Wednesday, 14 February 2018

TIPS MENGELOLA MOOD ANDA

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, pernah ngga Anda mengalami hal-hal seperti ini? Karena pagi-pagi sudah kena marah Ibu atau isteri di rumah membuat perasaan Anda hari itu tidak baik atau mood Anda jelek seharian, sehingga tugas-tugas yang harusnya di selesaikan hari itu menjadi tertunda, karena tidak mood sama sekali untuk mengerjakannya.

Sumber foto : mychicagotherapist.com
Atau gini; ketika Anda sedang bercanda dengan teman Anda. Lagi asik asiknya bercanda eh ada kalimat dari mulut teman Anda yang itu menyinggung perasaan Anda, sakitnya tuh di sini (nunjuk dada) Hehe. Di situ mood Anda tiba-tiba berubah drastis, menjadi menghindari teman Anda, atau bahkan Anda membenci dia. Padahal Anda bersama teman Anda kan sama-sama tau bahwa pada saat itu konteksnya adalah bercanda.


Atau contoh lain seperti ini; suatu ketika perasaan Anda baik-baik saja, akan tetapi ketika Anda melihat orang yang Anda benci melintas berjalan di hadapan Anda, saat itu juga, secara mendadak, mood Anda langsung berubah secara drastis, menjadi badmood dan rasanya itu pengen menghindar jauh-jauh dari dia. Dari beberapa kejadian tersebut, bagaimana perasaan teman-teman? Menyesal? Kecewa? Atau marah kepada diri sendiri? Kenapa sih mood ku mudah banget untuk berubah-ubah ya? Kenapa sih aku mudah banget di kontrol sama si kampret mood jelek ini ya?


Jadi gini teman-teman, dalam dunia NLP (Neuro Lingustic Programming) mood itu sendiri ada kajiannya, namun istilahnya saja yang berbeda, biasa kita sebut dengan “state’”. State sendiri di pengaruhi oleh kondisi fisik dan mental seseorang. Itu kenapa kadang jika fisik kita sakit, kita sulit untuk berpikir fokus atau mengakses kondisi mental tertentu (senang, bahagia dll), bawaanya pengen istirahat dan tidur saja seharian. Istilahnya mind and body is one system, jika salah satu terganggu maka bagian yang lain juga akan terganggu

Nah uniknya, dalam NLP, kita di ajari untuk bisa mengontrol mood. Bagaimana caranya? akan saya sharing di sini caranya ya.

Sumber foto : 1button.co
Sederhananya dan biar mudah di ingat, RUMUSNYA 4A teman-teman; ACCESS, AMPLIFY, ANCHOR dan APPLY.


Kali ini saya akan sharing tips mengelola mood dengan cara ACCESS. Biar lebih mantep, saya kasih contoh nih, misalnya Anda ingin mengakses mood semangat ketika mood Anda sedang jelek, jadi yang awalnya bad mood mau ngapa-ngapain, bisa di ubah menjadi lebih bersemangat. Caranya bagaimana? Gini, sebelumnya, Anda harus menentukan dan memilih dulu kira-kira di masa lalu, adakah suatu pengalaman yang membuat Anda sangat bersemangat? Ketika sehabis minum kopi untuk bergadang mengerjakan tugas, ketika mengerjakan tugas kantor yang sudah dekat dengan deadline atau pengalaman apapun itu yang membuat Anda sangat bersemangat. Sudah di pilih? Nah jika sudah, silahkan Anda menutup mata. Cukup rilekskan tubuh dan pikiran Anda. Tarik napas yang dalam lewat hidung, keluarkan lewat mulut. Sekarang tugas Anda cukup sederhana, silahkan akses semua memori dan perasaan Anda ketika bersemangat di masa lalu Anda itu. Akses semua hal yang Anda bisa. Beri warna dan cahaya yang jelas. Semangat yang seperti apa persisnya? Apa yang Anda lihat saat itu? Apa suara yang anda dengar saat itu? Kemudian perasaan seperti apa yang Anda rasakan saat itu? Timbulkan semua imajinasi dan bayangan mengenai kejadian ketika Anda bersemangat saat itu.


Kemudian perkuat perasaan bersemangatnya. Jika sudah sampai pada puncaknya, Anda boleh membuka mata, jika Anda tadi berhasil fokus dan konsentrasi sepenuhnya, maka it’s work, mood Anda sudah berubah menjadi lebih baik. Tidak percaya? Silahkan Anda coba rasakan sendiri perasaan yang berubah lebih baik dari sebelumnya; lebih nyaman, lebih tenang. lebih bersemangat. Betul kan? Betul atau betul banget?

APAKAH SARJANA PSIKOLOGI PASTI LULUS PSIKOTEST DAN WAWANCARA?

Berikut ilustrasi percakapan yang sering terjadi antara Mahasiswa Psikologi (MP) dan Mahasiswa Non Psikologi (MX) pasca wisuda:

MX : Gimana bro? Setelah lulus ini rencana mau daftar kerja dulu atau mau S2 dulu nih? Atau mungkin mau nikah dulu? (sambil tersenyum)
MP : Hm. Masih belum kepikiran bro kalau nikah. Maunya sih mapan dan punya penghasilan tetap dulu. Rencana sih mau kerja dulu brader.
MX : Btw, enak ya bro, km kan kuliah di jurusan Psikologi nih, pasti udah belajar dan ngerti duluan lah nanti ketika tes psikotes kerja dan wawancara. Aku mah yakin banget bro kamu bisa lulus Psikotes `sama wawancara nya nanti.
MP : Yaa elaaah. Kalau mahasiswa psikologi pasti lulus psikotes mah kenapa banyak tuh mahasiswa psikologi yang jadi pengangguran.
MX : Hahaha. Iyaa juga sih yaaaa.


