Rabu, 27 November 2013

Kepuasan, komitmen dan konflik dalam hubungan


KEPUASAN
Arti kepuasan disini adalah kita bisa menjalani hubungan yang bisa memberikan kebahagian, bukan suatu penyesalan atas kejadian apa yang telah terjadi. Hubungan cinta dapat dikatakan memuaskan apabila hubungan cinta yang dijalani bisa berjalan dengan lancar, sesuai dengan apa yang diharapkan, yang mana memiliki hubungan yang berkualitas dan berlanjut. Terkadang bagi mereka yang tidak memiliki kepuasan dalam hubungan, tentunya akan cenderung untuk meninggalkan pasangannya. Padahal belum tentu orang yang ditinggalkan bersedia untuk ditinggalkan, hanya karena dirinya sudah merasa puas. Orang yang merasa puas dengan pasangan, secara umum dicirikan sebagai berikut:
1). Lebih mencintai pasangannya dan tidak mementingkan keegoisan sendiri. Segala sesuatu selalu dibuat sama, selalu mencoba menjadi pengisi satu sama lain.
2). Selalu bersikap positif dalam memberikan suatu kepercayaan. Memiliki kesamaan rasa yang sejajar, peka akan keadaan pasangan.
3). Menjaga quality time, meskipun sama-sama memiliki kesibukan masing-masing.
4). Merasa nyaman dan aman saat bersama.
Suatu keadilan dan keseimbangan merupakan faktor utama bagi pasangan, dalam merasakan kepuasan pada hubungan cinta. Dari keadilan dan keseimbangan akan menurunkan rasa pengertian antara pasangan, yang menjadi dasar dalam hubungan. Sebelum mencapai kepuasan dalam hubungan cinta, ada baiknya untuk melihat dan berintrospeksi pada diri sendiri. Apakah diri sendiri sudah memberikan yang terbaik untuk pasangan, atau bahkan menyadari kelemahan yang harus terus diperbaiki. Hingga pada nantinya proses menuju kepuasan pada hubungan berjalan dengan sendirinya.

KOMITMEN
            Pengertian atau definisi dari kata komitmen sangatlah beragam, sebagai ilustrasi komitmen perkawinan sering didefinisikan sebagai suatu keinginan atau kelekatan terhadap pasangannya dan disertai perasaan kesetiaan, pencurahan, perhatian dan pengabdian. Dalam kasus lain, mempertahankan perkawinan berdasar pada perasaan tentang kewajiban dan disertai dengan pengorbanan. Adams dan Jones (1997) sesudah mereview beberapa studi atau literature tentang komitmen dalam perkawinan menyimpulkan bahwa ada beberapa aspek yang menjadi indicator untuk melakukan asesmen tingkat komitmen dari perkawinan antara lain:
1.Kualitas dari alternative (misal: “Saya harus tetap bersama pasangan saya karena saya tidak menemukan yang lain yang lebih baik”).
2.Investments (misal: “Saya telah menanamkan begitu banyak waktu dan energy dalam perkawinan saya sehingga saya merasa harus mempertahankan kelangsungannya”).
3.Relational Identity (misal: “Saya lebih kuat mengidentifikasikan dengan perkawinan saya daripada dengan diri saya sendiri sebagai individu”).
4.Dedikasi pribadi (misal: “Saya mengabdikan untuk membuat perkawinan saya sepenuhnya terwujud” atau “saya setia pada pasangan saya”).
5.Batasan-batasan moral (misal: “Saya tak pernah meninggalkan pasangan saya karena ini berlawanan dengan keyakinan saya”).
6.Batasan-batasan social (misal: “Perceraian akan menghancurkan reputasi saya”).
7.Keuntungan tambahan (misal: “Mengawini pasangan saya meningkatkan status social saya”).
           Duffy dan Rusbult (1986) menyatakan bahwa orang akan lebih komitmen pada suatu hubungan ketika: (1).Mereka puas dengan hasil yang mereka peroleh. (2).Tidak adanya alternative hubungan lain yang dapat dimasukinya dan (3).Mereka telah menginvestasikan beberapa sumber yang cukup besar dalam hubungan itu (seperti: waktu, usaha, pengungkapan diri, persahabatan yang timbal balik dan berbagi milik).

KONFLIK
             1.Pengertian konflik

       Konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Suatu konflik atau pertikaian ditanda dengan pertentangan antara dua pihak yang mempunyai perbedaan-perbedaan dalam ciri-ciri badaniah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola, dan perilaku. Pertentangan juga ditandai dengan keinginan menghancurkan/menyakiti pihak lawan
2. Faktor-faktor Penyebab Konflik Sosial
a.Perbedaan individu
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan antarindividu dimaksudkan untuk saling mengisi kekurangan masing-masing orang yang terlibat di dalam suatu proses social.
b.Perbedaan latar belakang kebudayaan
Orang dibesarkan dalam lingkungan kebudayaan yang berbeda-beda. Seseorang akan cenderung bersifat kurang mandiri, menghargai orang lain, bersahabat dan tidak individualis. Dalam lingkup yang lebih luas, masing-masing kelompok kebudayaan memiliki nilai-nilai dan norma-norma social yang berbeda-beda ukurannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Perbedaan-perbedaan inilah yang dapat mendatangkan konflik sosial, sebab criteria tentang baik-buruk, sopan-tidak sopan, pantas-tidak pantas atau bahkan berguna atau tidak bergunanya sesuatu, baik itu benda fisik maupun nonfisik, berbeda-beda menurut pola pemikirkan masing-masing yang didasarkan pada latar belakang kebudayaan masing-masing.
c.Perbedaan kepentingan
Manusia memiliki perasaan, pendirian, maupun latar belakang kebudayaan ang berbeda-beda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antarkelompok atau antara kelompok dengan individu.
d.Perubahan-perubahan nilai yang cepat
Perubahan nilai terjadi di setiap masyarakat. Artinya nilai-nilai sosial, baik nilai kebenaran, kesopanan, maupun nilai material dari suatu benda mengalami perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, akan menyebabkan konflik sosial. Suatu konflik mempunyai kecenderungan atau kemungkinan untuk mengadakan penyesuaian kembali norma-norma dan hubungan-hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu maupun bagian-bagian kelompok tersebut. 
