Jumat, 06 Juli 2018

PERCEPAT PENCAPAIAN GOAL ANDA DENGAN METODE SELF HYPNOSIS


Di setiap kali saya mendapatkan kesempatan untuk sharing atau berbagi mengenai hypnosis, dan ketika saya mencoba untuk mempraktekkan proses hypnosis kepada peserta. 

Sumber : Dok. pribadi; Hypnomotivasi Ujian Nasional siswa SMP & SMA se Malang Raya
Saya paham betul dari reaksi dan ekspresi mereka ada beberapa yang merespon secara negatif atau langsung menolak. Meskipun beberapa lainnya juga ada yang tertarik untuk merasakan sensasi ketika di hypnosis. Hal tersebut memang tidak bisa dipungkiri karena beberapa tahun terakhir di media sering tayang acara atau berita hypnosis dengan “image negatif”. Meskipun yang salah bukan medianya akan tetapi pelaku dari hypnosis itu sendiri.

Lihat Dokumentasi Kegiatan lainnya : KLIK DI SINI

Sebagai seorang praktisi hypnosis saya tergerak untuk meluruskan hal tersebut dan sekaligus memberikan wawasan mengenai manfaat hypnosis itu sendiri. Kita perlu ketahui bahwa, segala macam yang ada di dunia ini bisa kita jadikan alat atau sarana untuk berbuat kejahatan atau kebaikan. Sebagai contoh ilmu kedokteran, apakah di dunia ini tidak ada dokter yang menggunakan ilmunya secara malpraktik? Apakah semua dokter di dunia ini “lurus-lurus” saja? Anda tau jawabannya. Meskipun saya sangat yakin persentase dokter yang “lurus lurus” saja jauh lebih banyak daripada yang “agak belok” .

Contoh lain adalah ilmu fisika dan kimia, Apakah salah kita belajar ilmu fisika dan kimia? Tentu tidak. Lalu bagaimana jika ada orang yang menggunakan ilmu fisika dan kimia untuk merakit bom dan meledakkan sebuah tempat yang ramai sehingga membunuh banyak orang. Apakah ilmu fisika dan kimia tersebut salah? Tentulah tidak. Lalu yang salah siapa? Ya, pelaku atau orangnya.


Banyak manfaat dari ilmu hypnosis yang sudah terpublikasikan secara ilmiah dalam jurnal nasional ataupun internasional. Dalam Journal of Behavioral and Brain Science, tahun 2012 yang ditulis oleh Cittor asal India; menerangkan bahwa metode SelfHypnosis terbukti efektif untuk menyeimbangkan Internal Drive (ID), Ego dan Super ego manusia (klik di sini untuk membaca definisi ID, Ego & Super ego). Kemudian dalam International Academic Journal of Social Science, tahun 2016, Hypnoterapi efektif untuk meningkatkan harga diri seseorang yang akan menginjak masa dewasa. Saya sendiri pun sudah membuktikannya, dalam penelitian saya yang terpublikasi pada Advance and Social Science, Education and Humanities Research, volume 128, tahun 2017, Self Hypnosis terbukti efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri ketika akan berbicara di depan umum (kapan-kapan saya akan sharing tentang ini ^_^)

Apakah Anda juga ingin merasakan manfaat dari metode Self Hypnosis? Berikut 4 langkah sederhana yang dapat Anda lakukan :

1. Relaksasi
Tujuan dari relaksasi adalah mengistirahatkan pikiran dan seluruh anggota badan agar lebih tenang dan santai. Anda dapat memulainya dengan menutup mata. Kemudian memfokuskan pikiran kepada nafas panjang yang Anda hirup melalui hidung dan kemudian hembuskan melalui mulut. Lakukan secara berulang-ulang. Jika Anda sudah merasa cukup, silahkan Anda memfokuskan pikiran kepada mata Anda, rasakan rileks di mata Anda. Jika Anda sudah merasa cukup, Anda bisa melanjutkan ke organ tubuh Anda berikutnya, yakni leher, kemudian tangan sampai dengan kaki Anda. Sampai semua organ tubuh Anda benar-benar rileks dan pikiran Anda benar-benar tenang.

Sumber : lifestyle.okezone.com
2. Pendalaman
Tujuan dari pendalaman adalah membuat badan dan pikiran lebih rileks lagi dari sebelumnya. Caranya Anda dapat membayangkan pemandangan alam yang indah atau membayangkan tempat yang paling membuat Anda rileks. Bayangkan Anda berbaring dan tidur di tempat tersebut sehingga membuat badan dan pikiran bertambah lebih rileks lagi dari sebelumnya.

