Senin, 23 Desember 2013

CARA YANG TEPAT UNTUK MENGURANGI PRASANGKA

            Berdasarkan pendekatan teoritik, dapat dikemukakan beberapa kemungkinan upaya untuk mengurangi atau mencegah timbulnya prasangka sebagai berikut :
1.Melakukan kontak langsung.
Kontak individu yang berprasangka dan target prasangka akan efektif apabila di dukung oleh beberapa syarat, seperti :
a).Apabila status orang yang berprasangka dengan target prasangka sama
b).Hubungan yang terjadi adalah hubungan yang intim dan bukan hubungan “superficial”
c).Situasi kontak melibatkab aktivitas yang interdependen serta kooperatif.
d).Adanya tujuan lebih tinggi yang hendak dicapai
e).Situasi kontak menyenangkan dan saling mendukung
f).Iklim social yang menyenangkan dan harmonis
2.Mengajarkan pada anak untuk tidak membenci.

3.Mengoptimalkan peran orang tua, guru, orang dewasa yang dianggap penting oleh anak dan media massa untuk membentuk sikap menyukai atau tidak menyukai melalui contoh perilaku yang ditunjukkan (pengukuhan positif).
4.Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan (distingsi) tentang orang lain. Belajar mengenal dan memahami orang lain berdasarkan karakteristiknya yang unik dan bukan semata-mata berdasarkan keanggotaan orang tersebut dalam kelompok tertentu. Menurut Worchel, dkk. (2000) upaya tersebut akan lebih efektif jika dibarengi dengan penerapan hukum yang menjunjung tinggi adanya persamaan hak dan pemberian sanksi pada deskriminasi baik berdasarkan ras, agama, jenis kelamin, usia dan faktor-faktor lainnya.

Ada beberapa alasan mengapa hukum mampu mengurangi prasangka :
1.Hukum membuat diskriminasi menjadi perbuatan illegal, sehingga akan mengurangi tindakan yang memojokkan pada kehidupan anggota-anggota kelompok minoritas.
2.Hukum membantu anda untuk menetapkan atau memantapkan norma-norma dalam masyarakat. Artinya hokum memainkan suatu peran dalam mendefinisikan jenis-jenis perilaku yang dapat diterima atau tidak diterima. Jadi hokum memainkan suatu fungsi pendidikan yakni mengajarkan bagaimana orang berperilaku.
3.Mendorong konformtas terhadap perilaku yang nondsikrimintaif, yang mungkin pada akhirnya menghasilkan iternalisasi sikap tidak berprasangka. Melalui proses persepsi diri atau pengurangan disonansi atau keduanya sikap mungkin berubah untuk menjadi lebih konsisten dengan perilakunya yang terbuka/nampak kelihatan yang awalnya karena terpaksa akibat tekanan sanksi hukum. Dengan keadaan ini, lama kelamaan menjadi suatu kebiasaan, san sikap mengarah ke kutub yang positif sehingga secara sukarela meghindari perilaku deskriminasi.