Sumber foto : 3.bp.blogspot.com
Tidak ada yang salah dari percakapan di atas. Cara pandang MX terhadap MP pun lahir karena latar belakang orang yang menjadi interviewer ketika wawancara ataupun tester ketika menginstruksikan tes psikotes adalah dari jurusan psikologi. Sehingga di anggap “mahasiswa psikologi yang di perkuliahannya belajar seputar tentang apa saja jenis-jenis alat tes psikotes, yang mana tes kepribadian yang mana untuk kecerdasan, bagaimana proses wawancara dan sebagainya akan MUDAH dan LANCAR ketika memasuki tes psikotes dan wawancara kerja, baik untuk tujuan mendaftar kerja ataupun kuliah S2”. Namun sebenarnya, ada banyak hal yang perlu kita ketahui sebelum setuju sepenuhnya pada pernyataan tersebut. Berikut poin-poinnya :

1. Umumnya psikotes terdiri dari 2 jenis, psikotes kecerdasan dan kepribadian. Namun faktanya; jumlah alat psikotes sangat banyak dan semuanya tidak di ajarkan di perkuliahan S1 Psikologi. Untuk psikotes kepribadian saja sedikitnya berjumlah 16 an; RMIB test, Draw a Family test, Dragon test, Papi kostick, CAT, DISC, EPPS, Pauli, Kraeplin, Rorschah, SSCT, TAT, Wartegg test, House Tree Person, DAP test, BAUM test dan lain-lain.


Mayoritas alat tes kepribadian bersifat interpretatif dan Sarjana Psikologi masih belum memiliki wewenang untuk memberikan interpretasi terhadap alat tes, berbeda dengan Psikolog yang wajib memiliki kompetensi tersebut. Sehingga anda lulus S1 Psikologi, belum tentu anda mengerti harus menggambar jenis pohon apa ketika tes menggambar pohon untuk mendaftar kerja sebagai staff HRD sebuah perusahaan.

2. Tujuan Psikotes adalah bukan untuk mencari siapa yang paling jenius dengan kecerdasan very superior, bukan yang paling ekstrovert atau bukan untuk mencari siapa yang paling introvert. Sehingga percuma bagi sarjana Psikologi hapal semua kunci jawaban Psikotes atau mengerti cara menunjukkan jenis kepribadian melalui psikotes.

Tujuan psikotes adalah untuk identifikasi tingkat kecerdasan dan atau tipe kepribadian sesuai dengan kebutuhan kompetensi pekerjaan. Misal: di buka lowongan pekerjaan marketing, kompetensi kerja yang di butuhkan adalah mudah beradaptasi dengan orang baru, komunikatif dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jika ada mahasiswa psikologi, namun tidak memiliki 3 kriteria tersebut. Ya pastilah tidak akan di terima. Meskipun ketika psikotes seorang sarjana psikologi mencoba untuk memanipulasi psikotes kepribadian seolah-olah dia memiliki 3 kriteria tersebut, kembali ke poin 1, yang bertugas mengoreksi hasil psikotes adalah Psikolog; orang yang memiliki daya interpretatif yang lebih tinggi. Kebohongan yang di buat-buat akan terbaca



3. Psikotest dan wawancara adalah satu kesatuan asesmen. Psikotest tanpa wawancara, bagai pisau yang tumpul. Sehingga jika ada sarjana psikologi yang hapal dan mengerti betul tentang alat psikotest namun ketika wawancara menunjukkan dirinya cemas dan kurang percaya diri; berkemungkinan akan gagal.


Juga sebaliknya, ketika wawancara sangat lancar dan mampu meyakinkan interviewer namun ketika psikotest IQ yang di tunjukkan berada pada borderline; masih tetap berkemungkinan untuk gagal. Masalahnya, dalam perkuliahan S1 Psikologi, psikotest dan wawancara di ajarkan kurang lebih hanya 50%, 50% nya akan di dapatkan dari S2 dan pengalaman. Jadi kembali lagi di pertanyakan, apakah sarjana psikologi pasti lulus psikotes dan wawancara?

BAHAYA INSTAGRAM BAGI KESEHATAN PSIKOLOGIS ANDA

Di era jaman now, siapa yang tidak tau sosial media? Terlebih lagi sosial media instagram. Bahkan anak kecil SD sekarang sudah banyak yang menggunakan Instagram, lagi ekstrakulikuler upload di instastory, sambil nyanyi yang hapenya di puter-puter atau tangan nya yg muter-muter ya (mbohlah gimana) di upload juga di instagram. Bahkan balita looh (*anak-bawah lima tahun) sudah ada instagramnya. Namun taukah Anda? Sebenarnya di balik aplikasi Instagram yang sering kita buka setiap hari itu, bahkan mungkin sampai 2-3 jam sehari itu, terdapat buanyak bahaya bagi kesehatan psikologis Anda :


1. Anda menipu diri Anda sendiri demi sebuah pengakuan

Kebanyakan foto instagram berisi fantasi seseorang terhadap dunianya. Misal foto selfie; biasanya sih ini cewe, tapi tidak selalu. Utk mendapatkan 1 foto selfie yg di upload di instagram, mereka harus memfoto diri mreka sendiri (selfie) dengan belasan atau bahkan puluhan kali foto, kemudian di edit dengan 1 atau mungkin bahkan 2 aplikasi edit foto agar foto yang mereka hasilkan adalah yang terbaik dan bisa VIRAL di mana-mana dengan harapan dapat ribuan like dan ratusan komen. Yang warna kulit atau mukanya (agak) hitam di edit di putihin, yang (agak) gemuk di edit di kurusin, yang jerawatan di edit di mulusin,  yang rendah di tinggiin, yang pesek di mancungin. Ya semua semuanya aja di edit.