Sumber : pinterset.com
3. Pemprogaman
Pemprogaman adalah proses inti dari Self Hypnosis. Tujannya adalah menginstall atau memprogram goal yang ingin di capai. Cara melakukannya adalah mengucapkan kalimat sugesti positif berupa goal yang ingin Anda capai berulang-ulang sambil membayangkan dan merasakan bahwa goal tersebut benar-benar Anda alami dalam alam pikir Anda. Berdayakan semua panca indra Anda (visual, auditori dan kinestetik) untuk membuat apa yang Anda pikirkan seolah-olah benar-benar menjadi realita di pikiran Anda. Sampai Anda merasa cukup. Anda dapat mengakhiri proses pemprogaman dengan membuat komitmen kepada diri Anda sendiri bahwa aktivitas atau kegiatan yang Anda lakukan setiap hari hanya berfokus dan mengarah kepada goal Anda. Gunakan keyakinan Anda untuk percaya bahwa Anda bisa mencapai goal Anda tersebut dalam waktu dekat. Kemudian lanjut kepada langkah terakhir terminasi.

Sumber : tec.com.au
*Catatan : keefektifan “pemprogaman” sangat bergantung kepada keyakinan dan komitmen Anda pada diri sendiri.

4. Terminasi
Tujuan dari terminasi adalah keluar dari kondisi Hipnosis. Cara melakukannya adalah menghitung angka mundur dari angka 10 sampai dengan 1 atau 20 sampai dengan 1, yang mana di setiap hitungannya, sadarkan kembali pikiran Anda dan seluruh tubuh Anda. Hingga sampai pada hitungan ke 1, Anda dapat membuka mata Anda. Dan rasakan manfaat dari metode Self Hypnosis yang baru saja Anda lakukan.


Saran saya; Anda dapat melakukan Self Hypnosis minimal 1 kali dan maksimal 2 kali dalam sehari. Jangan terlalu sering, karena jika terlalu sering maka gelombang otak Anda akan naik turun dan biasanya akan menimbulkan rasa pusing sementara. Agar goal Anda semakin cepat tercapai, lakukan sebelum Anda tidur di malam hari atau sesudah bangun tidur di pagi hari. Selamat mencoba !!

Dan jika Anda mempunyai pertanyaan ataupun ingin konsultasi, Anda dapat terhubung dengan saya melalui Whats app : 087806926746 atau melalui sosial media saya yang lainnya; KLIK DI SINI

Rabu, 27 Juni 2018

4 RAHASIA AGAR BISA MENJADI DUKUN ZAMAN NOW


Sebagai mantan mahasiswa psikologi saya sendiri sering mendapat julukan sebagai dukun. Semisal ketika sedang mengikuti acara reuni atau buka puasa bersama ketika bulan puasa bersama teman-teman SMP/ SMA. Ketika teman-teman saya tahu bahwa saya dari jurusan Psikologi maka mereka biasanya memberikan respon seperti ini: “Wah dukun nih, baca pikiran ku dong, baca karakter ku dong, kira-kira masa depan ku seperti apa? aku enaknya kerja di mana?”

Sumber : ilmudukunkejawen-asia.blogspot.com
Dalam keilmuan psikologi sendiri, ada istilah asesmen, yang berarti metode yang digunakan untuk mengambil data atau keterangan mengenai klien. Sebenarnya tebakan-tebakan atau saran-saran dari mahasiswa psikologi sendiri bukan tidak berdasar. Sebenarnya tebakan-tebakan atau saran-saran tersebut berasal dari data-data asesmen yang dapat di olah menjadi data (kesimpulan sementara) yang berupa kecenderungan-kecenderungan yang akan terjadi di masa depan ataupun  solusi dari permasalahan yang ingin diselesaikan (jika konteksnya konseling/ konsultasi)Dalam ilmu psikologi, umumnya ada 4 jenis metode asesmen yang sering digunakan yang dapat membuat teman-teman bisa sakti mandraguna layaknya dukun, membaca pikiran orang lain ataupun masa depan orang lain. Hehehe

Baca Juga Artikel Psikologi lainnya : KLIK DI SINI

1. Wawancara

Dalam keilmuwan psikologi klinis, wawancara sendiri lebih dikenal dengan istilah Anamnesa, terdiri dari dua jenis yaitu Autoanamnesa dan Alloanamnesa. Autoanamnesa adalah penggalian informasi secara langsung kepada klien. Sedangkan Alloanamnesa adalah penggalian data dari orang yang memiliki hubungan dengan klien, misal kepada keluarga klien, teman dekat ataupun rekan kerja. Nah bagaimana caranya agar bisa menjadi dukun di zaman now? Cara sederhananya adalah kita tinggal gunakan teknik Alloanamnesa saja. Misal kita pengen tau di mana doi dilahirkan kita tinggal tanya orang tuanya, misal kita pengen tau makanan favorit doi kita tinggal tanya teman dekatnya, kita pengen tau doi lagi dapat masalah apa kita bisa tanya ke rekan kerjanya. Gampang kan untuk menjadi dukun.