Sedangkan untuk mengurangi prasangka berdasarkan buku Baron, terdapat beberapa cara sebagai berikut :
1.Belajar tidak membenci
Beberapa orang tentu menyatakan bahwa anak-anak terlahir dengan prasangka yang sudah tertanam dengan kokoh. Namun, pada umumnya orang akan berpendapat bahwa fanatisme itu dibentuk, bukan dilahirkan. Mereka percaya bahwa anak mempelajari prasangka dari orang tuanya, orang dewasa lain, pengalaman masa kanak-kanak (contoh, Towles-Schwen & Fazio, 2001), dan media massa. Dengan cara apapun kita harus mencegah orang tua dan orang dewasa lainnya untuk melatih anak menjadi fanatic. Argument lain yang dapat menggantikan cara orang tua  mendidik anak-anaknya untuk menggembangkan toleransi bukan prasangka, adalah dengan menanam pemahaman bahwa prasangka membahayakan tidak saja korbannya tetpi juga mereka yang memiliki pandangan tersebut (Dovidio & Gaertner, 1993; Justim, 1991).
2.Kontak Antar kelompok Secara Langsung : Keuntungan Potensial dan Melakukan Kontak
Hipotesis Kontak  adalah pandangan bahwa peningkatan kontak antara anggota dari berbagai kelompok ssosial dapat efektif mengurangi prasangka di antara mereka. Usaha-usaha tersebut tampaknya berhasil hanya ketika kontak tersebut terjadi di bawah kondisi-kondisi tersebut. Hipotesis kontak yang diperluas, menyatakan bahwa kontak langsung antara orang dari kelompok yang berbeda bukanlah inti dari  usaha mengurangi prasangka antara keduanya. Sebaliknya, efek yang menguntungkan dapat diperoleh jika orang yang terkait tahu bahwa orang dalam kelompok mereka sendiri menjalin persahabatan dengan orang yang berasal dari kelompok lain (contoh, Pettigrew, 1997; Wright dkk, 1997).
3.Kategorisasi ulang : Membuat Ulang Batas antara “”kita” dan ”mereka”
Kategorisasi ulang adalah Perubahan dalam batas antara individu in group (“kita”) dan beberapa out group (‘’mereka”). Hasil dari kategorisasi ulang tersebut, orang yang sebelumnya dipandang anggota out-group sekarang dapat dipandang sebagai bagian dari in-group. Model identitas in group umum adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa sejauh individu dalam kelompok yang berbeda memandang diri mereka sendiri sebagai anggota satu kesatuan sosial, kontak positif di antara mereka akan meningkat dan bias antar kelompok dapat dikurangi.
4.Intervensi kognitif : Dapatkah kita mengatakan “tidak” pada stereotip ?
Dampak stereotip dapat dikurangi dengan memotivasi orang lain untuk tidak  berprasangka – sebagai contoh, dengan membuat mereka menyadari norma-norma keadilan dan standard yang menuntut semua menerima perlakuan yang sama (Contoh, Macrae, Bodenhousen, & Milne, 1998). Ketergantungan pada stereotip dapat dikurangi dengan mendorong seseorang untuk memikirkan orang lain secara hati-hati – dengan lebih memperhatikan keunikan karakteristiknya daripada keanggotaanya dalam berbagai kelompok.
Ketika individu memiliki stereotip, mereka belajar untuk menghubungkan karakteristik tertentu (contoh, traits negative seperti “miskin”, “kebencian” atau “berbahaya”) dengan berbagai kelompok rasial atau etnis, yang akhirnya teraktivasi secara otomatis. Jika individu secara aktif berusaha mematahkan kebiasaan stereotip dengan berkata “tidak” pada trait stereotip yang mungkin dihubungkan dengan kelompok tertentu Kawakami & koleganya (2000) berpendapat bahwa prosedur tersebut dapat mengurangi ketergantungan individu pada stereotip.
5.Pengaruh Sosial sebagai Cara untuk Mengurangi Prasangka
Prasangka juga dapat dikurangi melalui pengaruh sosial – member kesempatan pada individu dengan bukti yang menyatakan bahwa orang lain memiliki pandangan yang kurang berprasangka dibandingkan mereka.


DAFTAR PUSTAKA
Tri D, Hudaniah, 2009. Psikologi Sosial. Malang: UMM Press
Baron, Robert A; Byrne, Donn. Psikologi sosial, Jakarta : Penerbit Erlangga; 2003

