Minggu, 04 Agustus 2013

Gagal Jadi Dokter?! Mungkin Bukan Jalannya.

     Baiklah.. Kita mulai dari mana ya..? Banyak yang ingin saya ceritakan tentang sedikit pengalaman hidup yang saya dapatkan beberapa hari yang lalu, tepatnya sih baru satu hari yang lalu. Ya.Kemaren, hari minggu tanggal 4 Agustus 2013 atau bertetpatan dengan hari ke 27 bulan Ramadhan. Banyak hikmah dan kejadian yang saya dapatkan, memang bagi sebagian orang "mungkin" cerita saya ini terlihat biasa saja atau wajar atau biasaaalaahh.. garam kehidupan. Tapi, bagi saya ini merupakan pelajaran berharga yang membuat saya sadar akan arti kehidupan..

     Oke.. Kita mulai. #santai tapi serius ya# Assalamualaikum.Wr.Wb. Terima kasih teman sudah meluang kan waktu nya untuk membaca blog saya hari ini. Mudah-mudahan bermanfaat.. Saya terdorong membuat tulisan ini karena banyak teman-teman saya bertanya ketika pengumuman SENYUM (Seleksinya Unlam Mandiri atau in english *Smile atau ^_^ ). Hehe. "Gimana Nal hasil tes elu..? Lulus Ngga?". Saya sangat menghargai itu yang pada akhirnya timbul pertanyaan saya kepada diri saya sendiri. "Kenapa aku bisa tidak lulus di Fakultas Kedokteran Unlam".? Cita-cita yang sudah ku rakit sejak aku duduk di bangku SMA kelas X. "I wanna be docter". "Kenapa? Berapa banyak sudah pengorbanan waktu yang terbuang? Tenaga yang terkuras? Uang yang di pakai? Kenapa aku tidak lulus juga? Kenapa Tuhan? Apa salah ku? Pertanyaan ku semakin menjadi-jadi. Yang aku senidiri pun tidak bisa menjawab semuanya. 
Dari semua jalur tes yang aku ikuti selalu saja gagal, dari jalur SNMPTN 2013=Seleksi nilai raport, gagal karena "wrong strategy", untungnya saya menyadari dari awal, saya tidak bisa terlalu berharap di tes ini, karna nilai raport saya? Cukup seperti pegunungan, #naik naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali, turun turun ke lembah gunung, rendah-rendah seklai.. Haha. Nyanyi kan saya. Tidak!Tidak itu bercanda saja. Lumayan lah, tetap di syukuri, karna tetap bisa merasakan Ranking 1 waktu kelas X. Tapi, pasti kan saingan juga punya nilai yang tinggi-tinggi dan popularitas sekolah yang mendukung. Tau kan sekolah di kampung sama di kota sama di luar negri itu jelas beda. 
     Tes yang ke2 SBMPTN (Juni), saya ikut Bimbingan Belajar selama 2 bulan, saya mati-matian belajar, tiap malam ngopi buat belajar, pagi-sore-malam belajar dan belajar terus, belajar TPA (Tes Potensi Akademik) belajar Kemampuan Dasar yang di Ujikan (Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris) dan kemampuan IPA. Dan ketika pengumuman masih juga gagal, malah di terima di Universitas yang bukan tujuan saya.
     Terus ketika tes yang ke3 SENYUM (Juli), masih saja gagal, memang ada cerita di balik kegagalan saya yang ketiga ini, saya mengikuti tes ini 1 hari setelah saya mengikuti kegiatan Pembinaan Karakter dari satu Kampus, saya langsung menuju Unlam, dari luar Pulau menuju Banjarmasin. Mungkin karna Faktor fisik dan mental sehingga tes yang saya kerjakan kurang maksimal, atau saingan dari tes saya yang terlalu pintar,jenius,cerdas (mungkin) sehingga dengan sukses menggugurkan saya ke dalam lembah juraaang penderitaan ketidak berhasilan mengabulkan cita-cita ( Oh.. Noo.. Lebay. Haha) . Atau bisa juga karna faktor X$X, yang 80% saya meyakini ini penyebab nya, faktor yang tidak boleh di sebutkan, memang tidak ada yg bisa di salahkan di faktor ini. "I hope u can understand without my explain". .
     Tapi, bukan itu inti nya, dari sini saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari kegagalan saya, saya juga lebih mengenal diri saya. Apa itu..? Ya. "Persistance" ( in banjar language it's mean that "Cangkal" , you know what's i mean?. Cangkal bukan Sangkal ya). Saya bisa menilai diri saya bahwa ternyata saya itu sudah menjadi orang yang "Persistance" meskipun pada akhirnya gagal, tapi saya bangga dengan diri saya yang sperti itu,  bagaimana dgn anda sudah menjadi orang yang persistance? berjuang dan terus berjuang demi mencapai cita-cita yang saya inginkan, pakai jalan yang memang benar-benar menggunakan apa yang kau punya. Saya teringat apa yang teman saya katakan ketika 2 hari sebelum pengumuman SENYUM. "Ga cape Lu nal, ikut tes terus buat lulus jadi dokter umum". Heheh. Saya cuma tertawa (banjar >> takurihing)
Itu pelajaran pertama.
     Yang kedua, saya di ajarkan untuk Ikhlas, ya.. Mau apalagi? Tidak lulus ya tidak lulus, saya nangis atau gantung diri juga tidak bisa merubah kata "Maap anda tidak lulus" di pengumuman menjadi "Selamat.. Anda lulus dan di terima di Fakultas Kedokteran Unlam". Tidak bisa berubah kan. Jika memang cara atau jalan untuk mendapatkan nya sudah tidak ada lagi. Ya Sudah.. Ikhlas... Mungkin ada jalan lain menuju sukses, terimalah apa yang ada. Untuk menjadi orang sukses, tidak harus menjadi Dokter kan.? Itu intinya yang saya dapatkan dari kegagalan saya. "Dan sekarang kamu lulus di Psikologi Nal, ketika pintu Psikologi di buka, mungkin Tuhan membukakan jalan yang lebih lebar untuk menuju gunung emas". (Pikiran saya dalam hati seperti itu). Oh.. Iya. Saya jadi teringat kata-kata yang saya baca dari sebuah jejaring sosial "Kata Dosen saya Profesi Dokter itu lama kelamaan bakal Madesu". Mungkin itu benar atau mungkin juga salah, yang jelas pesan saya kepada teman-teman yang sudah lulus dan menempuh kuliah di bidang kedokteran haruss semangat. Tapi, bagi saya kata-kata itu mungkin petunjuk untuk saya, agar mencoba untuk mengikhlaskan cita-cita saya.
    Ketiga, ini yang penting, satu kata "teman". Dari sini saya merasakan kepedulian yang luar biasa dari teman-teman saya. Sepanjang hari ketika pengumuman di tanggal 5 Agustus kemaren saya di tanyai teman saya tentang kelulusan saya di Kedokteran. Ada juga yang memberi semangat karna kegagalan saya. Dan mungkin dengan cara menulis ini saya bisa menghargai mereka. Ternyata itu yang di namakan teman ya, teman bagi saya adalah sinonim dari rasa kepedulian yang kita dapatkan. Teman? Sangat berharga, mungkin jika tidak ada yang memberi semangat ketika saya gagal, malas rasa nya untuk kuliah di bidang yang lain dan akan lebih buruk lagi ceritanya. Mungkin saya berlebihan, tapi suatu saat nanti kalian pasti akan merasakan arti sebuah teman, atau mungkin ada yang sudah menemukan? Heheh.