2. Observasi

Menurut Kendall dan Ford (1982), observasi berguna untuk mendapatkan informasi tentang penampilan fisik, keadaan emosi dan cara menjalin kontak atau hubungan dengan orang lain. Secara lebih spesifik dari observasi kita dapat melihat ekspresi wajah pada saat berbicara, bahasa tubuh, cara berpakaian dan sebagainya. Sehingga dari observasi tersebut kita dapat melakukan  penarikan kesimpulan sementara yang dapat kita hubungkan dengan kecenderungan-kecenderungan yang akan terjadi di masa depan.

Sumber : hendri.staff.uns.ac.id
Contoh: kita sering melihat dan mengamati teman kita sering bersedih atau murung, dari perilaku tersebut secara logika kita pasti tahu dong masa depan seseorang yang sering bersedih dan murung seperti apa? Tidak mungkin kan masa depan doi akan sukses menjadi milyarder, kerjaanya saja sedih dan murung tiap hari. Di situlah peran observasi agar kita bisa menjadi dukun.

3. Pemeriksaan Psikologis

Masih ingatkah teman-teman dulu ketika ingin masuk SMA, kuliah ataupun kerja. Ada tes-tes yang harus di selesaikan? Saat itu teman-teman mengerjakan tes yang berupa mencocokan gambar, memilih kepribadian yang cocok ataupun teman-teman di suruh menggambar pohon dan orang. Dan ketika hasilnya keluar, maka interpretasi hasil tesnya sangat mirip sekali dengan kepribadian dan keseharian Anda.


Nah khusus untuk asesmen pemeriksaan Psikologi ini memang teman-teman harus belajar dulu ilmunya, karena metode pemeriksaan psikologi atau tes psikotes sendiri sedikit berbeda dengan metode wawancara dan observasi. Ada acuan-acuan teori yang harus di gunakan agar bisa mengelompokkan seseorang kedalam tipe kepribadian A, B, C ataupun D.

4. Dokumentasi

Dalam konteks yang lebih formal data berupa dokumentasi dapat diperoleh dari kerjasama dengan profesi atau pihak lain yang berkaitan. Misal: data riwayat kesehatan dari dokter, nilai raport siswa dari guru, laporan kinerja dari pihak Human Resource Development atau personalia dan sebagainya. Namun dalam konteks yang lebih santai, data dokumentasi juga dapat kita peroleh dari sosial media orang yang kita maksud. Misal: kita ingin tau aktivitas atau kesibukan dari orang yang dimaksud, kita tinggal lihat Instagramnya saja. Kita ingin tau orang yang kita maksud sering galau atau tidak, tinggal kita lihat status-statusnya di Facebook. Atau kita ingin tahu pengalaman kerjanya seperti apa? Kita tinggal cari sosial media linked id nya saja.

Sumber : jancok.com
Apalagi  zaman sekarang jenis sosial media sudah semakin bervariasi dan teknologi semakin canggih. Sangat mudah bagi kita untuk bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya dari orang yang ingin kita ketahui.

Sumber : rancahpost.co.id

Jadi gimana? Mudahkan menjadi dukun di zaman now. Saya jamin dengan mempraktekkan ke 4 rahasia tersebut dan mempelajarinya lagi lebih dalam, teman-teman akan menjadi sakti mandraguna layaknya dukun yang bisa dengan mudah membaca pikiran dan masa depan orang lain. Hahaha.


Senin, 25 Juni 2018

NLP FOR BETTER LIFE, UNTUK GENERASI MILENIAL


Bagi para praktisi training pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah NLP, akan tetapi bagi para generasi milenial belum tentu mengetahui apa itu NLP.  Padahal ilmu NLP sendiri sudah ada sejak lama, berpuluh-puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1970-an. Sejarah NLP sendiri bermula dari seorang ahli linguistik sekaligus pakar psikologi Dr. John Grinder yang bertemu dengan seorang pakar ilmu komputer Dr. Richard Bandler. Keduanya bertemu di Universitas California pada tahun 1970-an. Grinder dan Bandler tertarik untuk meneliti dan menemukan rahasia apa yang membuat seseorang bisa menjadi excellent.

Baca Juga Artikel Psikologi lainnya : KLIK DI SINI

Ada banyak  definisi mengenai NLP. John Grinder mengartikan NLP sebagai sebuah strategi belajar yang dipercepat. Sementara Richard Bandler, mengartikan sebagai sebuah sikap mental dan metodologi. Metodologi dalam NLP berfungsi untuk menjalankan teknik yang cepat dan tepat atau sering dibahasakan dengan kata efektif. Berbeda lagi dengan Robert Dilts, seorang terapis yang sangat produktif, NLP di artikan sebagai apapun yang bisa menghadirkan kesuksesan. Definisi terakhir tentunya sangat menggiurkan, khususnya bagi para generasi milenial yang jumlah populasinya paling besar di Indonesia.