Sabtu, 14 Desember 2013

CONTOH MAKALAH METODE PENELITIAN KORELASIONAL


I. PENDAHULUAN

     1.1  Latar Belakang
  Penelitian adalah suatu proses mencari tahu sesuatu secara sistematis dalam waktu yang relatif lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku. Berdasarkan metodenya, penelitian dibagi menjadi tiga jenis yaitu penelitian sejarah, penelitian deskriptif dan penelitian eksperimen.
  Penelitian korelasi dalam bidang pendidikan,sosial maupun ekonomi banyak dilakukan oleh peneliti. Penelitian korelasional merupakan penelitian yang paling banyak digunakan dan telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi perkembangan pengetahuan di bidang pendidikan (Cornell dalam Hadjar, 1999:277). Dalam penelitian jenis ini, peneliti berusaha menghubungkan suatu variabel dengan variabel yang lain untuk memahami suatu fenomena dengan cara menentukan tingkat atau derajat hubungan di antara variabel-variabel tersebut. Tingkat hubungan tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi yang berfungsi sebagai alat untuk membandingkan variabilitas hasil pengukuran terhadap variabel-variabel tersebut. Pengetahuan tentang tingkat hubungan tersebut diharapkan dapat menambah pemahaman tentang faktor-faktor dalam karakteristik yang kompleks dari suatu fenomena seperti prestasi belajar.
        Penelitian korelasional adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan peneliti. Menurut Gay dalam Sukardi (2008:166) menyatakan bahwa; penelitian korelasi merupakan salah satu bagian penelitian ex-postfacto karena biasanya peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan hubungan dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan dalam koefisien korelasi. Walaupun demikian ada peneliti lain seperti di antaranya Nazir dalam Sukardi (2008:166); mengelompokkan penelitian korelasi ke dalam penelitian deskripsi, karena penelitian tersebut juga berusaha menggambarkan kondisi yang sudah terjadi

1.2. Perumusan Masalah
          Sehubungan dengan latar belakang diatas maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
      a. Apakah pengertian penelitian korelasional?
      b. Apakah tujuan penelitian korelasional ?
      c. Bagaimanakah cirri-ciri penelitian korelasional?
      d. Apakah kelemahan dan kelebihan penelitian korelasional?

1.3  Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memahami.
      a. Apakah pengertian penelitian korelasional.
      b. Apakah tujuan penelitian korelasional.
      c. Bagaimanakah cirri-ciri penelitian korelasional.
      d. Apakah kelemahan dan kelebihan penelitian korelasional.

 II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penelitian Korelasional
Penelitian korelasi dalam bidang pendidikan, sosial, maupun ekonomi banyak dilakukan oleh para peneliti. Penelitian korelasi bertujuan menemukan ada tidaknya hubungan pararel antara dua variabel atau lebih dalam satu subjek atau dalam sekelompok subjek. Penelitian ini dilakukan, ketika mereka ingin mengetahui tentang kuat atau lemahnya hubungan variabel yang terkait dalam suatu objek atau subjek yang diteliti. Hal ini sesuai dengan anjuran (Gay, 1982) yang menyatakan bahwa:
Correlational research is a research study of that involves collecting data in order to determine whether and to what degree a relationship exists between two or more quantifiable variables (Gay, 1982: 430).
Penelitian korelasional adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungannya dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian. Penelitian korelasi, seperti yang dikatakan Gay, merupakan salah satu bagian penelitian ex-postfacto karena biasanya peneliti tidak memanipulsi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan lingkungan dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan dalam koefisien korelasi. Walaupun peneliti lain misalnya  Nazir mengelompokkan penelitian korelasi dalam penelitian deskripsi.
Pada sisi lain, menurut Nazir (1999), sering diperlakukan sebagai penelitian deskriptif, karena penelitian tersebut juga berusaha menggambarkan kondisi yang sudah terjadi. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha menggambarkan kondisi sekarang dalam konteks kuantitatif yang direfleksikan dalam variabel. Perbedaan pandangan tentang posisi penelitian korelasi, tidak perlu dipedebatkan karena keduanya berpijak dari sisi yang sedikit berbeda. Yang penting dalam hal ini Adalah pilih metode ini secara tepat agar dapat memecahkan masalah permasalahan penelitian.

