Rabu, 27 November 2013

Kepuasan, komitmen dan konflik dalam hubungan


KEPUASAN

Arti kepuasan disini adalah kita bisa menjalani hubungan yang bisa memberikan kebahagian, bukan suatu penyesalan atas kejadian apa yang telah terjadi. Hubungan cinta dapat dikatakan memuaskan apabila hubungan cinta yang dijalani bisa berjalan dengan lancar, sesuai dengan apa yang diharapkan, yang mana memiliki hubungan yang berkualitas dan berlanjut. Terkadang bagi mereka yang tidak memiliki kepuasan dalam hubungan, tentunya akan cenderung untuk meninggalkan pasangannya. Padahal belum tentu orang yang ditinggalkan bersedia untuk ditinggalkan, hanya karena dirinya sudah merasa puas. Orang yang merasa puas dengan pasangan, secara umum dicirikan sebagai berikut:
1). Lebih mencintai pasangannya dan tidak mementingkan keegoisan sendiri. Segala sesuatu selalu dibuat sama, selalu mencoba menjadi pengisi satu sama lain.
2). Selalu bersikap positif dalam memberikan suatu kepercayaan. Memiliki kesamaan rasa yang sejajar, peka akan keadaan pasangan.
3). Menjaga quality time, meskipun sama-sama memiliki kesibukan masing-masing.
4). Merasa nyaman dan aman saat bersama.
Suatu keadilan dan keseimbangan merupakan faktor utama bagi pasangan, dalam merasakan kepuasan pada hubungan cinta. Dari keadilan dan keseimbangan akan menurunkan rasa pengertian antara pasangan, yang menjadi dasar dalam hubungan. Sebelum mencapai kepuasan dalam hubungan cinta, ada baiknya untuk melihat dan berintrospeksi pada diri sendiri. Apakah diri sendiri sudah memberikan yang terbaik untuk pasangan, atau bahkan menyadari kelemahan yang harus terus diperbaiki. Hingga pada nantinya proses menuju kepuasan pada hubungan berjalan dengan sendirinya.

KOMITMEN
            Pengertian atau definisi dari kata komitmen sangatlah beragam, sebagai ilustrasi komitmen perkawinan sering didefinisikan sebagai suatu keinginan atau kelekatan terhadap pasangannya dan disertai perasaan kesetiaan, pencurahan, perhatian dan pengabdian. Dalam kasus lain, mempertahankan perkawinan berdasar pada perasaan tentang kewajiban dan disertai dengan pengorbanan. Adams dan Jones (1997) sesudah mereview beberapa studi atau literature tentang komitmen dalam perkawinan menyimpulkan bahwa ada beberapa aspek yang menjadi indicator untuk melakukan asesmen tingkat komitmen dari perkawinan antara lain:
1.Kualitas dari alternative (misal: “Saya harus tetap bersama pasangan saya karena saya tidak menemukan yang lain yang lebih baik”).
2.Investments (misal: “Saya telah menanamkan begitu banyak waktu dan energy dalam perkawinan saya sehingga saya merasa harus mempertahankan kelangsungannya”).
3.Relational Identity (misal: “Saya lebih kuat mengidentifikasikan dengan perkawinan saya daripada dengan diri saya sendiri sebagai individu”).
4.Dedikasi pribadi (misal: “Saya mengabdikan untuk membuat perkawinan saya sepenuhnya terwujud” atau “saya setia pada pasangan saya”).
5.Batasan-batasan moral (misal: “Saya tak pernah meninggalkan pasangan saya karena ini berlawanan dengan keyakinan saya”).
6.Batasan-batasan social (misal: “Perceraian akan menghancurkan reputasi saya”).
7.Keuntungan tambahan (misal: “Mengawini pasangan saya meningkatkan status social saya”).
           Duffy dan Rusbult (1986) menyatakan bahwa orang akan lebih komitmen pada suatu hubungan ketika: (1).Mereka puas dengan hasil yang mereka peroleh. (2).Tidak adanya alternative hubungan lain yang dapat dimasukinya dan (3).Mereka telah menginvestasikan beberapa sumber yang cukup besar dalam hubungan itu (seperti: waktu, usaha, pengungkapan diri, persahabatan yang timbal balik dan berbagi milik).