Sumber : futuready.com
Banyak diantara generasi milenial sekarang yang berlomba-lomba untuk sukses semuda mungkin, menjadi pengusaha, membangun startup, dan sebagainya. Dan uniknya NLP tidak hanya berkutat di bidang bisnis saja, akan tetapi lebih luas. Setidaknya ada 3 bidang lain yang dapat ditingkatkan kualitasnya oleh generasi milenial dengan belajar NLP :

1. Kesehatan

Dalam NLP ada pembahasan yang dapat di aplikasikan untuk meningkatkan kualitas kesehatan manusia.  Karena prinsipnya : mind, soul and body are one system. Cara kerja tubuh dan pikiran merupakan sebuah satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Apa yang dirasakan oleh pikiran,  akan mempengaruhi kondisi tubuh, begitu juga sebaliknya.

Ternyata Begini Penjelasan Kesurupan versi Psikologi : BACA DI SINI

Yang mengejutkan adalah  banyak penelitian dalam dunia kesehatan di tahun-tahun terakhir ini menjelaskan bahwa penawar segala macam penyakit adalah jalan pikiran si pemilik sakit tersebut. NLP mengajarkan untuk merawat pikiran agar selalu positif dan selaras dengan menggunakan metode reframing. Sakit hati, kondisi yang menekan, stressor atau apapun itu yang dapat membuat  pikiran kita menjadi negatif dapat kita reframing agar pikiran kita lebih luas dan luwes menerima keadaan

2. Keluarga

Menggunakan NLP dalam kehidupan sehari-hari sangatlah menguntungkan, tidak terkecuali dalam kehidupan berkeluarga. Dengan menerapkan teknik-teknik NLP, kita akan mampu menghindari pertengkaran dan percekcokan di dalam keluarga yang seringkali menjadi tonggak akar permasalahan besar.

Sumber : ciptadent.co.id
Salah satu tekniknya bernama “Perceptual Position” ; mengajarkan seseorang untuk bisa memposisikan dirinya menjadi orang lain,  berpikir dan berperasaan seperti orang lain sehingga seseorang tersebut bisa memahami dan memaklumi segala kelemahan dan kekurangan orang lain. Dengan demikian perceptual position dapat memperkecil kemungkinan pasangan dalam sebuah keluarga saling membenci, misal di karenakan perbedaan pendapat.


3.  Pendidikan

Kita semua pasti setuju dan mungkin pernah mengalami mood buruk yang mengganggu  aktivitas belajar. Semisal : lagi banyak PR atau tugas yang harus diselesaikan tapi malas untuk mengerjakan, skripsi Anda yang tak kunjung selesai karena mood Anda yang selalu berubah-ubah; selalu mood jelek ketika Anda mencoba duduk di depan laptop untuk mengerjakan, namun mood kembali baik ketika Anda kembali “leyeh-leyeh” di kasur sambil buka-tutup sosial media. Atau contoh yang terakhir ini; Anda bersemangat untuk diskusi dalam suatu kelompok karena ada satu cewe yang ingin Anda ambil hatinya karena kecerdasan Anda dalam berpendapat & berdiskusi namun mood Anda seketika turun bahkan tidak mood sama sekali untuk berdiskui karena Anda tahu bahwa cewe yang Anda maksud tadi tidak hadir dalam diskusi kelompok. Tanpa sadar, dalam ketiga kasus tersebut kebanyakan dari kita di atur oleh mood yang jika di biarkan dalam jangka panjang akan mengganggu proses pendidikan kita.

Sumber : glints.id
Dalam NLP, mood di kenal dengan istilah “state”. Ada 4 cara yang di ajarkan dalam NLP agar kita bisa mengatur mood.. Pertama adalah Acces; mengakses potensi yang ada di masa lalu, masa depan ataupun yang ada pada orang lain. Kedua, Amplify; melipatgandakan intensitas dengan cara memodifikasi gambar/ film, suara/ musik dan perasaan. Ketiga, Anchor; penanaman jangkar (menggunakan prinsip utama jika-maka). Dan yang keempat, Apply; pengaplikasian dan pemanfaatan mood atau state yang sudah di pasang.


Bayangkan Generasi Milenal! Jika semua bidang-bidang tersebut dapat Anda tingkatkan kualitasnya dengan belajar NLP; pikiran dan tubuh Anda sehat, keluarga Anda harmonis serta pendidikan Anda luar biasa. Maka segala macam tantangan di era industri 4.0 pasti dapat dengan mudah Anda hadapi.

Rabu, 20 Juni 2018

4 Hal yang Harus di hindari Sebelum Memulai Publik Speaking

Untuk menjadi publik speaker yang handal dan profesional, tentu tidaklah mudah. Banyak hal yang harus di persiapkan. Mulai dari isi materi yang bagus, cara membawakan yang menarik sampai tata letak kursi audiens yang tepat.