2.2 Tujuan Penelitian Korelasional
Penelitian korelasi dilakukan oleh para peneliti pada umumnya mempunyai beberapa tujuan, diantaranya. Tujuan penelitian korelasional menurut Suryabrata (1994:24) adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi. Sedangkan menurut Gay dalam Emzir (2007:38); Tujuan penelitian korelasional adalah untuk menentukan hubungan antara variabel, atau untuk menggunakan hubungan tersebut untuk membuat prediksi. Studi hubungan biasanya menyelidiki sejumlah variabel yang dipercaya berhubungan dengan suatu variabel mayor, seperti hasil belajar variabel yang ternyata tidak mempunyai hubungan yang tinggi dieliminasi dari perhatian selanjutnya.
Di samping itu, penelitian korelasi juga dilakukan, untuk menjawab tiga pertanyaan penelitian tentang dua variabel atau lebih. Pertanyaan tersebut adalah:
1.Adakah hubungan antara dua variabel? Jika ada, kemudian diikuti dengan pertanyaan, yaitu,
2.Bagaimana arah hubungan tersebut? Dan selanjutnya pertanyaan,
3.Berapa besar hubungan kedua variabel tersebut dapat diterangkan?
Dalam penelitian korelasi, para peneliti biasanya hanya mendasarkan pada penampilan variabel sebagaimana adanya, tanpa mengatur kondisi atau memanipulasi variabel tersebut. Oleh karena itu, peneliti hendaknya mempunyai cukup banyak alasan yang kuat guna mempertahankan hasil hubungan yang ditemukan.
Penelitian korelasi lebih tepat, jika dalam penelitian memfokuskan usaha dalam mencapai informasi yang dapat menerangkan adanya fenomena yang kompleks melalui hubungan antar variabel. Sehingga peneliti juga dapat melakukan eksplorasi studi melalui teknik korelasi parsial, di mana peneliti mengeliminasi salah satu pengaruh variabel agar dapat dilihat hubungan dua variabel yang dianggap penting.

2.3 Teknik Penelitian Korelasional 
Teknik korelasi adalah teknik statistik yang digunakan untuk mencari hubungan atau korelasi antara dua variabel atau lebih. Dua variabel yang akan diteliti hubungannya itu masing-masing disebut sebagai variabel bebas (variabel X) dan variabel terikat (variabel Y). Jika kita ingin meneliti hubungan antara tingkat kecerdasan dengan penyesuaian sosial remaja, maka variabel tingkat kecerdasan disebut variabel X dan veriabel penyesuaian disebut dengn variabel Y. Bila variabel X dan variabel Y sudah dihitung taraf korelasinya, maka akan dapat ditemukan arah korelasinya. Arah korelasi dalam statistik ada 3 macam, yaitu:
1).Arah korelasi positif terjadi apabila kenaikan atau penurunan nilai pada variabel X diikuti juga oleh naik turunnya nilai pada variabel Y.
2). Arah korelasi negatif apabila kenaikan variabel X diikuti oleh penurunan pada Y dan penurunan pada X diikuti oleh kenaikan pada variabel Y
3).Arah korelasi nihil Apabil variabel X dan Y tidak memiliki hubungan yang sistematis
Arah korelasi ini ditunjukkan oleh suatu harga yang disebut koefisien korelasi. Koefisien korelasi bergerak dari -1 sampai dengan +1. korelasi yang mempunyai koefisien -1 disebut korelasi negatif sempurna, demikian juga dengan korelasi yang mempunyai koefisien +1 disebut korelasi positif sempurna.
Dalam kenyataannya, hampir tidak pernah dijumpai koefisien korelasi yang koefisiennya sempurna, terlebih lagi pada penelitian-penelitian sosial dan psikologi. Koefisien korelasi korelasi yang biasa dijumpai peneliti adalah diantara -1 dan +1.


