Saturday, 14 December 2013

BAGAIMANA CARA MENINGKATKAN PERILAKU PROSOSIAL.?


      Ada beberapa cara untuk meningkatkan perilaku prososial. Brigham (1991) setelah menyimpulkan dari beberapa penelitian yang ada, menyatakan bahwa ada beberapa cara untuk meningkatkan perilaku prososial antara lain :
Pertama, melalui penayangan model perilaku prososial, misalnya melalui media komunikasi masa. Sebab banyak perilaku manusia yang terbentuk melalui belajar social terutama dengan cara meniru. Serta mengamati model prososial dapat memiliki efek priming yang berasosiasi dengan anggapan positif tentang sifat-sifat manusia dalam diri individu pengamat.
Kedua, dengan menciptakan suatu superordinate identity, yaitu pandangan bahwa setiap orang adalah bagian dari keluarga manusia secara keseluruhan. Dalam beberapa penelitian ditunjukkan bahwa menciptakan superordinate identity dapat mengurangi konflik dan meningkatkan perilaku prososial dalam kelompok besar serta meningkatkan kemampuan empati diantara anggota-anggota kelompok tersebut.
Ketiga, dengan menekankan perhatian terhadap norma-norma prososial, seperti nroma-norma tentang tanggung jawab social. Norma-norma ini dapat ditanamkan oleh orangtua, guru ataupun melalui media massa. Demikian pula, para tokoh masyarakat dan pembuat kebijakan media masa. Demikian pula, para tokoh masyarakat dan pembuat kebijakan dapat memotivasi masyarakat untuk bertindak prososial dengan member penghargaan kepada mereka yang telah banyak berjasa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Penghargaan ini akan member pengukuhan postif bagi pelaku tindakan prososial itu sendiri maupun orang lain/masyarakat

Strategi Meningkatkan Perilaku Prososial pada Anak
Akhir-akhir ini kita sering melihat dan mendengar fenomena menyontek ketika Ujian Nasional berlangsung melalui media cetak dan elektronik. Sebagai orang tua, apakah Anda bangga melihat cerminan moralitas anak bangsa yang memiliki kesadaran dan identitas diri yang rendah? Menurut Blasi  (dikutip dalam Santrock, 2008), moral merupakan bagian yang sangat penting bagi kehidupan anak-anak. Ketika anak-anak tidak memiliki karakter yang bermoral, mereka akan tumbuh menjadi anak yang tertekan, gagal dalam mengikuti perkembangan, menjadi terganggu, serta gagal berperilaku sesuai dengan moral yang bisa terbawa hingga mereka dewasa.
Ketika anak-anak mengembangkan kesadaran akan diri dan identitas, mereka juga mengembangkan pengertian akan moralitas. Perkembangan moralitas mempunyai peranan penting bagi kehidupan masa kini dan yang akan datang bagi seorang anak, kesadaran moral yang tinggi bisa meningkatkan kemampuan perilaku prososial pada anak, seperti dapat memikirkan perasaan orang lain, tidak menyontek dalam ujian, jujur dan dapat dipercaya, bijaksana dalam bertindak, cermat, dapat diandalkan, setia, dan memiliki sifat berhati-hati.
Sikap antisosial seperti menyontek, berbohong, dan mencuri sebenarnya dapat dihilangkan, karena pada kenyataannya sikap antisosial merupakan pembelajaran dan pembiasaan dari sebuah perilaku. Bagi seorang anak yang tidak ditanamkan moral sedari kecil bisa saja menganggap bahwa perilaku antisosial adalah perilaku yang wajar dan dapat diterima di masyarakat, sebagai contoh kasus yang sering kita jumpai bahkan sering kita lakukan adalah menyuruh anak untuk berbohong, misalnya ketika ada seorang tamu datang ke rumah, pada saat itu sang ibu tidak ingin menemui tamu tersebut karena alasan tertentu, maka sang ibu menyuruh anaknya untuk mengatakan pada tamu tersebut bahwa ibu sedang tidak berada di rumah, sehingga tamu tersebut tidak jadi bertamu. Hal ini diperparah ketika sang ibu tersebut tidak menjelaskan alasannya berbohong, sebagai anak yang belum memahami pentingnya moral menganggap perilaku berbohong adalah hal yang wajar dan boleh dilakukan di masyarakat.
Sebagai orangtua bangga rasanya memiliki anak yang perilakunya bermoral dan memiliki integritas diri yang baik. Untuk mengembangkan atau meningkatkan sikap prososial untuk anak-anak tidak ada kata terlambat, akan tetapi akan lebih baik jika sedari dini anak mulai dibekali pendidikan moral. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan pada anak-anak untuk meningkatkan perilaku prososial:
1.    Menilai dan Mempertimbangkan Kebutuhan Orang lain. Pada hal ini anak diberikan kesempatan pengambilan peran, seperti melibatkan anak dalam berbagai aktivitas untuk membantu orang lain. Menurut Nel Noldings  (dikutip dalam Santrock, 2008) moralitas merupakan suatu hal yang harus dirasakan individu terhadap orang lain, yang nantinya akan menghasilkan sikap empati dan perhatian.
2.    Berikan Anak Contoh. Sebagai orang tua, berikan anak-anak contoh perilaku prososial, karena anak akan selalu meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Sebaga contoh, orang tua tidak pernah membohongi anak dan orang lain di depan anak dan sebagai orang tua jagan pernah bertengkar di depan anak-anak, tunjukkan kesetian Anda pada keluarga di depan anak-anak.
3.    Beri Label dalam Mengidentifikasi Perilaku Prososial dan Antisosial. Seringkali kita hanya mengatakan, “itu bagus” atau “itu baik” kepada anak, mulai sekarang bersikaplah spesifik dalam mengidentifikasi perilaku prososial. Katakan, “kamu sangat menolong pada saat memberikan tisu kepadanya, karena ia sangat membutuhkan tisu untuk membersihkan hidungnya”, atau sehubungan dengan perilaku antisosial, Ansa bisa katakan pada anak, “hal itu tidak baik, bagaimana perasaanmu jika ia mengotori bajumu seperti itu?”.
4.    Menghubungkan tujuan positif dengan tindakan positif. Memberikan anak pengetian dan alasan dari tindakannya, sebagai contoh “kamu berbagi karena kamu senang membantu orang lain”.
5.    Berunding. Anak memerlukan bimbingan dan pengawasan dari orang yang lebih dewasa dalam berperilaku, sebagai orang tua ketika melihat seorang anak melakukan kesalahan jangan langsung bersikap dan berkata kasar pada anak, sebaiknya ajak anak tersebut berunding, misalnya ia melukai temannya, maka sebutkan konsekuensi-konsekuensi dari perilaku anak tersebut bagi korban. Hal ini akan membuat anak berfikir dan menyadari akan kesalahannya, tetapi jika Anda bersikap kasar karena kesalahan anak, maka anak tersebut cenderung akan mengulangi perbuatannya karena anak tidak sepenuhnya paham akan kesalahannya.
kelima hal tersebut diharapkan dapat membantu para orang tua meningkatkan perilaku prososial pada anak.



DAFTAR PUSTAKA
Santrock, John. W. (2008). Educational Psychology  (3 th ed). New York: McGraw-Hill
Dayaksini T, Hudaniah (2009) Psikologi Sosial, Malang: UMM Press

No comments:
Write komentar