Sumber : maxmanroe.com
Bahkan sebelum kita naik ke atas panggung untuk berbicara di hadapan banyak orang, ada beberapa hal yang harus kita hindari agar Publik Speaking yang kita bawakan dapat di tampilkan secara maksimal. Simak 4 hal berikut berikut :

1. Takut tidak bisa/ tidak mampu tampil sempurna

Ini adalah mindset yang dapat menjerumuskan kita kepada kegagalan ketika Publik Speaking. Kebanyakan dari kita selalu menuntut kesempurnaan. Kesempurnaan adalah sebuah kata yang sulit untuk di jelaskan bagaimana indikasinya. Sempurna menurut orang yang satu dengan orang yang lain bisa jadi berbeda. Anda tampil sempurna ketika Publik Speaking ketika penampilan Anda seperti apa? Tidakkah Anda kesulitan menjelaskannya?


Kata sempurna seolah-olah menuntut Anda untuk selalu sukses tanpa kegagalan, sementara kita tahu persis bahwa di balik setiap kesuksesan, pasti ada kegagalan. Di balik seorang profesional, pasti di awali dari pemula. Sempurna seolah-olah menuntut kita untuk selalu tampil tanpa kesalahan sedikit pun. Padahal jika kita ingat-ingat lagi, kesempurnaan hanya milik Tuhan. Jadi, mulai dari sekarang Anda bisa mengganti kata “ingin tampil sempurna” dengan “memberikan penampilan yang terbaik”, yang maksudnya adalah berusaha menampilkan Publik Speaking dengan sebaik mungkin sebagus mungkin menurut versi diri kita sesuai dengan latihan-latihan yang sudah kita lakukan.

2. Malu jika di tonton teman dekat       

Anda pernah mengalami hal seperti ini? Sebelum naik ke atas panggung merasa sangat percaya diri. Akan tetapi ketika Anda mendapat informasi bahwa ada teman dekat SD Anda yang menonton. Seketika itu juga Anda hilang fokus, panik dan khawatir saat Anda tampil, teman SD Anda tadi memecah fokus Anda. Hal tersebut adalah mindset yang dapat menganggu kepercayaan diri Anda ketika tampil Publik Speaking. Sebaiknya yang harus Anda lakukan adalah mengubah mindset tersebut. Justru, ketika teman SD Anda menonton Anda Publik Speaking, itulah saat yang tepat bagi Anda untuk membuktikan bahwa Anda hebat dalam Publik Speaking.

3. Takut tidak menguasai materi

Ketakutan memang mindset yang paling membunuh ketika Publik Speaking. Bahkan Jerry Seinfeld; seorang pelawak tunggal kenamaan asal Amerika pernah berkata dalam pertunjukkannya: "Berdasarkan beberapa penelitian, ketakutan terbesar pertama bagi banyak orang adalah Public Speaking. Sedangkan ketakutan yang kedua adalah kematian. Apa ini terdengar wajar? Ini artinya, bagi sebagian orang, lebih baik ada di dalam peti mati daripada harus memberikan pidato kematian dalam sebuah pemakaman".


Ketakutan yang sering di rasakan banyak orang biasanya adalah takut tidak menguasai materi. Jika hal demikian terjadi pada Anda, yang perlu Anda lakukan sebenarnya sangatlah sederhana: “sampaikan yang Anda kuasai saja’. Kan tidak mungkin dong dari banyak materi yang Anda pelajari dan siapkan, Anda tidak menguasai semuanya. Anda hanya harus fokus pada apa yang Anda kuasai lalu sampaikan dengan percaya diri.

4. Merasa grogi atau gugup

Sumber : hellosehat.com
Menurut Gene Moyle, ahli psikologi dan mantan penari balet profesional, cara terbaik untuk mengatasi rasa gugup saat akan tampil adalah dengan memahami rasa gugup tersebut. Sehingga grogi atau gugup yang hadir pada diri kita sebelum tampil Publik Speaking bukan untuk di hilangkan, akan tetapi di kenali.

Baca Juga Artikel Psikologi lainnya : KLIK DI SINI

Di satu sisi grogi atau gugup kita butuhkan agar kita tetap waspada dan tidak over confidance, akan tetapi dengan porsi yang wajar. Rasa waspada akan membantu kita agar tetap berhati-hati dalam menjaga ingatan tentang materi yang sudah di pelajari.

Senin, 11 Juni 2018

2 Cara Sederhana Agar Tampil Percaya Diri Public Speaking


Public Speaking memang menjadi topik yang sangat asik di bahas dan seolah pembahasannya pun tidak ada habis-habisnya. Bahkan banyak fakta akhir-akhir ini yang hasilnya sangat mengejutkan.