    Juga buat orang tua saya, "Maap Pa.. Bu.. Anakmu ini tidak bisa menjadi Dokter, tapi saya pasti kan kalian tetap bisa melihat kesuksesan saya di masa depan nanti"

7 komentar:
Write komentar
  1. super sekali postingan ini kak, isi ceritanya ngena di saya apalagi tujuannya Fakultas Kedokteran UNLAM. saya juga gagal, tapi apa boleh buat mungkin bukan jalanku jadi dokter. saya tetap berharap bisa sukses di masa depan, semoga lancar dan sukses buat Kak Jay!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Okaay . Semoga bisa mnjadi bahan pertimbangan utk menata masa depan ya Nata.

      Hapus
  2. semoga kegagalan kamu jadi dokter tidak membuat kamu hilang semangat untuk hidup ....terima lah dengan hati yang tenang hanya allah yg tahu kamu udah berusaha ...

    BalasHapus
  3. semoga kegagalan kamu jadi dokter tidak membuat kamu hilang semangat untuk hidup ....terima lah dengan hati yang tenang hanya allah yg tahu kamu udah berusaha ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Amin Ya Robbal Alamin. Alhamdulillah bisa brsyukur dgn smua takdir-Nya skarang. Krna trlalu menikmati jurusan di Psikologi. Hehe

      Hapus
  4. Adik²
    Hidup ini pilihan, hidup ini takdir
    Suatu saat kita bisa memilih, suatu saat kita harus menerima takdir.
    Ini contoh:
    Bila anda kebetulan hasil tesnya diterima di kedokteran dan di fakultas kehutanan, sebagian besar orang pilih di fakultas kedokteran, bukan? Termasuk juga anda dan saya.

    Tetapi ada kisah nyata, seseorang sebut saja xperson. Ia, termasuk masih famili. Ia seorang dokter spsialis anak dikotaku. Suatu saat beliau datang ke rumah dinas sy di kampung pinggiran hutan. Dia cerita, dia dulu pernah kuliah di kehutanan, lalu pindah ke kedokteran. Setelah puluhan tahun, teman²nya di fahutan dulu ternyata hidupnya enak. Kerja bisa ke-mana², bahkan ke luar negeri. Sambil kerja sambil bepergian, suatu yg sebenarnya ia idamkan. Jabatannya mentereng pula. Sementara jadi dokter, terbelenggu rutinitas. Katanya, ia termasuk menyesal meninggalkan kehutanan.

    Jadi kalau anda tidak diterima di kedokteran bukan kiamat. Masih banyak jalan menuju Roma.

    Apalagi ada banyak orang lulusan kedokteran, tidak menekuni profesi dokternya, malah yg lain. Contoh, pemilik Bank Mega, Carefour, transtv, trans7, dll adalah alumni kedokteran gigi UI dan pernah jadi menteri di jamannya Pak SBY, yaitu Pak CT.

    Selamat dan sukses di jalanmu kini. Optimislah karena Tuhan bersama anda.
    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik Anonymous, siapa pun anda dan di mana pun anda berada, terima kasih atas waktu nya utk mengetik beberapa paragraf analogi dan nasihat. TErima kasih. Alhamdulillah sekarang saya sudah berkuliah, bukan di jurusan kedokteran tentunya. Tapi Psikologi. Banyak hikmah yg bisa saya ambil. Dan pada akhirnya pun saya sangat menikmati ilmu2 Psikologi ini.

      Hapus