3.Situasi-situasi Pemicu Konflik
a.Konflik dengan orang tua sendiri
Terjadi sebagai akibat situasi-situasi hidup bersama dengan orang tua. Pengharapan-pengharapan orang tua dan kewajiban-kewajiban seorang anak kepada kedua orang tuanya sulit sekali dijalankan bersamaan secara serasi.
b.Konflik dengan anak-anak sendiri
Terjadi misalnya setelah orang tua mengetahui tingkah laku anak yang tidak cocok dengan harapannya. Menurut beberapa penelitian, konflik seperti ini juga berakibat pada hubungan-hubungan sosial yang lain.
c.Konflik dengan sanak keluarga
Pada masa kanak-kanak dan remaja dapat timbul konflik, terutama dengan kakek, nenek, paman atau bibi yang ikut dalam proses pendidikan anak.
d.Konflik dengan orang lain
Timbul dalam hubungan sosial dengan teman, tetangga, teman sekerja, dan orang-orang lain di lingkungannya. Karena adanya perbedaan pendirian atau pendapat antara anggota-anggotanya masyarakat mengenai suatu hal.
e.Konflik dengan suami atau dengan istri
Kesulitan-kesulitan dalam perkawinan, pertentangan-pertentangan kecil mengenai persoalan hidup sehari-hari atau perselisihan yang dalam mengenai persoalan hidup atau tujuan hidup dapat memicu terjadinya konflik antara suami dan istri
f.Konflik di sekolah
Berbagai macam konflik di sekolah antara lain berupa tidak dapat mengikuti pelajaran, tidak lulus ujian, persoalan hubungan antara guru dengan murid, atau persoalan kedudukan di antara teman-teman sebaya dalam kelas
g.Konflik dalam pemilihan pekerjaan
Timbul dari sifat pekerjaan sendiri
h.Konflik agama
Berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat dan tujuan hidup, aturan-aturan yang bertentangan dengan agama, pindah dari suatu agama ke agama lain, menikah dengan orang yang berbeda agama, dan lain-lain.
i.Konflik pribadi
Timbul karena minat yang berlawanan, tidak ada keuletan, atau tidak ada kemampuan untuk mengembangkan diri dan meluaskan hidup
 4. Dampak-dampak konflik 
Segi positif suatu konflik :
a.Memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau  masih belum tuntas ditelaah.
b.Memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma dan nilai serta hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan sesuai dengan kebutuhan individu atau kelompok.
c.Jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok.
d.Dapat membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru.
e.Dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat.
Akibat-akibat dari suatu konflik sosial :
a.Meningkatan solidaritas sesame anggota kelompok ( in-group solidarity) yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain.
b.Keretakan hubungan antarindividu atau kelompok.
c.Perubahan kepribadian para individu.
d.Kerusakan harta benda dan bahkan hilangnya nyawa manusia. 
e.Akomodasi, dominasi, bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam pertikaian.
Tertib sosial ditandai oleh tiga hal :
a.Terdapat suatu system nilai dan norma yang jelas
b.Individu atau kelompok di dalam masyarakat mengetahui dan memahami norma dan nilai sosial yang berlaku.
c.Individu atau kelompok dalam masyarakat menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku.

MENGAKHIRI HUBUNGAN
            Biasanya konflik di awali dengan sebuahn konflik atribusi diantara kedua belah pihak, terutama bagi pihak yang merasa menderita dalam hubungan itu, baik dalam hubungan persahabatan, cinta ataupun hubungan antara orang tua dan anak. Pihak yang menderita dalam hubungan itu juga cenderung melihat pasangan mereka bertingkah laku dimotivasi untuk dirinya sendiri dan memiliki niat yang negative. Bradbury dan Fincham (1990) menemukan bahwa pada pihak pasangan yang menderita memandang penyebab atas kejadian-kejadian negative berpengaruh secara global (dimensi globality menonjol) sedangkan kejadian-kejadian positif dilihat hanya sebagai kejadian khusus atau kebetulan.
Ketika suatu hubungan yang erat mulai berkurang, maka akan muncul beberapa reaksi sebagaimana yang digambarkan oleh Rushbold dan Zembrodt (1983) yaitu: membicarakan (voice), kesetiaan (loyalty), menolak (neglect) dan pergi (exit). Reaksi-reaksi ini dibedakan berdasarkan dua dimensi, yaitu reaksi atau respon yang konstruktif-destruktif dan aktif-pasif. Reaksi membicarakan (voice) dan kesetiaan (loyalty) dianggap sebagai reaksi yang konstruktif karena pada umumnya berniat untuk mempertahankan hubungan, sedangkan meninggalkan hubungan (exit) dan menolak untuk menyelesaikan masalah (neglect) dianggap sebagai reaksi destruktif yang cenderung memutuskan atau mengakhiri hubungan. Istilah destruktif disini mengacu pada nasib hubungan yang dilakukan kedua belah pihak dan bukan pada individu-individu yang terlibat dalam hubungan itu.
Pada dimensi aktif-pasif, reaksi exit dan voice termasuk perilaku yang aktif, sedangkan loyality dan neglect dianggap lebih pasif. Resboult dan Zembrodt (1983) mengidentifikasikan tiga variable yang dapat memprediksi derajat komitmen terhadap suatu hubungan dan juga mempengaruhi pilihan dari reaksi atau respon yang diambil ketika ia tidak puas dengan hubungan itu. Variabel-variabel itu adalah sebagai berikut:
1.Derajat kepuasan individu pada hubungan itu sebelum terjadi penurunan/ kemunduran hubungan
2.Besarnya sumber-sumber yang telah diinvestasikan oleh individu-individu dalam hubungan itu.
3.Mutu dari hubungan alternative (comparison level for alternatives) yang terbaik pada saat itu yang bisa terjangkau (dalam Brigham, 1991)
Adapun tanda jika dalam suatu hubungan mulai renggang dan mungkin akan berakhir dengan pemutusan hubungan adalah:
1.Tidak ada kecocokan. Sebaiknya Anda menghindari pasangan yang tak sejalan dengan Anda. "Karena untuk hubungan jangka panjang, membutuhkan kesesuaian kedua belah pihak, bagaimana membangun hubungan menjadi lebih baik setiap harinya. Kecocokan ini menjadi fondasi atau dasar dari menjalin hubungan. Kalau sudah beda karakter dan sama sekali bertolak belakang, kecil kemungkinan untuk bisa bertahan lebih lama. Mereka bisa jadi menarik perhatian dan mengundang rasa penasaran, tetapi beda perspektif dalam hidup jelas tak akan sukses di kemudian hari. 
          2.Perbedaan membuat masalah. Misalkan Anda sukses dalam karier, dan dia mengaguminya. Di awal ini tentu biasa-biasa saja, namun lama kelamaan secara personal motivasi Anda akan menurun dan berkurang. Si dia seolah tidak mampu menjangkau dunia Anda karena jarak yang terlalu jauh berbeda. Psikolog Carl Hindy menuturkan jurang perbedaan yang makin lama makin dalam ini berpotensi menjadi masalah besar dalam hubungan. Yang ujung-ujungnya akan membuat tidak nyaman dan berakhir dengan tragis. Anda tidak akan mendapatkan kualitas hubungan yang diharapkan, karena beda dunia akan membuat beda persepsi. Selebihnya akan di luar ekspektasi.
3.Terlalu banyak kompromi. Sekali dua kali, kompromi terhadap prinsip si dia bisa jadi, tapi jika terus menerus terjadi, yang ada Anda hanya akan menumpuk beban sendiri. Keterikatan emosi atau chemistry bisa saja dimiliki, namun punya kesamaan prinsip hidup,visi dan cara pandang juga tak kalah penting. Melani Matcek, konsultan relationship meyakini hal itu. Katanya, jika secara terus menerus Anda berkorban dan mencoba kompromi dengan kehidupan pasangan, Anda bisa lupa dengan kehidupan sendiri. Ini akan berujung pada beban yang besar.
4.Hanya tertuju pada fisik. Secara sadar atau tidak, ketertarikan pada seseorang yang karakternya bertolak belakang dengan Anda bisa jadi bermula pada ketertarikan pada fisik semata. Seperti ketertarikan orang Asia dengan pria asal Eropa yang putih dan bermata biru, atau sebaliknya. Ketertarikan ini yang kemudian menjadi alasan utama walaupun sama-sama tahu, secara karakter amatlah tidak cocok. Dalam hal ini, matchmaker Marla Martenson percaya, yang bertolak belakang dipaksakan seperti apapun tak akan berjalan mulus hubungannya.
5.Berkorban banyak. Stephanie Manes, yang biasa menjadi konsultan buat terapi pernikahan mengatakan, pasangan yang tepat adalah seseorang yang dengannya Anda tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan kecocokan. Semua berjalan alamiah, dan pada akhirnya akan bertahan lebih lama langgeng sampai usia beranjak tua.


DAFTAR PUSTAKA
Tri D, Hudaniah, 2009. Psikologi Sosial. Malang: UMM Press
http://female.kompas.com/read/2013/09/12/1127400/5.Alasan.untuk.Mengakhiri.Hubungan.Opposite.Attract.


Senin, 18 November 2013

KONDISI KESADARAN MANUSIA



TIDUR DAN MIMPI
Tahapan-Tahapan Tidur
            Setiap orang memiliki tahapan dan jenis tidurnya pada waktu beristirahat di malam hari, yang dikenal dengan tahap 1 sampai tahap 4 dan tidur REM, yang berlangsung secara bertahap selama 90 menit. Adapun tahapan-tahapan dalam tidur adalah sebagai berikut :
-          Tidur tahap 1, tahapan dari transisi yang berada di antara terjaga dan tidur di menit-menit terakhir, memiliki cirri gelombang otak yang lebih cepat dan memiliki amplitudo rendah.
-          Tidur tahap 2, tidur yang lebih dalam dari kualitas tidur tahap 1, dengan pola gelombang yang lebih lambat, sejalan dengan interupsi sekejap oleh “sleep spindles”.
-          Tidur tahap 3, kualitas tidur dengan memiliki ciri karakteristik gelombang otak yang lebih lambat dengan memiliki banyak gelombang dengan ketinggian gelombang yang rendah dibandingkan dengan tidur tahap 2.
-          Tidur tahap 4, tahapan yang lebih mendalam delama tertidur, kita kurang dapat merespons stimulasi dari luar.
Tidur REM: Paradoks Tentang Tidur
            Rapid Eye Movement atau tidur REM berbeda dengan tidur tahap 1 hingga tahap 4 yang biasa disebut dengan tidur non-REM. Tidur REM berlangsung lebih dari 20% dari total tidur orang dewasa. Yang paling penting tidur REM selalu disertai mimpi, yang mana orang tersebut dapat mengingatnya atau tidak merupakan pengalaman yang dialami setiap orang ketika mereka sedang tidur pada malam hari. Meskipun berbeda mimpi muncul pada tahap tidur Non-REM, mimpi biasanya sering muncul pada periode REM, di mana mimpi tersebut memberikan gambaran hidup dan mudah untuk diingat (Conduit, Crewther & Colemen, 2004; Lu et al., 2006; Titone, 2002). Tidur REM dapat berperan dalam belajar dan mengingat, membiarkan kita mengingat ulang setiap informasi dan perasaan emosional yang kita dapatkan tiap harinya (Nishida et al., 2009; Walker & Van Der Helm, 2009).
Mengapa kita tidur dan berapa banyak tidur yang kita perlukan?
            Tidur merupakan syarat manusia agar berfungsi normal, meskipunsecara mengejutkan kita tidak mengetahui mengapa secara tepatnya. Menurut perspektif evolusioner menyatakan, tidur memberikan kesempatan kepada nenek moyang kita untuk menghemat energi di malam hari, di saat makanan relative sulit untuk di peroleh. Sebagai konsekuennya, mereka lebih mudah mendapatkan makanan saat matahari terbit. Alasan kedua adalah tidur dapat memulihkan dan mengisi ulang otak dan tubuh kita. Tidur menjadi penting mungkin karena membantu pertumbuhan fisik dan perkembangan otak pada anak-anak. Misalnya, pelepasan hormone pertumbuhan di asosiasikan dengan tidur yang dalam (McNamara, 2004; Siegel, 2003; Steiger, 2007). Sebagian besar orang saat ini tidur selama tujuh sampai delapan jam per harinya, tiga jam lebih sedikit jika di bandingkan dengan orang-orang yang hidup beratus-ratus tahun yang lalu. Kebutuhan tidur juga berbeda-beda sepanjang waktu hidup, saat individu bertambah usia, orang umumnya membutuhkan aktu tidur yang sedikit.
Ilmu Saraf dalam kehidupan Anda: Mengapa Anda mudah marah? Otak Anda terlalu tersadar
            Sebagian besar orang tidak mengalami penderitaan yang permanen dari penurunan waktu tidur sementara. Akan tetapi kekurangan waktu tidur dapat membuat kita cepat terganggu, memperlambat waktu reaksi kita, menurunkan prestasi akdemik dan aktivitas fisik kita. Selain itu kita menempatkan diri kita dan orang lain, berada dalam resiko saat kita menjalankan aktivitas rutin kita, seperti menyetir saat kita sedang sangat mengantuk (Anderson & Home, 2006; Morad et al., 2009; Philip et al., 2005)
Fungsi dan Makna dari Bermimpi
            Mimpi buruk, mimpi yang menakutkan muncul relative lebih sring. Dalam satu survey, hamper sebagian kelompok Mahasiswa yang mencatat mimpi mereka selama periode waktu 2 minggu melaporkan setidaknya mengalami satu mimpi buruk. Hal ini ternyata rata-rata terjadi hingga 24 mimpi buruk pada setiap orang (Levin & Nielsen, 2009; Nielson, Stenstrom & Levin, 2006; Schdredl et al., 2009). Akan tetapi, sebagian besar dari 150.000 mimpi pada rata-rata pengalaman orang pada saat usia 70 tahun lebih sedikit dramatis. Peristiwa keseharian mereka khususnya meliputi pergi ke supermarket dan menyiapkan makanan. Mahasiswa bermimpi berangkat ke kampus, dosen bermimpi mengajar, pasien dokter gigi bermimpi gigi mereka dibor di tempat yang salah. Berikut adalah tiga alternative teori mengenai penjelasan  arti dan funsgi spesifik mimpi :
A. Penjelasan Psikoanalisis Dari Mimpi: Apakah Mimpi Melambangkan Pemenuhan Harapan Yang Tidak Disadari?
Dalam teori pemuasan harapan yang tidak disadari miliknya, ia mengemukakan bahwa mimpi melambangkan harapan yang tidak disadari yang diinginkan oleh si pemimpi agar dapat terpenuhi. Tapi, karena harapan ini mengancam kesdaran yang disadari oleh pemimpi, harapan yang sesungguhnya atau isi laten dari mimpi di samarkan. Subjek dan makna yang sesungguhnya dari mimpi mimpi, memiliki sedikit hubungan dengan alur cerita yang sesungguhnya, yang oleh  Freud disebut dengan isi manifest dari mimpi.
Selain itu, beberapa mimpi melambangkan peristiwa yang terjadi dalam lingkungan orang yang berninpi saat ia tidur. Contih: Partisipan yang tidur dalam eksperimen dipercikkan dengan air saat mereka sedang bermimpi. Partisipan yang tidak beruntung melaporkan jika mimpi mereka melibatkan air dibandingkan kelompok partisipan lain yang tidurnya tidak diganggu (Dement & Wolpert, 1958 ). Penelitian dengan scan otak PET meminjam tingkat dukungan tertentu terhadap pandangan harapan terhadap pemenuhan keinginan. Misalnya wilayah limbic dan paralimbik otak, yang di asosiasikan dengan emosi dan motivasi, aktif terutama saat tidur REM. Pada saat yang bersamaan area asosiasi dari cortex prefrontal, yang mengendalikan analisis logika dan atensi, tidak aktif selama tidur REM
B. Penjelasan Evolusioner Dari Mimpi: Teori Mimpi Untuk Bertahan Hidup
Menurut Teori mimpi untuk bertahan hidup yaitu mimpi memudahkan kita untuk mempertimbangkan dan memproses kembali saat tidur, informasi yang penting bagi pertahanan hidup sehari-hari. Mimpi menyediakan satu mekanisme yang memudahkan proses informasi 24 jam per hari. Menurut teori ini mimpi melambangkan kekhawatiran mengenai kehidupan kita sehari-hari, menggambarkan ketidakpastian, kebimbangan, ide dan keinginan kita. Seperti yang dikemukakan oleh Freud, mimpi mewakili kunci kekhawatiran kita yang tumbuh dari pengalaman kita sehari-hari (Ross, 2006; Winson, 1990). Intinya adalah teori mimpi untuk bertahan hidup adalah teori yang menyatakan bahwa mimpi yang mengizinkan informasi yang penting bagi pertahanan kita sehari-hari untuk dipertimbangkan dan diproses kembali selama tidur.
C. Penjelasan Ilmu Saraf Dari Mimpi: Teori Aktivas-Sintesis
Teori Hobson yang menyatakan bahwa otak menghasilkan energi elektris acak saat tidur REM yang menstimulasi memori yang di simpan dalam otak. Teori aktivasi-sintesis telah diperbaharui dengan teori activation information modulation (AIM). Menurut AIM, mimpi diawali dalam pons otak, yang mengirimkan sinyal secara acak kepada korteks. Area dari korteks yang terlibat dalam perilaku saat kita terbangun berhubungan dengan muatan yang terdapat dalam mimpi. Misalnya, area dalam otak yang berhubungan dengan penglihatan terlibat dalam aspek visual pada mimpi, sementara area otak yang berhubungan dengan gerak terlibat dalam aspek mimpi yang berhubungan dengan gerakan (Hobson, 2007).
Gangguan Tidur: Permasalahan Tidur
Pada suatu waktu, hampir sebagian besar dari kita mengalami kesulitan tidur, kondisi yang disebut dengan insomnia. Hal tersebut terjadi karena adanya situasi tertentu, sperti putusnya suatu hubungan, gelisah akan nilai tes atau kehilangan pekerjaan. Makna tidur Insomnia adalah ketidakmampuan diri untuk tidur atau terus terjaga sehingga dapat menyebabkan iritasi dan kurangnya konsentrasi pada siang hari. Dalam jangka panjang kurang tidur dapat sangat berbahaya. Kurang tidur telah dikaitkan dengan obesitas, tekanan darah tinggi dan serangan jantung. Menurut National Highway Traffic Safety Administration mengemudi dalam kondisi mengantuk menyebabkan mobil lebih dari 100.000 kecelakaan dan 1.550 kematian setiap tahun. Permasalahan tidur lainnya kurang dikenali jika dibandingkan dengan insomnia, seperti Apnea tidur, yaitu kondisi dimana seseorang memiliki kesulitan bernafas ketika tidur. Hasilnya orang tersebut terus menerus terbangun ketika kekurangan oksigen menjadi lebih besar. Tidak heran jika gangguan semacam itu dapat menyebabkan kelelahan pada keesokan harinya. Kemudian ada lagi Sleepwalking, berjalan dalam tidur. Hingga 15 persen orang dewasa, kadang-kadang bangun dan berjalan dalam tidur di sekitar rumah. Bahkan pada anak-anak, jumlahnya lebih tinggi. Tak seorang pun yang tahu apa yang menyebabkan orang berjalan dalam tidur, tetapi stres dan susah tidur dianggap sebagai faktor penyebabnya. Faktor genetika seperti hubungan kekerabatan 10 kali lebih besar mengalami berjalan dalam tidur. Anda tidak akan melihat orang berjalan dalam tidur dengan mengelilingi rumah, tangan terentang, menuju kamar mereka dengan mudah, mampu membuka pintu dan memindahkan perabotan. Dan ketika terjaga dalam tidur maka tidak akan membahayakan mereka. Berjalan dalam tidur itu sendiri dapat berbahaya. Satu penelitian yang diterbitkan oleh Journal Molecular Psychiatry tahun 2003 menemukan bahwa 19 persen orang dewasa telah berjalan dalam tidur terluka saat menyerang dengan tiba-tiba pada malam hari. Jatuh merupakan bahaya terbesar. Jika Anda sering mengalami berjalan dalam tidur di rumah Anda, para ahli menyarankan untuk memindahkan kabel listrik.Dan memberitahukan orang dalam satu rumah untuk mengarahkan anda agar menjauh dari tangga apabila anda berjalan dalam tidur.
Ritme Circadian: Siklus Kehidupan
            Berasal dari Bahasa Latin circa diem atau mengenai satu hari, ritme circadian adalah proses biologis yang muncul secara alami dalam irama dari pemicu jantung internal yang bekerja dalam siklus hampir 24 jam. Beberapa fungsi tubuh lainnya, seperti temperatur tubuh, produksi hormone dan tekanan darah juga mengikuti ritme circadian (Beersma & Gordijn, 2007; Blatter & Cajochen, 2007; Saper et al., 2005). Ritme circadian merupakan salah satu bentuk ritme biologis. Bentuk ritme biologis lainnya adalah ritme Ultradian dan ritme Infradian. Semua bentuk ritme biologis, termasuk ritme circadian, dipengaruhi oleh faktor internal (endegenous) dan eksternal (exogenous atau disebut dengan zeitgebers). Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu. Beberapa peneliti percaya bahwa pusat internal dari ritme ini terletak di suatu area di otak yang disebut suprachiasmatic nuclei (SCN), namun hal ini belum dapat dibuktikan secara ilmiah dan sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Faktor eksternal berhubungan dengan lingkungan natural di luar tubuh seperti siklus gelap-terang (siang-malam), suhu ruang, perubahan-perubahan musim, interaksi sosial dengan indivisu yang lain serta waktu/jam makan yang semuanya mempengaruhi siklus aktivitas fungsi-fungsi tubuh. Karena ritme biologis ini berulang dalam rentang waktu kurang lebih 24 jam dan dipengaruhi oleh faktor eksternal terutama gelap-terang (siang-malam) dsb maka ritme atau pola atau irama atau siklus ini dapat dikaitkan dengan satuan waktu yakni jam sehingga ritme circadian juga sering disebut atau diasosiasikan dengan jam biologis tubuh manusia
Melamun: Bermimpi Tanpa Tertidur
            Melamun adalah fantasi yang di bangun oleh individu saat mereka terbangun. Melamun merupakan bagian khusus dari kesadaran saat terbangun, meskipun kesadaran kita terhadap lingkungan di sekeliling menurun saat kita melakukan lamunan. Setiap individu memiliki variasi dalam jumlah lamunan yang mereka lakukan. Misalnya sekitar 2% hingga 4% dari populasi menghabiskan setidaknya setengah dari waktu bebas mereka untuk berfantasi. Pada kenyataannya, melamun mungkin satu-satunya waktu di mana otak menjadi aktif secara simultan, hal ini menyatakan bahwa melamun dapat mengarahkan pada wawasan mengenai permasalahan yang sedang kita alami (Fleck et al., 2008; Kounios et al., 2008).

HIPNOSIS DAN MEDITASI
Hipnosis: Pengalaman Pembentukan Mimpi
Kata "hypnosis" pertama kali diperkenalkan oleh James Braid, seorang dokter ternama di inggris yang hidup antara tahun 1795 - 1860. Sebelum masa Jame Braid, hypnosis dikenal dengan nama Mesmerism/Magnetism. Hypnosis berasal dari kata "hypnos" yang merupakan nama dewa tidur orang yunani. Namun perlu dipahami bahwa kondisi hypnosis tidaklah sama dengan tidur. Orang yang sedang tidur tidak menyadari dan tidak bisa mendengar suara-suara disekitarnya. Sedangkan orang dalam kondisi hypnosis, meskipun tubuhnya beristirahat (seperti tidur), ia masih bisa mendengar dengan jelas dan merespon informasi yang diterimanya. Hypnosis telah dipelajari secara ilmiah lebih dari 200 tahun. Banyak studi klinis dan eksperimental mencoba menentukan apa yang paling unik dari hypnosis dibanding fenomena mental lainnya. Orang yang mudah dihipnotis menunjukkan kemampuan yang tinggi untuk berkonsentrasi dan benar-benar larut dengan apa yang sedang mereka lakukan (Benham, Woody & Wilson, 2006; Kirsch & Braffman, 2001; Rubichi et al., 2005).
Keadaan Kesadaran Yang Berbeda
            Perubahan dalam aktivitas elektris dalam otak di asosiasikan dengan hipnotis, mendukung pernyataan yang menyatakan bahwa hipnosis adalah keadaan kesadaran yang berbeda dari terjaga saat normal (Fingelkurts, Fingelkurts & Kalio, 2007; Hilgar, 1992; Kallio & Revonsou, 2003). Hipnosis melambangkan kesadaran yang terbagi. Menurut peneliti Hipnosis yang terkenal Ernest Hilgard, hipnosis menyebabkan disosiasi atau pembagian kesadaran ke dalam dua komponen yang simultan. Dalam satu aliran kesadaran, orang yang terhipnotis akan mengikuti perintah dari ahli hipnotis. Akan tetapi, dalam tingkat yang berlainan pada kesadaran, mereka berperilaku sebagai “observer yang tersembunyi”, mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri mereka. Hipnosis telah diaplikasikan pada sejumlah area, termasuk di antaranya:
1. Hypnotherapy / Clinical Hypnosis
Hypnotherapy atau Clinical Hypnosis adalah aplikasi hypnosis dalam menyembuhkan gangguan mental dan meringankan gangguan fisik. Hypnosis telah terbukti secara medis bisa mengatasi berbagai macam gangguan psikologis maupun fisik. HYPNOSIS, tidak seperti cara pengobatan lain yang mengobati gejala (simptom) atau akibat yang muncul. Hynosis ber-urusan langsung dengan penyebab suatu masalah. Dengan menghilangkan penyebabnya maka secara otomatis akibat yang ditimbulkan akan lenyap atau tersembuhkan. Kita ambil contoh kasus Psikosomatis. Jika seseorang menderita psikosomatis misalnya nyeri punggung yang tak kunjung sembuh, dia bisa saja menggunakan obat penahan rasa sakit untuk menghilangkan rasa sakit di punggungnya. Namun hilangnya rasa sakit itu hanya sementara, setelah pengaruh obatnya hilang dia akan merasa sakit lagi dan meminum obat lagi. Ini sama sekali bukan penyembuhan. Orang tidak akan benar-benar sembuh dengan cara itu. Obat hanya akan melemahkan kita karena hidup kita menjadi tergantung dengan obat itu. Dengan hypnosis, psikosomatis bisa sembuh permanen dalam waktu sangat singkat.
2. Medical and dental hypnosis
Yaitu penggunaan hypnosis untuk dunia medis, terutama oleh dokter ahli bedah dan dokter gigi dalam menciptakan efek anesthesia tanpa menggunakan obat bius. Teknik hypnosis yang digunakan untuk anestesi sudah digunakan oleh John Elliotson (1791 -1868). Elliotson adalah dokter yang pertama kali menggunakan mesmerisme (nama kuno dari hypnotism) untuk melakukan pembedahan tanpa rasa sakit. Catatan: pada masa itu belum ditemukan obat bius yang disuntikkan ataupun dihirup.
3. Comedy hypnosis
Comedy hypnosis adalah hypnosis yang digunakan untuk hiburan semata. Comedy Hypnosis juga sering disebut sebagai Stage Hypnosis. Dinamakan stage hypnosis atau hypnosis panggung karena pada awalnya hypnosis untuk hiburan hanya diperankan di atas panggung. Namun Comedy Hypnosis sekarang tidak terbatas dalam panggung. Di jalan, taman, mall, kampus atau dimana saja Anda bisa mempraktekkan Comedy Hypnosis.Untuk mempelajari Comedy hypnosis sangat mudah. Anda hanya butuh waktu beberapa jam saja, dan sudah siap untuk terjun ke lapangan. Jika Anda pernah melihat acara stage hypnosis, mungkin Anda menjadi takut dengan hypnosis karena sepertinya seorang hipnotist bisa seenaknya mengendalikan subjek (orang yang dihipnotis).Sebenarnya tidak ada orang lain yang bisa mengendalikan Anda, kecuali Anda mengizinkan untuk dikendalikan.
4. Forensic Hypnosis
Dalam penyelidikan kepolisian, hypnosis bisa digunakan untuk menggali informasi dari saksi. Suatu kejadian traumatis seperti dalam kasus kejahatan yang menakutkan cenderung membuat pikiran bawah sadar menyembunyikan ingatan yang lengkap tentang kejadian tersebut agar tidak bisa diingat oleh pikiran sadar. Tujuan pikiran sadar menyembunyikan informasi itu sesungguhnya untuk kebaikan diri sendiri, karena apabila kejadian itu bisa diingat dalam kondisi sadar, maka rasa ketakutan akan sering muncul tanpa sebab. Dengan bantuan hypnosis, korban atau saksi bisa mengingat kembali dengan sangat jelas. Hypnosis tidak bisa digunakan untuk mendapatkan pengakuan yang jujur dari pelaku kriminal. Pertama karena pelaku kejahatan pasti akan menolak untuk dihipnotis, dan kedua dalam kondisi hypnosis, seseorang tetap bisa berbohong. Hypnosis berperan mengungkap kejahatan jika diterapkan kepada saksi atau korban. Dengan teknik regresi atau hypernesia, saksi atau korban kejahatan bisa menceritakan dengan sangat rinci tentang peristiwa yang pernah dialaminya.
5. Metaphysical Hypnosis
Metaphysical hypnosis adalah aplikasi hypnosis dalam meneliti berbagai fenomena metafisik seperti Out of Body Travel, ESP, Clairvoyance, Clairaudience, Komunikasi dengan inner-self, meditasi, mengakses kekuatan superconscious mind dan eksperimen-eksperimen metafisika lainnya. Kebetulan kami kurang tertarik untuk mengembangkan Metaphysical Hypnosis. Dengan kata lain, kami bukan tempat bertanya yang tepat apabila anda punya pertanyaan tentang manfaat hypnosis untuk hal-hal metafisik tersebut.
Meditasi: Meregulasi Tingkat Kondisi Kesadaran Kita Sendiri
            Meditasi ditemukan dalam Alkitab, datang sekitar 1400 SM, dan dalam Weda Hindu dari sekitar abad 15 SM. Sekitar 6 sampai abad ke 5 SM, bentuk-bentuk meditasi yang dikembangkan di Cina Tao dan Buddha India.Di barat, oleh 20 BCE Philo dari Alexandria menulis pada beberapa bentuk "latihan rohani" yang melibatkan perhatian (prosoche) dan konsentrasi dan oleh Plotinus abad ke-3 telah mengembangkan teknik meditasi.Canon Pali, yang pada abad ke-1 SM menganggap India meditasi Buddhis sebagai langkah menuju keselamatan. Pada saat agama Buddha menyebar di China, Sutra Vimalakirti yang tanggal untuk 100 CE termasuk sejumlah jalan di meditasi. Jelas menunjuk di Zen. Jalur Sutra transmisi Buddhisme diperkenalkan meditasi untuk negara oriental lainnya, dan dalam 653 ruang meditasi pertama dibuka di Jepang. Kembali dari Cina sekitar 1227, Dogen menulis petunjuk untuk Zazen.Praktek Islam Dzikir telah melibatkan pengulangan dari 99 Nama Allah sejak abad ke-8 atau 9. Pada abad ke-12, praktek tasawuf termasuk teknik meditasi yang spesifik, dan pengikutnya dipraktekkan kontrol pernapasan dan pengulangan kata suci. Interaksi dengan India atau sufi mungkin telah mempengaruhi pendekatan Timur meditasi Kristen untuk hesychasm, namun ini tidak dapat dibuktikan. Antara abad 10 dan 14, hesychasm dikembangkan, khususnya di Gunung Athos di Yunani, dan melibatkan pengulangan doa Yesus. Kristen Barat meditasi kontras dengan pendekatan lain yang paling dalam bahwa tidak melibatkan pengulangan dari setiap frase atau tindakan dan tidak memerlukan postur tertentu. Kristen Barat meditasi berkembang dari praktek abad ke-6 dari pembacaan Alkitab di antara biarawan Benediktin disebut Lectio Divina, yaitu ilahi membaca. Empat langkah formal sebagai "tangga" didefinisikan oleh biarawan Guigo II pada abad ke-12 dengan istilah Latin lectio, meditasi, oratio, dan contemplatio (yaitu membaca, merenungkan, berdoa, merenungkan). Kristen Barat meditasi dikembangkan lebih lanjut oleh orang-orang kudus seperti Ignatius Loyola dan Teresa dari Avila pada abad 16.
Meditasi adalah teknik yang dipelajari untuk memusatkan perhatian yang memberikan perubahan keadaan kesadaran. Meditasi khususnya terdiri dari pengulangan mantra/suara, kata atau silabel lagi dan lagi. Kunci dari prosedur melakukan meditasi adalah konsemtrasi penuh, sehingga meditator tidak menyadari stimulasi apapun yang ada di luar dan mencapai keadaan kesadaran yang berbeda. Ketika kita melakukan meditasi, penggunaan oksigen berkurang, jantung berdetak dengan cepat, aliran darah mengalir deras dan gelombang amplitudo pada otak berubah (Bernes et al., 2004; Lee Kleinman, 2007; Travis et al., 2009).

PENGGUNAAN OBAT: KESADARAN TINGGI DAN KESADARAN RENDAH
Stimulan: Obat-obatan Peningkat
            Obat-obatan adalah bagian dari kehidupan hampir setiap manusia. Sejak bayi, kebanyakan orang mengonsumsi vitamin, aspirin, obat flu dan lain-lain. Dan survei menemukan bahwa 80% pria dewasa di Amerika Serikat pernah mengonsumsi penghilang rasa sakit dalam 6 buan terakhir. Beberapa zat yang dapat mendorong munculnya perubahan kondisi kesadaran dikenal dengan obat-obat psikoaktif, obat-obatan yang dapat memengaruhi emosi, persepsi dan perilaku seseorang. Sedangkan obat-obatan adiktif adalah obat-obatan yang menghasilkan suatu ketergantungan biologis atau psikologis terhadap penggunanya, sehingga penghentian konsumsi obat-obatan tersebut menimbulkan rasa lapar atau kecanduan terhadap obat-obatan, yang mungkin pada beberapa kasus mungkin tidak dapat ditahan. Berbeda lagi dengan stimulan, obat-obatan yang memiliki efek membangkitkan pada sistem saraf, yang menyebabkan peningkatan pada detak jantung, tekanan darah dan tekanan otot. Contohnya adalah Kafein. Kafein tidak hanya dimunculkan dalam bentuk kopi, kafein juga merupakan bahan penting pada the, minuman ringan dan juga cokelat.
1. Amfetamina
Amphetamine adalah sejenis obat-obatan yang biasanya berbentuk pil, kapsul dan serbuk yang dapat memberikan rangsangan bagi perasaaan manusia. Salah satu jenis amphetamine, yakni methamphetamine, sering menjadi terikat secara mental kepada obat-obatan ini. Tingkah laku yang kasar dan tak terduga, merupakan hal biasa bagi pemakai kronis. Jika kamu menggunakan amphetamine, maka amphetamine ini akan merangsang tubuhmu melampaui batas maksimum dari kekuatan fisikmu. Dan kamu akan tetap merasa sangat aktif walaupun sebenarnya tubuhmu sudah sangat lelah. Apabila tubuhmu tidak dapat lagi menanggung beban ini, maka kamu dapat jatuh pingsan dan dapat mati karena kelelahan. Jika kamu menggunakan amphetamine ini, maka hidupmu akan berakhir dalam suatu dunia yang sepi, terpisah dari orang lain, sering melihat dan melihat hal yang aneh-aneh, dan hubunganmu dengan keluarga dan teman-teman akan menjadi rusak.
Kemudian ada lagi Metamfetamin, yaitu obat berwarna putih bebentuk kristal yang di sebut oleh Kepolisian Amerika Serikat obat ini merupakan obat yang paling berbahaya. Obat ini sangat adiktif dan murah, menghasilkan perasaan yang tinggi dan kuat. Penggunaan obat ini dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan pada otak.
2. Kokain
Meskipun penggunaannya menurun, namun crack, stimulan kokain tiruannya masih menjadi perhatian serius. Ketika digunakan dalam kuantitas yang relatif sedikit, kokain menghasilkan perasaan sejahtera secara psikologis, meningkatkan percaya diri dan kesiagaan. Meskipun demikian, terdapat harga yang harus dibayar untuk efek menyenangkan dari kokain ini, otak dapat menjadi tidak bekerja secara permanen, yang memicu ketergantungan psikologis maupun fisik di mana pengguna menjadi terobsesi untuk mendapatkan obat tersebut.
Depresan: Obat-obatan Penurun
1. Alkohol
Depresan yang paling umum adalah alkohol. Berdasarkan data penjualan minuman, rata-rata orang diatas usia 14 tahun meminum 2,4 galon alkohol murni selama satu tahun. Hal ini berarti 200 kali minum per orang. Meskipun alkohol terus menurun sepanjang dekade ini, survei memperlihatkan bahwa lebih dari tiga per empat mahasiswa mengindikasikan bahwa mereka pernah mengonsumsi minuman dalam 30 hari terakhir (Jung, 2002; Midanik, Tam & Weisner, 2007). Sekitar 50% mahasiswa dan 40% mahasiswi mengatakan mereka terlibat dalam binge drinking setidaknya sekali dalam dua minggu terakhir. Sekitar 17% siswi dan 31% siswa mengaku mengonsumsi minuman sebanyak 10 kali atau lebih dalam 30 hari terakhir. Meskipun alkohol merupakan depresan, kebanyakan orang mengklaim bahwa alkohol meningkatkan perasaan sejahtera dalam diri mereka. Perbedaan antara efek aktual dan efek yang dipersepsi dari alkohol terletak pada efek awal yang dihasilkan pada mayoritas individu yang mengonsumsinya.
Narkotika: Mengurangi Rasa Sakit dan Kecemasan
Pengertian narkotika menurut Undang Undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika Pasal 1, yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.   Sedangkan yang dimaksud ketergantungan narkotika menurut UU tersebut adalah gejala dorongan untuk menggunakan narkotika secara terus menerus, toleransi dan gejala putus narkotika apabila penggunaan dihentikan.
Dua jenis narkotika yang paling kuat  adalah morfin dan heroin, didapatkan dari benih ganja. Pengguna heroin biasanya menyuntikkan obat tersebut langsung ke pembuluh darah mereka dengan sebuah jarum hipodermis. Efek spontan yang dimunculkan adalah perasaan postitif yang terburu-buru. Dalam beberapa hal mirip dengan orgasme seksual, dan sama sukarnya untuk di jelaskan. Setelah sensasi tersebut, pengguna merasakan sejahtera dan tenang yang berlangsung selama tiga hingga lima jam. Ketika efek ini hilang, maka pengguna akan merasakan kecemasan yang ekstrim dan seperti ada suatu keinginan yang besar untuk mengulangi pengalaman tersebut.
Halusinogen: Obat-obatan Psychedelic
            Halusinogen adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat mengubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan dapat terganggu. Halusinogen yang paling banyak di gunakan sekarang ini adalah mariyuana, yang bahan aktif di dalamnya ditemukan cannabis/ganja. Mariyuana biasanya dihisap dalam rokok atau pipa cangklong, meskipun dapat juga dimasak dan kemudian dimakan. Sekitar 32% senior SMU dan 11% siswa kelas 8 menyatakan telah mengonsumsi mariyuana sejak satu tahun terakhir (Johnston, et al., 2009). Namun disamping itu, mariyuana mempunyai beberapa manfaat medis seperti dapat digunakan untuk mencegah mual dari kemoterapi, merawat beberapa gejala AIDS dan mengurangi otot yang bengkak pada mereka yang mengalami cedera pada tulang belakang. Dalam suatu gerakan kontroversial, beberapa negara bagian telah menggunakan obat ini secara legal jika diresepkan oleh dokter,  meskipun obat ini tetap ilegal di bawah hukum federal Amerika Serikat (Chapkis & Webb, 2008; Cohen, 2009; Iverson, 2000; Seamon, et al., 2007).
MDMA (Ekstasi) dan LSD
MDMA (ekstasi) dan lysergic acid diethylamide (LSD atau “asam”) berada pada kategori halusinogen. Kedua obat tersebut memengaruhi kerja neurotransmitter serotonin di otak, menyebabkan perubahan pada aktivitas sel otak dan persepsi (Buchert, et al., 2004; Cloud, 2000)


DAFTAR PUSTAKA

http://www.beritasatu.com/riset/103547-10-jenis-gangguan-tidur.html 
http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/04/ritme-circadian-jam-biologis-manusia.html
http://hypnosis45.com/definisi_hypnosis.htm
http://hypnosis45.com/jenis_hypnosis.htm
http://www.tdwclub.com/showthread.php?1505-Sejarah-Singkat-Mengenai-Meditasi
http://ginaangraeni10.wordpress.com/2010/05/24/amphetamine/
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/peki4422/bag%203.htm
Fieldman, Robert S, 2012, Pengantar Psikologi, Jakarta, Salemba Humanika