Seperti yang tertulis dalam website aditriasmara.com; survey yang dilakukan oleh Chapman University memberikan fakta mengejutkan bahwa di tahun 2016, ada sebanyak 25.9% warga Amerika yang memiliki ketakutan terhadap Public Speaking. Angka tersebut merupakan angka yang besar jika dibandingkan dengan ketakutan terhadap banjir bandang yang hanya sebesar 22,2% orang di Amerika, sementara 21,8%  21,8% orang takut akan badai musim dingin. Lebih uniknya lagi, jumlah orang yang takut jika dirinya ada dalam sakaratul maut alias sekarat hanya ada 19%. Ditambah lagi, hanya ada 17,5% orang yang takut jika dirinya dibunuh oleh orang yang dia kenal.

sumber : youthmanual.com

Padahal sebenarnya, Public Speaking bukanlah sebuah ketakutan yang besar jika teman-teman mengetahui taktiknya. Lalu bagaimana caranya agar tampil percaya diri ketika Public Speaking? Cukup dengan 2 cara sederhana berikut!!!

1. Sampaikanlah apa yang Anda sukai

Teman-teman pernah tidak mengalami hal seperti ini? Teman-teman suka banget main game, misal game Mobile Legend yang lagi tren nih ya. Nah ketika teman-teman bercerita kepada teman-teman yang lain mengenai sudah di pangkat game apa saja; Warrior, Elite, Master, Grand Master kah atau Epic kah dst? Atau bercerita tentang kondisi team yang kurang kompak. Pasti teman-teman lancar banget kan ketika bercerita game tersebut. Mengapa bisa lancar? Karena teman-teman menyukai hal tersebut, dan karena menyukai, maka teman-teman pasti, rela dan mau untuk mengulangi aktivitas tersebut lagi dan lagi karena teman-teman menyukai,  betul atau betul banget? Public Speaking merupakan perkara yang mudah untuk di lakukan jika yang teman-teman ceritakan merupakan sesuatu hal yang sudah berulang kali kita lakukan dan kita menyukai hal tersebut. Nah mulai dari sekarang teman-teman bisa mulai mencari apa yang di senangi, dan bukalah Public Speaking teman-teman dengan introducton mengenai cerita yang teman-teman sukai tersebut.


2. Sukai apa yang Anda sampaikan

Sebuah lembaga penelitian di Toronto, Kanada melakukan uji coba terhadap dua ekor belalang peloncat (grasshopper). Disebut peloncat karena untuk pindah dari satu tempat ke tempat yang lain ia tidak berjalan, tapi meloncat. Loncatannya kadang kala mencapai satu meter. Mereka meletakkan belalang ini dalam tabung kaca yang separuhnya berisi air. Setelah itu tabung ditutup rapat dengan tembaga. Agar tidak mati tenggelam, tentu belalang ingin keluar dari tabung, untuk itu meloncat. Namun, setiap kali berusaha ia membentur tutup tembaga. Dan begitu seterusnya. Lambat laun ia tidak berusaha sama sekali, karena jika memaksakan diri ia akan selalu membentur tutup tembaga itu. Pada saat itulah para peneliti membuka tutup tembaga tersebut dan membiarkan tabung terbuka. Apa yang terjadi ? Belalang itu tidak berusaha membebaskan diri sama sekali. Sebab ia sudah terbiasa tidak berusaha karena program yang telah ada dalam dirinya. Ia terus diam hingga tenggelam dan mati.


sumber : heryarifin.com
Sama halnya dengan Public Speaking teman-teman, ketika kita menganggap bahwa Public Speaking adalah sesuatu hal yang sulit dan kita tidak menyukai hal tersebut, sampai pada akhirnya kita tidak berusaha membebaskan diri dari belenggu kesulitan dan sudah terbiasa untuk tidak berusaha, kita terus diam dan tenggelam dalam mental block tersebut, maka kita tidak akan pernah bisa untuk Public Speaking dengan percaya diri. Yang harus kita lakukan sebenarnya adalah mulai dengan menyukai Public Speaking itu sendiri, kita sukai topik yang kita bawakan, kita sukai cara berbicara, kita sukai respon audiens kita meskipun kita merasa bahwa Public Speaking kita masih belum terlalu bagus. Akan tetapi, ketika kita sudah menyukai atau bahkan jatuh cinta dengan sesuatu hal, maka kita akan rela dengan sepenuh hati untuk belajar memperbaiki diri terus menerus. Bukankah ketika teman-teman mencintai pasangan/ pacar Anda, maka Anda secara tidak sadar terus belajar untuk memahami karakter pasangan Anda dan terus belajar memperbaiki diri Anda? Betul atau betul banget?

Referensi :
https://satomokalino.blogspot.com/2014/12/proses-terbentuknya-sebuah-kebiasaan.html
http://www.aditriasmara.com/2017/04/survey-ketakutan-public-speaking.html

Rabu, 14 Februari 2018

TIPS MENGELOLA MOOD ANDA

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, pernah ngga Anda mengalami hal-hal seperti ini? Karena pagi-pagi sudah kena marah Ibu atau isteri di rumah membuat perasaan Anda hari itu tidak baik atau mood Anda jelek seharian, sehingga tugas-tugas yang harusnya di selesaikan hari itu menjadi tertunda, karena tidak mood sama sekali untuk mengerjakannya.