Dan ternyata, secara tidak sadar pelakuan Anda terhadap diri Anda tersebut melatih Anda untuk tidak bersyukur terhadap diri Anda sendiri, Anda tidak menerima diri Anda apa adanya, Anda ingin di lihat lebih baik lebih bagus dari diri Anda yang sebenarnya. Wah wah selamat. Anda berhasil menipu diri Anda sendiri demi sebuah apresiasi

2. Membuat Anda takut untuk ketinggalan moment bahagia


Menurut survei #StatusOfMind yang dipublikasi oleh Royal Society for Public Health Inggris, dari 5 sosial media; Instagram, Snapchat, Facebook, Twitter, dan You Tube kepada kurang lebih 1.500 org yg mengikuti survei. TERNYATA instagram adalah sosial media terburuk bagi kesehatan mental dan kesejahteraan. Salah satunya berhubungan dengan tingkat Fear of Missing Out (FOMO); ketakutan bahwa orang lain sedang mengalami kejadian menyenangkan, di mana ia tidak merasa terlibat. Anda sendiri tahu. Berapa banyak moment berharga yang teman-teman Anda posting di instagram dan Anda melewatkan moment-moment tersebut. Acara tahun baru misalnya, teman-teman Anda asik party di luar Anda hanya mengurung diri di rumah lantaran tak ada uang. Teman-teman Anda asik muncak ke gunung, sementara Anda masih sibuk dengan tugas dan tugas kuliah. Membuat Anda menjadi takut untuk tidak terlibat dalam moment-moment yang membahagiakan, Anda takut di bilang tidak gaul.

Wah hati-hati. Membuang-buang energi untuk ketakutan yang tidak ada faedahnya. Buatlah moment bahagia Anda sendiri. Jadilah pribadi yang merdeka, tanpa tergantung dengan orang lain.

3. Membuat Anda membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain

Berhubungan dengan poin pertama, menurut saya pribadi Instagram merupakan sosial media paling high class yang di dominasi oleh kaum anak muda, di instagram kita bisa lihat banyak postingan foto orang dengan rumah super mewah, mobil mahal, motor keren, foto dengan fashion-fashion kekinian, foto di restoran elit, foto dengan make up brand ternama yang terkadang secara tidak sadar membuat kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang-orang tersebut. “Coba yah saya bisa punya rumah mahal kaya gitu pasti saya akan... Enak yah dia bisa keliling-keliling dunia. Enak yah dia bisa makan di situ”.

Bagus lah kalau termotivasi untuk bekerja lebih giat lebih keras. Nah bahayanya jika kondisi ekonomi yang memang tidak mencukupi, tapi gayanya di paksakan. Wah bahaya bahaya...

4. Membuat fokus hidup Anda terganggu.

Sedikit berbeda dengan bentuk sosial media yang lain, Instagram lebih memanjakan auditori dan visual penggunanya, dalam sistem pertemanan; menggunakan fitur follow/ unfollow serta membebaskan penggunanya untuk melihat isi profil/ foto-foto orang lain, kita bahkan bisa melihat foto-foto orang lain tanpa mengikuti dia (kecuali akun yg di privat). Kita bebas melihat foto-foto apa saja dan siapa saja di tayangan eksplor. Follow (mengikuti) di instagram berarti kita mengikuti segala macam foto dan aktivitas dari orang tersebut. Ya namanya sebagai pengikut, orang jalan ke taman kita ikut, ke pantai ikut, ke gunung ikut. Nah yang bahaya orang jalan masuk ke sumur kita ikut juga terjun.


Maksudnya gini, bayangkan, jika semua orang yang Anda ikuti sukanya posting foto-foto alay atau bikin caption galau otomatis itu akan mempengaruhi Anda. Awas ini yang bahaya. Kadang kita mahasiswa kebanyakan follow akun artis atau malah akun hoax.Ya kembali sih terserah yang punya akun, tapi Anda seorang mahasiswa;  apa pentingnya bagi Anda untuk tahu segala macam kehidupan para artis dengan memfollownya? Mestinya ya seorang pengusaha follow akun-akun pengusaha, Anda mau hidup Anda baik follow akun-akun yang baik. Okeyyy 

Monday, 25 September 2017

Mahasiswa Psikologi Bukan Dukun


“Eh, kamu anak Psikologi ya? Coba baca karakter ku dong, aku orangnya gimana?”
“Menurut mu dari garis tangan ku ini, di masa depannya nanti aku bakalan kerja apa ya?”
“Kira-kira dari fotonya ini (sambil menyodorkan foto profil Facebook doi), orangnya kaya gimana ya?

Sumber foto : https://fasyaulia.wordpress.com/2016/02/15/enak-gak-enak-pacaran-sama-anak-psikologi-part-1/
Mungkin bagi Anda mahasiswa Psikologi pasti sering menerima kalimat-kalimat di atas ketika bertemu dengan teman-teman Anda. Terlebih, mungkin ketika sedang reuni akbar atau buka bersama saat bulan Ramadhan, dan teman-teman kalian tau bahwa kalian sedang atau lulusan jurusan Psikologi. Pasti kalian akan di serbu dengan kalimat-kalimat tersebut.

Sumber foto : https://mufidaelkhairi.wordpress.com/2016/01/17/mahasiswa-psikologi-ums-keren/
Nah. Sekarang kita akan membahas beberapa argumen yang dapat menyatakan bahwa mahasiswa Psikologi itu bukanlah dukun ;

1. Mahasiswa Psikologi adalah seorang observer, mereka terbiasa melakukan pengamatan, melihat apa yang nampak secara detail dari ujung kaki hingga kepala, melihat secara intens gerak-gerik yang di lakukan, bagaimana posisi kaki ketika duduk di kursi, apakah di lipat atau kaki keduanya di letakkan di lantai, melihat tangannya apakah di lipat di dada, arah matanya kemana ketika berbicara. Mahasiswa psikologi adalah seorang pengamat. Sehingga dari situlah terkadang mereka dapat berbicara banyak mengenai karakter orang lain. Sebagai contoh dalam sebuah organisasi, sebut saja A yang mudah terpancing emosi ketika rapat, sering berbicara dengan nada yang tinggi, dan susah untuk di berikan nasehat. Sebagai mahasiswa Psikologi yang berada dalam organisasi tersebut, dengan beberapa hasil pengamatan dia yang di jelaskan melalui ciri-ciri yang disebutkan di atas, sangat jelas dapat disimpulkan bahwa si A adalah orang yang seperti apa? Pemarah dan arogan. Nah seperti itulah cara kami mahasiswa Psikologi membaca karakter, dengan pengamatan. Itupun masih hanya sekedar hipotesis, bukan kesimpulan akhir.


2. Kami di latih untuk lebih peka dan berempati dari mahasiswa-mahasiswi lainnya. Dari banyak mata kuliah yang kami tempuh, hampir mayoritas bertujuan untuk melatih kepekaan dan empati kepada orang lain, semisal memberikan modifikasi perilaku kepada anak berkebutuhan khusus, konseling kepada remaja yang sedang galau putus cinta atau psiko edukasi kepada lansia (lanjut usia). Sehingga mereka terbiasa merasakan bagaimana menjadi orang lain. Hingga tak di pungkiri jika mereka di tanya bagaimana karakter seorang anak dari keluarga yang broken home misalnya, mereka bisa menjelaskan kecenderungan-kecenderungan perilaku nya. Bukan karena mereka dukun. Sekali lagi, karena mereka terbiasa merasakan perasaan orang lain.

.
3. Mahasiswa Psikologi kenyang akan cerita kehidupan. Setiap perjalanan kehidupan manusia di muka bumi ini sangatlah beragam. Namun meskipun demikian, perjalanan hidup tersebut sebenarnya dapat kita kelompokkan menjadi beberapa bagian, berdasarkan kecenderungan ras, suku, kearifan lokal, kondisi ekonomi, pendidikan dsb. Hingga pada akhirnya muncul istilah sterotyping ; prasangka kebanyakan. Sebagai contoh : orang gemuk biasanya pemalas dan rakus, orang Tionghoa atau Cina sangat perhitungan, orang batak cenderung kasar ketika berbicara dan sebaliknya orang Jawa sangat halus dan lemah lembut.

Sumber foto : http://www.kompasiana.com/liliyanasari/mahasiswa-psikologi-bukan-calon-dukun_55283717f17e61dd2a8b4569
Nah itulah sebenarnya bahan kami untuk bisa berbicara banyak tentang karakter; menggunakan kecenderungan orang kebanyakan, meskipun kita sudah sepakat bahwa sterotyping tidak dapat di generalisir.

Fenomena LGBT Menurut Perspektif Psikologi


Jika di lihat melalui perspektif agama, jelas bahwa fenomena LGBT sangatlah salah, bahkan termasuk dalam dosa besar. Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW menganjurkan untuk membunuh siapapun pelaku Homo seksual. Memang fenomena LGBT ini adalah bukan fenomena yang baru lagi. Sejak jaman Nabi Muhammad SAW pun sudah menjadi sumber pertikaian dan sampai sekarang pun masih ramai di perdebatkan. 

Sumber foto : ngelmu.id

Namun kali ini, penulis mencoba untuk menelaah sedikit lebih dalam tentang LGBT menurut perspektif ilmu psikologi.


LGBT bukan merupakan gangguan/ kelainan jiwa, jika Anda mengerti ilmu psikologi dan tau tentang DSM-IV, maka tidak ada lagi kategori homoseksualitas dkk dalam buku tersebut. Tahun 1990, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencabut homoseksualitas dari Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD). Kemudian diikuti dengan Kementerian Kesehatan mencabut LGBT sebagai penyakit kejiwaan di Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi III pada 1993. LGBT bukan gangguan/ kelainan jiwa, akan tetapi lebih tepatnya adalah kebingungan identitas. Ada segelintir manusia di muka bumi ini yang bingung tentang identitasnya sendiri, perilaku seperti perempuan namun tumbuh dan berkembang dalam tubuh laki-laki, atau sebaliknya. Mungkin Anda pembaca mempunyai teman perempuan yang tomboy? Atau teman laki-laki yang feminim? Anda mungkin memiliki teman perempuan yang suka trek motor, balap-balapan, nongkrongnya sama laki-laki, main kemana-mana sama laki-laki. Anda bingung tidak dengan kejadian semacam itu? Perempuan kok ke laki-lakian. Nah si orang tersebut pun tentunya bingung, dia sendiri merasa bingung, saya perempuan kok tapi saya suka aktivitas laki-laki ya. Nah itu sebenarnya sedikit potensi, akan berkembang menjadi LGBT? tergantung lingkungannya seperti apa.

Sumber foto : bintang.com
Sebagian kecil LGBT adalah karena faktor gen/ bawaan/ keturunan. Berawal dari banyaknya penelitan yang mengatakan bahwa 50% LGBT di sebabkan oleh lingkungan, kemudian 50% nya lagi di sebabkan oleh gen atau bawaan. Telah di sebutkan melalui proses penelitian berpuluh-puluh tahun, area kecil di hipotalamus otak pada laki-laki homoseksual ukurannya dua kali lebih besar dibandingkan laki-laki heteroseksual. Penelitian itu mengatakan otak manusia dapat membentuk sifat maskulin atau juga feminine. Ini terlepas dari bentuk seksual fisik yang mempunyai vagina atau juga penis. Ketika janin berkembang, identitas gender dan diferensiasi seksual dari alat kelamin berkembang secara mandiri dari satu sama lain. Lalu jika ada segelintir manusia di muka bumi ini yang memang dari lahir dia memiliki turunan orientasi gen untuk berperilaku homoseksual misalnya. Kita bisa apa?


Dean H. Hammer seorang ahli genetika, bersama tim penelitinya di Lembaga Kanker Nasional Amerika pada tahun 1993. Mereka mengatakan bahwa homoseksual, setidaknya, beberapa bersifat genetik. Dikatakan dari hasil penelitian silsilah keluarga yang dua atau lebih adalah homo, dan digabungkan dengan DNA homoseksual yang sebenarnya maka ditemukan adanya kemungkinan yang mempengaruhi orientasi seks seseorang. Kemudian Alferd C.Kensey, seorang profesor sexology ditahun 1950 an mengatakan hasil penelitiannyanya membuktikan bahwa 1 dari 10 orang adalah homo. Ini berarti 10% dari 100%. Artinya jika anda laki-laki, maka 1 dari 10 teman laki-laki Anda adalah homo. Sudah di teliti dan di buktikan, demikian benar adanya menurut Alfred. Nah. Masalahnya adalah di sini, yang kita tidak tau adalah sejauh mana keabsahan penelitian tersebut. Alferd C.Kensey ternyata merupakan seorang peneliti yang pro LGBT dan banyak peneliti-peneliti lainnya yang mereka sendiri sebenarnya adalah seorang Homo, sehingga wajar bagi mereka untuk mendukung hak-haknya. Penelitian yang di jadikan patokan bagi kaum intelektualitas pun akhirnya bergeser keabsahannya menjadi subjektif, bukan lagi berorientasi pada objektivitas penelitian. Itulah perangkap, dan kita harus berhati-hati.

Akhirnya, memang sebaiknya semuanya, semua hal yang ada di kehidupan kita ini kita kembalikan kepada panduan hidup “Al-Quran dan Hadis”. Agar hidup kita penuh dengan keyakinan yang mantap tanpa keragu-raguan yang dapat menyesatkan. 

Friday, 23 June 2017

Yuk mari sapa dan berkenalan dengan Id, Ego dan Super Ego Anda

Tahukah anda bahwa di dalam diri setiap manusia pasti memiliki Id, Ego dan Super Ego. Namun sebelum melangkah lebih jauh. Taukah anda apa itu Id, Ego dan Super Ego? Mari kita kenali satu per satu.

Berawal dari ilmuwan Psikologi bernama Sigmund Freud yang konsisten bergulat di dunia psikis manusia dan memberikan penjelasan yang lugas mengenai 3 struktur jiwa manusia yakni Id, Ego dan Super Ego atau yang terdapat pada aliran psikoanalisis.

Id atau Internal Drive terletak dalam ketidaksadaran. Ia merupakan tempat dari dorongan-dorongan primitif, yaitu dorongan-dorongan yang belum dibentuk atau dipengaruhi oleh kebudayaan yaitu dorongan untuk hidup dan mempertahankan kehidupan (life instinct) dan dorongan untuk mati (death instinct). Bentuk dari dorongan hidup adalah nafsu, seksual atau bisa disebut juga libido, dan bentuk dari dorongan mati adalah agresi, yaitu dorongan yang menyebabkan ingin menyerang orang lain, berkelahi, berperang atau marah. Prinsip yang dianut oleh id adalah prinsip kesenangan (pleasure principle), yaitu bahwa tujuan dari id adalah memuaskan semua dorongan primitif ini. Untuk lebih memahami apa itu id adalah ketika seorang bayi sedang lapar atau haus, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi, yakni sampai bayi tersebut mendapatkan makan atau minum.


Ego adalah sistem tempat kedua dorongan dari id dan superego beradu kekuatan. Fungsi ego adalah menjaga keseimbangan antara kedua sistem yang lainnya, sehingga tidak terlalu banyak dorongan dari id yang dimunculkan ke kesadaran sebaliknya tidak semua dorongan superego saja yang dipenuhi. Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama yakni memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan.


Ego sendiri tidak mempunyai dorongan atau energi. Ia hanya menjalankan prinsip kenyataan (reality principle), yaitu menyesuaikan dorongan-dorongan id atau superego dengan kenyataan di dunia luar. Ego adalah satu-satunya sistem yang langsung berhubungan dengan dunia luar, karena itu ia dapat mempertimbangkan faktor kenyataan ini. Ego yang lemah tidak dapat menjaga keseimbangan antara superego dan id. Kalau ego terlalu dikuasai oleh dorongan-dorongan dari id saja maka orang itu akan menjadi psikopat (tidak memperhatikan norma-norma dalam segala tindakannya). Sebaliknya, jika seseorang terlalu dikuasai oleh superego, maka orang tersebut akan menjadi Psikoneurose (tidak dapat menyalurkan sebagian besar dorongan-dorongan primitifnya).

Superego adalah suatu sistem yang merupakan kebalikan dari id. Sistem ini sepenuhnya dibentuk oleh kebudayaan. Segala norma-norma yang diperoleh melalui pendidikan itu menjadi pengisi dari sistem superego sehingga superego berisi dorongan-dorongan untuk berbuat kebajikan, dorongan untuk mengikuti norma-norma masyarakat dan sebagainya. Dorongan-dorongan atau energi yang berasal dari superego ini akan berusaha menekan dorongan yang timbul dari id, karena dorongan dari id yang masih primitif ini tidak sesuai atau tidak bisa diterima oleh superego. Di sinilah terjadi tekan menekan antara dorongan-dorongan yang berasal dari id dan superego


Nah sekarang kalian sudah bisa mengenali Id, Ego dan Super Ego kalian masing-masing kan? Sekarang saatnya untuk mengontrol ketiganya ya. Agar hidup kita bisa damai dan terhindar dari kesenangan-kesenangan yang sifatnya hanya sementara dan tidak membawa kita kepada kesuksesan. Yuk kontrol Id, Ego dan Super Ego kita menjadi lebih stabil.

Referensi :
Ekarini, S. (2011). Pergeseran Citra Pribadi Perempuan Dalam Sastra Indonesia: Analisis Psikoanalisis Terhadap Karya Sastra Indonesia Mulai Angkatan Sebelum Perang Hingga Mutakhir. Jurnal Artikulasi (12), 2

http://belajarpsikologi.com/struktur-kepribadian-id-ego-dan-superego-sigmund-freud/

Friday, 25 November 2016

Mengenal Psikologi Forensik dan Peluang kerjanya

Akhir-akhir ini Indonesia sering di hebohkan dengan kasus-kasus yang di kaitkan dengan kondisi psikologis korban atau pelakunya. Sebut saja, kasus yang paling lama di tangani, menyita banyak perhatian netizen dan memakan banyak energi dan mungkin biaya untuk menuntaskannya, “Kasus Jessica, Kopi Bersianida”. Begitu mengundang perhatian publik hingga banyak meme meme berhamburan tentang Jessica dan Mirna (korban). Banyak pemberitaan yang di buat, seolah-olah seperti progress report case yang di publikaskan melalui berbagai media, baik televisi, surat kabar ataupun berita online. Terhitung mulai dari tanggal 6 Januari sampai sekarang bulan november 2016 (hampir 1 tahun) .
Sumber : http://www.bintang.com/lifestyle/read/2440587/3-kesalahan-jessica-yang-takkan-pernah-dilupakan-oleh-ayah-mirna
Baca : Mengejutkan! Fakta Orang Gila/ Skizofrenia di Indonesia.

Terlepas dari bagaimana proses kasus tersebut hingga begitu lama terselesaikan. Ilmu mengenai Psikologi Forensik memiliki banyak kontribusi di dalamnya. Mungkin ilmu yang satu ini masih tidak lebih terkenal dari kajian-kajian psikologi lainnya, misal psikologi industri ataupun klinis.
Padahal berbagai kasus yang berkaitan dengan proses peradilan pidana seringkali berhubungandengan berbagai permasalahan psikologi, melainkan sebagai permasalahan hukum. Sesungguhnya banyak permasalahan hukum yang memerlukan peran serta psikologi. Kontribusi psikologi dalam bidang forensik sebenarnya mencakup area kajian yang sangat luas, mulai membuat kajian tentang profil para pelaku kejahatan (offender profilling), mengungkap dasar neuropsikologik, genetik, dan proses perkembangan pelaku, saksi mata (eyewitness), mendeteksi kebohongan, menguji kewarasan mental, soal penyalahgunaan obat dan zat adiktif, kekerasan seksual, kekerasan domestik, soal perwalian anak, dan juga soal rehabilitasi psikologis di penjara. Dengan begitu luasnya cakupan kontribusi psikologi dalam bidang forensik, subbidang ilmu ini sebenarnya sangat menjanjikan baik bagi karier akademis ataupun profesional praktisioner
Sumber : http://www.slideshare.net/husnafajrina/spesialisasi-psikologi-klinis
Tugas Profesi Psikologi Forensik. Berikut akan dipaparkan tugas profesi psikologi forensik di setiap tahap proses peradilan pidana :
1. Di kepolisian, seperti telah diuraikan terdahulu tugas polisi dalam peradilan pidana adalah menyelidik dan menyidik (Departemen Kehakiman Republik Indonesia, 1982). Dalam kasus-kasus tertentu psikolog dapat diminta bantuannya agar informasi yang diperoleh mendekati kebenaran. Psikolog Forensik dapat membantu penyelidikan polisi pada pelaku, korban dan saksi
2. Pada pelaku, psikolog forensik dapat membantu polisi dalam melakukan interogasi (Bartol & Bartol, 1994; Constanzo, 2006; Gudjonsson & Haward, 1998; Putwain & Sammons, 2002), membuat criminal profiling, mendeteksi kebohongan (Constanzo, 2006). Bantuan psikolog forensik dalam interogasi pada pelaku agar mengakui kesalahannya. Biasnaya jika poisi yang menangani, maka teknik yang di gunakan adalah model lama, yakni menggunakan kekerasan sebagai ancaman bagi pelaku yg di interogasi, jika pelaku menunjukkan tanda-tanda berbohong maka polisi akan memukul ataupun menampar pelaku, intinya menyakiti secara fisik dengan harapan pelaku akan berkata jujur. Deteksi kebohongan merupakan keahlian dari psikologi forensik yang dapat di tularkan kepada polisi. Alat polygraph yang di kombinasikan dengan metode bertanya dapat menjadi bantuan psikolog forensik untuk mendeteksi kebohongan pelaku.
3. Pada korban, biasanya pada kasus-kasus tertentu korban mengalami trauma, misalnya kasus perkosaan atau kekerasan pada anak. Sehingga untuk mendapatkan keterangan secara langsung dari korban akan sedikit kesulitan. Di sinilah peran psikolog forensik, karena psikolog lihai dalam membuat orang lain menjadi lebih nyaman dan terbuka ketika berbicara. Maka skill ini sangat di butuhkan untuk mengkroscek data, mungkin antara pelaku dengan korban ataupun dengan informan lainnya. Selain itu, untuk kasus yang masih ambigu antara korban yang bunuh diri atau di bunuh, psikolog forensik bisa masuk sebagai ahli untuk melakukan otopsi psikologi. Cara melakukan otopsi adalah mngkaji sumber bukti, tidak langsung seperti catatan yang ditinggalkan almarhum, data dari teman atau keluarga korban. Tujuan dari otopsi psikologi adalah merekonstruksi keadaan emosional, kepribadian, pikiran dan gaya hidup almarhum. Hingga dapat di tarik beberapa hipotesis untuk membantu polisi dalam memutuskan apakah korban bunuh diri atau terbunuh.
4. Pada saksi, proses peradilan pidana sangat bergantung pada hasil investigasi pada saksi, karena baik polisi, jaksa dan hakim tidak melihat langsung kejadian perkara. Brigham dan Wolfskeil (Brigham, 1991) meneliti bahwa hakim dan juri di Amerika menaruh kepercayaan 905 terhadap penyataan saksi, padahal banyak penelitain membuktikan bahwa kesaksian yang diberikan saksi banyak yang bias. Teknik intervies investigasi yang sering di bicarakan adalah (Constanzo, 2004; Kapardis, 1997; Milne & Bull, 2000) hipnosis dan wawancara koginitif. Teknik hipnosis ini walau tidak selalu digunakan pada tiap saksi, namun masih bisa digunakan ketika informasi tentang suatu kejadian tidak ada kemajuan yang berarti. Psikologi forensik yangmenguasai teknik hipnosis dapat membantu polisi untuk menemukan informasi dalam memori saksi yang tidak akan di capai oleh teknik lain. Kemudian wawancara kognitif, merupakan teknik yang diciptakan oleh Ron Fisher dan Edward Giesielman pada 1992. Tujuannya adalah untuk meningkatkan proses retrieval yang akan meningkatkan kuantitas dan kualitas informasi dengan cara membuat saksi/ korban merasa rileks dan kooperatif


5. Di kejaksaan, Psikolog Forensik dapat membantu jaksa dengan memberikan keterangan terkait dengan kondisi psikologis pelaku maupun korban. Pada kasus KDRT dengan kondisi korban mengalami trauma psikis yang berat. Keterangan psikologi forensik tentang kondisi psikis korban dapat digunakan sebagai dasar melakukan penuntutan terhadap pelaku. Psikolog juga dapat memberikan pelatihan kepada jaksa terkait dengan gaya bertanya kepada saksi, korban maupun pelaku. Ancok (1995) menengarai bahwa gaya bertanya jaksa yang salah akan membawa pada informasi yang keliru.
6. Pengadilan, peran psikolog forensik dalam peradilan pidana di pengadilan, dapat sebagai saksi ahli dalam kasus yang terkait dengan aspek psikologis (Meliala, 2008). Psikolog forensik juga dapat bekerja untuk pengacara dalam memberikan masukan terkait dengan jawaban-jawaban yang harus diberikan kliennya agar tampak meyakinkan. Sebelum persidangan yang sesunggunya, psikolog akan merancang kalimat, ekspresi dan gaya yang akan ditampilkan terdakwa agar ia tidak dapat mendapat hukuman yang berat (Wrightsman, 2001). Namun hal ini di Indonesia masih jarang. Yang sudah ada adalah pengacara meminta keterangan dari psikolog untuk memberi keterangan yang menuntungkan kliennya.

  • Referensi :

Ancok D (1995), Nuansa Psikologi Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset
Bartol, C & Bartol, A, M (1994), Psychological and Law, Pasicif Grove, California: Brooks/Cole Publishing Company
Constanzo, M (2004). Psychology applied to law, Singapore: Thomson Wadsworth
Constanzo, M (2006) Aplikasi Psikologi dalam Sistem Hukum (H. P Soetjipto & S. M.Soetjipto, Pengalih bahasa), Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gudjonsson, G. H & Haward L R C (1998), Forensic Psychology: A guide to practice, London Routledge
Kapardis, A (1997), Psychology and law, Cambridge: Cambridge Universty Press
Meliala, A (2008), Kontribusi Psikologi dalam Dunia Peradilan: Dimana dan mau kemana? Indonesian Journal-Legal and Forensic Sciences.l (1) 56-59
Milne, P & Bull R (2000), Investigative Interviewing: Psychology and practice. Singapore: John Wiley & Sons. LTD
Probowati Yusti (2008), Psikologi Forensik : Tantangan Psikolog sebagai Ilmuwan dan Profesional, Surabaya, Anima, Indonesian Psychological Journal
Putwain, D & Sammons, A (2002), Psychology and crime, New York: Routledge
Wrightsman, L.S (2001), Forensic Psychology. Singapore: Wadworth Thhomson Learning.


Monday, 21 November 2016

Tahapan Perkembangan Menurut Erikson

Erikson mengelompokkan tahapan kehidupan ke dalam 8 fase yang merentang sejak kelahiran hingga kematian :
Sumber : http://www.slideshare.net/Astraea_Ikaros/sosiologi-dan-politik
TAHAPAN PERKEMBANGAN