KONFLIK
             1.Pengertian konflik

       Konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Suatu konflik atau pertikaian ditanda dengan pertentangan antara dua pihak yang mempunyai perbedaan-perbedaan dalam ciri-ciri badaniah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola, dan perilaku. Pertentangan juga ditandai dengan keinginan menghancurkan/menyakiti pihak lawan
2. Faktor-faktor Penyebab Konflik Sosial
a.Perbedaan individu
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan antarindividu dimaksudkan untuk saling mengisi kekurangan masing-masing orang yang terlibat di dalam suatu proses social.
b.Perbedaan latar belakang kebudayaan
Orang dibesarkan dalam lingkungan kebudayaan yang berbeda-beda. Seseorang akan cenderung bersifat kurang mandiri, menghargai orang lain, bersahabat dan tidak individualis. Dalam lingkup yang lebih luas, masing-masing kelompok kebudayaan memiliki nilai-nilai dan norma-norma social yang berbeda-beda ukurannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Perbedaan-perbedaan inilah yang dapat mendatangkan konflik sosial, sebab criteria tentang baik-buruk, sopan-tidak sopan, pantas-tidak pantas atau bahkan berguna atau tidak bergunanya sesuatu, baik itu benda fisik maupun nonfisik, berbeda-beda menurut pola pemikirkan masing-masing yang didasarkan pada latar belakang kebudayaan masing-masing.
c.Perbedaan kepentingan
Manusia memiliki perasaan, pendirian, maupun latar belakang kebudayaan ang berbeda-beda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antarkelompok atau antara kelompok dengan individu.
d.Perubahan-perubahan nilai yang cepat
Perubahan nilai terjadi di setiap masyarakat. Artinya nilai-nilai sosial, baik nilai kebenaran, kesopanan, maupun nilai material dari suatu benda mengalami perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, akan menyebabkan konflik sosial. Suatu konflik mempunyai kecenderungan atau kemungkinan untuk mengadakan penyesuaian kembali norma-norma dan hubungan-hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu maupun bagian-bagian kelompok tersebut. 
3.Situasi-situasi Pemicu Konflik
a.Konflik dengan orang tua sendiri
Terjadi sebagai akibat situasi-situasi hidup bersama dengan orang tua. Pengharapan-pengharapan orang tua dan kewajiban-kewajiban seorang anak kepada kedua orang tuanya sulit sekali dijalankan bersamaan secara serasi.
b.Konflik dengan anak-anak sendiri
Terjadi misalnya setelah orang tua mengetahui tingkah laku anak yang tidak cocok dengan harapannya. Menurut beberapa penelitian, konflik seperti ini juga berakibat pada hubungan-hubungan sosial yang lain.
c.Konflik dengan sanak keluarga
Pada masa kanak-kanak dan remaja dapat timbul konflik, terutama dengan kakek, nenek, paman atau bibi yang ikut dalam proses pendidikan anak.
d.Konflik dengan orang lain
Timbul dalam hubungan sosial dengan teman, tetangga, teman sekerja, dan orang-orang lain di lingkungannya. Karena adanya perbedaan pendirian atau pendapat antara anggota-anggotanya masyarakat mengenai suatu hal.
e.Konflik dengan suami atau dengan istri
Kesulitan-kesulitan dalam perkawinan, pertentangan-pertentangan kecil mengenai persoalan hidup sehari-hari atau perselisihan yang dalam mengenai persoalan hidup atau tujuan hidup dapat memicu terjadinya konflik antara suami dan istri
f.Konflik di sekolah
Berbagai macam konflik di sekolah antara lain berupa tidak dapat mengikuti pelajaran, tidak lulus ujian, persoalan hubungan antara guru dengan murid, atau persoalan kedudukan di antara teman-teman sebaya dalam kelas
g.Konflik dalam pemilihan pekerjaan
Timbul dari sifat pekerjaan sendiri
h.Konflik agama
Berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat dan tujuan hidup, aturan-aturan yang bertentangan dengan agama, pindah dari suatu agama ke agama lain, menikah dengan orang yang berbeda agama, dan lain-lain.
i.Konflik pribadi
Timbul karena minat yang berlawanan, tidak ada keuletan, atau tidak ada kemampuan untuk mengembangkan diri dan meluaskan hidup
 4. Dampak-dampak konflik 
Segi positif suatu konflik :
a.Memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau  masih belum tuntas ditelaah.
b.Memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma dan nilai serta hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan sesuai dengan kebutuhan individu atau kelompok.
c.Jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok.
d.Dapat membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru.
e.Dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat.
Akibat-akibat dari suatu konflik sosial :
a.Meningkatan solidaritas sesame anggota kelompok ( in-group solidarity) yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain.
b.Keretakan hubungan antarindividu atau kelompok.
c.Perubahan kepribadian para individu.
d.Kerusakan harta benda dan bahkan hilangnya nyawa manusia. 
e.Akomodasi, dominasi, bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam pertikaian.
Tertib sosial ditandai oleh tiga hal :
a.Terdapat suatu system nilai dan norma yang jelas
b.Individu atau kelompok di dalam masyarakat mengetahui dan memahami norma dan nilai sosial yang berlaku.
c.Individu atau kelompok dalam masyarakat menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku.