Sumber foto : mychicagotherapist.com
Atau gini; ketika Anda sedang bercanda dengan teman Anda. Lagi asik asiknya bercanda eh ada kalimat dari mulut teman Anda yang itu menyinggung perasaan Anda, sakitnya tuh di sini (nunjuk dada) Hehe. Di situ mood Anda tiba-tiba berubah drastis, menjadi menghindari teman Anda, atau bahkan Anda membenci dia. Padahal Anda bersama teman Anda kan sama-sama tau bahwa pada saat itu konteksnya adalah bercanda.


Atau contoh lain seperti ini; suatu ketika perasaan Anda baik-baik saja, akan tetapi ketika Anda melihat orang yang Anda benci melintas berjalan di hadapan Anda, saat itu juga, secara mendadak, mood Anda langsung berubah secara drastis, menjadi badmood dan rasanya itu pengen menghindar jauh-jauh dari dia. Dari beberapa kejadian tersebut, bagaimana perasaan teman-teman? Menyesal? Kecewa? Atau marah kepada diri sendiri? Kenapa sih mood ku mudah banget untuk berubah-ubah ya? Kenapa sih aku mudah banget di kontrol sama si kampret mood jelek ini ya?


Jadi gini teman-teman, dalam dunia NLP (Neuro Lingustic Programming) mood itu sendiri ada kajiannya, namun istilahnya saja yang berbeda, biasa kita sebut dengan “state’”. State sendiri di pengaruhi oleh kondisi fisik dan mental seseorang. Itu kenapa kadang jika fisik kita sakit, kita sulit untuk berpikir fokus atau mengakses kondisi mental tertentu (senang, bahagia dll), bawaanya pengen istirahat dan tidur saja seharian. Istilahnya mind and body is one system, jika salah satu terganggu maka bagian yang lain juga akan terganggu

Nah uniknya, dalam NLP, kita di ajari untuk bisa mengontrol mood. Bagaimana caranya? akan saya sharing di sini caranya ya.

Sumber foto : 1button.co
Sederhananya dan biar mudah di ingat, RUMUSNYA 4A teman-teman; ACCESS, AMPLIFY, ANCHOR dan APPLY.


Kali ini saya akan sharing tips mengelola mood dengan cara ACCESS. Biar lebih mantep, saya kasih contoh nih, misalnya Anda ingin mengakses mood semangat ketika mood Anda sedang jelek, jadi yang awalnya bad mood mau ngapa-ngapain, bisa di ubah menjadi lebih bersemangat. Caranya bagaimana? Gini, sebelumnya, Anda harus menentukan dan memilih dulu kira-kira di masa lalu, adakah suatu pengalaman yang membuat Anda sangat bersemangat? Ketika sehabis minum kopi untuk bergadang mengerjakan tugas, ketika mengerjakan tugas kantor yang sudah dekat dengan deadline atau pengalaman apapun itu yang membuat Anda sangat bersemangat. Sudah di pilih? Nah jika sudah, silahkan Anda menutup mata. Cukup rilekskan tubuh dan pikiran Anda. Tarik napas yang dalam lewat hidung, keluarkan lewat mulut. Sekarang tugas Anda cukup sederhana, silahkan akses semua memori dan perasaan Anda ketika bersemangat di masa lalu Anda itu. Akses semua hal yang Anda bisa. Beri warna dan cahaya yang jelas. Semangat yang seperti apa persisnya? Apa yang Anda lihat saat itu? Apa suara yang anda dengar saat itu? Kemudian perasaan seperti apa yang Anda rasakan saat itu? Timbulkan semua imajinasi dan bayangan mengenai kejadian ketika Anda bersemangat saat itu.


Kemudian perkuat perasaan bersemangatnya. Jika sudah sampai pada puncaknya, Anda boleh membuka mata, jika Anda tadi berhasil fokus dan konsentrasi sepenuhnya, maka it’s work, mood Anda sudah berubah menjadi lebih baik. Tidak percaya? Silahkan Anda coba rasakan sendiri perasaan yang berubah lebih baik dari sebelumnya; lebih nyaman, lebih tenang. lebih bersemangat. Betul kan? Betul atau betul banget?

APAKAH SARJANA PSIKOLOGI PASTI LULUS PSIKOTEST DAN WAWANCARA?