USIA
HASIL PERKEMBANGAN

KARAKTERISTIK
Tahap Bayi (Infancy)
Sejak lahir – 18 bulan
Percaya vs Tidak Percaya
- Mengalami tahapan sensorik oral atau memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut
- Sepenuhnya mempercayai orang tua atauorang-orang terdekatnya
- Cenderung menangis jika di dekati atau di pangku oleh orang asing
- Jika si ibu/ orang terdekat memberikan perhatian positif & penuh kasih, maka bayi akan menumbuhkan rasa percaya pada lingkungan, berprasangka baik pada orang lain serta melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik.
- Jika si ibu/ orang terdekat gagal mengasuh, maka bayi akan memiliki rasa tidak percaya pada orang lain, selalu curiga serta akan melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh frustrasi
- Tugas orang tua pada fase ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk tidak percaya
Tahap Kanak-Kanak Awal
18 Bulan - 3 tahun           
Otonomi vs Rasa Malu
- Mulai mempelajari ketrampilan untuk diri sendiri. Bukan sekedar belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri. Tetapi motorik yang lebih halus, seperti : toilet training
- Di sisi lain, bayi telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
- Kemampuan mengendalikan bagian tubuh berkembang
- Tumbuhnya pemahaman tentang benar dan salah.
- Mulai belajar untuk berkata tidak pada sesuatu yang tidak di sukai/ diinginkan
- Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam mengasuh anaknya bersikap salah, maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu
- Tugas orang tua dalam mengasuh pada fase ini adalahtidak perlu mengobarkan keberanian anak dan tidak pula harus mematikannya. Dengan kata lain, keseimbangan antara kontrol kemandirian dan rasa malu pada anak. Ada sebuah kalimat yang seringkali menjadi teguran maupun nasihat bagi orang tua dalam mengasuh anaknya yakni “tegas namun toleran”. Makna dalam kalimat tersebut ternyata benar adanya, karena dengan cara ini anak akan bisa mengembangkan sikap kontrol diri dan harga diri.
Tahap Usia Bermain
3 - 5 tahun
Inisiatif vs Rasa Bersalah
- Anak biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa di sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Anak laki-laki bermain dengan kuda-kudaan dan senapan kayu, anak perempuan main “pasar-pasaran” atau boneka yang mengimitasi kehidupan keluarga, mobil-mobilan, handphone mainan, tentara mainan untuk bermain peran, dsd
- Satu kata yang sering muncul, yakni kenapa
- Anak telah memiliki beberapa kecakapan dan terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas, adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat
- Belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa terlalu banyak melakukan kesalahan
- Orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. Akan tetapi, semuanya akan terbalik apabila tujuan dari anak pada masa ini mengalami hambatan karena dapat mengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya yaitu merasa berdosa dan pada puncaknya mereka seringkali akan merasa bersalah atau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang mereka rasakan dan lakukan.
Tahap Usia Sekolah
6 – 12 tahun
Industri vs Inferioritas
- Paling menonjol dalam hal pertumbuhan secara fisik
- Keterampilan yang dikembangkan  menagarah pada sikap kerja seperti : ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat, kerajinan serta berada dalam konteks sosial
- Sekolah dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting dalam pembentukan sikap, sementara orang tua sekalipun masih penting namun bukan lagi sebagai otoritas tunggal
- Pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri
- Area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya
- Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin
- Jika anak tidak dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil maka mereka cenderung merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap rendah diri
- Tugas orang tua adalah menyeimbankan antara sikap kerja yang harus di kembangkan pada diri anak dan keasadaran bahwa ada beberapa hal yang tidak sanggup di lakukan dengan usaha tertentu dengan jangka waktu tertentu.
Tahap Remaja
12 - 18 tahun
Identitas vs kebingungan peran

- Pada fase ini perkembangan bukan lagi tergantung pada apa yang dilakukan untuk saya, akan tetapi tergantung pada apa yang saya kerjakan. Karena pada masa ini bukan lagi anak, tetapi juga belum menjadi dewasa,
- Hidup berubah menjadi sangat kompleks karena individu berusaha mencari identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat dengan persoalan-persoalan moral
- Tugas perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai individu yang terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian dari lingkup sosial yang lebih luas. Bila fase ini tidak lancara diselesaikan, orang akan mengalami kebingungan dan kekacauan peran
- Hal yang perlu dikembangkan di adalah filosofi kehidupan.
- Di fase ini anak cenderung idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang pada kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di periode ada kesetiaan dan ketergantungan pada teman
- Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan.
- Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota
- Jika pada fase sebelumnya tidak berlangsung secara baik, maka anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya atau bisa di sebut kebingungan peran
- Jika kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingkan dengan kebingungan peran, maka mereka tidak menyisakan sedikit ruang toleransi terhadap orang-orang di sekitarnya
- Tugas orang tua adalah mengontrol siapa saja teman dan memilihkan teman yang bisa membawa anak ke jalan kehidupan yang benar.
Tahap Dewasa Awal
18 - 35 tahun
Solidaritas vs Is isolasi
- Pada fase ini ikatan kelompok sudah mulai longgar, mulai selektif dan membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham.
- Menjalin hubungan spesial dengan orang lain dan kerja sama dengan orang lain
- Jika pada fase ini, individu tidak memiliki kemampuan membangung relasi yang baik, maka individu tersebut yaitu cenderung mengisolasi/menutup diri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.
- Kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta, baik wilayah cinta dengan orang tua, tetangga, sahabat dan lain-lain
Tahap Dewasa
35 -55 atau 65tahun
Generativitas vs Stagnasi
- Puncak dari segala kemampuan yang dimilki
- Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan
- Cenderung penuh dengan pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta berbagai permasalahan di seputar keluarga. Selain itu fase ini adalah masa “berwenang” yang diidamkan sejak lama
- Timbul ketakutan akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri
- Tugas yang penting di fase ini adalah meneruskan nilai budaya pada keluarga (membentuk karakter anak) serta memantapkan lingkungan yang stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian orang lain, dan karya yang memberikan sumbangan pada kebaikan masyarakat (generativitas)
- Ketika anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan interpersonal tujuan berubah, ada kehidupan yang berubah drastic, individu harus menetapkan makna dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak berhasil di tahap ini, maka akan timbul stagnasi
- Apabila pada fase pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada fase ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi)
Tahap Dewasa Akhir
55 atau 65 tahun hingga mati
Integritas vs Keputus asaan
- Jika pada fase-fase sebelumnya dilewati dengan kegagalan, maka individu cenderung merasakan keputus asaan, belum bisa menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia merasa telah menemukan jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang dianutnyalah yang paling benar
- Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya
- Fase ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri
- Jika pada fase-fase yang telah dilaluinya di lewatidengan bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan, maka ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya tumbuh, menerima keluasan dunia menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan

  • Referensi :

https://suhartoalwachidi.wordpress.com/2015/07/22/psikologi-perkembangan-manusia/
https://mercusuarku.wordpress.com/2008/08/10/perkembangan-manusia/
https://rhenniyhanasj.wordpress.com/2014/05/25/fase-fase-perkembangan-manusia/
http://www.psychologymania.net/2010/03/teori-perkembangan-psikoseksual.html