2.4 Teknik Analisis Penelitian Korelasional
Ada beberapa teknik analisis untuk menyatakan besarnya harga koefisien korelasi, tergantung dari jenis data penelitiannya. Teknik analisis tersebut diantaranya adalah product moment, tata jenjang, kendall tau, point biserial, triserial dan korelasi kontingensi.
1).Korelasi Product MomentDigunakan untuk mengetahui ada tidaknya dua variabel yang keduanya mempunyai data interval
2).Korelasi Tata Jenjang . Digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan dua variabel yang mempunyai data ordinal (berbentuk rangking atau berjenjang). Teknik ini dikemukakan oleh Spearman dan dikenal dengan Teknik Korelasi Tata Jenjang Spearman.
3).Korelasi Kendalai Tau.Digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan dua variabel yang mempunyai data ordinal (berbentuk rangking). Teknik ini biasanya digunakan untuk penelitian dengan jumlah sampel lebih dari 10 (N > 10).
4).Korelasi Point Biserial. Digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua variabel, data variabel pertama berupa dikhotomi asli dan data variabel kedua berupa data interval
5).Koefisien TriserialDigunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua variabel,variabel pertama merupakan data trikhotomi buatan sedangkan variabel kedua merupakan data interval.
6).Analisis Korelasi KontingenDigunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar variabel yang mempunyai data kategori, baik kategori asli maupun buatan.

2.5  Ciri-Ciri Penelitian Korelasional
1).Penelitian macam ini cocok dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti rumit dan atau tak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tak dapat dimanipulasi.
2).Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.
3).Output dari penelitian ini adalah taraf atau tinggi-rendahnya saling hubungan dan bukan ada atau tidak adanya saling hubungan tersebut.
4).Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkan variabel bebas. Penelitian korelasional, mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain: Hasilnya cuma mengidentifikasi apa sejalan dengan apa, tidak mesti menunjukkan saling hubungan yang bersifat kausal; Jika dibandingkan dengan penelitian eksperimental, penelitian korelasional itu kurang tertib- ketat, karena kurang melakukan kontrol terhadap variabel-variabel bebas; Pola saling hubungan itu sering tak menentu dan kabur , sering merangsang penggunaannya sebagai semacam short-gun approach, yaitu memasukkan berbagai data tanpa pilih-pilih dan menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna.

III. PENUTUP

3.1 Simpulan.
            Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut. Penelitian korelasional adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungannya dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian.
Tujuan penelitian korelasional menurut Suryabrata (1994:24) adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi. Sedangkan menurut Gay dalam Emzir (2007:38);
Tujuan penelitian korelasional adalah untuk menentukan hubungan antara variabel, atau untuk menggunakan hubungan tersebut untuk membuat prediksi.
Ciri-ciri Penelitian Korelasional: Penelitian macam ini cocok dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti rumit dan/atau tak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tak dapat dimanipulasi, Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.Output dari penelitian ini adalah taraf atau tinggi-rendahnya saling hubungan dan bukan ada atau tidak adanya saling hubungan tersebut.Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkan variabel bebas.        Penelitian korelasional, mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain: Hasilnya cuma mengidentifikasi apa sejalan dengan apa, tidak mesti menunjukkan saling hubungan yang bersifat kausal; Jika dibandingkan dengan penelitian eksperimental. Penelitian korelasional itu kurang tertib- ketat, karena kurang melakukan kontrol terhadap variabel-variabel bebas; Pola saling hubungan itu sering tak menentu dan kabur; ering merangsang penggunaannya sebagai semacam short-gun approach, yaitu memasukkan berbagai data tanpa pilih-pilih dan menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna.
Penelitian korelasional juga mengandung kelebihan-kelebihan, antara lain: Kemampuannya untuk menyelidiki hubungan antara beberapa variabel secara bersama-sama (simultan).Penelitian korelasional  dapat memberikan informasi tentang derajat (kekuatan) hubungan antara variabel-variabel yang diteliti.


DAFTAR PUSTAKA

Emzir, 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Hadjar, Ibnu, 1999. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
http://ecaecy.wordpress.com/2012/01/13/penelitian-korelasonal/
Sukardi, 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta: Bumi Aksara.
Suryabrata, Sumadi,1994. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada