti dari focus, antusias dan sebagian besar bahasa tubuh mereka. Dari 4 menit pertama pelajaran di mulai (09.00-09.04), siswa di kelas tersebut sudah memperlihatkan minat yang begitu besar dengan cara menjawab pertanyaan dan memberikan pendapat kepada guru terkait dengan perspective taking. Hal ini sesuai dengan asumsi-asumsi dasar teori Piaget yang menjelaskan bahwa anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan mudah untuk termotivasi. Piaget meyakini bahwa anak-anak secara alami memiliki ketertarikan terhadap dunia dan secara aktif mencari informasi yang dapat membantu mereka memahami dunia tersebut. Dalam konteks video tersebut di tampilkan dengan cara anak aktif memberikan respon pertanyaan dan menjawab.
2). Dari cuplikan video tersebut terlihat dengan jelas bahwa siswa sudah dapat “berjalan dengan sepatu orang lain”, dalam artian mereka benar-benar dapat memahami dan mengerti bagaimana cara mempertimbangkan perspective orang lain (perspective taking). Kita lihat contoh pada tanya jawab guru dan siswa, ketika guru bertanya tentang “apa lagi yang mungkin akan kalian lakukan setelah mereka membakar hasil panen”, awal nya para siswa menjawab dengan serentak “membiarkan hasil panen dan mencabuti rumput-rumput”, kemudian jawaban tersebut mendapat  dari guru. Para siswa mencoba lagi untuk menjawab “membiarkan  rumput dan mencabut hasil panen agar balas dendam ini memang benar-benar merugikan majikan”. Dari Tanya jawab tersebut yang jawaban pertamanya adalah salah dan kemudian yang kedua benar dapat di analisa bahwa para siswa memang sangat berusaha untuk masuk kedalam perspective sang guru. Dan ikut memikirkan masalah tersebut secara penuh.
3). Di bagian tengah dan akhir video tersebut, dapat di analisa teori pikiran (theory of mind) benar-benar berkembang. Anak mampu menafsirkan dan memprediksi perilaku orang lain dan mampu berinteraksi dengan baik (Flavell, 2000; Gopnik & Meltzoff, 1997; Wellman & Gelman,1998). Ini terbukti ketika siswa awalnya hanya disuguhi penjelasan tentang seksionalisme, timur laut dan tenggara. Namun penjelasan-penjelasan tersebut berkembang dengan sendiri nya dari pikiran siswa yang di hasilkan dari tehnik-tehnik sang guru untuk mengajak siswa ikut serta memikirkan. Dari situ maka lahirlah pemahaman yang semakin kompleks oleh pikiran anak.
4). Keterampilan social siswa yang ada di video tersebut bisa di katakan mencerminkan sikap yang baik, tidak menginterupsi, berkomunikasi secara terbuka (menunggu sampai diberi giliran untuk berbicara saat sebuah percakapan berlangsung) dan menunjukkan minat terhadap apa yang sedang disampaikan orang lain.

V.     KESIMPULAN FILM
            Dari cuplikan video metode pembelajaran yang di sampaikan oleh guru kelas lima terhadap siswa-siswi nya di kelas dapat di tarik menjadi beberapa kesimpulan yakni pada umumnya anak-anak kelas lima yang mana berada pada tahap operasional konkret (menurut piaget, usia antara 6 atau 7 tahun hingga 11 atau 12 tahun) biasanya sudah mampu untuk melakukan proses kognisi social, perspective taking, mempertimbangkan bagaimana cara berpikir dan berperilaku jika di hadapkan dalam sebuah situasi social, melakukan komunikasi secara terbuka serta mampu menunjukkan minat dan tindakan prososial,  jika proses ini di latih dan di latih secara terus menerus (contoh : video Bab 3 Latihan 3.2) , tentunya akan meningkatkan keterampilan social anak. Dengan begitu anak menjadi lebih mudah menjalin hubungan persahabatan secara lebih mudah dengan anak yang lainnya, memilki perasaan diri yang lebih baik, simpati dan empati menjadi lebih kuat serta akan timbul perasaan menghargai yang lebih terhadap orang tua, guru dan sebagainya. Namun semua hal tersebut akan sukses di capai tergantung dengan kondisi psikologis-mental anak serta sangat tergantung pada peran orang tua di rumah, guru di sekolah dan lingkungan untuk mendidik dan mengajarkan anak secara bersama-sama. Karena pada dasarnya, menurut Erikson (1968), anak-anak harus dipaksa secara lembut tetapi tegas ke dalam petualangan untuk menemukan bahwa seseorang dapat belajar menyelesaikan sesuatu, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya.  Sehingga anak bisa keluar dari zona perkembangan proksimal dan terus melakukan pembelajaran.

VI.    LATIHAN KERJA
Film 5-6
1).Apa bukti yang anda lihat bahwa para siswa memiliki kemampuan mempertimbangkan perspektif orang lain?
2).Dalam cara-cara apa guru membantu mengembangkan kemampuan siswa untuk mempertimbangkan perspektif orang lain?
3).Keterampilan-keterampilan sosial apa yang ditampilkan oleh para siswa?
4).Strategi-strategi apa yang digunakan guru untuk meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial para siswa?
Jawab :
1).Buktinya terlihat dari sangat besarnya usaha dan minat para siswa tersebut untuk memahami  dan melakukan perspective taking (mempertimbangkan perspektif orang lain) terhadap penjelasan guru. Sebagai contoh ada beberapa jawaban yang berhasil di jawab atau kata yang berhasil di tebak oleh siswa.
Seperti pertanyaan tentang :
- Pada awalnya guru menjelaskan tentang geografi perang saudara dan bagaimana kehidupan orang-orang pada masa itu. Guru melontarkan pertanyaan kepada siswanya bagaimana orang-orang pada masa itu mampu bertahan hidup? Kemudian guru menunjuk seorang siswa untuk menjawab pertanyaannya. Siswa tersebut menjawab “bertani” hal itu membuktikan bahwa siswa tersebut mampu memprediksi apa yang dilakukan oleh orang-orang pada masa itu
- Apa kata yang di gunakan untuk usaha balas dendam, para siswa menjawab dengan serentak “balas dendam” dan di akhiri pujian “bagus” oleh gurunya.
- Para siswa berhasil menebak bagaimana gambaran Abe Linclon yaitu tinggi, kurus, model pribadi yang suka menyendiri dan memiliki wajah yang berkeriput.
2).Memberikan pemicu untuk berpikir siswa, membenarkan yang tidak sesuai dengan perspektif guru dan menggunakan elaborasi. Kemudian mengajak siswa untuk berimajinasi menjadi orang yang mereka bahas dan membayangkan apa yang dilakukan jika menjadi orang itu menggunakan pikiran mereka sendiri. 
3).Banyak sekali keterampilan social yang di tampilkan oleh siswa dalam video tersebut antara lain :
- Interaktif dan kerja sama social yang terlihat antara guru dan siswa, Misalnya, ketika siswa di minta oleh guru untuk ikut terlibat dalam perspektif guru, mereka mampu menebak kata dari kalimat yang di sampaikan oleh guru, seperti ketika guru bertanya “mereka semua harus bertani, bukan? Karena mereka harus ...? Siswa secara spontan menjawab “makan” . Artinya terjalin interaksi dari kedua belah pihak, siswa dan guru.
- Dengan keterampilan dari sang guru untuk mendorong para siswa agar masuk ke dalam perspektif nya maka para siswa akhirnya mampu dan terampil melakukan perspective taking yaitu mampu untuk mempertimbangkan perspektif orang lain.
- Selain dua poin di atas, menurut pengamatan kami, siswa di kelas tersebut juga sudah mampu untuk menafsirkan pengetahuan yang sudah mereka dapatkan sebelumnya. Dalam video tersebut guru meminta para siswa untuk mendeskripsikan tentang tokoh Abe Lincoln. Dan siswa menjawab dengan sangat antusias sekali, ada beberapa yang mendeskrisikan Abe Lincoln seperti orang yang asyik dengan diri sendiri, terlihat sedih, berwajah keriput dan bahkan ada yang mendeskripsikan Abe Lincoln mempunyai poster badan yang kurus kerempeng.
4).Tersedianya banyak kesempatan bagi siswa untuk memberikan pendapat, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi dan kerjasama social, memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada siswa dalam bentuk pujian, criteria dari bahan yang ingin di pertanyakan di jelaskan secara akurat. Guru menetapkan aturan dan menegakkan aturan-aturan yang tegas mengenai cara berperilaku.

REFERENSI
Ellis Ormrod, 2008. Psikologi Pendidikan Edisi Keenam Jilid 1, Jakarta : Penerbit Erlangga
Santrock,  2012. Life Span Development Perkembangan Masa Hidup Edisi Ketigabelas, Jakarta : Penerbit Erlangga
Santock, 1995. Life Span Development Perkembangan Masa Hidup Edisi Kelima, Jakarta : Penerbit Erlangga