Selasa, 16 Juli 2013

Mengapa kita perlu menjaga bumi..?

     Sangat ironis keadaan hutan Indonesia. Mengapa tidak? Coba saja anda mengudara lewat helikopter atau pesawat. Liatlah kebawah. Bagaimana keadaannya? Pasti terjadi perubahan drastis dengan beberapa puluh tahun sebelumnya. Terang saja, Indonesia yang dulunya di dominasi oleh warna hijau, kini tidak lagi menghijau. Melainkan cokelat, seperti telah di hisap oleh mesin penghisap debu. Memang benar, kesadaran manusianya lah yang menjadi kunci utama untuk meningkatkan kualitas lingkungan bumi kita.
Hutan-Jambi1-AFP-Romeo-Gacad1
      Manusia terkadang lupa akan akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Karena hanya memfokuskan diri pada kegiatan yang berlebihan dan tidak memperhatikan lingkungannya. Padahal dari setiap perbuatan kita, itu pasti ada resikonya, entah itu resiko yang positif atau resiko yang negatif. Resiko untuk diri sendiri atau resiko bagi orang lain.Kembali kepada diri masing-masing mau hasil yang baik atau buruk. Jangan sampai tergiur dengan keberlimpahan kekayaan yang berujung resiko negatif untuk orang lain. Selain itu kemelaratan perilaku si manusia juga merupakan salah satu faktor yang membuat lupa bahwa menjaga lingkungan agar tetap bersih, aman dan sehat itu penting. Bisa kita lihat di beberapa kota besar di Indonesia masih relatif kotor dan berselimut rasa tidak peduli dari manusianya. Padahal di Indonesia sendiri, mayoritas penduduknya beragama Islam. Yang pada kitab sucinya telah jelas berisi pengajaran untuk merawat lingkungan secara keseluruhan. Seperti yang telah disebutkan pada Qs. 2:205 ; “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan/kerusakan (lingkungan). Namun kita pikir-pikir lagi, upaya dalam menata kelestarian lingkungan alam bukan merupakan tugas manusianya saja, melainkan pendorong manusia tersebut, pembangkit semangat, pemberi wawasan tentang lingkungan yang merupakan peran dan tugas pemerintah untuk cekatan dalam bergerak.
        Menyikapi akan hal ini, kita sebagai warga masyarakat Indonesia yang cinta lingkungan, paling tidak kita secara moral (etika) bisa ikut berpartisipasi pada setiap program yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan hidup yang dicanangkan oleh pemerintah antara lain penghijauan atau penanaman 1000  pohon. Perundang-undangan masalah lingkungan juga harus lebih disempurnakan dan digalakkan. Agar pemerintah lebih tegas dalam bergerak dan benar-benar bisa di jadikan payung untuk melindungi kepentingan hidup. Seperti yang dikatakan oleh Direktur Hukum GFI ketika menjadi narasumber dalam pembahasan undang-undang lingkungan hidup, Undrizon. Undang-undang lingkungan tersebut mesti ditelaah lebih mendalam, apakah fungsinya sudah benar-benar berjalan sebagai mestinya. ”Kita harus memiliki undang-undang lingkungan yang kuat. Undang-undang Lingkungan Perlu di Sempurnakan,”. Selama ini undang-undang lingkungan hidup belum sejalan dengan harapan banyak kalangan. Seharusnya, undang-undang lingkungan hidup menurutnya, harus juga sejalan dengan undang-undang lainnya misalnya, undang-undang jasa kontruksi dan undang-undang penindustrian. Dari pembicaraan di atas tentulah bagi kita sangat penting menjaga paru-paru dunia dan tidak merusak lingkungan. Memang masalah ini sudah menjadi tingkat global, artinya semua Negara di dunia pun sudah mulai menerapkan aturan ataupun program-program yang serupa di Indonesia. Bahkan isu lingkungan ini sudah lama sampai ke PBB, sehingga perlu kajian yang matang untuk menyelesaikan masalah dunia ini. Bahkan saya rasa perlu tatanan kehidupan yang baru agar tidak merambat pada lingkungan. Pasalnya seperti yang dikatakan Susianto, narasumber perwakilan dari masyarakat vegetarian Indonesia, ketika diskusi bersama Global Future Institute (GFI) di Jakarta. “Isu global warming merupakan isu yang serius untuk sikapi. Berkaitan dengan isu global warming, menurut laporan PBB, bahwa industri peternakan merupakan penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar, yaitu 18%. ”Jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia yaitu 13%,” kata Susianto.Ditambahkan, emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9% karbon dioksida, 37% gas metana (efek pemanasannya 72 kali lebih kuat dari CO2), 65% dinitrogen oksida (efek pemanasan 296 kali lebih kuat dari CO2), serta 64% amonia penyebab hujan asam. Saat ini perilaku dan pola hidup manusia tanpa disadari merusak lingkungan dan kesehatan.  Kerusakan lingkungan yang terjadi merupakan akibat ulah manusia. Kerusakan  lingkungan bukan sekedar isu tapi fakta. Lingkungan hidup memiliki komplekstas permasalahan yang harus di selesaikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga gerakan atau program penyadaran lingkungan sangat penting untuk di implementasikan. Seperti yang diterapkan oleh pemerintah Aceh, tentunya beralasan. Pasalnya, tingkat  kerusakan hutan di Indonesia  sampai tahun 2004 mencapai angkat 3,8 juta hektar pertahun. Sementara, menurut Data Badan Penelitian Departemen Kehutan (2004) setidaknya negara mengalami kerugian finansial sampai 83 milyar rupiah perhari akibat penebangan liar. Hutan yang merupakan ujung tombak keselamatan bumi semestinya di lakukan pendauran ulang setelah di gundul habis-habisan. Agar Ekosistem dan lapisan ozon tetap terjaga hutan yang telah di babat habis harus di lakukan reboisasi atau penanaman kembali.
IMG_57461
      Di Indonesia saja sekarang, setiap tahun hutan yang hilang sama luasnya dengan pulau Bali. Sungguh ironis jika hal ini tetap di biarkan. Belum lagi industri Packaging yang sekarang juga menggunakan 41% dari seluruh penggunaan kertas. Karena perlu diketahui bahwa Jika kita menghemat 1 ton kertas, berarti kita juga menghemat 13 batang pohon besar, 400 liter minyak, 4.100 Kwh listrik dan 31.780 liter air. Lahan pepohonan kayu keras setinggi 4 kaki panjang 4 kaki dan lebar 8 kaki dapat menghasilkan 942.100 halaman buku atau setara dengan 4.384.000 perangko atau setara dengan 2.700 eksemplar koran. Mendaur ulang 1 ton kertas dapat menghemat 682.5 galon bahan bakar dan 7000 galon air dan 4000 kwh listrik.
images
        Jadi saya rasa anda sudah mengetahui bahwa begitu pentingnya menjaga paru-paru dunia. Anda tentunya tidak inginkan melihat anak cucu anda nantinya di hantam oleh banyak bencana alam setiap tahunnya akibat keselamatan dunia yang tak terjaga. Maka, mulailah dari sekarang, beberapa pot tanaman kecil di muka rumah pun sudah cukup membantu keselamatan dunia.
“Selamatkan Bumi Kita”
Stop Global Warming !
Jainal Ilmi
Greenersmagz *April 2012

Tidak ada komentar:
Write komentar