Berikut ilustrasi percakapan yang sering terjadi antara Mahasiswa Psikologi (MP) dan Mahasiswa Non Psikologi (MX) pasca wisuda:

MX : Gimana bro? Setelah lulus ini rencana mau daftar kerja dulu atau mau S2 dulu nih? Atau mungkin mau nikah dulu? (sambil tersenyum)
MP : Hm. Masih belum kepikiran bro kalau nikah. Maunya sih mapan dan punya penghasilan tetap dulu. Rencana sih mau kerja dulu brader.
MX : Btw, enak ya bro, km kan kuliah di jurusan Psikologi nih, pasti udah belajar dan ngerti duluan lah nanti ketika tes psikotes kerja dan wawancara. Aku mah yakin banget bro kamu bisa lulus Psikotes `sama wawancara nya nanti.
MP : Yaa elaaah. Kalau mahasiswa psikologi pasti lulus psikotes mah kenapa banyak tuh mahasiswa psikologi yang jadi pengangguran.
MX : Hahaha. Iyaa juga sih yaaaa.


Sumber foto : 3.bp.blogspot.com
Tidak ada yang salah dari percakapan di atas. Cara pandang MX terhadap MP pun lahir karena latar belakang orang yang menjadi interviewer ketika wawancara ataupun tester ketika menginstruksikan tes psikotes adalah dari jurusan psikologi. Sehingga di anggap “mahasiswa psikologi yang di perkuliahannya belajar seputar tentang apa saja jenis-jenis alat tes psikotes, yang mana tes kepribadian yang mana untuk kecerdasan, bagaimana proses wawancara dan sebagainya akan MUDAH dan LANCAR ketika memasuki tes psikotes dan wawancara kerja, baik untuk tujuan mendaftar kerja ataupun kuliah S2”. Namun sebenarnya, ada banyak hal yang perlu kita ketahui sebelum setuju sepenuhnya pada pernyataan tersebut. Berikut poin-poinnya :

1. Umumnya psikotes terdiri dari 2 jenis, psikotes kecerdasan dan kepribadian. Namun faktanya; jumlah alat psikotes sangat banyak dan semuanya tidak di ajarkan di perkuliahan S1 Psikologi. Untuk psikotes kepribadian saja sedikitnya berjumlah 16 an; RMIB test, Draw a Family test, Dragon test, Papi kostick, CAT, DISC, EPPS, Pauli, Kraeplin, Rorschah, SSCT, TAT, Wartegg test, House Tree Person, DAP test, BAUM test dan lain-lain.


Mayoritas alat tes kepribadian bersifat interpretatif dan Sarjana Psikologi masih belum memiliki wewenang untuk memberikan interpretasi terhadap alat tes, berbeda dengan Psikolog yang wajib memiliki kompetensi tersebut. Sehingga anda lulus S1 Psikologi, belum tentu anda mengerti harus menggambar jenis pohon apa ketika tes menggambar pohon untuk mendaftar kerja sebagai staff HRD sebuah perusahaan.

2. Tujuan Psikotes adalah bukan untuk mencari siapa yang paling jenius dengan kecerdasan very superior, bukan yang paling ekstrovert atau bukan untuk mencari siapa yang paling introvert. Sehingga percuma bagi sarjana Psikologi hapal semua kunci jawaban Psikotes atau mengerti cara menunjukkan jenis kepribadian melalui psikotes.

Tujuan psikotes adalah untuk identifikasi tingkat kecerdasan dan atau tipe kepribadian sesuai dengan kebutuhan kompetensi pekerjaan. Misal: di buka lowongan pekerjaan marketing, kompetensi kerja yang di butuhkan adalah mudah beradaptasi dengan orang baru, komunikatif dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Jika ada mahasiswa psikologi, namun tidak memiliki 3 kriteria tersebut. Ya pastilah tidak akan di terima. Meskipun ketika psikotes seorang sarjana psikologi mencoba untuk memanipulasi psikotes kepribadian seolah-olah dia memiliki 3 kriteria tersebut, kembali ke poin 1, yang bertugas mengoreksi hasil psikotes adalah Psikolog; orang yang memiliki daya interpretatif yang lebih tinggi. Kebohongan yang di buat-buat akan terbaca



3. Psikotest dan wawancara adalah satu kesatuan asesmen. Psikotest tanpa wawancara, bagai pisau yang tumpul. Sehingga jika ada sarjana psikologi yang hapal dan mengerti betul tentang alat psikotest namun ketika wawancara menunjukkan dirinya cemas dan kurang percaya diri; berkemungkinan akan gagal.


Juga sebaliknya, ketika wawancara sangat lancar dan mampu meyakinkan interviewer namun ketika psikotest IQ yang di tunjukkan berada pada borderline; masih tetap berkemungkinan untuk gagal. Masalahnya, dalam perkuliahan S1 Psikologi, psikotest dan wawancara di ajarkan kurang lebih hanya 50%, 50% nya akan di dapatkan dari S2 dan pengalaman. Jadi kembali lagi di pertanyakan, apakah sarjana psikologi pasti lulus psikotes dan wawancara?