MENGAKHIRI HUBUNGAN
            Biasanya konflik di awali dengan sebuahn konflik atribusi diantara kedua belah pihak, terutama bagi pihak yang merasa menderita dalam hubungan itu, baik dalam hubungan persahabatan, cinta ataupun hubungan antara orang tua dan anak. Pihak yang menderita dalam hubungan itu juga cenderung melihat pasangan mereka bertingkah laku dimotivasi untuk dirinya sendiri dan memiliki niat yang negative. Bradbury dan Fincham (1990) menemukan bahwa pada pihak pasangan yang menderita memandang penyebab atas kejadian-kejadian negative berpengaruh secara global (dimensi globality menonjol) sedangkan kejadian-kejadian positif dilihat hanya sebagai kejadian khusus atau kebetulan.
Ketika suatu hubungan yang erat mulai berkurang, maka akan muncul beberapa reaksi sebagaimana yang digambarkan oleh Rushbold dan Zembrodt (1983) yaitu: membicarakan (voice), kesetiaan (loyalty), menolak (neglect) dan pergi (exit). Reaksi-reaksi ini dibedakan berdasarkan dua dimensi, yaitu reaksi atau respon yang konstruktif-destruktif dan aktif-pasif. Reaksi membicarakan (voice) dan kesetiaan (loyalty) dianggap sebagai reaksi yang konstruktif karena pada umumnya berniat untuk mempertahankan hubungan, sedangkan meninggalkan hubungan (exit) dan menolak untuk menyelesaikan masalah (neglect) dianggap sebagai reaksi destruktif yang cenderung memutuskan atau mengakhiri hubungan. Istilah destruktif disini mengacu pada nasib hubungan yang dilakukan kedua belah pihak dan bukan pada individu-individu yang terlibat dalam hubungan itu.
Pada dimensi aktif-pasif, reaksi exit dan voice termasuk perilaku yang aktif, sedangkan loyality dan neglect dianggap lebih pasif. Resboult dan Zembrodt (1983) mengidentifikasikan tiga variable yang dapat memprediksi derajat komitmen terhadap suatu hubungan dan juga mempengaruhi pilihan dari reaksi atau respon yang diambil ketika ia tidak puas dengan hubungan itu. Variabel-variabel itu adalah sebagai berikut:
1.Derajat kepuasan individu pada hubungan itu sebelum terjadi penurunan/ kemunduran hubungan
2.Besarnya sumber-sumber yang telah diinvestasikan oleh individu-individu dalam hubungan itu.
3.Mutu dari hubungan alternative (comparison level for alternatives) yang terbaik pada saat itu yang bisa terjangkau (dalam Brigham, 1991)
Adapun tanda jika dalam suatu hubungan mulai renggang dan mungkin akan berakhir dengan pemutusan hubungan adalah:
1.Tidak ada kecocokan. Sebaiknya Anda menghindari pasangan yang tak sejalan dengan Anda. "Karena untuk hubungan jangka panjang, membutuhkan kesesuaian kedua belah pihak, bagaimana membangun hubungan menjadi lebih baik setiap harinya. Kecocokan ini menjadi fondasi atau dasar dari menjalin hubungan. Kalau sudah beda karakter dan sama sekali bertolak belakang, kecil kemungkinan untuk bisa bertahan lebih lama. Mereka bisa jadi menarik perhatian dan mengundang rasa penasaran, tetapi beda perspektif dalam hidup jelas tak akan sukses di kemudian hari. 
          2.Perbedaan membuat masalah. Misalkan Anda sukses dalam karier, dan dia mengaguminya. Di awal ini tentu biasa-biasa saja, namun lama kelamaan secara personal motivasi Anda akan menurun dan berkurang. Si dia seolah tidak mampu menjangkau dunia Anda karena jarak yang terlalu jauh berbeda. Psikolog Carl Hindy menuturkan jurang perbedaan yang makin lama makin dalam ini berpotensi menjadi masalah besar dalam hubungan. Yang ujung-ujungnya akan membuat tidak nyaman dan berakhir dengan tragis. Anda tidak akan mendapatkan kualitas hubungan yang diharapkan, karena beda dunia akan membuat beda persepsi. Selebihnya akan di luar ekspektasi.
3.Terlalu banyak kompromi. Sekali dua kali, kompromi terhadap prinsip si dia bisa jadi, tapi jika terus menerus terjadi, yang ada Anda hanya akan menumpuk beban sendiri. Keterikatan emosi atau chemistry bisa saja dimiliki, namun punya kesamaan prinsip hidup,visi dan cara pandang juga tak kalah penting. Melani Matcek, konsultan relationship meyakini hal itu. Katanya, jika secara terus menerus Anda berkorban dan mencoba kompromi dengan kehidupan pasangan, Anda bisa lupa dengan kehidupan sendiri. Ini akan berujung pada beban yang besar.
4.Hanya tertuju pada fisik. Secara sadar atau tidak, ketertarikan pada seseorang yang karakternya bertolak belakang dengan Anda bisa jadi bermula pada ketertarikan pada fisik semata. Seperti ketertarikan orang Asia dengan pria asal Eropa yang putih dan bermata biru, atau sebaliknya. Ketertarikan ini yang kemudian menjadi alasan utama walaupun sama-sama tahu, secara karakter amatlah tidak cocok. Dalam hal ini, matchmaker Marla Martenson percaya, yang bertolak belakang dipaksakan seperti apapun tak akan berjalan mulus hubungannya.
5.Berkorban banyak. Stephanie Manes, yang biasa menjadi konsultan buat terapi pernikahan mengatakan, pasangan yang tepat adalah seseorang yang dengannya Anda tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan kecocokan. Semua berjalan alamiah, dan pada akhirnya akan bertahan lebih lama langgeng sampai usia beranjak tua.


DAFTAR PUSTAKA
Tri D, Hudaniah, 2009. Psikologi Sosial. Malang: UMM Press
http://female.kompas.com/read/2013/09/12/1127400/5.Alasan.untuk.Mengakhiri.Hubungan.Opposite.Attract.


Tidak ada komentar:
Write komentar